
Semburat senja di luar sana. Ketika Ardan mengetuk pintu kamar Arinda.
Tok..tok.. tokk..
Tak ada seorang pun yang membuka pintu.
Tok..tok.. tokk..
Mengetuk untuk yang kedua kalinya. Arinda mengernyitkan dahi. Tidak biasanya mereka menunggu.
"Ya..?" Sahut Arinda dari dalam kamar.
"Arin, ini aku..." Terdengar suara Ardan dari balik pintu.
Bergegas Arinda beranjak dari tempat tidurnya. Membuka pintu.
"Ikut aku..." Ucap Ardan. Belum sempat Arinda membuka lebar pintu itu. "Aku tunggu di bawah..."
"Tunggu, Ardan. Kita mau kemana...?" Ardan tetap melangkah tanpa memperdulikan Arinda. "Hey..." Seruan Arinda hanya dibalas dengan lambaian tangan. Tanpa menoleh sedikit pun.
"Ihh..." Arinda geram, tapi tetap bersiap untuk menemui Ardan.
Sesampai di ruang keluarga...
"Lama sekali..." Ardan menggerutu melihat Arinda yang baru datang setelah 10 menit.
"Aku kan harus ganti baju, Ardan. Lagian, kamu gak jawab waktu aku tanya kita mau kemana. Siapa tau kamu mau ngajak keluar. Jadi aku mencari baju hangat di lemariku. Di luar kan dingin." Ardan hanya tersenyum melihat Arinda yang bicara panjang lebar.
"Untung kamu cantik, jadi aku mau menunggumu..." Goda Ardan.
"Idihh, mulai lagi..." Arinda tersipu.
"Tuu kan, kamu tambah cantik kalo lagi malu..." Ardan tampak tersenyum, terus menggoda Arinda.
"Aaa..., udah deh, jadi nggak nih...?" Tanya Arinda berbau mengancam. "Kalo nggak, aku balik ke kamar aja deh..."
"Eee..., tunggu.. tunggu..." Ardan menyerah. Mencegah Arinda yang hendak berbalik badan. "Iya.. iya.. Yuk... ikuti aku."
Arinda berjalan di samping Ardan. Tampaknya Ardan mengajak Arinda ke sisi samping rumah itu. Ada teras kecil di sana. Dengan beberapa anak tangga untuk naik ke tempat itu.
"Waaahhh...indah bangettt..." Ucap Arinda lirih, usai Ardan membuka pintu kaca. Tampak matahari hendak terbenam di sana. Arinda terpesona dengan pemandangan yang baru saja ia temukan di rumah itu.
__ADS_1
"Kamu suka...?" Tanya Ardan sambil tersenyum.
"Hu um..." Arinda mengangguk cepat, tanpa mengalihkan pandangan.
Mereka menghabiskan waktu senja di sana. Hingga hari menjelang gelap, mereka bergegas masuk karena udara juga sudah mulai dingin.
Malam itu pertama kalinya mereka makan malam bersama di ruang makan. Arinda duduk di sebelah kanan Ardan, berseberangan dengan Victor.
Victor melihat Arinda yang dengan gesitnya mengambil nasi dan lauk serta sayur di piring Ardan, dengan mulut menganga. Pemandangan yang sangat langka baginya, karena selama menikah dengan Angel ia belum pernah sekali pun melihat Angel melakukan hal serupa.
"Hey, apa yang kamu lihat...?" Tanya Ardan mengejutkan Victor.
"Ehh, nggak Mas." Ardan melempar senyum kepada Victor. Ia tahu Victor terpana dengan cara Arinda melayaninya.
"Segini cukup...?" Arinda meletakkan piring yang sudah berisi makanan di depan Ardan.
"Cukup. Makasih, cantik...,"
"Sama-sama..." Sahut Arinda yang ingin bersikap biasa saja dengan sapaan Ardan. Lalu ia mengambil makanannya setelah sebelumnya ia mempersilahkan Victor mengambil lebih dulu. Namun Victor menolak. Mereka pun makan malam bersama.
Seusai makan malam, mereka menghabiskan waktu di ruang keluarga. Victor mengecek ponsel Ardan, berharap Angel memberikan kabar.
Ardan berbincang dengan Arinda. Sesekali terdengar mereka cekikikan karena bercanda.
Ada perasaan lega di hati Victor melihat Ardan bisa tertawa lepas ketika bersama Arinda. Namun di sisi hatinya yang lain, ada perasaan iba dengan nasib Angel.
