
Arinda sudah terbangun saat di luar masih sangat gelap. Ia hanya diam terpaku di tempatnya berbaring. Masih berpikir tentang mimpinya semalam, yang menurutnya terasa sangat nyata. Seorang laki-laki dengan tubuh tegap dan wangi, tiba-tiba muncul di dalam mimpinya. Membelai lembut rambutnya, dan menyibakkannya ke belakang telinga.
"Aneh, aku seperti benar-benar merasa dia menyentuhku. Bahkan aku masih ingat wangi di tubuhnya." Arinda menerawang.
"Tapi, siapa dia tiba-tiba muncul di mimpiku...?"
Arinda yang tidak biasa memimpikan sosok laki-laki menjadi begidik sendiri dibuatnya. Arinda takut jika mimpinya itu akan jadi nyata.
(Padahal itu emang nyata, dan bukan mimpi...hihi.)
Arinda bangun dari posisinya berbaring. Setelah beberapa saat yang lalu menggeliat, melenturkan semua otot tubuhnya. Kini ia sudah duduk bersandar di ranjangnya. Lalu meraih segelas air putih yang biasa disiapkan Bi Imah di atas meja nakasnya.
Glek..glek..glek...
Arinda menghabiskan isi gelas itu. Berharap bisa menangkan dirinya dengan air yang telah diteguknya itu.
Kemudian ia menjatuhkan kepalanya di bantal empuknya lagi. Membenamkan diri di bawah selimutnya. Matanya memandang langit-langit kamar yang selalu membisu.
"Hhh..." Terdengar Arinda menghela nafas pelan. Dan diam lagi setelahnya. Ia mulai merasa tidak nyaman. Bingung harus melakukan apa. Ia tak ingin memejamkan mata lagi.
Lalu ia mencoba bangkit. Menyingkirkan selimut yang menutupi tubuhnya. Duduk sebentar di tepi ranjang. Kemudian menyalakan lampu agar kamarnya lebih terang.
Arinda hanya berjalan mondar-mandir di sekitar ranjangnya. Tak ada yang bisa ia lakukan. Matanya menangkap setumpuk novel yang sempat menemaninya beberapa waktu lalu. Ia berniat meraihnya, namun ia urungkan niat itu. Karena sebenarnya, ia sudah selesai membaca semuanya.
"Atau aku mandi saja ya..." Pikirnya. "Kayaknya seger berendam air anget..."
Ia teringat pelayan yang memandikannya waktu itu menyimpan beberapa botol aromatherapy di lemari kecil di kamar mandi.
"Aaaa, aku mandi sekarang ah..." Ucap Arinda lagi yang segera beranjak menuju kamar mandi. Ia lalu menyiapkan air hangat, dan menyalakan lilin kecil untuk tungku aromatherapinya. Memilih salah satu aroma yang ia inginkan. Kali ini, ia ingin mencium aroma melati.
Tak berapa lama, kamar mandi itu sudah dipenuhi semerbak aroma melati. Arinda duduk di tepi bathup dan memainkan air yang masih mengalir perlahan. Tiba-tiba...
Tok.. tok.. tok..
Jekrekk...
Arinda mendengar suara pintu kamarnya dibuka. Ia terkejut. Matanya sempat melirik ke kiri dan ke kanan, seperti mencari sesuatu. Siapa yang masuk ke kamarnya pagi buta begini.
__ADS_1
Terdengar suara Bi Imah di balik pintu kamar mandi. Arinda sedikit lega.
"Mbak Arinda, apa Mbak Arinda di dalam...?" Tanya Bi Imah.
"Iya, Bi..." Sahut Arinda sembari membuka pintu kamar mandi. "Ada apa, Bi..." Tanya Arinda yang masih penasaran dengan kedatangan Bi Imah yang terlalu pagi menurutnya.
"Mbak Arinda sudah mau mandi...?" Pertanyaan Arinda dijawab dengan pertanyaan oleh Bi Imah, karena melihat Arinda sudah memakai jubah mandinya.
"Iya, Bi. Gerah banget, jadi pengen mandi..." Jawab Arinda.
"Kebetulan sekali, Mbak Arinda." Ucap Bi Imah membuat Arinda panik. Lalu Bi Imah menoleh dan seperti memberikan isyarat kepada seseorang untuk mendekat.
"Perkenalkan, Ini Bella dan Siska. Mereka yang akan membantu Mbak Arin mandi dan merapikan diri." Lanjut Bi Imah.
Benar dugaan Arinda. "Hhhhh..." Arinda menghembuskan nafas perlahan. Arinda hendak mengatakan sesuatu, tapi tiba-tiba Bi Imah mengucapkan kata-katanya terlebih dahulu.
"Maaf, Mbak Arinda... Bi Imah mohon jangan menolaknya kali ini." Air muka Bi Imah menunjukkan keseriusannya.
"Mmm, kemana Indah dan Siti, Bi..?" Tanya Arinda mencoba mengulur waktu. Siapa tau ada celah yang bisa ia gunakan untuk menghindar dari ritual yang memalukan itu.
"Mereka hanya sementara diperbantukan disini, Mbak Arinda. Mulai sekarang dan seterusnya, Bella dan Siska yang akan membantu Mbak Arinda membersihkan dan merapikan diri." Bi Imah menjawab dengan santun.
4 jam waktu Arinda tersita untuk memanjakan dirinya. Meskipun ia merasa risih diperlakukan seperti itu, namun di dalam hati Arinda memuji cara Bella dan Siska dalam bekerja.
Mereka membuat suasana menjadi sangat nyaman. Entah apa penyebabnya. Yang pasti mereka sangat profesional, terlihat sangat berpengalaman dan hasilnya pun sangat memuaskan.
