
Semenjak memiliki cafe sendiri, Arinda memang berubah menjadi seorang gadis workaholic. Ia lebih memilih bekerja di cafenya, ketimbang hangout bersama teman-temannya. Berbeda ketika ia masih duduk di bangku sekolah, saat itu ia suka sekali berlibur ke setiap tempat yang menarik.
Arinda lebih suka berlibur ke luar kota. Terutama ke tempat wisata alam. Mungkin itu juga yang membuat dirinya tidak begitu mengenal jalanan dan tempat-tempat wisata di dalam kota. Ia biasa pergi ramai-ramai bersama sahabatnya, termasuk Ardan.
"Rinda, ambillah cuti dan pergilah berlibur. Udah lama sekali kamu nggak liburan. Jangan terlalu sibuk bekerja, nanti kamu bisa stres..."
Hampir tiap hari papanya meminta Arinda pergi liburan, seperti saat sekolah dulu. Karena papanya khawatir dengan kondisi psikis Arinda jika terlalu dipaksakan untuk bekerja terus menerus.
Namun Arinda terus saja menolaknya. Arinda merasa bahagia karena sudah mampu mewujudkan impiannya memiliki usaha sendiri. Dan ia tidak ingin menyia-nyiakan hasil jerih payahnya itu. Meskipun sudah memiliki karyawan yang bisa diandalkan, namun Arinda tidak ingin lengah dan terlena.
"Nanti lah, Pa. Masih banyak kerjaan di cafe. Arinda nggak bisa ninggalin cafe lama-lama, apalagi cuma sekedar liburan..."
Sampailah ketika beberapa waktu lalu, kedua orang tua Arinda tak sengaja bertemu dengan Ardan di sebuah restoran di luar kota. Ardan yang melihat orang tua Arinda lebih dulu, menyapanya dengan hormat.
"Om Hendra..., Tante Siska..."
Ardan menyalami keduanya, tak lupa mencium punggung tangan mereka. Kedua orangtua Arinda yang sedang menikmati makan malam itu, terkejut bukan kepalang mendapati sahabat Arinda yang telah menghilang bertahun-tahun itu, berdiri dengan gagah di hadapan mereka.
"Ardan..." Ucap mereka hampir bersamaan.
Mereka lalu duduk, dan makan bersama di meja yang sama. Asisten pribadi Ardan yang tak lain adalah Victor, memilih untuk makan di meja terpisah. Karena tidak ingin mengganggu atasannya yang sedang melepas rindu itu.
Papa dan Mama Arinda bercerita banyak tentang Arinda. Bagaimana ia bersedih saat harus terputus komunikasi dengan Ardan, hingga Arinda sudah memiliki usaha sendiri, namun tak pernah mau berlibur.
"Om khawatir, jangan-jangan Arinda mengalami depresi dan melampiaskannya ke pekerjaannya itu. Kalau lama-lama seperti itu terus, dia bisa stres..."
Kedua orangtua Arinda mengungkapkan kekhawatiran yang mereka rasakan tentang Arinda. Mereka berkeluh kesah, tak ingin kondisi Arinda semakin buruk karena hanya mengurusi pekerjaannya.
"Kalau begitu, biar saya yang membawanya berlibur, Om. Tapi..."
Ardan menghentikan kalimatnya. Melihat begitu tegangnya situasi saat itu, Ardan ingin sedikit mencairkan suasana dengan candaan kecilnya. Orangtua Arinda masih menunggu ucapan Ardan berikutnya.
"Tapi saya harus menculiknya..."
Papa Arinda tergelak mendengar ucapan Ardan. Bahkan suara tawanya menggema, hampir memenuhi seluruh sudut di ruangan itu.
"Lakukan apa pun dengan caramu..." Tiba-tiba gelak tawa itu berhenti. "Yang paling penting, Arinda bisa berlibur dan istirahat sejenak dari cafenya itu. Iya kan, Ma...?"
