
"Hhmmm..., seger banget..." Arinda membentangkan tangannya lebar-lebar di tepi balkon kamarnya. Sejuk yang ia rasakan.
Hari masih sangat pagi, namun Arinda sudah selesai mandi. Kabut yang masih enggan berlalu, sedikit menghalangi pandangan Arinda ke arah danau. Sinar mentari masih malu-malu menerobos celah-celah kabut. Belum mampu menembus pori-pori kulit Arinda, untuk sekedar memberi sedikit kehangatan.
"Aku pasti akan merindukan tempat ini..." Arinda mengucapkan pelan kalimat itu. Namun tiba-tiba...
"Kalo gitu tetaplah di sini..." Sebuah suara muncul tepat di samping Arinda.
"Haahhh..." Arinda memekik terkejut, sambil meloncat menjauhi sumber suara. Tanpa Arinda sadari, Ardan sudah beberapa saat berdiri di sana. Ikut menikmati pemandangan indah pagi itu.
"Sejak kapan kamu di sini...???" Tanya Arinda dengan mata masih membulat.
"Sejak tadi..." Jawab Ardan. "Aku sudah mengetuk pintu kamarmu, tapi kamu tidak menjawab. Lalu aku masuk, aku pikir kamu masih tidur...."
"Apaaa...???" Teriak Arinda mengejutkan Ardan. "Kamu mau melakukan apa jika aku masih tidur...???"
"Hiihhh..., dasar mesum..." Sahut Ardan. "Mana mungkin aku berbuat macam-macam waktu kamu tidur....."
"Apaaa...???" Lagi-lagi Arinda berteriak. "Jadi kamu bisa berbuat macam-macam meskipun aku tidak sedang tidur...?"
Arinda bergeser pelan menjauhi Ardan. Seolah Ardan akan melakukan sesuatu jika mereka berdekatan.
"Hey, apa-apaan sih...?" Ardan kesal. "Kenapa semua jawabanku jadi terlihat menakutkan bagimu...?"
Arinda hanya membuang pandangannya menjauhi Ardan. Takut, tapi lebih merasa malu dengan semua ucapannya.
"Dasar otak mesum...!!!" Ucap Ardan geram, membuat Arinda semakin malu.
"Lalu kamu mau apa masuk kamarku diam-diam...?"
Ardan menghembuskan nafasnya dengan kasar. Masih kesal. Namun mencoba bicara perlahan kepada Arinda.
"Arin..., dengarkan aku dulu..."
Arinda hanya melirik Ardan yang masih akan bicara.
"Aku kan sudah bilang tadi, aku sudah mengetuk pintu. Tapi kamu tidak menjawab. Aku pikir kamu masih tidur, jadi aku mau membangunkanmu. Hari ini kan kita mau ke taman hiburan. Jadi,,, kamu harus bersiap-siap."
Arinda hanya mengulum senyum. Menahan perasaan malunya. Benar juga, pikirnya. Mereka akan jalan-jalan ke taman hiburan hari ini. Arinda jadi menyesal sudah menuduh Ardan macam-macam.
__ADS_1
"Iya, maaf..." Ucap Arinda merasa bersalah.
"Kamu bersiaplah. Aku mau keluar sebentar. Kita akan segera berangkat setelah aku datang." Ucap Ardan tanpa memberikan kesempatan Arinda untuk bicara lagi. Karena ia bergegas beranjak dan keluar dari kamar Arinda.
"Aduhhh..." Arinda merasa telah melakukan kesalahan. Ia menepuk dadanya pelan. "Untung dia tidak mudah marah..."
Beberapa saat kemudian, Arinda sudah sibuk mempersiapkan dirinya. Pintu kamar Arinda terdengar diketuk lagi.
"Iya..." Sahut Arinda dari dalam kamar.
"Ini Bi Imah, Mbak Arinda."
"Oiya, Bi Imah. Masuk aja..."
Seperti biasa, Bi Imah datang bersama seorang pelayan membawakan cokelat hangat dan kudapan pagi untuk Arinda.
Tak berapa lama setelah Bi Imah dan pelayan itu menyiapkan hidangan di meja balkon, Arinda sudah selesai bersiap. Lalu menyusul Bi Imah ke balkon.
"Mbak Arinda cantik sekali..." Ucap Bi Imah memuji Arinda yang terlihat cantik dan tampil beda pagi itu.
"Terimakasih. Bi Imah bisa aja..." Senyum simpul menambah cantik wajah Arinda. Kemudian ia duduk dan menikmati cokelat hangatnya. Tak lupa mengambil beberapa kudapan pagi kesukaannya.
"Iya, Mbak Arinda..."
"Mmm, terimakasih banyak ya Bi, sudah melayani saya dengan baik selama saya disini. Saya merasa beruntung, karena ada Bi Imah yang menemani. Karena kalau tidak....."
Arinda tak melanjutkan kalimatnya. Ia hanya tertunduk, mengingat kembali apa yang sudah terjadi di tempat itu. Ia merasakan hatinya yang hancur dan sangat tersakiti beberapa waktu lalu. Tapi Kini, ia merasa semua baik-baik saja. Meskipun ia masih belum mengerti, dari mana hubungan yang sangat dekat antara Ardan dan orangtuanya.
