Kau Pinang Aku Sebagai Madu

Kau Pinang Aku Sebagai Madu
Episode 20 : Pulang


__ADS_3

Seluruh pelayan dan pengawal sudah berdiri berbaris di pelataran depan villa itu. Menantikan Arinda yang akan berpamitan. Arinda merasa aneh dengan itu. Tapi benar juga, tidak mungkin dirinya menemui pelayan dan pengawal itu satu per satu hanya untuk bilang selamat tinggal. Apalagi dengan waktu yang mendesak seperti saat itu.


Ada Bi Imah di barisan paling awal mewakili pelayan yang lain untuk mengucapkan selamat jalan.


"Mbak Arinda..." Bi Imah menghampiri Arinda yang mendekat padanya. Lalu mengajak Arinda bersalaman. Arinda menyambut tangan Bi Imah. Arinda yang begitu menyayangi Bi Imah, langsung meraih tangan Bi Imah kemudian memeluk tubuh kecilnya dengan erat.


"Jangan lupa pesan Bi Imah, ya...!"


Arinda mengangguk pelan, sembari menyeka air matanya yang sempat menetes karena merasa sedih harus berpisah dengan Bi Imah.


Pagi tadi...


Bi Imah sempat ke kamar Arinda untuk menyiapkan air untuk mandi, dan tak lupa juga membawakan lemon hangat untuk Arinda. Mereka sempat berbincang. Bi Imah banyak berpesan kepada Arinda.


"Mbak Arinda harus jaga kesehatan dan hati-hatilah mengambil keputusan. Jangan sampai Mbak Arinda menyesal nantinya..."


Bi Imah begitu perhatian dengan orang-orang di sekitarnya. Para pelayan di villa itu pun tak luput dari perhatian dan kasih sayang Bi Imah. Meskipun terkadang Bi Imah terlihat garang. Itu karena ia ingin semua tugas dikerjakan dengan sebaik-baiknya, sehingga hasilnya pun akan memuaskan.


Di tengah obrolan ringan mereka, Bi Imah juga menyerahkan sebuah tas baru. Sudah ada beberapa barang di dalam tas itu. Tapi Bi Imah tidak tahu apa isinya. Bi Imah hanya menyampaikan, bahwa tas itu dari Ardan.


Kembali ke barisan pelayan...


"Terimakasih, Bi Imah. Sampaikan terimakasih saya kepada yang lain juga." Hanya itu yang mampu diucapkan Arinda.


"Sama-sama, Mbak Arinda. Semoga kita bisa bertemu lagi nanti..." Bi Imah tersenyum memandang Arinda yang mengangguk. Kemudian melepas Arinda dengan menitikkan air mata dalam senyumnya.


Beberapa langkah sebelum masuk mobil, Arinda melihat Pak Alex dan Pak Johan di barisan yang lain. Ia menghampiri mereka.


"Pak Alex, Pak Johan..." Sapa Arinda.


"Selamat Jalan, Nona." Ucap Pak Alex.


"Hati-hati di jalan, Nona." Pak Johan menyusul ucapan Pak Alex.


Arinda mengangguk dan tersenyum melihat mereka berdua. Sambil mengepalkan tangan dan memukul ringan dada mereka.


"Kalian berdua cukup kuat, Pak." Ucap Arinda, sembari memijat-mijat tangan kekar mereka. Mereka terlihat tidak nyaman dengan itu, karena Ardan melihat itu dengan tatapan hendak menerkam.


"Tuan Ardan sudah menunggu, Nona." Pak Alex mencoba menghentikan Arinda.


"Baik, Pak." Ucap Arinda sembari mengacungkan kedua jempolnya.


"Mmm, Pak. Terimakasih sudah membawa saya ke tempat ini." Kedua lelaki gempal itu terkejut dengan ucapan Arinda. Karena mereka tak menyangka, justru ucapan terimakasih lah yang Arinda sampaikan. Alih-alih hukuman yang sempat mengancam mereka kemarin.


