Kau Pinang Aku Sebagai Madu

Kau Pinang Aku Sebagai Madu
Episode 7 : Bukan Nona


__ADS_3

Hari sudah mulai pagi. Tapi masih gelap di luar sana. Arinda membuka mata sekejap. Namun masih enggan untuk benar-benar membukanya kembali. Matanya melirik sekilas ke arah jam dinding di seberang sana. Masih terlalu pagi untuk berbuat sesuatu, pikirnya.


Sesekali ia menggaruk rambut dan kepalanya yang tidak gatal. Sesekali juga ia mengusap matanya yang masih sedikit susah dibuka dengan sempurna. Akhirnya Arinda membiarkan seluruh tubuhnya bermalas-malasan di ranjang empuknya itu. Lagipula, tak ada sesuatu pun yang bisa ia kerjakan.


Masih mengatur nafas, saat ia mengamati langit-langit kamar yang masih berada di atas dari kemarin...hahaha. Ada-ada aja...


Matanya menerawang serta bertanya-tanya dalam hati, masihkah hari ini ia mendapatkan kejutan. Perlahan sekali mata Arinda berkedip. Seakan tak ada secuil pun tenaga untuk itu.


Lagi-lagi menghela nafas. Perasaan kesal, galau, marah, penasaran, semua bercampur menjadi satu. Meskipun ingin menangis, tapi Arinda berusaha menahnnya. Ia tidak ingin tampak lemah, bahkan di hadapan dirinya sendiri.


Beberapa buku novel yang Arinda baca tadi malam, masih menemaninya di tempat ia berbaring sekarang. Arinda enggan meraihnya. Hanya dipandanginya dengan tatapan tajam.


"Siapa kamu sebenarnya...?" Tanyanya tak bersahabat kepada buku-buku di atas ranjangnya, seolah mereka itulah yang telah menyekapnya di kamar yang luas itu. "Mau sembunyi sampai kapan, pengecut...?" Lanjut Arinda dengan emosi diri yang mulai terbentuk. Arinda bangkit dari posisinya semula, kemudian duduk bersandar di atas ranjang.


"Muncullah, dan akan kucabik-cabik seluruh wajah dan tubuhmu...!!!" Arinda mulai gusar. Nampak kemarahan yang kini mulai terlukis di wajah Arinda. Ia meraih salah satu novel disana dan hendak merobeknya dengan kasar.


Tapi tiba-tiba...


Tok..tok..tokk...


Suara pintu kamar diketuk. Dan kemudian terbuka. Seseorang muncul dari sana dengan membawa secangkir minuman hangat.


"Selamat pagi, Mbak Arinda..." Sapanya ramah. "Apa Mbak Arinda tidur dengan nyenyak tadi malam...?" Tanyanya kemudian. Ya, Bi Imah lah yang sedang berdiri disana.

__ADS_1


Arinda terdiam. Hanya memalingkan wajah dan menghembuskan nafasnya dengan kasar. "Sial..." Ucapnya di dalam hati. "Kenapa harus datang sekarang,,, baru saja aku akan memberikan pelajaran kepadanya..." Gerutunya kemudian.


(Hey Arinda,, pelajaran apa coba..? Pelajaran berharga buat novel-novel itu...??? Tau apa mereka...Hahaha)


Wajah murkanya tertangkap oleh Bi Imah. Telinga Arinda memerah, hidungnya pun masih merona menahan tangis. Bi Imah mencoba mengalihkan pandangannya, karena merasa telah membuat Arinda tidak nyaman.


"Ini air lemon hangat, Mbak Arinda. Silahkan diminum dulu sebelum dingin..." Kata Bi Imah sambil meletakkan cangkir kecil di meja. Terdiam sejenak di sebelah meja. Berharap Arinda sudah mampu memperbaiki kondisinya. Kemudian berbalik perlahan.


"Mbak Arinda mau mandi sekarang..." Tanya Bi Imah lagi. Kali ini Bi Imah terpaksa memandang ke arah Arinda.


"Mmm, sebentar Bi." Jawab Arinda. Benar saja, tampak Arinda sudah tersenyum sekarang. Meskipun terlihat dipaksakan. "Saya mau minum lemon hangatnya dulu, Bi. Setelah itu, saya akan segera mandi."


Bi Imah terlihat ragu. Di satu sisi, ia ingin melayani Arinda dengan pelayanan istimewa sesuai perintah majikannya. Tapi di sisi lain, ia juga tidak ingin membuat Arinda merasa tidak nyaman berada di sini. Itu akan membuat Arinda tidak betah. Bahkan mungkin, Arinda akan mencari cara untuk kabur sebelum ia tahu siapa yang membawanya ke tempat ini. Arinda menangkap ada gelisah di wajah Bi Imah.


"Jangan khawatir Bi Imah, saya akan lebih baik-baik saja jika bisa mandi sendiri..." Ucap Arinda lagi meyakinkan, agar Bi Imah tidak perlu mengkhawatirkan tentang mandinya. Lebih tepatnya, Arinda tidak ingin seperti anak kecil yang bermasalah dengan kegiatan mandinya, apalagi jika harus ada ritual mandi seperti hari sebelumnya. Tepat seperti yang dipikirkan Bi imah.


"Nggak usah, Bi. Saya bisa menyiapkan sendiri." Arinda menolak. "Lagian kan, saya belum tentu bisa menghabiskan minuman saya secepatnya. Nanti malah keburu dingin airnya..."