Kini Arinda sudah rapi, wangi dan lebih segar. Wajahnya pun terlihat bercahaya. Sangat cantik. Dengan rambut lurus terurai dengan sedikit ikal di ujungnya, menutup punggungnya.
"Ada sesuatu yang lain hari ini..." Gumamnya.
Terlihat Bi Imah lebih sibuk dari hari biasanya. Beberapa pelayan lalu lalang silih berganti. Entah apa yang mereka kerjakan. Arinda melangkah perlahan ke arah balkon. Bi Imah yang melihat kedatangan Arinda, segera menyambutnya dengan ramah.
"Selamat pagi, Mbak Arinda."
"Pagi, Bi Imah..." Sahut Arinda. Mata Arinda langsung tertuju pada sosok lelaki yang sedang berdiri memunggunginya. Lelaki itu berdiri di tepi balkon, memandang danau di kejauhan. Dengan kedua tangan yang ia simpan di saku celananya.
"Siapa dia..." Gumam Arinda di dalam hati.
__ADS_1
Bi Imah tidak langsung mempersilahkan Arinda duduk.
"Tuan Victor..." Bi Imah menyapa lelaki itu. Mendengar nama yang disebut Bi Imah, Arinda yakin ia tak pernah mengenal lelaki itu.
Victor berbalik. Matanya tertuju pada Arinda, sembari membebaskan tangan dari saku celananya. "Mengagumkan..." Memuji dengan gusar dan mengutuki dirinya di dalam hati. Ia tahu, ada batas bagi dirinya untuk mengagumi gadis di depan matanya itu. Meskipun apa yang ia lihat benar adanya, bahwa Arinda memang mengagumkan.
Arinda memandang Victor dengan tatapan tajam. Berpikir bahwa lelaki di depan matanya inilah yang menjadi dalang dibalik kejadian beberapa hari ini. Arinda hanya terdiam. Menahan seluruh gejolak yang hendak tumpah. Dengan masih tetap menata hati dan menguasai diri. Karena ia membutuhkan penjelasan yang sangat banyak dari lelaki asing itu.
"Siapa dia..? Apa pentingnya dia menyekapku di sini tanpa alasan yang jelas...?" Arinda mulai memasang wajah tak bersahabat.
"Selamat pagi, Nona Arinda..." Victor menyapa dengan santun. Air muka Arinda tak berubah sedikit pun. Datar, dengan sorot mata tajam. Diam seribu bahasa.
"Maaf, membuat Nona menunggu terlalu lama."
Arinda tidak bergeming mendengar ucapan demi ucapan Victor. Ia membidik mata Victor yang nampak jernih. Berharap bisa menjatuhkan mental Victor dengan tatapan mautnya itu.
Tapi sayangnya, itu tidak berhasil. Victor tidak terpengaruh sedikit pun. Dari situ Arinda paham, bahwa sosok lelaki yang sedang berjalan melewatinya itu bukanlah orang biasa.
"Saya mohon, Nona jangan gegabah..." Ucap Victor di balik punggung Arinda. Victor sudah menangkap arti tatapan Arinda. Ia tahu, kini gadis itu sedang menuduhnya sebagai orang di balik layar.
Kemudian, dengan terpaksa Arinda membalikkan badan.
"Tuan, bisakah Anda tidak berbelit-belit...? Saya sedang membutuhkan penjelasan dari Anda. Saya yakin Anda tahu itu...!!!" Ucapan Arinda hanya dijawab dengan senyuman oleh Victor.
Belum sempat mengatakan apa pun, tiba-tiba ponsel Victor berbunyi. Victor menjawab panggilan itu, setelah ia memberi isyarat kepada Arinda, tanda meminta izin. Arinda tak peduli. Hanya mengalihkan pandangan ke sembarang arah.
"Baiklah..." Hanya itu yang dikatakan Victor, menjawab kata-kata seseorang di balik ponselnya. Setelah itu, Victor mengakhiri panggilan. Dan menyimpan ponselnya kembali di saku bagian dalam jasnya.
"Nona Arinda, ada seseorang yang akan menjelaskan dan menjawab semua pertanyaan Nona." Ucap Victor membuat Arinda semakin tak mengerti dengan apa yang terjadi.
Baru saja Victor berhenti bicara, pintu kamar Arinda terbuka. Seseorang muncul dari balik pintu. Arinda memiringkan kepalanya mencoba menjenguk sosok yang datang, karena tertutup oleh badan Victor yang berdiri tegap di hadapannya.
Tahu siapa yang datang Victor segera bergeser ke samping, membalikkan badan ke arah orang itu, dan menundukkan kepalanya. Semua yang ada di sana pun melakukan hal yang sama.
Hanya Arinda yang menampakkan ekspresi berbeda. Ia terperanjat, melihat sosok yang sedang berjalan ke arahnya. Matanya terbelalak. Seluruh urat di tubuhnya menegang. Arinda sedang berada di pusaran amarahnya, menahan dengan sekuat tenaga. Ia tak ingin percaya dengan apa yang dilihatnya.
"Ardan..." Bibirnya bergetar mengucapkan nama itu. Matanya mulai basah. Hidungnya memerah. Ia ingin menangis, berteriak, dan mencabik-cabik wajah lelaki yang kini telah berdiri tepat di depannya.
__ADS_1
Arinda memandang tajam mata Ardan. Masih berharap itu adalah orang lain. Arinda tidak rela mendapati kenyataan, Ardan lah sosok dibalik semua ini. Namun, senyum yang Ardan perlihatkan kepadanya, membuat Arinda yakin, dia benar-benar Ardan yang ia kenal.