"Jaga Tuan Ardan dengan baik ya...!" Lanjut Arinda.


"Baik, Mbak Arinda. Kami akan menjaga Tuan Ardan dengan segenap jiwa dan raga kami." Mereka begitu bersemangat karena senang, sepertinya Arinda sudah melupakan tentang hukuman itu.


"Dan jangan lupa, Pak. Saya masih akan menghukum kalian." Seketika kedua lelaki itu pun menampakkan raut muka yang berbeda dari sebelumnya.

__ADS_1


"Tapi nanti, kalau kita ketemu lagi..." Arinda berbisik di telinga mereka sambil tertawa. Ia sengaja menggoda, lalu cekikikan ketika melihat reaksi mereka.


Arinda pun berlalu dan menyusul Ardan masuk ke dalam mobil, saat kedua lelaki gempal itu membeku. Perlahan mobil bergerak meninggalkan villa megah yang menjadi saksi pertemuan Arinda dengan Ardan yang penuh drama itu.


Tak banyak yang Arinda bicarakan dengan Ardan selama perjalanan jauh itu. Arinda duduk di belakang bersama Ardan, bersebelahan, namun di kursi yang terpisah. Dan di kursi depan ada Victor dan sopir pribadi Ardan.


Setelah hampir 2 jam perjalanan, Arinda masih sibuk memperhatikan jalan. Tak lama kemudian, ia mulai mengenali sebuah lokasi. Semakin mobil berjalan, ia semakin tahu dimana ia berada selama ini. Saat masih sekolah dulu, Arinda dan Ardan pernah menghabiskan beberapa hari waktu liburan mereka bersama teman-temannya yang lain di kota itu.


"Oo..., ternyata di daerah sini..." Gumam Arinda di dalam hati.


"Baiklah, suatu saat nanti, aku akan mengunjungi kalian lagi..."


Mata Arinda mulai berbinar,ketika mobil mulai memasuki gerbang rumah orangtua Arinda. Mama dan Papa Arinda tampak sudah siap menyambut kedatangan mereka. Ketika mobil sudah benar-benar berhenti, Arinda langsung keluar dari mobil dan menghambur memeluk kedua orangtuanya.


Pertemuan yang mengharukan, setelah mereka terpisah kurang lebih sepekan lamanya.


"Mama papa sehat...?" Tanya Arinda setelah mereka melepas rindu. "Rinda kangen..." Memeluk dan berbicara dengan manja.


"Sehat, Rinda. Kamu terlihat lebih cantik sekarang." Ucap Mamanya sambil membelai pipi lembut Arinda.


"Ah, Mama. Baru juga seminggu Rinda pergi..." Arinda mengulum senyum, ia memang merasa lebih segar sekarang.


Ardan bersama Victor dan Papa Arinda sedang berbincang di ruangan yang lain. Entah apa yang sedang mereka bicarakan, Arinda tak pernah mau tahu. Yang ia tahu, sekarang ia sudah kembali ke rumahnya dan bisa bebas seperti sebelum ia 'diculik' beberapa waktu lalu.


Arinda meluruskan kakinya yang jenjang, menggeliat bebas, setelah beberapa saat sembunyi di pelukan Mama tercintanya. Suara air terjun mungil di taman tengah rumah, membuat Arinda merasa nyaman dan mulai mengantuk.


Sebuah suara mengejutkannya. Ardan sudah berdiri di depannya sembari menyentuh pipinya.


"Eh iya, Ar..." Arinda membetulkan posisi duduknya.


"Om dan Tante sudah menunggu di meja makan. Mereka memanggilmu berkali-kali, tapi kamu tidak menjawab. Rupanya sudah mau tertidur..."


"Iya, Ar. Aku ngantuk tadi, hawanya enak seperti di villa kamu."


"Kamu capek...?" Ardan menurunkan badannya dan jongkok di depan Arinda yang masih duduk di kursi.


