
Jejak hujan masih terlihat di luar sana. Udara basah dan lembab masih jelas terasa. Hembusan angin masih dingin menyentuh kulit.
Arinda masih malas beranjak, setelah membuka mata beberapa saat lalu. Ia tertidur siang tadi, seusai mengerjai kawanan lelaki gagah di lantai bawah. Hawa sejuk yang dibawa hujan, seolah menina bobokan Arinda yang terbaring diam di ranjangnya.
Cukup lama Arinda merasa iba pada dirinya sendiri siang tadi. Pengakuan orang-orang kepercayaan Ardan telah membuatnya seperti terjatuh dari ketinggian.
"Aaahhh.., aku pasti terlihat seperti gadis malang yang tak memiliki kekuatan."
Kakinya menendangi kasur dan selimut tak berdosa. Arinda menutup wajah erat dengan kedua tangannya. Tak ingin bertemu dengan bayangan dirinya, yang tak berdaya di depan kedua lelaki gempal malam itu.
"Sial...!!!"
Arinda memaki dirinya sendiri. Ada penyesalan terselip di hatinya. Kenapa ia harus pulang larut malam saat itu, padahal beberapa karyawannya sudah memintanya pulang lebih awal.
Tapi...
"Jika semua ini tidak terjadi, mungkin aku belum bisa bertemu dengan Ardan hingga hari ini."
Ungkapan syukur dan terimakasih lebih merajai hatinya yang sempat pilu. Kini ia tak tahu harus merasa kesal atau senang. Atau haruskah merasakan keduanya.
Akhirnya, Arinda memilih segera mandi daripada memikirkan sesuatu yang membuatnya kebingungan sendiri itu. Langkah kakinya gontai menuju kamar mandi.
Tak berapa lama ia masuk ke kamar mandi, seseorang mengetuk pintu kamarnya.
Tokk.. tokk.. tokkkk...
Karena tak ada sahutan dari dalam kamar, ia mencoba membuka pintu dan menengok ke dalamnya.
"Arin..." Tapi tak menemui siapa pun di ruangan itu. Ranjangnya pun sudah kosong.
"Arin..." Panggilnya lagi.
Ia lalu mencoba melihat ke arah balkon, siapa tahu pemilik kamar ada di luar sana. Tapi pintu balkon tertutup tirai yang menghalangi pandangannya. Ia menyibak tirai itu dan mengintip ke arah luar. Tiba-tiba....
"Aaaaaaaa........!!!!!"
Sebuah teriakan dari arah belakang mengejutkannya. Ia berbalik badan dan...
"Aaaaaaaa......!!!!!"
Ia pun terkejut bukan kepalang dengan apa yang dilihatnya. Ia berteriak keras, sama kerasnya dengan teriakan Arinda, sembari menutup erat matanya dengan kedua tangannya. Dengan cepat ia membalikkan badannya lagi menghadap pintu balkon.
"Maaf...!!!" Ucapnya cepat, entah terdengar atau tidak.
"Dasar mesum...!!!" Teriak Arinda yang tubuh polosnya hanya tertutup dengan handuk putih.
"Keluarrr...!!!"
__ADS_1
Melempari punggung Ardan dengan bantal. Bergegas ia berlari, masuk kembali ke dalam kamar mandi. Cepat-cepat ia tutup pintunya, mengunci rapat. Nafasnya masih tak beraturan sampai beberapa saat. Kaget, takut dan malu campur aduk jadi satu. Memejamkan mata sekencang mungkin.
Ardan masih tertunduk, berdiri menempel di pintu balkon saat Arinda sudah sampai di kamar mandi. Nafasnya tersengal, dadanya bergemuruh, tangan dan kakinya bergetar. Ia mencoba menguasai dirinya.
Malu dan takut juga dirasakannya. Tak tahu harus berkata apa jika nanti bertemu Arinda.
"Mimpi apa aku semalam...?" Gumamnya.
