
***Salam hangat untuk kalian semua, Kawanku... ššš
Mohon maaf banget ya kawan, beberapa hari ini Author nggak update,,,
alasannya karena ada beberapa agenda keluarga di kehidupan nyata š š yang memaksa Author & keluarga disibukkan dengan berbagai macam urusan.
Tapi abis ini, Author berusaha ngebut dehhh,,buat ngobatin kerinduan kawan-kawan sama Arinda dan Ardan..š
Tak lupa juga Author ucapkan terimakasih banyak ššš buat kawan-kawan yang sudah mendukung Author untuk berkarya, yang udah like, komen yang baik, dan meluangkan waktu untuk mengikuti kisah Arinda dan Ardan ini.. šš trus jangan lupa vote juga yaa..šš
Semoga ke depannya, Author bisa lebih banyak lagi belajar dan menelurkan karya-karya yang lebih oke lagi..šš
I LOVE U, all... ššš***
---------------------------------------------
~Kediaman orangtua Ardan....~
"Minggu depan, Mas..." Ardan memberitahukan kabar pernikahannya kepada satu-satunya kakak lelakinya.
"Hah, minggu depan...??? Kamu yakin, Ar...?" Kakaknya terkejut bukan main mendengar kabar dari Ardan. "Jangan main-main sama anak orang, Ar..."
"Siapa yang main-main, Mas. Aku serius. Mas Aldi kan tahu sendiri gimana perasaanku selama ini sama Arinda."
"Iya Ar, aku tahu kamu cinta mati sama Arinda. Tapi nggak perlu gegabah kayak gini kan. Jangan sampai kamu salah memilih jalan, karena nanti kamu sendiri yang bakalan menyesal..."
Perdebatan di taman belakang antara adik dan kakak itu pun tak terelakkan. Aldi masih shock dengan keputusan yang sudah Ardan ambil tanpa berunding terlebih dahulu dengan keluarga. Sedangkan Ardan merasa keputusannya inilah yang paling tepat. Karena ia tak ingin kehilangan Arinda untuk yang kedua kalinya.
Aldian Pratama, seorang pemilik supermarket ternama di beberapa kota besar negeri ini. Sosok yang tegas, bijaksana, demokratis, bertugas sebagai kepala keluarga di rumah itu menggantikan ayahnya yang telah lama wafat.
"Aku tidak akan menyesal, Mas." Ardan tampak sangat yakin. Namun itu tak menghilangkan keraguan dalam diri Aldi.
"Kamu tahu, Ar...? Tak kan pernah mudah bagi seorang wanita untuk menjadi istri kedua. Begitu juga bagi istri pertama, mereka tak pernah ingin suaminya mendua. Seperti apa pun kondisinya."
Aldi memberikan pandangan kepada Ardan, entah seperti apa pun tanggapan Ardan nantinya. Karena Aldi tahu, Ardan tidak akan pernah menarik kembali apa yang telah ia putuskan. Aldi hanya ingin memastikan, Ardan telah siap dengan segala konsekuensinya.
"Mas, aku sudah siap dengan semua itu." Tak ada ragu sedikit pun dari ucapan dan sorot mata Ardan. Adu argumen yang berlangsung cukup lama itu pun akhirnya membuat Aldi memahami keyakinan Ardan.
"Kalau begitu, baiklah Ar. Aku merestui pernikahanmu."
Ardan bernafas lega mendengarnya. Ia sangat berterimakasih atas perhatian dan pengertian Kakaknya itu. Ia pun mendekat dan memeluknya.
__ADS_1
"Nanti aku bantu untuk bicara sama Ibu. Semoga beliau memahamimu sepertiku. Dan memberikan restunya untuk pernikahanmu."
Ardan mengangguk. Ia yakin, ucapan Kakaknya yang selalu bijaksana, pasti akan mampu membuat ibunya mengerti.
Setelah makan malam bersama, Aldi membicarakan tentang pernikahan Ardan kepada Ibunya. Di ruang keluarga, Ibunya yang didampingi istri Aldi mendengarkan ucapan Aldi dari awal sampai akhir. Ardan yang ada diantara mereka pun memandang Ibunya dengan penuh harap.
Ada gurat kecemasan di wajah Ibunya. Terkejut, itu sudah pasti. Meskipun ibunya tahu tentang perasaan terpendam Ardan kepada Arinda selama ini, namun ia tak pernah menyangka puteranya akan mengambil keputusan berat itu.
"Memiliki dua istri, itu bukan perkara mudah, Ar. Kamu sudah memikirkan itu...?"
"Sudah, Bu. Jangan khawatirkan itu. Ardan sudah mempersiapkan diri untuk segala konsekuensi dari pernikahan ini..."