__ADS_1
"Apa...???" Ucapan papa Arinda justru membuat Ardan teperanjat. "Saya kan cuma bercanda, Om." Gumam Ardan di dalam hati. Tapi Ardan jadi paham, mungkin memang sulit membujuk Arinda untuk urusan liburannya, hingga orangtuanya menyetujui hal gila itu.
Pucuk di cinta ulam pun tiba. Ardan merasa sangat beruntung bertemu dengan kedua orangtua Arinda saat itu. Setelah pertemuan pertamanya itu, Ardan tampak beberapa kali menemui orangtua Arinda. Baik di tempat kerja, di taman maupun di rumahnya. Tapi sayangnya, tak pernah ada Arinda diantara mereka.
Pertemuan mereka yang terakhir, saat mereka makan siang di rumah Arinda. Ardan pun menyampaikan maksud kedatangannya saat itu. Tidak seperti biasanya yang hanya berkunjung, tapi kali ini, Ardan berniat melamar Arinda. Meminta dengan hormat kepada kedua orangtua Arinda, bahwa ia ingin menikahi anak pertamanya itu.
Ardan sudah menceritakan kisah hidupnya. Termasuk pernikahannya dengan Angel yang tidak berjalan mulus. Hingga perasaan terpendamnya kepada Arinda, yang tak pernah tersampaikan. Setelah ia memberi pengertian kepada kedua orangtua Arinda, ia kemudian meminta izin untuk langsung menikahinya.
Beberapa hari orangtua Arinda berpikir. Dan mereka menemukan keputusan yang bijaksana. Mama Arinda menghubungi ponsel Ardan.
"Halo, Tante. Apakabar...?" Ucap Ardan setelah Victor menyerahkan ponselnya, dan ada nama mama Arinda di sana.
"Baik, Ardan. Apa kamu sedang sibuk...?"
"Tidak, Tante. Hanya ada sedikit pekerjaan lagi. Ada yang bisa saya bantu, Tante...?"
"Ardan, datanglah ke restoran X malam ini. Ada yang mau Om dan Tante bicarakan sama kamu."
"Baiklah, Tante. Saya akan datang..."
Malam itu, Ardan sudah lebih dulu tiba di restoran bersama Victor dan memesan sebuah ruangan privat. Ardan memperkirakan akan ada pembicaraan penting dengan orangtua Arinda. Karena itu mereka butuh tempat yang nyaman, jauh dari orang-orang. Ardan sudah memberi kabar kepada Mama Arinda. Victor akan menunggu mereka di pintu masuk, kemudian membawa mereka ke ruangan dimana Ardan berada.
"Ardan..." Papa Arinda membuka suara. Ardan mendengarkan dengan seksama. Ia sudah mempersiapkan diri dengan kemungkinan terburuk sekalipun. Dan apa pun keputusan orangtua Arinda, Ardan akan menghormatinya. Dadanya berdegub kencang saat itu, demi mendengarkan kalimat yang akan ia dengar.
"Kamu sudah menyiapkan tanggalnya...?" Tanya papa Arinda kemudian, membuat Ardan sedikit bingung.
"Apa...?"
"Kami menerima kamu sebagai menantu..." Ucap Papa Arinda sambil sedikit tertawa.
"Be..benarkah...?" Ardan masih belum percaya dengan apa yang ia dengar. Ia mematung, masih menunggu kalimat selanjutnya, siapa tahu papa Arinda sedang bercanda.
"Apalagi...??? Siapkan pernikahanmu dengan Arinda. Om dan tante menerima lamaranmu dan sangat merestui kalian."
Ardan masih terdiam kaku.
"Tuan Victor, apa bosmu ini sedang sakit...?" Papa Arinda bertanya kepada Victor sembari cekikikan.
__ADS_1
Victor tersenyum. Menoleh ke arah Ardan sambil memicingkan mata. "Selamat, Tuan Ardan. Anda akan menjadi menantu Tuan Hendrawan Adiguna."