Lagi-lagi, pikiran nakal lelaki dewasa melintas di benak Ardan.
"Tubuh yang indah..." Ardan menelan ludah, tersenyum mengingat lagi raga yang mempesona di hadapannya beberapa saat lalu. Kulit putih bersih, halus mulus, bercahaya, andai saja ada nyamuk yang hinggap di sana pasti akan tergelincir.
Ardan berlari keluar setelah sadar dirinya berada di tempat dan saat yang tidak tepat. Bahkan ia lupa memberitahukan tujuannya mencari Arinda.
Hingga tiba waktunya makan malam, Ardan belum berani menemui Arinda sama sekali. Dan mau tak mau, akhirnya mereka bertemu di meja makan. Canggung menyelimuti keduanya, hingga Victor pun curiga. Dia berpikir telah terjadi sesuatu diantara mereka berdua.
"Hai..." Ardan mencoba menyapa.
"Hai..." Sambut Arinda. Salah tingkah. Memandang entah kemana. Seperti ingin kabur karena menghindari sesuatu.
Victor melihat tingkah mereka yang terlihat lucu. "Hai...??? Sapaan macam apa itu...? Menggelikan sekali mereka malam ini..."
Setelah mereka duduk, Arinda mulai mengambil nasi, lauk dan sayur untuk Ardan. Tak bicara apa pun. Ardan pun hanya menunduk, tak berani menatap Arinda. Victor jadi bingung sendiri berada di situasi yang tak nyaman itu.
"Ini cukup...?" Tanya Arinda sembari meletakkan piring Ardan.
"Cukup. Makasih, Arin..."
Tak berapa lama, Ardan sudah menghabiskan makanan di piringnya. Lalu ia berdiri, dan beranjak meninggalkan meja makan. Menuju ruang keluarga, sendirian. Arinda hanya menatap punggung Ardan dengan perasaan kesal. Ia melanjutkan makannya.
Victor yang hanya tinggal berdua dengan Arinda di meja makan, merasa sungkan. Kemudian menghabiskan makannya dengan cepat. Dan meninggalkan Arinda sendirian, setelah mohon diri untuk pergi lebih dulu.
Di ruang keluarga...
"Ehemmm..." Victor berdehem mencoba menyapa Ardan yang terlihat kacau. "Maaf Mas, apa saya sudah melewatkan sesuatu...?"
Ardan hanya melihatnya sepintas. Tak mengatakan apa pun. Victor mengangguk, tak ingin memaksa Ardan untuk bicara lagi.
"Aku melakukan kesalahan, Vic" Ucap Ardan kemudian, membuat Victor terkejut karena Ardan tiba-tiba bersuara. Namun lebih terkejut lagi karena mendengar kalimat Ardan.
"Kesalahan...?"
"Tadi sore aku......" Belum sempat Ardan bercerita, ia melihat Arinda yang sudah selesai makan malam. Ia beranjak dari tempat duduknya dan segera menghampiri Arinda. Victor hanya bengong, kecewa karena akhirnya ia tak tahu ada apa sebenarnya.
"Ikut aku..." Ucap Ardan saat sudah di hadapan Arinda.
"Kemana...?" Arinda ingin tahu.
__ADS_1
"Ikut saja..."
Akhirnya Arinda mengikuti Ardan tanpa banyak bertanya. Naik ke lantai atas, dan belok ke arah berlawanan dengan kamar Arinda.
"Hahh..., itu kan kamar Ardan." Jantungnya berdegub kencang. "Apa dia akan membawaku ke kamarnya...? Oh tidak..., mau apa dia...???"
Tapi ternyata, Ardan melewati pintu kamarnya. Arinda merasa lega. Namun belum juga tenang karena Ardan terus berjalan, melewati ruang kerjanya juga.
"Mau kemana dia sebenarnya...?" Arinda masih bertanya-tanya, tapi hanya di dalam hatinya. Melihat wajah Ardan yang sangat dingin malam itu, membuat Arinda sama sekali tak berani bersuara.
