Kau Pinang Aku Sebagai Madu

Kau Pinang Aku Sebagai Madu
Episode 3 : Terpana


__ADS_3

"Silahkan diminum cokelat hangatnya, Mbak Arinda..." Kata-kata Bi Imah membuyarkan konsentrasi Arinda yang tengah menikmati pemandangan yang mempesona di luar kamarnya. Ia berdiri di tepi balkon, menyandarkan tubuhnya kedepan pada pagar pengaman di balkon itu. Dilihat dari balkon kamar Arinda, terlihat ada danau buatan dilengkapi dengan pepohonan pinus yang menakjubkan di seberang sana. Ada bukit-bukit gagah yang tampak dari kejauhan, dan sedikit sisa kabut yang menyelimuti puncak pohon-pohon pinus.


Hawa sejuk menyelimuti suasana saat itu, membuat Arinda menyadari ia berada di sebuah tempat yang jauh dari kota. Namun ia sama sekali tidak tahu, dimana sebenarnya ia berada.


"Ehh.., iya Bi Imah, terimakasih..." Sahut Arinda, sambil menuju kursi santai yang tidak jauh dari tempatnya berdiri tadi. Meraih perlahan secangkir cokelat hangat yang telah disediakan di meja yang ada di depannya.


"Hmmm..." Lanjut Arinda saat menghirup aroma cokelat hangatnya.


"Silahkan dicicipi juga kudapan cokelatnya, Mbak..." Lanjut Bi Imah sambil menggeser sebuah nampan kaca yang berisi berbagai camilan yang berbahan dasar cokelat.


"Lulur cokelat, aromatherapy cokelat, pengharum ruangan cokelat, dan sekarang..., ada cokelat hangat dan kudapan cokelat..." Gumam Arinda di dalam hati sambil menyelidik.


"Sepertinya, Dia mengenalku dengan baik..." Lanjutnya.


Arinda memang penggemar cokelat. Setiap hari, Arinda selalu mengawali hari dengan cokelat hangat dan ditemani beberapa camilan cokelat. Dari situlah Arinda selalu merasa mendapatkan energi super untuk menjalani harinya. Semangat yang tak henti-henti dan rasa bahagia yang ditimbulkan dari si cokelat, mampu membuat semua orang yang ia temui ikut merasakan bahagia juga. Itu pendapat Arinda selama ini.


Perlahan Arinda mulai menyeruput cokelat hangatnya itu, dan ia merasa heran. Ia ulangi lagi, menyeruputnya dan heran lagi. Dipandanginya cokelat hangat di dalam cangkir kecil itu.


"Perfect..." Ucapnya lirih. Bi Imah dan beberapa pelayan yang mendampinginya tersenyum puas mendengar Arinda mengatakan itu. Mereka pikir, mereka sudah menyiapkan dan melakukan yang terbaik untuk Arinda. Sesuai perintah majikannya. Padahal sebenarnya...


"Dia benar-benar mengenalku dengan sempurna..." Ucapnya miris di dalam hati. Ia merasa, seseorang di balik semua ini adalah orang yang sangat mengenalnya. Arinda menangkap sinyal itu, dari cokelat hangat dan camilan yang disajikan. Semua yang ada di hadapannya itu adalah cokelat dengan merek yang paling Arinda sukai dan paling sering ia konsumsi.


Arinda juga biasa memakai lulur yang dipakaikan pelayannya tadi untuk melulurnya. Aromatherapy yg ia hirup di kamar mandi tadi, juga aromatherapy yang paling sering ia gunakan. Arinda sangat mengenali itu. Dan semua itu, membuat Arinda merasa semakin tidak nyaman.


"Indah sekali pemandangan disini, Bi..." Ucap Arinda kepada Bi Imah. Hatinya sangat gelisah. Namun ia coba menutupi perasaannya itu dengan sedikit mengobrol dengan Bi Imah. Tak lupa ia tetap tersenyum, agar Bi Imah merasa tenang dan menganggap semua masih baik-baik saja.


"Iya, Mbak..." Jawab Bi Imah. "Tempat ini memang dibuat khusus untuk Mbak Arinda..." Lanjut Bi Imah membuat Arinda terperanjat.

__ADS_1


"Apa...???" Sahut Arinda. Ia luar biasa terkejut dengan ucapan Bi Imah. "Apalagi ini...?" Pikirnya.


"Ahhh..., Bi Imah ini bisa aja... Mana mungkin tempat seindah ini dibuat khusus untuk saya Bi, jangan bercanda ah...!!! Hehehe..." Kata Arinda sambil tersipu malu dan tertawa kecil. Tapi ekspresinya mendadak berubah ketika melihat raut muka Bi Imah yang cukup serius mengatakan itu. Tawa Arinda terhenti tiba-tiba. Ia tahu, Bi Imah tidak sedang bercanda.


"Mmm..., memangnya, siapa yang membuat ini semua, Bi...?" Tanya Arinda.


"Saat semua sudah siap, Mbak Arinda akan tahu semuanya..." Jawab Bi Imah.


Arinda menatap Bi Imah dengan perasaan menyesal. "Sial... kenapa aku harus bertanya lagi..." Arinda mengutuki dirinya sendiri yang tanpa sadar menanyakan sesuatu yang ia sendiri sudah tahu jawabannya.


"Ehh.., iya Bi, maaf..." Ucap Arinda seraya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Iya, Mbak..." Jawab Bi Imah. "Tapi Mbak Arinda tidak harus meminta maaf untuk itu..." Lanjutnya kemudian.