"Ardan apa-apaan sih...?" Arinda merasa aneh. Bahkan Ardan sempat menyentuh pipinya tadi. Padahal Ardan tak pernah seberani itu.


"Kita makan siang dulu, baru nanti istirahat." Ucap Ardan dengan manis, sembari mengusap kepala Arinda.


"Bisa gila aku melihatnya seperti ini..."


Arinda mengangguk dan beranjak dari tempat duduknya. Mereka menuju meja makan, dan makan bersama siang itu.


"Gimana Ardan, apa Arinda merepotkan selama di sana...?" Tanya Papa Arinda di sela-sela makan mereka.


"Tidak, Om. Arinda gadis yang manis, dia tidak akan membuat onar. Iya kan, Arin..." Jawab Ardan.


Arinda hanya tersenyum, dan mengangguk sekenanya.

__ADS_1


"Nanti kalau Arinda nakal, jewer saja dia, Ar...!!" Ucap Papa Arinda membuat tertawa semua orang di meja makan itu.


"Papa apaan sih..." Arinda malu. Bibirnya manyun saat melihat Papanya.


Arinda masih belum menyadari apapun dari tingkah dan kata-kata mereka. Ia masih biasa saja, karena merasa bahagia yang amat sangat karena telah kembali ke rumahnya.


Setelah mereka makan, orangtua Arinda mempersilahkan Ardan dan Victor untuk beristirahat di kamar tamu yang telah dipersiapkan. Arinda pun masuk ke dalam kamar yang sudah lama ia rindukan. Ia menjatuhkan diri di ranjang kesayangannya, sambil memandang ke langit-langit kamar.


"Aku udah kembali..." Bisiknya kepada seluruh benda yang ada di kamarnya itu. Lalu ia berguling kesana kemari di atas ranjang, merasa sangat bahagia. Tak berapa lama, ia pun tertidur pulas disana.


Hari beranjak sore, ketika Arinda terbangun. Ia menggeliat mengembalikan jiwanya yang masih melayang. Tanpa sengaja, tangannya menyentuh tas baru dari Ardan yang tadi ia letakkan begitu saja di ranjang. Ia belum sempat membukanya. Dan ia pun penasaran dengan isi tas itu.


Arinda meraihnya dan mulai membuka tasnya. Ada sisir, bedak, parfum dan


yang paling mencuri perhatian Arinda adalah kotak perhiasan kecil yang tadi malam diberikan Ardan.


Matanya memandang lekat benda itu. Kemudian ia segera meraihnya. Membukanya dan melihat berlian itu berkilauan terkena cahaya.


"Sungguh indah..." Gumamnya.


Tiba-tiba Arinda teringat lagi ucapan Ardan malam tadi.


"Temukan jawabannya di rumah. Apa maksud Ardan...???"


Saat Arinda hanyut dalam kesibukannya mencari-cari jawaban, seseorang mengetuk pintu kamarnya.


"Iya..." Sahut Arinda.


"Ini Dinda, Kak..."


"Dinda...? Masuk Din...!" Bersiap menyambut adiknya, tanpa beranjak dari ranjang.


Pintu dibuka dan mereka berdua pun saling berpelukan melepas rindu. Beberapa saat mereka berbincang tentang banyak hal.


"Kak, yang di luar itu Mas Ardan, ya...?"


"Iya. Kamu masih ingat...?"


"Hu um. Tambah keren sekarang. Lagi ngobrolin apa dia sama Papa Mama, Kak...? Serius banget kayaknya."


Deg...


Jantung Arinda seperti berhenti berdetak.


"Ardan bicara serius sama Papa Mama. Jangan-jangan Ardan benar-benar sedang membicarakan pernikahan." Batin Arinda terusik.


"Apa yang harus aku lakukan jika itu benar...???"


Arinda hanya mampu memejamkan mata, terbenam dalam bayangan tentang sesuatu yang tidak pasti.

__ADS_1


__ADS_2