Ardan berusaha menepis segala kekhawatiran dan ketakutan dalam diri ibu dan keluarganya. Sulit memang untuk meyakinkan mereka. Dan kepercayaan diri Ardan tak mampu membuat ibunya dengan mudah menerima keputusan Ardan.
"Ardan..." Suara ibu membuat Ardan lekat memandangnya.
"Ibu tahu, kamu sudah mempertimbangkan semuanya dengan matang, kamu yang lebih tahu baik dan buruk dari apa yang telah kamu putuskan."
Ibu menghela nafas sebentar
"Tapi..., pasti akan banyak kesulitan untuk membahagiakan dua wanita sekaligus. Kalau kamu lengah sedikit saja, yang ada kamu akan menyakiti mereka berdua."
"Maafkan Ardan, Ibu." Ardan menenggelamkan wajahnya di pangkuan ibunya. "Ardan harus menempuh jalan ini untuk mendapatkan kebahagiaan. Ardan tidak bermaksud membuat Ibu khawatir."
Jemari Ibu yang mulai keriput, membelai lembut kepala Ardan. Seolah merasakan sebuah kegelisahan yang tersembunyi. Namun Ibunya tahu, kegelisahan Ardan bukanlah tentang jalan yang ia pilih, tetapi pada kondisi perasaan Ibunya.
Ibunya juga tahu, perjalanan Ardan dalam pernikahannya dengan Angel mengalami banyak kesulitan. Hingga membuatnya lemah tak berdaya. Bahkan sempat beberapa kali Ardan menangis dalam pangkuan Ibunya. Meskipun ia tak pernah mengungkapkan kepiluan hatinya, namun Ibunya mampu menangkap kepedihan itu.
Tapi, keputusan untuk menikah lagi bukanlah pilihan yang tepat menurut ibunya. Apalagi wanita kedua yang dipilih Ardan adalah Arinda, sosok wanita yang cukup mendapatkan tempat di hati ibunya. Ia khawatir, jika keputusan Ardan ini akan merubah hubungan baik yang sudah ada.
"Pikirkanlah kembali semua yang telah kamu putuskan Ardan...!" Tiba-tiba suara ibu mulai tegas.
"Bukannya ibu tidak ingin kamu bahagia, tapi Ibu rasa, ini bukanlah langkah yang bijaksana untuk menjadi bahagia. Terlebih lagi, Arinda yang kamu jadikan istri keduamu. Apa kamu tidak pernah berfikir, bagaimana jika nanti kamu gagal membina rumah tanggamu dengan Arinda. Kamu akan merusak hubungan baik yang sudah ada. Dan Ibu tidak rela jika itu benar-benar terjadi..."
"Ibu, Ardan pasti akan berusaha dengan sekuat tenaga untuk membahagiakannya juga, Bu. Ardan tidak akan membiarkan kekhawatiran ibu terjadi..."
Ibunya mulai berkaca-kaca. Berbicara dengan suara parau, sembari menggeleng perlahan.
"Kali ini, Ibu tidak yakin dengan apa yang menjadi keputusanmu, Ardan. Ada banyak cara untuk bahagia. Pertahankan dan perbaiki hubungan rumah tanggamu dengan Angel. Dan berusahalah untuk tidak menyakiti siapa pun demi mendapatkan kebahagiaanmu."
Ardan sudah terisak di pangkuan Ibunya. Menumpahkan segala beban yang ada di dada. Namun, restu Ibunya tak kunjung ia dapatkan. Ia merasa kehilangan kekuatan. Dan mungkin langkahnya akan terhenti di sini. Karena terhalang restu yang paling dinanti.
__ADS_1
Semua diam terpaku. Tenggelam dalam pikiran dan argumen masing-masing. Tak ada yang berani bersuara untuk beberapa saat. Setelah dirasa semua tenang, Aldi mulai mencoba bicara.
"Ibu, Aldi rasa tidak ada yang harus Ibu khawatirkan. Ibu tenang saja. Semua sudah dipersiapkan Ardan dengan matang. Banyak sekali yang menjadi pertimbangan Ardan untuk mengambil langkah ini, Bu."
"Ibu tahu, Ibu yakin kalian orang yang sudah bisa memilah dan memilih mana yang lebih baik dan mana yang dirasa buruk. Tapi mungkin, terkadang kalian akan lupa, buta hati dan terlena karena terlalu berharap dengan satu hal yang menurut kalian benar."
Ardan tersentak mendengar ucapan ibunya. Merasa ibunya masih belum paham dan masih meragukan kesungguhan Ardan. Rasa khawatir yang berlebihan membuat ibunya belum mampu memutuskan sesuatu.