Arinda hanya menatap Bi Imah dengan kesal. Ia menarik nafas dan menghembuskan dengan perlahan.


**************


Sementara itu, ditempat terpisah...


"Gila..., dia luar biasa cantik sekarang...!!!" Ucapnya bersemangat saat melihat rekaman CCTV melalui laptopnya.


"Iya, Mas... dia memang wanita tercantik di muka bumi ini..." Sahut seseorang yang bersamanya di dalam ruangan itu. Ia mengatakannya sambil tersenyum dan menahan tawa sebenarnya, saat melihat tingkah atasannya itu.


"Kapan kita akan pulang, Vic...?" Tanyanya tanpa berpaling dari laptopnya. "Aku sudah tidak sabar ingin menemuinya dan mengobrol panjang lebar dengannya..." Lanjutnya masih bersemangat.


"Malam ini meeting terakhir bersama Tuan Andrew. Jadi, besok kita sudah free, Mas." Kata Victor menjelaskan.

__ADS_1


"Kita bisa santai dulu beberapa hari disini dan jalan-jalan jika Mas Ardan Mau..." Lanjutnya.


"Tidak..." Jawab Ardan yakin. "Kita ambil penerbangan paling pagi besok untuk kembali ke Indonesia. Aku ingin segera menemuinya..."


"Serius, Mas...???" Tanya Victor meyakinkan atasannya itu.


Victor heran, tidak biasanya Ardan ingin cepat kembali jika ada kesempatan meeting di luar negeri. Ardan selalu meminta waktu beberapa hari untuk sekedar menikmati dunia diluar rutinitas kerjanya. Sekedar untuk menghilangkan penat, dan... menghindari sesuatu tepatnya. Hehehe...


"Lakukan saja apa yang ku katakan...!!!" Jawaban Ardan mampu membuat Victor menurut, meskipun ia masih tidak yakin.


"Oke, Mas,,, Siap...!!!" Sahut Victor tanpa bertanya lagi. Ia pun segera mengambil ponselnya, dan memesan tiket untuk penerbangan paling pagi esok harinya. Victor memastikan perintah atasannya itu ia kerjakan dengan baik.


Ardan adalah sosok lelaki yang tegas. Ia tidak terbantahkan dalam beberapa hal. Dingin, tapi memiliki sisi lain yang hangat. Ia cukup disegani, bahkan ditakuti oleh banyak pebisnis di negerinya. Sepak terjangnya dalam menjalankan perusahaan tidak bisa dipandang sebelah mata. Ia sangat jenius, sehingga selalu mampu menemukan solusi untuk setiap masalah, tanpa ada pihak yang dirugikan.


Dengan dukungan dan bantuan asisten pribadinya, Victor, yang selalu ada di sisinya, Ardan memiliki kepercayaan diri yang berlipat ganda untuk menghadapi situasi seperti apapun. Ardan selalu bertukar pikiran dengan Victor, baik untuk urusan pekerjaan maupun urusan pribadinya.


Victor adalah pemuda yang jenius. Ia sedikit lebih keras jika dibandingkan dengan Ardan. Namun ia selalu berhasil menenangkan Ardan saat kondisi moodnya sedang tidak baik. Ia pun mampu mengendalikan Ardan jika ia sudah kelewat terlena dengan sesuatu yang menyenangkan diri Ardan.


Pertemuan mereka diawali saat ayah Victor yang tidak lain adalah salah satu karyawan di perusahaan yang Ardan pimpin, meminta bantuan dana untuk kuliah Victor di perguruan tinggi. Karena Ardan pernah mendengar cerita dari ayah Victor tentang kejeniusan Victor, Ardan pun memutuskan untuk membiayai kuliah Victor dengan uang pribadinya. Bahkan, Ardan memberikan kesempatan kepada Victor untuk memilih beberapa universitas di luar negeri.


Tanpa melewatkan kesempatan itu, Victor pun memilih salah satu universitas ternama di London. Setelah Victor lulus dr universitas itu dengan nilai tertinggi serta prestasinya yang luar biasa membanggakan, Ardan pun meminta pengembalian biaya kuliah Victor dengan menjadikannya asisten pribadi Ardan. Tentu saja orangtua Victor seperti mendapatkan durian runtuh. Victor pun bersedia, dan ia bekerja dengan sangat sungguh-sungguh. Pekerjaannya selalu memuaskan dan tidak pernah sedikitpun mengecewakan Ardan. Itu membuat Ardan semakin mempercayai dan mengandalkan kemampuan Victor hingga sekarang.


"Istirahatlah, Mas..!!! Malam ini kita masih ada meeting penting..." Ucap Victor sembari merebahkan tubuhnya di tempat tidur.


"Hmmm..., istirahatlah dulu..aku masih ingin memandang wajah cantiknya..." Jawab Ardan yang tak bergeming.


Victor pun hanya tersenyum melihat tingkah atasannya yang sedang terpana dengan kecantikan Arinda melalui layar laptopnya itu. Tanpa diketahui Arinda, di salah satu sudut di atas balkon kamar Arinda, terpasang CCTV yang terhubung ke laptop dan ponsel Ardan. Setiap gerak-gerik Arinda pagi itu di balkon kamarnya, terlihat jelas oleh Ardan yang kini sedang berada di sebuah kamar hotel di Singapura. Ardan pun berulang kali tersenyum melihatnya.

__ADS_1


"Pantas saja Mas Ardan tergila-gila pada gadis itu. Dia benar-benar cantik. Aku pun sempat terpana melihatnya tadi..." Gumam Victor dalam hatinya, sambil berusaha memejamkan matanya.


__ADS_2