
"Akhirnya...kita bisa pulang hari ini..." Ardan merebahkan tubuhnya di ranjang. "Jam berapa penerbangan kita, Vic...?"
"Jam 5 nanti sore, Mas..." Jawab Victor.
"Apa...?" Sebuah bantal melayang mendarat tepat di dada Victor yang sedang duduk di kursi sambil melonggarkan dasi. "Kamu bercanda...?" Ucap Ardan geram. Namun hanya disambut tawa renyah oleh Victor.
"Itu penerbangan paling awal, Mas. Yang lain tengah malam. Mas Ardan mau...?" Sahut Victor yang sengaja menggoda Ardan.
"Boleh... Tapi sebelumnya, aku akan mengirimmu ke Afrika biar kamu bisa kasih makan gajah sama singa di sana..." Victor tertawa cekikikan mendengar ucapan Ardan.
"Gak sekalian ke bulan, Mas..? Buat nyuapin alien mungkin...Hahaha" Victor tertawa lepas. Ardan semakin gusar. Dilemparkan bantal dan gulingnya lagi ke arah Victor yang terus menggodanya. Victor hanya menangkis sekenanya.
Seperti itulah mereka. Adakalanya sedekat itu, meskipun jarang. Karena waktu dan pikiran mereka sudah terkuras habis untuk memanjakan pekerjaan yang tiada habis-habisnya. Namun di depan klien dan orang-orang di kantornya, mereka adalah sosok yang profesional, disegani bahkan terkadang ditakuti.
"Kamu mau jalan-jalan dulu, Vic...?" Tanya Ardan kemudian. Memecah keheningan yang beberapa saat lalu tercipta, setelah gurauan mereka berakhir.
"Mmm, nggak kayaknya, Mas..." Victor hanya ingin istirahat sebelum perjalanan pulangnya. "Mas Ardan mau jalan...?" Tanyanya memastikan.
"Nggak..." Ardan dan Victor yang sudah sering bolak-balik ke Singapura, tidak tertarik untuk menjadikannya destinasi wisata. Untuk saat itu. Ya, yang paling penting sekarang bagi seorang Ardan adalah bertemu dengan Arinda, secepatnya. Bukan yang lain. Apalagi sekedar jalan-jalan.
"Halo..." Suara Victor menjawab sebuah panggilan di ponselnya.
...
"Ya...?"
...
"Temui Tuan Ardan besok pagi..."
...
"Bagaimana mungkin, Tuan Ardan baru akan pulang sore ini..."
...
"Oke, baiklah..."
__ADS_1
Percakapan berakhir. Dan Victor segera mengecek email di ponselnya. Victor menghela nafas.
"Mas, Diana meminta bertemu malam ini. Ada beberapa hal penting yang akan dia sampaikan. Dan tidak bisa dibicarakan di telepon..."
"Apa...?" Ardan terduduk dengan cepat. Mata Ardan melotot, dan mulutnya menganga seperti hendak menelan Victor hidup-hidup.
"Beberapa berkas juga harus Mas Ardan pelajari dan ditandatangani, karena besok pagi harus segera dikirim..."
"Heiii... bawa dia ke Afrika bersamamu...!!!"
"Dia akan menunggu di bandara. Dan segera menemui kita begitu kita mendarat..." Victor terus saja bicara tanpa memperdulikan Ardan yang semakin gusar. Ada senyum tipis terlukis di ujung bibirnya.
"Tutup bandaranya sekarang...!!!" Teriak Ardan sambil berlalu menuju kamar mandi. Victor hanya tertawa dan menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah Ardan. Ia tahu Ardan benar-benar gusar, tapi Ardan bulanlah tipe orang yang akan meremehkan hasil pekerjaan para karyawannya.
Jika sampai Diana meminta bertemu di waktu yang tidak masuk akal untuk bekerja, berarti memang benar-benar ada hal yang mendesak. Diana adalah sekretaris di kantornya. Dia gadis yang cekatan dan cukup profesional dalam menjalankan tugasnya. Victor tahu, Ardan begitu mempercayai kinerja gadis itu. Karena itulah Victor tidak menganggap ucapan Ardan untuk menutup bandara adalah ucapan serius.
(Hahaha...ada-ada saja...)
Penerbangan Ardan dan Victor berjalan dengan lancar dan tepat waktu. Tidak ada kendala sama sekali, hingga mereka bisa bertemu dengan Diana dan menyelesaikan pekerjaan mereka dengan hasil yang memuaskan.
*****
Sudah hampir tengah malam. Tiba-tiba pintu kamar Arinda terbuka. Jekrek...
Seseorang mambuka pintu perlahan, dan memandang Arinda yang sedang terlelap. Ia melangkah masuk, mendekati Arinda. Duduk di tepi tempat tidur. Berusaha tidak membuat suara sedikitpun. Hanya lampu tidur yang menerangi mereka di kamar itu. Remang, namun wajah Arinda masih terlihat dengan jelas.