"Hahhh...?" Ardan memandang Victor sambil menepuk-nepuk pipinya, memastikan bahwa itu bukan mimpi. "Aku akan menikah dengan Arinda, Vic. Kamu dengar itu...?"
Gelak tawa di ruangan itu pecah, ketika Ardan menyadari itu bukan gurauan. Ardan bahagia sekali. Matanya berbinar. Senyum merekah di bibirnya. Ia mengucap terimakasih berulang kali kepada kedua orangtua Arinda, sambil bersalaman dan mencium punggung tangan mereka.
"Apa Om sudah bisa memberitahu Arinda tentang dirimu...?" Tanya papa Arinda kemudian.
Ardan menggeleng. "Jangan dulu, Om. Izinkan saya sendiri yang akan menemui dan memberitahunya nanti." Pinta Ardan. Orangtua Arinda pun setuju. Terserah mereka saja, karena merekalah yang akan menjalani. Pikir orangtua Arinda. Mereka tidak ingin dibuat pusing dengan urusan anak muda jaman sekarang.
Sejak pertama kali bertemu dengan kedua orangtua Arinda, Ardan meminta dengan sangat kepada mereka untuk merahasiakan pertemuannya dengan Ardan. Kejutan besar. Itu yang Ardan pikirkan. Ardan akan menemui Arinda di saat yang tepat nanti.
"Kamu jadi berangkat ke Singapura...?" Tanya papa Arinda kemudian, yang sudah diberitahu jadwal Ardan beberapa hari ke depan.
"Besok pagi saya akan berangkat, Om. Jadi malam ini, pengawal saya akan menjemput Arinda dan membawanya ke salah satu villa saya. Saya akan menemuinya setelah saya kembali dari Singapura." Ucap Ardan menjelaskan.
"Semoga semua lancar, kami akan mempersiapkan semua kebutuhan Arinda untuk pernikahan kalian." Suara mama Arinda.
"Tidak perlu, Tante. Kami hanya perlu mengesahkan pernikahan kami dahulu. Dan akan mengadakan pesta setelah Arinda siap. Kami yang akan mempersiapkan semuanya. Tante dan om hanya perlu mengundang beberapa orang sebagai saksi. Saya harap, Om dan Tante mengerti..."
Papa dan Mama Arinda saling pandang.
"Baiklah kalau begitu. Lakukan yang menurut kalian baik. Kami akan mendukung kalian." Mama Arinda tersenyum. Papa Arinda juga mengangguk tanda setuju.
Setelah mereka selesai dengan pembicaraan itu, kedua orangtua Arinda berpamitan untuk pulang. Hari ini Arinda memberi kabar bahwa akan pulang larut malam karena ada General Cleaning di cafe. Ardan sudah diberitahu orangtua Arinda tentang itu, dan Ardan memanfaatkan malam itu untuk bergerak.
Ardan dan Victor mengantar keduanya hingga ke pintu keluar.
"Sampai di sini saja." Ucap papa Arinda menghentikan langkah. "Cepatlah pulang dan istirahat. Besok pagi kamu ada perjalanan dinas kan..."
"Iya, Om. Terimakasih untuk semuanya..." Sahut Ardan.
Tiba-tiba papa Arinda meraih tubuh tegap Ardan, dan memeluknya dengan erat.
"Om titipkan Arinda padamu, Ardan. Jaga dia baik-baik." Butir bening membasahi kedua mata Tuan Hendrawan yang bijaksana itu. Nyonya Hendrawan pun menitikkan air matanya melihat itu.
"Tenang saja, Om. Ardan berjanji, akan menjaga Arinda dengan baik." Ucap Ardan terharu.
__ADS_1
Mereka pun berpisah malam itu. Di tempat lain, kedua pengawal Ardan sedang manjalankan aksinya sesuai perintah Ardan. Mereka membawa Arinda ke villa yang sudah disiapkan Ardan.