
Hari beranjak sore. Arinda telah lama terbangun. Bahkan ia sudah selesai menyantap makan siangnya yang telah tersedia di atas meja. Arinda merasa akan membutuhkan lebih banyak energi untuk menghadapi harinya di rumah asing itu. Hingga ia pun tak mau berpikir panjang untuk segera menyantap makanan itu. Ia yakin, makanan itu disediakan untuknya. Karena memang hanya dirinya lah yang tinggal di kamar itu.
Setelah menghabiskan setengah gelas jus mangganya, Arinda ingin bersantai sejenak di balkon. Ia teringat pemandangan indah dari balkon itu. Perlahan ia menggeser pintu kaca yang dilapisi tirai lembut itu. Udara segar masih terasa, meskipun hari sudah sore. Menyelinap, memaksa masuk ke dalam kamar Arinda.
Arinda tersenyum merasakan kesegaran udaranya. Lalu ia berjalan menuju pagar pembatas di tepi balkon. Menyentuh pagar pembatas itu, dan terasa dingin. Sembari memejamkan mata, ia mulai membentangkan tangannya. Seolah-olah memberikan ijin kepada alam untuk menyentuh seluruh tubuhnya.
Arinda menarik nafas panjang, seakan tak ingin melewatkan sedikit pun kesempatan untuk menikmati kesegaran udara disana. Menghembuskan nafas dengan perlahan, seakan tak rela udara segar itu keluar dari tubuhnya.
"Enak banget disini..." Gumamnya.
Arinda tampak sangat menikmatinya. Seolah ia lupa dengan apa yang ia lakukan beberapa jam yang lalu, ketika ia berteriak dan menangis tersedu di balik bantalnya.
"Hmmm...tempat liburan yang nyaman..." Gumamnya lagi.
Suasana disana sangat hening. Tenang. Hanya suara-suara alam yang terkadang melintas. Suara kicau burung lah yang mendominasi. Selebihnya, "entah suara apa itu..." bisik Arinda tak perduli di dalam hati.
"Mbak Arinda..." Arinda kaget. Karena suara itu tiba-tiba muncul di belakangnya. Arinda menoleh cepat, dan mendapati Bi Imah sudah ada di balkon itu bersamanya.
"Gila...kenapa dia tiba-tiba disitu. Kapan dia masuk...?" Gumam Arinda sedikit kesal di dalam hatinya.
"Ehh,,, iya Bi..." Ucap Arinda kepada Bi Imah, sambil masih menguasai rasa kagetnya. "Kapan Bi Imah masuk...?" Lanjutnya lagi. Meyakinkan dirinya bahwa Bi Imah ini manusia biasa. (Bukan Manusia jadi-jadian yang bisa menembus tembok. Dan bukan pula siluman yang bisa berubah wujud, atau mengecilkan diri, atau menghilang dan tau-tau cling...muncul lagi tepat di depan wajahnya dalam bentuk yang aneka rupa...hahahaa)
"Baru saja, Mbak..." Jawab Bi Imah. "Tadi waktu Bibi masuk, Bibi liat pintu sini terbuka..." Katanya lagi sambil menunjuk pintu geser menuju balkon. "Bibi berpikir pasti Mbak Arinda disini. Dan ternyata benar..." Lanjut Bi Imah sambil tersenyum.
Bi Imah memang sosok yang ramah. Ia tampak sangat mengayomi kepada para pelayan di rumah ini. Tutur katanya lembut, santun dan pandai memilih kata saat berbicara.
__ADS_1
"Ada apa, Bi...?" Tanya Arinda kemudian.
"Sudah waktunya mandi sore, Mbak Arinda..." Jawab Bibi.
"Hahh...???" Arinda terkejut. Matanya sedikit terbelalak menatap Bi Imah. Arinda terheran, kenapa urusan mandi saja harus diatur sama Bi Imah. Padahal dirinya sudah sebesar ini, dan bukan anak-anak yang masih suka bermain lompat tali dan gobak sodor..hahaha
Arinda mengulum senyum sambil menyembunyikan wajahnya yang terlihat bodoh ke arah samping. Bibi menangkap raut muka aneh itu. Dan hanya tersenyum geli melihatnya.
"Nanti biar dibantu..." Belum selesai Bi Imah berbicara, Arinda langsung mengibaskan kedua tangannya tanda menolaknya.
"Tidak tidak...Tidak usah Bi... Saya bisa mandi sendiri, gak usah dibantu segala..." Ucap Arinda secepat kilat memotong ucapan Bi Imah.
"Tapi, Mbak Arinda..." Lanjut Bi Imah dan lagi-lagi kalimatnya terpotong.