"Hai cantik, Maaf, harus membuatmu menunggu lama..." Suara Ardan berbisik perlahan, tak ingin Arinda mendengarnya. Ia menatap Arinda lekat. Terus memandang tanpa suara.
Perlahan Ardan menyilangkan kakinya, meletakkan siku tangan kanannya di atas lututnya yang lebih tinggi. Tangan itu menyangga dagu Ardan agar posisinya nyaman, karena Ardan masih ingin memandang Arinda lebih lama lagi.
Beberapa menit berlalu. Sepasang mata Ardan tak beralih dari wajah yang lebih mempesona dalam temaram cahaya itu. Ia hanya ingin memandangnya saja kali ini, tidak lebih. Bahkan ia ingin melakukan itu sampai pagi. Ia rela begitu, karena ia merasa telah menemukan sosok yang bertahun-tahun hilang dari hidupnya.
Hari ini, Ardan merasa telah menggenggam lagi apa yang sempat terlepas. Dan ia tidak akan pernah melepasnya lagi, selamanya.
Tanpa Ardan sadari, tangannya yang sedari tadi diam dengan apik, tiba-tiba terangkat dan mencoba meraih beberapa helai rambut yang menutup telinga Arinda. Menyibak dengan jemarinya, memindahkan helai rambut itu ke belakang telinga Arinda.
"Oh, tidak..." Ardan terperanjat ketika melihat Arinda menggeliat. Spontan Ardan bangkit dari duduknya. Arinda seperti merasakan ada sesuatu yang menyentuhnya. Namun ia kembali terlelap.
__ADS_1
Dada Ardan bergemuruh. Mulutnya menganga, namun dengan cepat tertutup dengan menggigit punggung jari telunjuknya. Wajahnya memerah, melihat pemandangan di depan matanya.
Karena sempat menggeliat, selimut yang menutup rapi tubuh Arinda tanpa sengaja tersibak oleh tangannya sendiri. Dan memperlihatkan bagian dada Arinda yang tampak putih bersih. Dan yang membuat Ardan menelan ludah adalah bagian belahan dada Arinda.
Pikiran nakal mulai menari-nari di benak Ardan. Bagaimana pun Ardan adalah laki-laki dewasa, yang akan merasakan debar tak biasa dengan suguhan semacam itu. Ardan salah tingkah sendiri di depan raga yang tengah tertidur lelap itu.
Ardan memejamkan mata kencang, sembari mengibaskan tangan di depan wajahnya. Seolah menangkis semua bayangan kotor yang sedang menari-nari disana.
"Ya, Tuhan..." Gumamnya dalam hati. Nafasnya terengah-engah seperti habis berlari ribuan kilometer.
Tanpa berpikir panjang lagi, Ardan memberanikan diri meraih selimut itu perlahan. Mencoba menutup tubuh Arinda yang telah membuatnya tergoda. Tapi tiba-tiba...
"Mas Ardan...!!!" Sebuah suara muncul dari arah pintu kamar yang sedari tadi terbuka sedikit. Victor disana, berteriak dalam bisiknya.
Ardan dengan posisinya yang sedang tidak layak dipandang, terperanjat dan membelalakkan mata melihat kehadiran Victor disaat yang tidak tepat. Victor pun tak kalah kagetnya melihat Ardan seperti itu. Ia mematung, pikirannya sudah dipenuhi dengan tingkah laku mesum Ardan.
Spontan Ardan melepaskan selimut yang dipegang dengan kedua tangannya. Sedikit melempar agar selimut itu menutup tubuh Arinda hingga ke lehernya. Karena melihat Arinda menggeliat lagi, Ardan bergegas beranjak dan setengah berlari menuju pintu kamar. Mendorong Victor keluar dari ruangan yang membuatnya kepanasan itu.
"Sabar dong, Mas..!!! Mau nyicil ya...???" Ucapan Victor membuat Ardan merinding.
"Sembarangan kamu...!!!" Sebuah pukulan ringan mendarat di bahu Victor. "Aku cuma betulkan selimutnya, biar laki-laki sepertimu tidak tergoda..." Menyeringai malu. Diikuti gelak Victor.
"Mau apa mencariku...? Mengagetkan saja..." Tanya Ardan sambil menggerutu.
"Alvin menelpon, Mas. Dia ingin bertemu dengan Mas Ardan sekarang..." Tanpa berkomentar apapun, Ardan bergegas turun. Diikuti Victor dibelakangnya, yang paham betul situasinya. Ardan menemui Bi Imah sebentar. Kemudian meninggalkan villa megahnya itu bersama Victor.
Dan Arinda yang masih dibuai mimpi, tak pernah tahu kedatangan Ardan malam itu di kamarnya.
**Hai kawan...
Terimakasih udah setia membaca novel "Kau Pinang Aku Sebagai Madu"
Tunggu cerita selanjutnya, ya...
Akan ada kejutan-kejutan menarik di cerita berikutnya...
Jangan lupa untuk like, vote, komentar yang baik dan berikan kritik dan saran yang membangun...
__ADS_1
I LOVE U, ALL...
ššš**