
Pagi sebentar lagi menyapa. Di luar, mentari masih rapi berada di persembunyiannya, belum hendak menampakkan sinarnya. Udara dingin menyeruak masuk ke dalam kamar, ketika Arinda membuka pintu balkon kamarnya lebar. Dan ia memilih berdiam sejenak di balkon, melepaskan sesak yang memenuhi dadanya sejak malam tadi.
Arinda kembali meratap dalam kesendiriannya. Ardan telah menggoreskan luka untuk yang kedua kalinya. Saat ini, Arinda merasakan penyesalan yang mendalam karena telah dipertemukan kembali dengan Ardan. Baginya, mengakhiri persahabatannya mungkin akan lebih baik.
Tapi kini, tak ada gunanya menyesali semuanya. Arinda tahu itu. Dirinya baru menyadari, waktu telah merubah banyak hal. Termasuk kepribadian seorang Ardan. Sekarang semua sudah berbeda. Semua sudah tak sama.
Air mata kembali mengalir, membasahi pipi Arinda yang mulai dingin disapu angin fajar. Pernikahannya sudah di depan mata. Namun ia sama sekali tidak merasakan bahagia. Begitu rumit perjalanan hidupnya akhir-akhir ini. Membuat Arinda ingin sekali menyalahkan takdir.
"Kak Rinda..." Tiba-tiba sebuah suara menyapanya dari dalam kamarnya.
"Eh, Dinda..." Sambil menyeka air mata.
"Sudah bangun, Kak...?" Arinda hanya mengangguk lesu. Kemudian Adinda mendekat, dan bersandar di tepi pagar pembatas balkon.
Dinda mengerti kepedihan yang kakaknya rasakan, hingga dirinya tak nyenyak tidur semalam. Setelah menunggui Arinda meratap di kamar hingga tertidur, Adinda kembali ke kamarnya untuk beristirahat. Namun ternyata, memejamkan matanya pun tak semudah mengucapkannya. Apalagi Arinda yang mengalami polemik ini, pikirnya.
"Mau jalan-jalan pagi, Kak...? Mencari udara segar..."
"Kakak mau di sini saja, Dinda. Kalau kamu mau jalan, jalan aja. Kakak nggak papa di sini."
"Aku mau nemenin Kak Rinda aja. Masih kangen nih..."Adinda bermanja di bahu kakaknya. Arinda tersenyum simpul, dan membiarkan bahunya menjadi sandaran adik semata wayangnya.
"Setelah Kakak menikah nanti, kamu jaga Mama sama Papa baik-baik ya, Din. Jadilah anak yang berbakti. Jangan lama-lama main di luar, kalau Mama sama Papa ada di rumah..."
Arinda memberikan nasehat panjang lebar untuk Adinda. Siap atau pun tidak, dirinya memang harus menikah minggu depan. Sesuai dengan apa yang sudah Papanya putuskan. Di dalam perenungannya semalam, Arinda memutuskan untuk tetap berbakti kepada orangtuanya sampai akhir.
"Kakak marah sama Papa...?"
"Nggak..." Arinda menggeleng. "Apa pun yang Papa putuskan untuk kita, itulah yang terbaik. Sudah terbukti kan selama ini." Arinda mengingatkan Adinda tentang kehebatan Papanya. Meskipun ia sendiri sebenarnya masih merasa sedih, dan tidak terima dengan keputusan sepihak Papanya.
Arinda menyadari, hari-harinya kini akan menjadi hari yang cukup berat dan melelahkan. Namun Arinda tetap akan berusaha menjadi gadis yang manis untuk kedua orangtuanya. Bagaimana pun juga, kasih sayang dan didikan yang diberikan orang tuanya tak kan pernah mampu ia balas meskipun dengan darah dan nyawanya.