"Besok sudah akhir pekan, Mas." Ucap Victor saat obrolan mereka tampak sedang terjeda. "Apa Mas Ardan ingin menyapa Alvin...?"
"Oh, tentu saja, Vic. Tanyakan padanya dia mau kemana besok..."
"Baik, Mas."
"Kemarin dia sempat bilang ingin ke taman hiburan. Tapi tanyakan padanya lagi, siapa tau dia sudah berubah pikiran.."
"Apa...??? Taman hiburan...!!!" Victor mengernyit mendengar tempat itu. Di sanalah mereka sempat dianggap aneh oleh banyak orang karena seperti pasangan g*y. Dan Victor ingin sekali menghindari tempat itu ketika bersama Ardan dan Alvin.
"Hahaha..." Ardan tergelak melihat reaksi Victor. Ia tahu apa yang sedang Victor pikirkan. "Kamu takut, sayang...?" Tanya Ardan memnggoda Victor. Kata itu membuat Victor merinding.
"Apaan sih, Mas. Hii..."
Arinda tampak tidak peduli dengan obrolan mereka, karena ia pikir mereka sedang membicarakan urusan pekerjaan. Ia hanya menonton televisi dengan layar yang cukup lebar menempel di dinding. Namun ia tidak tahu apa yang dilihatnya.
__ADS_1
Victor yang sudah mendapat jawaban dari pengasuh Alvin semakin gelisah saja. Tapi setelah melihat Arinda, tiba-tiba senyum merekah di bibirnya.
"Mas Ardan, bagaimana kalau Nona Arinda ikut bersama kita...?"
"Hmm...?" Ardan menoleh ke arah Arinda. Berpikir. Lalu mengangguk tanda setuju.
"Arin, istirahatlah sekarang." Ucap Ardan. "Besok kita akan ke taman huburan..."
"Apa...?" Arinda terkejut. "Taman hiburan...? Mau apa kita kesana...?"
"Sudahlah jangan banyak bertanya. Besok kamu juga tahu..."
"Hey..." Arinda masih ingin bertanya.
"Vic, kamu atur semuanya..."
"Oke, Mas. Siap."
Ardan beranjak dari tempat duduknya. Seolah tak peduli dengan sikap Arinda yang masih bingung. "Ayo naik..." Ucap Ardan sambil melangkah.
Arinda melihat ke arah Victor, berusaha mencari jawaban. Tapi Victor hanya menaikkan kedua bahunya sambil tersenyum.
Lalu Arinda bergegas mengikuti Ardan menaiki anak tangga dan masuk ke kamar mereka masing-masing. Tak berapa lama, Victor juga masuk ke kamarnya yang berada di lantai bawah. Victor memang akan tinggal di tempat Ardan tinggal. Karena ia harus selalu ada ketika Ardan membutuhkannya.
Sesampainya di kamar, Arinda segera membersihkan diri, mengganti pakaian, kemudian merebahkan diri bersiap hendak tidur. Namun matanya masih enggan terpejam.
Arinda teringat kejadian hari ini, mulai dari pagi hingga malam ini. Semua yang ia alami seperti mimpi. Arinda teringat bagaimana saat ia bertemu dengan Ardan kembali. Kemudian emosinya yang tak terkendali, hingga ia merasa nyaman ketika bersama Ardan. Seperti saat sekolah dulu. Arinda seperti telah menemukan kebahagiaan lamanya yang sempat hilang.
Arinda menghela nafas. "Apa sebenarnya yang direncanakan Ardan...?" Batinnya gelisah jika mengingat pertanyaan itu berulang kali. Bagi Arinda, Ardan adalah sahabat yang sangat baik. Tapi sisi lain benaknya mengatakan, waktu bisa saja merubahnya menjadi sosok yang berbeda.
"Apa tujuan Ardan sebenarnya...?" Arinda menggumam.
"Dengan santainya dia bilang cinta kepadaku. Padahal dia tau aku nggak punya perasaan apa-apa sama dia."
"Apa dia sedang mempermainkan aku...? Tapi, sorot matanya terlihat tulus."
"Mama sama papa juga, begitu akrab sama Ardan. Mereka berbincang dengan Ardan seperti sama anak sendiri..."
"Hhh... Ardan memang luar biasa sekarang, bahkan mama dan papa bisa membiarkanku bersamanya selama beberapa hari."
"Ardan..."
__ADS_1
Tanpa sadar Arinda tertidur setelah menyebut nama itu. Hari pun semakin larut, merayap menuju pagi.