
Hari yang telah lama dinanti Arinda pun tiba. Pulang. Setelah kurang lebih satu minggu Arinda berpetualang di villa megah Ardan, kini waktunya Arinda kembali kepada orangtuanya di kota.
Tapi kini, kepulangan yang pernah sangat dinanti Arinda itu, menjadi sesuatu yang berat dirasakan Arinda. Bagaimana tidak. Di villa itu, Arinda menemukan sebuah keindahan danau bak lukisan, yang sepaket dengan udara bersih dan sejuk memanjakan. Keindahan itu tak kan ia temui di kota.
Kemudian di villa itu juga, ia seperti menemukan keluarga baru. Yaitu Bi Imah bersama para pelayan. Dengan ketulusan dan kepatuhan mereka, serta keramahan dan tidak menganggap Arinda sebagai orang lain, membuat Arinda merasa nyaman berada di tempat asing itu bersama mereka.
Dan yang paling bernilai bagi Arinda adalah, di villa itu pula ia kembali berjumpa dengan Ardan, sahabat terbaik yang selama ini dicarinya. Meskipun pertemuan itu diawali dengan banyak misteri dan drama, namun bagi Arinda pertemuan dengan Ardan adalah bagian penting dari hidupnya. Seperti apa pun caranya.
"Bersiaplah. Setelah sarapan kita akan segera berangkat..."
Pesan Ardan saat mereka kembali dari rooftop fajar tadi. Mereka benar-benar menghabiskan malam di atap villa itu, dengan banyak bercerita dan bicara dari hati ke hati. Mulai dari permintaan maaf Ardan karena tidak mengundang Arinda di pesta pernikahan, bernostalgia, bersenda gurau, hingga ungkapan perasaan Ardan yang dilematis.
"Bagaimana perasaanmu sekarang, Arin...?" Ardan mencoba bertanya.
"Aku bahagia, Ar." Jawab Arinda sembari menghirup udara panjang. "Makasih ya, udah membuat liburanku begitu indah dan berwarna di sini."
Ardan mengangguk dan tersenyum mendengar itu. Ia merasa bersyukur karena Arinda memang sepertinya merasa nyaman berada di villanya itu.
"Kembalilah, ketika saatnya sudah tiba..." Ucapan Ardan membuat Arinda mengernyitkan dahi. Begitulah Ardan, banyak sekali kalimatnya yang membuat Arinda harus mencari sendiri maksud dan arti kalimat itu. Tapi Arinda lebih sering tak mau tahu. Dan menganggapnya angin lalu.
"Arin..." Ardan memanggil saat mulai sunyi.
"Hhm..." Arinda menjawab dengan mata yang masih terpejam, menikmati segarnya udara malam itu. Ada rasa kantuk yang sempat menyelinap, karena udara disana benar-benar membuat Arinda terbuai.
"Aku mencintaimu..." Ucapan Ardan kali ini, benar-benar membuat Arinda tak bisa bernafas. Seketika rasa kantuk Arinda hilang entah kemana. Ia membuka mata dengan cepat dan memandang dengan tajam ke arah pemilik suara.
"Jangan, Ar." Arinda menggeleng kemudian. "Hubungan kita sebagai sahabat sudah begitu indah dan menyenangkan. Aku bahagia menjadi sahabatmu. Dan aku sangat bahagia memiliki sahabat yang begitu hebat sepertimu."
Ardan mendengarkan setiap ucapan Arinda dengan tenang. Ia melihat bibir tipis Arinda yang begerak saat berbicara. Suaranya menyenangkan. Terkadang alisnya meliuk dan matanya pun seolah ikut berbicara. Ardan menyukai semua itu, dan semua tentang Arinda.
"Cintai istrimu dengan segenap hatimu, Ardan." Ucap Arinda kemudian. "Dia yang lebih berhak mendapatkan cintamu itu sepenuhnya."
"Kalau begitu, aku akan menikahimu. Dengan begitu, kamu akan menjadi istriku, dan aku bisa mencintaimu dengan segenap hatiku..." Ardan bersemangat mengatakan itu.
"Ish..." Arinda memicingkan matanya, melirik Ardan yang menurutnya sedang mengigau. Arinda pun menanggapinya dengan bergurau.
"Dan kamu mau menjadikan aku istri keduamu...??? Coba saja kalau berani...!!!" Arinda mengepalkan tangannya dan disodorkan ke depan wajah Ardan. Seolah sedang mengancam.
"Kenapa memangnya...? Aku akan meminangmu sebagai madu. Madu kan manis, dan menyehatkan lagi..." Ardan cekikikan sendiri, sembari menunggu reaksi Arinda saat mendengar itu.
"Iihhh..., mengerikan sekali ucapanmu. Kalau sampai istrimu mendengar, kamu pasti sudah dicekiknya sampai mati..."
__ADS_1
"Hey,,untuk apa aku mati...? Aku kan mau melamar gadis yang aku cintai..."
"Lihat saja, aku akan mengadukan semua ini kepada istrimu..."
Arinda beranjak menuju meja panjang yang cukup tinggi di pinggiran tempat itu. Dilengkapi kursi dengan kaki yang tinggi juga, dan Arinda sudah duduk di sana. Memandangi lampu-lampu yang tampak sangat kecil, jauh di kota.
"Coba saja kalau kamu berani...!!!" Ardan menyusul dan duduk di sebelah Arinda.