Waktunya sarapan tiba. Orangtua dan anak itu pun dipertemukan kembali di sebuah meja makan besar. Mereka duduk di kursinya masing-masing dan segera menghabiskan makanan di piring. Semua diam. Yang terdengar hanya suara sendok dan garpu yang beradu dengan piring.
Papa yang sudah selesai lebih dulu, langsung berdiri dan berlalu tanpa kata. Kemudian menghilang di balik pintu kamarnya.
"Rinda..." Suara Mama memecah keheningan
"Ya, Ma..."
"Hari ini kebaya pernikahanmu akan mulai dibuat." Mama menyampaikan itu dengan perlahan. Tak ingin menjadikan penyebab kesedihan Arinda berikutnya. Meskipun itu benar, Arinda merasa sesak dibuatnya. Ia hanya memandang wajah Mamanya yang sedang bicara.
__ADS_1
"Jadi, bersiaplah untuk diukur, dan kamu bisa sharing dengan mereka model seperti apa yang kamu inginkan..." Imbuh Mama.
"Baik, Ma." Arinda hanya menjawab singkat.
"Mama akan menemanimu, sayang." Berharap kata-kata itu bisa menjadi sedikit penghibur bagi hati Arinda. Arinda hanya mengangguk.
"Ma..." Giliran Arinda yang mencoba bicara.
"Hm..."
"Bolehkah Rinda tetap pergi ke cafe sebelum dan sesudah menikah...?"
Mama hanya menghela nafas beratnya. Lalu diam. Karena tahu, suaminya dan Ardan tidak akan mengijinkan itu.
"Lebih baik kamu di rumah dulu, Rinda. Mulai hari ini kamu akan disibukkan dengan persiapan pernikahanmu. Kamu harus banyak istirahat..."
"Gitu ya...?" Menunduk lagi.
"Hari ini kamu juga akan mulai perawatan wajah dan seluruh badan. Itu akan rutin sampai menjelang hari H. Mungkin akan membutuhkan waktu lama untuk itu."
Arinda hanya tertunduk. Cafe yang sudah dirindukannya sejak lama pun akhirnya tak bisa ia kunjungi dalam waktu dekat. Mulai hari ini Arinda benar-benar dipingit untuk persiapan pernikahannya. Tak bisa menyapa siapa pun di luar sana. Bahkan ponselnya pun tak bisa ia dapatkan kembali.
"Ardan, kamu sudah menyiapkan semuanya rupanya. Kamu begitu sempurna meraih hati orangtuaku." Arinda hanya menyeringai membayangkan betapa rapinya Ardan dan orangtuanya mengatur semuanya. Dan ia hanya seperti menjadi bulan-bulanan bagi mereka.
Tapi bukan Arinda namanya jika terpuruk. Meskipun dalam hatinya remuk, namun ia tetap tegar tanpa tandingan. Ia menjalani persiapan pernikahan dengan sangat baik. Cukup kooperatif. Tanpa ada keributan sedikitpun. Hingga tiba hari terakhir persiapan, ia tetap menjadi gadis manis di keluarga Hendrawan Adiguna.
"Wahhh, Kak Rinda keliatan kinclong banget..." Suara Adinda membuyarkan lamunan Arinda di kamarnya.
"Apaan sih, Din. Kamu lebay ah..."
"Beneran Kak, swer..." Mengacungkan dua jarinya. "Pasti semua orang bakalan kagum liat Kak Rinda."
"Udah ah, Din. Kamu ini, baru datang udah mau bikin keributan..." Arinda tersenyum tanpa ekspresi istimewa. Semua biasa-biasa saja baginya.
"Kamu udah pulang kuliah, Din...?" Tanya Arinda kemudian.
"Udah, Kak. Cuma ada satu mata kuliah aja. Kenapa..? Kak Rinda butuh sesuatu...?"
"Hhh..." Arinda menghela nafas pelan. "Kamu pernah mampir ke cafe nggak, Din...?"