"Itu sudah menjadi tugas saya, Mbak Arinda." Bi Imah tersenyum. "Saya juga sangat berterimakasih karena Mbak Arinda tidak merepotkan, tetap tenang meskipun hati Mbak Arinda sedang kacau..."
Arinda tersenyum bahagia mendengar ucapan Bi Imah. Mereka mengobrol sebentar. Kemudian Bi Imah meminta izin untuk turun karena harus menyiapkan sarapan di meja makan lantai bawah.
Tinggal Arinda sendiri di balkon itu. Menikmati keindahan pagi yang sebentar lagi akan ia tinggalkan. Ia menunggu hari dimana ia akan pulang. Berkumpul lagi dengan orang tua dan adik kesayangannya. Meski begitu, Arinda memang menyukai tempat dimana ia duduk sekarang, dan sayang untuk meninggalkannya.
"Arin..." Ardan sudah datang.
"Hai..." Sapa Arinda.
"Lagi melamun...?"
__ADS_1
"Ah nggak..." Arinda tersenyum, memandang ke arah danau. "Aku seneng liburan di sini. Semangatku udah kembali lagi. Aku pengen cepet pulang, dan kembali bekerja dengan semangat yang baru. Hehe.." Ucap Arinda menggebu-gebu.
Ardan hanya terdiam. Ia tersenyum mendengar pengakuan Arinda.
"Mmm.., Ardan. Cepetan anter aku pulang, ya..." Ucap Arinda kemudian.
Ardan mendekati Arinda. Memandang ke wajahnya yang sangat cantik pagi itu. Tapi bukan itu yang dicari Ardan.
"Kamu udah pengen pulang...?" Tanya Ardan yang dijawab dengan anggukan pelan oleh Arinda. "Baiklah. Nanti ya, aku pasti antar kamu pulang. Tapi, kalau kamu udah siap pulang..."
Arinda hanya mengernyitkan dahi mendengar kata-kata Ardan. Lalu fokus lagi ke arah danau. Tak ingin tau lebih banyak lagi.
"Ayo turun..." Lanjut Ardan. "Kita sarapan dulu, baru berangkat..."
Arinda mengangguk, lalu mengikuti Ardan turun menuju meja makan. Saat menuruni anak tangga, Arinda melihat Ardan menyapa anak kecil yang sedang bersama Victor di ruang keluarga.
"Sini, Arin..." Ardan melambaikan tangannya meminta Arinda mendekat.
"Alvin, kenalin ini tante Arinda." Ardan memperkenalkan puteranya. "Arin, ini Alvin. Puteraku..."
Arinda seperti sesak nafas mendengarnya. Ia membeku di tempatnya berdiri. Entah kenapa, ia sendiri tak tahu apa sebabnya.
"Hai..." Sapa Arinda sambil melambaikan tangan lalu berjongkok di hadapan tubuh kecil Alvin. Dan mengajaknya berjabatan tangan. "Aku Arinda. Kamu tampan sekali, Alvin..."
Ucapan Arinda membuat Alvin tersenyum manja, setelah sebelumnya tadi ia memandang dingin ke arah Arinda. Alvin tidak membalas ajakan Arinda untuk bersalaman. Tapi menegakkan tangan mungilnya mengajak Arinda untuk tos.
"Hai, tante Arinda. Aku Alvin." Kata-kata Alvin sudah terdengar jelas, meskipun masih berumur 3 tahun. Tidak cadel sama sekali. "Aku putera bos Ardan. Boleh kita berteman...?" Ucap Alvin kemudian.
"Uumm, Alvin. Kamu menggemaskan sekali..." Arinda mencubit kecil pipi Alvin. "Mulai sekarang kita berteman. Oke..."
Mereka pun ngobrol sebentar. Dengan obrolan yang membuat mereka seperti anak umur 3 tahun juga. Bagi Ardan, Arinda tak kalah menggemaskan ketika berhadapan dengan Alvin. Dan Ardan lega, karena mereka berdua bisa seakrab itu dengan cepat.
Mereka sarapan bersama di meja makan. Seperti hari sebelumnya, Arinda melayani Ardan terlebih dahulu. Kemudian ia mempersilahkan Victor sarapan, karena ia juga harus membantu Alvin. Baru setelah itu ia mengambil sarapannya sendiri.
Setelah sarapan selesai, mereka segera berangkat menuju taman hiburan. Arinda mengerti sekarang, untuk apa mereka pergi ke taman hiburan.
Tanpa mengatakan apapun, Arinda tersenyum melihat Alvin yang duduk tenang di dalam mobil. Anak itu sedang asyik mewarnai sebuah gambar pesawat di buku mewarnainya. Ia tampak menikmati kegiatannya itu karena mobil melaju dengan kecepatan sedang.
Hari ini Ardan tidak membawa sopir. Jadi Victor yang menyetir mobil. Ardan duduk di depan. Arinda dan Alvin duduk di belakang. Alvin tampak senang sekali mendapat seorang teman. Arinda membuat suasana menjadi sangat meyenangkan, sehingga Alvin merasa nyaman ketika bersamanya.
__ADS_1