Ardan membuka sebuah pintu yang ada di ujung lantai itu. Lalu mempersilahkan Arinda masuk dengan isyarat tangannya. Betapa tercengangnya Arinda melihat sesuatu di balik pintu itu.
"Apa dia mau menenggelamkanku...?" pikiran Arinda tambah kacau.
Di depannya, ia melihat sebuah dinding kaca yang cukup tinggi, dengan air yang sangat jernih di dalamnya. Sebuah kolam renang outdoor, dengan satu sisi dindingnya terbuat dari kaca. Atap kolam renang itu juga terbuat dari kaca, sehingga bisa langsung melihat ke langit.
"Ikut aku..." Ucap Ardan mengejutkan Arinda. "Kita naik..."
"Naik...?" Pikir Arinda. Ternyata ada anak tangga lagi di sebelah dinding. Mereka menuju lantai paling atas di rumah itu. Tepatnya di rooftop.
Awalnya Arinda hanya melihat sofa di dalam gazebo yang dikelilingi tirai yang terikat. Ketika naik lagi dan menginjakkan kaki di lantai itu, Arinda tidak hanya takjub melihat keindahan disana.
Ada sofa panjang di kiri Arinda. Di sebelah kanan Arinda ada minibar dan kitchen, lengkap dengan kursi yang berbaris di meja barnya. Maju lagi, ada 2 set meja dan bangku lengkap dengan payung besar di atasnya.
Tempat itu dikelilingi taman dan beberapa bonsai yang sangat cantik, serta atap kaca yang melindunginya. Hanya beberapa lampu yang sengaja dinyalakan, menambah hangat suasana di sana.
Maju lagi beberapa langkah, ada sebuah tempat dengan menuruni 3 buah anak tangga. Lantainya hijau, seperti hamparan rerumputan, dan kini benar-benar beratapkan langit. Tampak bintang-bintang bertebaran di atas sana. Yang paling membuat Arinda terkesima adalah kelap-kelip lampu yang tampak di kejauhan.
Di sanalah kota, tempat dimana rumah orangtua Arinda berada. Berjarak puluhan, bahkan ratusan kilometer dari tempat Arinda berada saat ini.
Mata Arinda membulat. Wajahnya berbinar. Senyum manis nampak di bibir tipisnya. Ardan hanya memperhatikan Arinda dari kejauhan. Menikmati keindahan malam di atap rumah itu.
"Bagaimana tempat ini bisa begitu indah...?" Gumam Arinda. "Ini semua sungguh luar biasa. Kamu memang hebat, Ardan..."
"Terimakasih..." Ucap Ardan yang tiba-tiba mendekat, mengejutkan Arinda. "Kamu suka...?"
"Aku sangat menyukainya..."
Mereka menghabiskan waktu cukup lama di tempat itu. Hingga hampir tengah malam. Arinda sudah berbaring di lantai rerumputan itu, memandangi bintang dan bulan di langit tanpa penghalang.
Sejauh kurang lebih setengah meter dari tempat Arinda berbaring, Ardan berbaring miring memuaskan diri memandang Arinda. Tangan kirinya menopang kepala. Sedangkan tangan kanannya asyik memainkan rerumputan sintetis di hadapannya.
"Nikmatilah malam ini sepuasmu. Aku akan mengantarmu pulang besok pagi..."
"Apa...??? Benarkah...?" Tanya Arinda sambil memandang lekat mata Ardan.
Ardan mengangguk mengiyakan. Arinda hanya mengernyitkan keningnya mendengar ucapan Ardan. Terkejut, karena begitu mendadak Ardan memberitahunya.
__ADS_1
"Terimakasih Ardan..."
Meskipun senang, Arinda merasa sedih harus berpisah lagi dengan Ardan. Mereka pun berbincang panjang lebar hingga menjelang pagi.