"Jarang, Kak. Semenjak kakak dibawa kabur, Dinda gak pernah mampir lagi. Dinda takut, Kak. Papa sama Mama minta Dinda diam kalo ada orang yang menanyakan Kak Rinda. Jadi daripada keceplosan, mending Dinda menghindar deh..."
__ADS_1
Arinda sempat mengernyitkan dahi mendengar ucapan Adinda.
"Emangnya, Papa sama Mama bilang apa sama kamu waktu Kakak pergi...?"
"Mmm, mereka nggak bilang banyak sih, Kak. Cuma bilang kalo Kak Rinda lagi liburan bareng calon suami. Tapi Papa bilang, itu rahasia keluarga kita. Makanya Dinda harus diam..."
Mata Arinda membulat seketika.
"Calon suami...??? Jangan-jangan mereka sudah merencanakan ini dari awal. Jauh sebelum Ardan membawaku ke villa." Arinda jadi frustasi dengan pikirannya sendiri. Ia kembali menangis.
"Kak...?" Dinda merasa bersalah. "Kakak kenapa lagi...? Maafin Dinda Kak kalo udah salah ngomong..."
Arinda menggeleng.
"Nggak, Din. Kakak nggak papa. Makasih ya, udah jadi adek yang manis buat Kakak..." Tangan Arinda yang menyentuh lembut pipi Adinda, disambut hangat oleh Adinda dengan tetesan air mata. Lalu tiba-tiba, Adinda menanyakan sesuatu yang membuat Arinda terkejut.
"Kak Rinda, gimana kalo Kakak kabur aja...???" Berbisik di telinga Arinda. Mendengar itu, Arinda spontan memukul keras paha Adinda hingga Adinda pun mengaduh.
Plakkk... "Dasar anak nakal..."
"Aawww...!!! Sakit Kak..."
"Hah, sori Din sori...! Kakak nggak sengaja..." Sambil mengusap paha Adinda yang tadi dipukulnya.
Adinda hanya melirik nakal sambil tersenyum. Karena sebenarnya memang tidak sesakit itu. Melihat ada yang tidak beres, Arinda pun menghentikan aktivitasnya. Kemudian memeluk erat tubuh Adinda.
"Kamu nggak papa kan, Din...? Sakit ya...?" Adinda menggeleng dalam pelukan Arinda.
"Udah Kakak bilang berkali-kali kan, Din. Jangan pernah membuat orangtua sedih, malu dan tidak nyaman. Jaga kehormatan mereka..."
"Iya, Kak. Dinda kan juga cuma bercanda. Dinda janji jadi anak yang manis, seperti Kak Rinda."
Mereka masih tersenyum dalam tangis. Dalam hati mereka, sebenarnya mereka menyangkal kalimat itu.
"Tapi maaf, Kak. Aku nggak mau seperti kakak, karena aku tidak akan pernah mampu setegar kakak..." Gumam Adinda di dalam hati, membuatnya semakin menangis.
"Jangan pernah menjadi seperti Kakak, Din. Karena ini sangat menyakitkan. Ini sangat menyiksa. Dan Kakak gak pernah rela kalo kamu menderita seperti Kakak."
Arinda mengusap lembut kepala Adinda yang masih nyaman berada di pelukannya.
"Jadilah seperti apa yang kamu inginkan, Din. Dan jadilah diri kamu sendiri. Itu akan menjadikan dirimu anak yang manis."
__ADS_1
Tak ada kata-kata lagi setelah itu. Adinda mengangguk pelan dalam diamnya. Dan Arinda seolah sudah lelah dengan semua kata. Adinda segera kembali ke kamarnya, karena Arinda akan melanjutkan perawatan tubuhnya yang terakhir.
Besok, Arinda akan menjadi ratu sehari. Dan para profesional yang dikirimkan Ardan, akan membuatnya menjadi ratu yang istimewa dan mempesona dengan sempurna. Mereka berjanji tidak akan sedikit pun mengecewakan seorang Ardan.