"Jangan berlebihan memperlakukan saya, Bi... Karena itu membuat saya merasa tidak nyaman. Nanti kalau saya tidak nyaman, kan jadi tidak betah..." Lanjut Arinda. Dan syukurnya, Bi Imah mau memahami alasan Arinda yang menurutnya masuk akal.
Bi Imah terlihat menghela nafas karena merasa tak bisa membujuk Arinda untuk dimandikan lagi.
"Baiklah kalau begitu. Biar Bibi siapkan airnya, Mbak Arinda cepat mandi, ya..." Kata Bi Imah yang kemudian masuk kedalam dan menyiapkan air untuk mandi Arinda.
Arinda menarik nafas panjang, sambil sedikit menggeleng kepala. "Huft,,," Desahnya merasa telah berhasil membujuk Bi Imah. Ia kembali memandang ke arah danau dan pemandangan di sekitarnya.
Tanpa ia sadari, sepasang mata tengah mengintainya melalui kamera CCTV sedari tadi.
Ardan Darmawan, yang kini berada di Singapura untuk urusan bisnisnya, sudah ada di depan laptopnya. Memandangi sosok Arinda tanpa jemu. Setelah mempersiapkan segala keperluan meeting pentingnya malam ini, untuk kesekian kalinya seorang Ardan tidak menemukan alasan untuk tidak tersenyum saat memandangi gadis impiannya itu.
__ADS_1
Victor Sanjaya, yang biasa dipanggil Vicky itu, tak bisa berkutik ketika melihat Ardan tengah berbunga-bunga di meja kerjanya. Ia hanya mampu bersyukur, karena atasannya itu seperti telah menemukan dirinya kembali. Beberapa tahun ia tak melihat wajah sumringah dengan senyum tulus itu dari diri Ardan, kini ia hanya akan berharap sebanyak-banyaknya dengan kemunculan Arinda di dalam kehidupan Ardan.
"Semoga kamulah orangnya..." Bisik Victor yang seperti ikut berbunga-bunga melihat atasannya itu tersenyum lagi dan lagi.
Sementara itu,,,
Arinda yang masih enggan untuk meninggalkan keindahan di hadapannya itu, berdiri mematung tanpa ekspresi apapun. Ia kembali teringat tentang nasib dirinya yang tidak tahu akan seperti apa. Ia berbalik, dan duduk di kursi santai, sambil mengingat-ingat lagi kejadian di hari itu.
Beberapa saat sebelum menangis tadi siang, Arinda tau betul bahwa malam sebelumnya ia masih ada di mobilnya. Menyetir seperti biasa. Dan ia merasa, sudah hampir sampai di depan gerbang rumahnya. Tapi tiba-tiba mobilnya berhenti. Mesinnya mati. Arinda sudah mencoba beberapa kali menyalakan lagi, tapi tetap tidak berhasil.
Karena jarak sampai kerumahnya hanya beberapa meter lagi, Arinda memutuskan untuk berjalan kaki pulang kerumah. Tapi hujan yang cukup deras di luar saat itu, dan Arinda tak menemukan payung di dalam mobilnya, membuat Arinda tak ingin beranjak dari mobilnya.
"Aduhhh, gimana ini...?" Arinda mencoba berpikir. "Pak Ujang kemana lagi, ditelpon dari tadi gak diangkat-angkat..." Gerutunya kesal.
Lalu Arinda segera mengatur strategi. (Udah kayak mau perang aja.. Haha.) Pertama, ia harus lari secepatnya untuk sampai di depan gerbang rumah. Lalu ia akan meminta Pak Ujang, security di rumahnya, untuk mencoba menyalakan mobilnya dan membawanya pulang. Setelah itu ia akan mandi air hangat, minum teh chamomile hamgat dan segera istirahat.
"Yuppp, sempurna..." Ucapnya sambil menjentikkan jarinya.
Kemudian Arinda benar-benar keluar dari mobilnya. Ia mengunci mobilnya sambil berlari memecah hujan yang semakin deras saat itu. Tapi kemudian...
Arinda mengingat-ingat lagi dengan keras. Matanya menerawang seperti mencari sesuatu. Keningnya berkerut. Dan kemudian ia menghembuskan nafas dengan kasar. Ia tak tau apa yang terjadi setelah itu. Buntu. Dan tiba-tiba ia terbangun di pagi hari, di tempat asing ini.
Arinda seperti menahan geramnya. Ia menggigit bibir bawahnya. Memegang kepalanya, dan mengacak-acak rambutnya yang terurai.
"Pelan-pelan saja, Arinda..." Ucapnya menyemangati diri. Ia hanya berharap, semua akan baik-baik saja seperti yang diucapkan Bi Imah. Arinda mencoba menenangkan diri sejenak, dan tak lama kemudian, ia memilih segera masuk ke dalam kamar dan mandi.
__ADS_1