"Karena itulah Aldi, Ardan, terkadang kalian harus diingatkan agar kalian tidak salah langkah."
"Ibu...." Ucap Ardan seperti tak bertenaga. "Ardan hanya mengharapkan Arinda, Bu. Arinda lah kebahagiaan Ardan. Selama ini, Arinda lah yang menjadi motivasi Ardan untuk sampai di titik ini. Salah satu keberhasilan Ardan hingga hari ini, tak pernah lepas dari doa Ibu dan semangat yang Arinda berikan dulu. Kalian lah, dua wanita yang sangat berharga untuk Ardan."
Ibu hanya memejamkan mata mendengar setiap kata yang Ardan ucapkan. Sembari merenunginya dan berusaha memahami dalam diamnya.
Perlahan Ardan melepas pelukan dari pangkuan ibunya, kemudian memohon diri untuk pamit. Ia ingin segera pulang, dan membiarkan ibunya bisa berfikir dengan leluasa.
"Ardan pulang dulu, Bu." Tak lupa Ardan mencium kedua pipi ibunya sambil berbisik, "Terimakasih, wanita-wanita hebatku..." Kemudian bersalaman dan mencium punggung tangan ibunya.
"Ardan mohon, datanglah ke acara pernikahan Ardan, Ibu. Dan bawalah restumu untuk kami..."
Ibu dan yang lain terperanjat mendengar ucapan Ardan, yang memberikan sinyal bahwa ia akan tetap menikah dengan ataupun tanpa restu ibunya saat ini. Ia hanya berharap, ibunya mampu merubah pendirian untuk beberapa hari ini, sebelum pernikahan dilangsungkan. Ardan pun segera berlalu setelah menundukkan kepalanya. Pulang tanpa membawa restu dari ibunya.
"Hana, tolong antar Ibu ke kamar. Ibu mau istirahat." Ucap ibu kemudian setelah Ardan menghilang di balik pintu utama.
Hana adalah istri Aldi. Dialah yang selalu tulus menemani dan mendampingi Ibu. Tak diragukan lagi kesetiaan dan kemampuan Hana dalam membahagiakan orang-orang di sekitarnya. Itulah yang membuatnya menjadi sosok menantu idaman Ibu.
Dan Ardan, ingin memberikan menantu yang peduli serta perhatian juga kepada ibunya. Seperti kakaknya yang berhasil mendapatkan istri idamannya. Namun kini, apa daya Ardan ketika ibunya masih belum ingin membuka hati untuk kehadiran menantu baru di keluarganya itu. Sedangkan Angel, bukanlah wanita rumahan yang diharapkan Ardan.
Obrolan penting keluarga itu selesai, dengan hasil yang tidak diharapkan. Hati Ardan berkecamuk. Belum berhasil mengantongi restu dari ibunya, dan juga belum bisa memulangkan Angel. Sedangkan waktu semakin sempit mendekat ke hari H.
Hampir sama dengan apa yang dirasakan Ardan, hati Victor juga berkecamuk. Semakin hari membuatnya semakin frustasi, ketika hari H pernikahan Ardan semakin dekat di depan mata. Tugasnya memancing Angel pulang, sepertinya tak kan membuahkan hasil. Di samping Angel memang tidak mau memikirkan hal lain selain karirnya, Ardan juga berpesan untuk tidak memberitahukan apa yang sebenarnya sedang terjadi.
"Nona, saya mohon percayalah. Setidaknya untuk kali ini saja. Tuan Ardan ingin anda pulang dan menyaksikan momen penting dalam hidupnya."
"Vicky, aku yakin sepenuhnya Ardan lelaki yang hebat. Aku percaya dengan kemampuannya. Dan aku sudah terlalu sering menyaksikan pesta untuk merayakan keberhasilannya. Lain kali pun ia akan berhasil. Dan aku akan meluangkan waktu nanti. Tapi mengertilah, Vic. Tidak kali ini."
"Tapi, Nona. Saya mohon....."
"Vicky, sudah cukup...!!! Aku mohon, jangan menggangguku kali ini. Seluruh jerih payahky selama ini akan sia-sia, jika aku gagal di titik ini. Aku harap kalian mengerti. Dan aku berjanji, aku akan mengucapkan selamat padanya nanti, secara langsung."
Hampir setiap hari Victor ditolak mentah-mentah oleh Angel. Perdebatan pun seringkali tak terhindarkan. Namun Victor tidak pernah putus asa untuk selalu mengingatkan, dan memberikan sinyal bahwa ini bukanlah pesta yang biasa dirayakan Ardan.
__ADS_1