Akhirnya Bi Imah keluar kamar tanpa bisa melakukan sesuatu pun untuk Arinda pagi itu. Bi Imah merasa cemas dengan sikap Arinda. Dan seperti biasa, ia segera melaporkan itu kepada majikannya.


Seperti itulah tugas Bi Imah, melayani Arinda bersama dengan pasukan yang ditugaskan di rumah itu. Dan Kemudian, melaporkan bagaimana pelayanan kepada Arinda, apa saja yang diterima atau ditolak oleh Arinda, serta keadaan dan sikap Arinda selama di rumah itu.


Semua harus dilaporkan setiap hari, dimulai saat Arinda membuka mata dan berlanjut hingga Arinda memejamkan mata di malam harinya. Tidak boleh ada yang terlewatkan sedikit pun.

__ADS_1


Bi Imah pun selalu melaporkan sesuai dengan permintaan majikannya itu. Ia tidak ingin membuat majikannya kecewa sedikit pun. Bi Imah paham betul, Arinda lah gadis yang selama ini dicintai dan dirindukan oleh majikannya itu. Meskipun harus dipendam sedalam-dalamnya selama bertahun-tahun, namun pada akhirnya majikannya itu tak kuasa membendung perasaan yang selama ini menyiksanya. Hingga pada akhirnya, sampailah Arinda di tempat itu.


Bi Imah pun tahu, apa saja rencana majikannya untuk mendapatkan Arinda. Bahkan sampai rencananya untuk mempersunting Arinda, dan menjadikannya istri. Rencana majikannya itu akan mendapati banyak sekali halangan dan rintangan yang menghadang di depan sana, Bi Imah juga tahu itu. Dan bagaimana persiapan majikannya itu menghadapi kemungkinan terburuk, Bi Imah tahu itu sampai ke akarnya.


Namun, meskipun tahu sebanyak itu dan bagaimana akrabnya dirinya dengan majikannya itu, Bi Imah lebih paham dimana batasnya ia harus bertindak. Bi Imah paham betul ada garis yang tidak boleh ia lampaui, dan ia harus tetap berada di tempatnya sebagai seorang pengasuh dan asisten rumah tangga di rumah itu.


Arinda baru saja keluar dari kamar mandi ketika Bi Imah dan beberapa pelayan menyiapkan secangkir cokelat hangat dan beberapa kudapan di meja balkon kamar Arinda. Seorang pelayan menghampiri Arinda untuk membantunya mengeringkan rambut dan merapikannya. Satu orang pelayan segera masuk ke kamar mandi untuk mengambil baju kotor Arinda. Sementara di balkon ada Bi Imah dan seorang pelayan yang sudah bersiap melayani Arinda untuk sarapan.


Setelah selesai dengan rambut dan tubuhnya, Arinda berjalan perlahan menuju balkon bersiap menikmati pemandangan pagi dan segera sarapan. Di meja sudah tersedia cokelat hangat dan kudapan serba cokelat seperti hari sebelumnya. Dan hari ini tersaji juga beberapa potong roti tawar beserta selai yang mendampingi.


"Selamat pagi, Mbak Arinda..." Sapa Bi Imah mempersilahkan Arinda duduk sambil menggeser kursi sedikit ke belakang.


"Pagi, Bi Imah." Arinda menyapa dengan menghampiri kursi itu dan siap duduk. Lalu Bi Imah segera sedikit mendorong kursi itu menyentuh bagian belakang lutut Arinda. Arinda pun duduk dengan santai di sana.


"Mau sarapan sekarang, Mbak Arinda...?" Tanya Bi Imah, beberapa saat setelah Arinda meneguk cokelat hangatnya.


"Boleh, Bi..." Jawab Arinda dengan tersenyum. Kemudian Bi Imah memberi isyarat kepada pelayan di sampingnya untuk segera melayani Arinda.


"Permisi, Nona. Ijinkan saya untuk membantu Nona menyiapkan sarapan." Ucapan pelayan itu membuat Arinda mengernyitkan dahi dan merubah raut mukanya. Bi Imah melihat ada sesuatu yang tidak beres dengan perubahan itu. Pelayan itu pun gugup dan cemas dengan sikap Arinda yang tiba-tiba memandanginya lekat.


"Panggil saya Mbak Arinda saja..." Kata Arinda kemudian. "Saya bukan nona kalian, jadi tolong sebaiknya panggil saya dengan sebutan Mbak, seperti Bi Imah memanggil saya..." Pinta Arinda.


Pelayan itu sedikit gemetar, takut kalau-kalau ia melakukan kesalahan. Ia tertunduk sembari menelan ludah. Mendengar ucapan Arinda, ia ingin mengatakan sesuatu.

__ADS_1


"Tapi Nona..." Belum sampai pelayan itu melanjutkan ucapannya, Bi Imah meraih bahu pelayan itu dan mengangguk memberikan isyarat. Yang artinya "Lakukan saja apa yang dia katakan..." hehehe.


"B.. Baik Nona.. Ehh, maksud saya, baik Mbak Arinda..." Jawaban pelayan itu membuat Arinda lega. Kemudian Arinda memandangi danau cantik di seberang sana sambil kembali menyeruput cokelat hangatnya. Sementara pelayan itu menyiapkan sarapan Arinda dengan tangan gemetarnya, Bi Imah hanya mampu memandangi Arinda tanpa banyak bicara. Ia sudah siap dengan laporannya pagi ini kepada majikannya. Tentu saja nanti setelah keluar dari kamar itu.


__ADS_2