Kau Pinang Aku Sebagai Madu

Kau Pinang Aku Sebagai Madu
Episode 11 : Girang


__ADS_3

Tok.. tok.. tok..


Jekrek...


Suara pintu kamar yang diketuk, kemudian dibuka. Bi Imah masuk ke dalam kamar Arinda dengan sedikit terkejut, mendapati Ardan yang terduduk di lantai dengan punggung menempel di dinding.


Ardan memberikan isyarat kepada Bi Imah agar diam, dengan menempelkan jari telunjuknya ke bibir. Ia tidak ingin Arinda tahu bahwa Ardan menyaksikan ratapannya tadi. Bi Imah mengerti, kemudian melangkah ke tempat Arinda berada tanpa menutup pintu kamar. Memberi kesempatan kepada Ardan jika ia hendak keluar.


Sekilas Bi Imah melihat Ardan saat melewatinya. Matanya sembab. Ada bekas tangis disana. Membuat Bi Imah yakin, bahwa Ardan benar-benar sedang jatuh cinta kepada Arinda.


"Permisi, Mbak Arinda..." Sapa Bi Imah setelah sampai di balkon.


"Eh, iya Bi Imah..."Arinda menoleh ke arah Bi Imah. Mata Arinda hampir bengkak karena lama menangis. Tapi bibir Arinda masih bisa tersenyum, meski dipaksakan.


"Mbak Arinda makan dulu, ya. Sudah hampir siang, Mbak Arinda belum sarapan."


"iya, Bi..."


Kemudian Bi imah segera meletakkan nampan yang ia bawa dari dapur, berisi nasi dengan lauk dan sayur yang terpisah.


"Terimakasih, Bi..." Arinda langsung menyuapkan nasi kedalam mulutnya, setelah mengambil lauk dan sayur secukupnya. Tapi kemudian, tampak Arinda menangis lagi, dengan mulut yang penuh makanan.


Bi Imah yang menyaksikan pemandangan itu merasa pilu. Bergantian melihat ke arah Arinda dan Ardan yang masih berada di balik dinding. Hanya mampu menghela nafas. Ada perih menyayat hatinya, melihat lelaki yang telah dirawatnya sejak kecil itu menangis untuk seorang wanita.


Arinda makan dengan cepat, tapi nampak tidak menikmati makanan itu.


"Pelan-pelan saja makannya, Mbak Arinda..." Ucap Bi Imah khawatir melihat cara Arinda makan.


Benar saja, Arinda kemudian tersedak. Ia meraih gelas berisi air putih dan meneguknya dengan kasar. Bi Imah berusaha membantunya dengan menepuk pelan punggung Arinda.


Ardan yang masih duduk terdiam di tempatnya, merasakan perih yang menyayat hatinya. Gadis pujaan hatinya itu sedang menderita. Ia sudah hendak keluar kamar, tapi saat ia berdiri, terdengar Arinda mengatakan sesuatu.


"Apa saya salah, Bi...?"


Bi Imah hanya terdiam, tak tahu harus menjawab apa.


"Saya tahu, Ardan lelaki yang baik. Sangat baik. Tapi saya tidak pernah tahu, kalau dia akan melakukan ini." Arinda tertunduk. Menangis lagi.


"Tidak ada yang salah, Mbak Arinda." Ucap Bi Imah. "Mungkin Mbak Arinda masih shock dengan semua keadaan ini. Atau mungkin juga karena Mas Ardan yang......" Bi Imah melirik Ardan, membuatnya tak sampai hati melanjutkan ucapannya.

__ADS_1


Arinda memandang Bi Imah dengan penuh tanya. Menunggu kalimat Bi Imah berikutnya. Tapi Bi Imah tersadar, ia sudah hampir melakukan kesalahan.


"Eee..., ehh..tidak, Mbak Arinda. Tenanglah, semua akan baik-baik saja." Bi Imah berusaha membuat Arinda melupakan apa yang pernah ia ucapkan tadi.


Arinda diam. Mengalihkan pandangan ke arah lain, mengerti dengan gelagat Bi Imah yang tidak mau membahas tentang majikannya.


"Arin..." Sebuah suara yang tiba-tiba muncul disaat suasana hening. Ardan yang sudah berdiri di pintu balkon mengejutkan Arinda dan Bi Imah.


"Sejak kapan kamu berdiri di situ...? Mengagetkan saja..." Ucap Arinda yang masih kesal. Tapi ia tidak menyadari, nada ucapannya sudah kembali seperti Arinda yang Ardan kenal dulu. Ardan tersenyum lega mendengarnya. Sepertinya, Arinda sudah mulai stabil setelah menangis hebat tadi.


"Habiskan makananmu,,,!! Setelah itu ikut aku..." Lanjut Ardan sambil meraih kursi yang tadi ia duduki. Mengambil beberapa kudapan yang belum tersentuh sedikit pun. Ardan merasa lapar karena belum sempat sarapan tadi.


"Ikut kemana...?" Tanya Arinda.


"Bukankah kamu ingin keluar kamar...? Bi Imah bilang, kamu ingin melihat-lihat rumah ini..."


"Haahh...benar kah...???" Mata Arinda langsung berbinar. Wajahnya seperti matahari terbit. Sudah berhari-hari ia terkurung di dalam kamar. Ajakan Ardan sudah seperti oase di gurun pasir.