"Katakan juga padanya, kalau aku melamarmu dengan ini..." Ardan menyodorkan sebuah kotak kecil berisi cincin yang sangat manis, dengan batu berlian mungil yang berkilauan.
Arinda terbelalak melihat itu. Dipandanginya lekat mata Ardan. Hampir tak sanggup lagi berkata-kata.
"Hey, apa ini...? Ada apa denganmu, Ar...?" Ucap Arinda lirih.
"Aku serius...!" Ardan berusaha meyakinkan Arinda tentang perasaannya. "Menikahlah denganku, Arinda Maharani..."
Arinda tersentak demi mendengar kalimat itu. Ia lihat lagi mata Ardan yang tidak sedang bercanda. Air bening mulai membasahi bola matanya. Ia mengalihkan pandangan dari Ardan, menjauh secepat kilat. Ada gemuruh tak beraturan di dadanya.
Ardan menarik nafas panjang, dan menghembuskannya perlahan. Memberi kesempatan kepada Arinda untuk mencerna dan memahami semuanya. Ia pejamkan matanya, menunggu apa yang ingin Arinda katakan.
"Ardan..." Arinda memanggil.
"Hmm..?"
"Aku tahu..."
"Tapi kamu bisa melukai..... "
"Aku tidak melukai siapa pun, Arinda...!!!"
Arinda berhenti bicara ketika Ardan menyambar ucapannya. Nada bicara Ardan meninggi, membuat Arinda terkejut sekaligus takut. Ia merasa ada sesuatu yang sedang mengusik batin Ardan.
"Aku benar-benar mencintaimu, Arin. Apa itu salah...? Apa menurutmu aku sedang melakukan kejahatan...?"
Arinda tak berkutik. Ia tak tahu harus bagaimana sekarang.
"Aku mohon, Ardan, jangan begini..."
"Lalu aku harus bagaimana...? Membiarkan dan melupakan perasaanku begitu saja, lalu menguburnya dalam-dalam...???"
Mereka sama-sama terdiam. Tak ada suara. Hanya hembusan angin malam yang menyeka kulit mereka.
__ADS_1
"Aku minta maaf, Ardan. Aku..." Arinda ragu dengan kata-katanya sendiri. Ia seperti sedang mencari cara untuk bernafas. Sesak. Karena harus jujur dengan perasaaannya.
"Aku tidak bisa...!!!" Arinda menggeleng, dengan suara lirih di bibirnya. Sebuah perjuangan bagi Arinda untuk mengatakan itu.
"Arin, Aku tidak memintamu untuk menjawab apapun sekarang." Ardan berusaha menenangkan Arinda. Ia meraih kotak perhiasan kecil di hadapan Arinda, menutupnya dan menyimpan kembali di saku celananya. "Temukan jawabanmu di rumah, besok."
Dan bukannya tenang, Arinda malah semakin gusar dengan sikapnya sendiri. Ia takut, jika ternyata dirinyalah yang sebenarnya melukai perasaan Ardan. Namun ia tidak ingin memberi harapan yang tidak pasti, jika harus memberi jawaban berbelit-belit. "Huft, apa yang harus aku lakukan sekarang...?"
"Mau minum sesuatu...?" Ardan mengalihkan topik.
"Minum...?"
"Hu um.., ikuti aku..."
Ardan beranjak dan berjalan perlahan menuju minibarnya. Mempersilahkan Arinda duduk di salah satu kursi di meja bar.
"Aku tidak pandai membuat minuman. Aku buatkan teh hangat, mau...?" Ucap Ardan sembari tersenyum dan memasang celemek di badannya. Sudah mirip seorang barista di cafe milik Arinda.
"Kamu keren dengan celemek itu..." Arinda menggoda Ardan. Ingin melupakan gejolak di hatinya beberapa saat lalu.
"O ya..? Apa aku harus sering memakainya, biar terlihat keren di depanmu...?"
"Hahaha, apaan sih..." Arinda tertawa melihat tingkah Ardan.
"Mmm, bagaimana kalau papermint tea...?"
"Boleh..." Arinda tersenyum manis. Lalu balik bertanya kepada Ardan.
"Kamu mau kopi...? Aku sedikit belajar cara meracik kopi dari barista handal di cafeku."
Arinda turun dari kursinya dan berjalan menyusul Ardan, lalu memakai celemek juga seperti yang dilakukan Ardan. Tak lama kemudian mereka sudah sibuk menyiapkan bahan masing-masing.
"Aku akan menguji coba kemampuanku sekarang, spesial untukmu..." Bisik Arinda yang berada di sebelah Ardan.
"Hey, kamu jadikan aku kelinci percobaan...? Jangan coba-coba meracuniku ya..."
"Tidak Tuan Ardan, tenanglah. Aku hanya akan menambahkan sesuatu untuk membuatmu bahagia sepanjang hari..."
"Benarkah...? Kalau begitu, masukkan cintamu ke dalam cangkirku..."
"Hahaha..., baiklah Tuan Ardan..."
__ADS_1
Setelah kopi dan teh buatan mereka selesai, mereka menikmatinya bersama di salah satu meja dengan payung di atasnya. Melanjutkan obrolan ringan yang dipenuhi canda tawa, hingga menjelang pagi.
Besok mereka akan berpisah. Dan mereka hanya ingin meninggalkan kenangan indah di tempat itu. Kenangan, yang mungkin akan terulang lagi nanti. Ketika saatnya sudah tiba.