Dengan segera Arinda menghabiskan makannya. Senyum sudah tampak di bibirnya yang sedang mengunyah makanan. Bi Imah dan Ardan tersenyum geli melihat itu. Ada perasaan lega di hati mereka.


"Yuk..." Suara Arinda bersemangat.


"Aaahh...kelamaan...!!!" Arinda bangkit dari duduknya. Menyodorkan piringnya yang sudah kosong kepada Bi imah. "Terimakasih, Bi Imah." Kemudian berjalan cepat ke arah pintu, sudah hendak keluar. Tapi berhenti lagi karena Ardan belum beranjak dari tempat duduknya.


"Ayooo..." Setengah berbisik sembari mengibaskan tangan, meminta Ardan segera datang.


"Kenapa dia bisa berubah secepat ini...?" Gumam Ardan menggeleng kepala, kesal. Namun dalam hatinya, Ardan girang bukan kepalang.


"Cepatlah, Mas Ardan. Ayo sana, sudah ditunggu..." Bi Imah hampir tertawa melihat tingkah keduanya. Menyenangkan sekali.


"Baik, Bi..." Bangkit dengan senang. "Siapkan makan saya di bangku taman, Bi. Lapar nih,,," Ucap Ardan sebelum berlalu pergi.


Akhirnya, Arinda melangkahkan kaki keluar dari kamarnya bersama Ardan. Sempat melihat-lihat beberapa ruangan di lantai atas. Ardan menunjukkan sambil menjelaskan satu per satu. Ada kamar Ardan di sebelah kamar Arinda. Ada ruangan fitnes dengan jendela kaca lebar, menampakkan pemandangan alam yang tak kalah indah. Ada perpustakaan, dan beberapa ruangan lain yang tidak sempat Ardan tunjukkan. Karena Arinda sudah mengajaknya turun.


Di lantai bawah, sudah ada Victor yang sedang duduk di ruang keluarga, sambil memandangi laptop, dengan beberapa ponsel di sebelahnya. Ia sedang bekerja. Kemudian ia bergegas berdiri ketika melihat Ardan dan Arinda sedang menuruni anak tangga.


"Selamat siang, Tuan Ardan..." Lalu menyapa Arinda. "Nona Arinda..." Sambil menundukkan kepalanya. Arinda tampak canggung di hadapan Victor. Menganggukkan kepala sedikit.


"Ini Victor, asisten pribadiku..." Ardan memperkenalkan. Arinda mengangguk tanda mengerti. Dan tersenyum kepada Victor.

__ADS_1


"Dia dan Bi Imah adalah orang kepercayaanku. Mereka lah yang tahu diriku luar dan dalam..." Ardan menjelaskan posisi keduanya yang cukup penting baginya.


Setelah meninggalkan Victor yang masih melanjutkan pekerjaannya, mereka berkeliling di lantai bawah. Ardan menjelaskan semua bagian seperti saat di lantai atas tadi. Beberapa saat kemudian, ruangan bawah sudah selesai. Dan mereka melanjutkan ke tempat favorit Ardan.


"Aku suka duduk di sini..." Ardan menunjukkan sebuah bangku di taman belakang rumah itu. Dari situ tampak danau yang selama ini Arinda pandangi dari balkon.


"Boleh aku ke sana...?" Menunjuk ke arah danau. Tatapan matanya berharap Ardan akan mengijinkannya.


Ardan mengangguk. Dan Arinda pun tampak girang. Arinda berlari menuju danau. Sembari menikmati udara yang sangat segar siang itu. Meskipun mentari sudah tampak tinggi, namun sisa kabut tipis di sana menghalangi cahayanya menyentuh bumi.


"Waaahhh...indah banget..." Suara Arinda membuat Ardan bahagia. Ia ikut menikmati sajian alam di hadapannya. Tapi baginya, memandang Arinda yang tampak menikmati keindahan alam itu, lebih menyenangkan dan menyegarkan matanya.


Beberapa saat mereka berada di tepi danau. Ardan yang semakin kelaparan mengajak Arinda kembali ke taman. Terlihat Bi Imah yang sudah berdiri di sana bersama beberapa pelayan, menandakan makanan pesanannya sudah siap.


"Ayo kita kembali ke taman..." Ajak Ardan. Meskipun enggan, tapi Arinda tak menolak karena Ardan sempat bilang kalau dia belum makan dari tadi pagi.


Mereka berjalan beriringan menuju taman. Mereka tak banyak bicara saat itu. Ardan masih takut dan khawatir jika ia mengatakan sesuatu yang membuat Arinda terluka. Karena baginya, melihat Arinda bahagia adalah lebih utama saat itu. Ia berjanji hanya akan membuat Arinda bahagia selama di sini.


Sementara itu...


"Anda masih di Milan, Nona...?" Suara Victor sedang berbincang dengan seseorang melalui ponselnya.


....


"Pulanglah minggu depan, Nona. Tuan Ardan akan mengadakan sebuah acara..."


....


"Saya mohon, Nona. Saya harap Nona tidak lengah..."


....


"Baiklah,,, Tapi saya akan mengingatkan Nona setiap hari. Acara itu sangat penting, Nona..."


....


Percakapan berakhir.


Victor hanya terdiam setelah mematikan ponselnya.

__ADS_1


"Pulanglah secepatnya, Nona. Jika tidak, Anda pasti akan menyesal selamanya..."


__ADS_2