Kau Pinang Aku Sebagai Madu

Kau Pinang Aku Sebagai Madu
Episode 24 : Pernikahan


__ADS_3

Pagi yang cerah. Jejak embun masih nampak jelas membasahi dedaunan. Angin sepoi-sepoi tenang, menghiasi pagi yang tengah menantikan sinar mentari menyapa untuk memulai hari.


Kesibukan di rumah Hendrawan Adiguna, tak mengusik burung-burung mungil yang datang silih berganti. Terbang kesana kemari menikmati pagi, sembari berkicau sesekali. Kupu-kupu pun bertebaran di halaman. Mendaratkan diri di untaian bunga-bunga segar berwarna-warni di kebun kesayangan ibunda Arinda. Mereka tampak bebas tanpa kekang, melakukan segala sesuatu yang mereka kehendaki.


Namun semua tak sama. Di sebuah kamar tamu yang cukup luas, beberapa orang sedang mengerjakan tugas mereka dengan serius. Tak lain dan tak bukan, mereka bertanggung jawab menyulap seorang Arinda menjadi ratu yang paling mempesona hari itu. Untuk membuktikan kepada Tuan Ardan, bahwa mereka orang-orang profesional dengan kemampuan yang tak pantas diragukan.


Semua harus sempurna di mata seorang Ardan. Hingga membuat setiap orang disibukkan dengan segala keseriusan, bahkan seolah bekerja di bawah tekanan. Membuat mereka enggan untuk sekedar melenturkan otot bibir agar tersenyum sedikit saja.


"Fokus...!!!"


"Harus oke. Harus perfect...!!!"


"Jangan ceroboh...!!!"


"Jangan pernah salah...!!!"


"Tidak boleh ada kata 'maaf'...!!!"


"Kerjakan dengan benar, jika kita mau selamat...!!!"


Dan bla.. bla... bla... seluruh ucapan ketegangan yang tersirat di wajah-wajah mereka. Mereka memang hanya sedang bekerja. Namun sejatinya mereka sedang mempertaruhkan masa depan. Jika Ardan puas dengan hasil pekerjaan mereka, maka nama mereka pun akan semakin melejit, semakin berkelas dan menuju puncak di dunia mereka. Namun sebaliknya, jika ada sesuatu sekecil apa pun yang mengusik kenyamanan Ardan, jangan harap mereka bisa bernafas dengan leluasa.


Ya. Hari ini adalah hari yang paling dinantikan Ardan dalam hidupnya. Menikahi gadis pujaan hati, Arinda Maharani. Meskipun bahagia tengah menyelimuti hampir seluruh hatinya, namun masih ada ruang kosong yang tersisa karena restu ibundanya belum mampu ia dapatkan.


"Ibu, maafkan anakmu yang bengal ini..."


Ada rintih di hatinya saat berkali-kali kalimat itu terucap lirih. Masih mengharapkan, meskipun harus berkejaran dengan waktu. Hanya hutungan jam. Karena sebentar lagi, janji suci ikatan pernikahan harus Ardan ucapkan. Entah dengan restu atau tanpa restu ibundanya tercinta.


Dalam perjalanan menuju sebuah gedung, tempat peresmian pernikahan Ardan dan Arinda akan dilaksanakan. Ardan duduk dengan santai di dalam mobilnya. Bersama Victor dan seorang sopir pribadinya. Di mobil terpisah, ada Pak Alex dan Pak Johan, bersama Bi Imah dan seorang pelayan yang berjalan di belakang mobil Ardan. Mereka terlihat sumringah, karena Tuan mereka sedang berbunga-bunga karena telah mendapatkan apa yang dinantikan selama ini.


Sehari sebelum hari H, Ardan beserta rombongan kecil dari villanya itu sudah berada di kota tempat Arinda tinggal. Mereka menginap di salah satu hotel mewah yang bernaung di bawah perusahaan yang Ardan pimpin. Dan di hotel itu pula Ardan mempersiapkan diri untuk pernikahannya

__ADS_1


Memerlukan waktu 15 menit dari hotel menuju gedung tempat acara berlangsung. Tak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut Ardan dalam waktu itu. Ia hanya memandang keluar jendela, namun tak melihat apa pun yang di luar sana. Pikirannya sedang tertuju pada ibunda tercinta.


"Kita sudah sampai, Mas..." Ucapan Victor membuyarkan lamunan Ardan. Tak lama setelah mobil berhenti, Victor keluar terlebih dahulu kemudian membuka pintu belakang, mempersilahkan Ardan keluar juga. Mobil berhenti di depan pintu utama gedung. Dari sana terlihat kursi dan meja yang sudah dihias dengan cantik, tempat Ardan akan mengucapkan janji sucinya.



Ardan tersenyum. Nampak bahagia tersirat di bibir melengkungnya itu. Ia melangkah dengan pasti, memasuki gedung yang masih disibukkan oleh lalu lalang para pekerja dari WO dan catering yang sedang bersiap. Dan juga tampak beberapa orang pilihan, kerabat terdekat keluarga Arinda dan keluarga Ardan.


Ardan menghampiri mereka satu persatu. Menyalami dan tak lupa mengucap terimakasih atas kehadiran serta doa mereka. Namun seketika langkahnya terhenti, ketika ia melihat sosok seseorang yang berada tak jauh di depannya. Bersama dengan rombongan kecil keluarga inti yang sedari tadi memenuhi isi kepalanya.


"Ibu..." Dengan mata berbinar dan hendak terisak, Ardan mempercepat langkah menghampiri ibu yang sudah berdiri menantinya. Dengan cepat ia meraih badan ibunda tercinta dan memeluknya erat.


"Terimakasih, Ibu. Akhirnya Ibu sampai di sini..."


"Hmm, bagaimana mungkin Ibu melewatkan momen kebahagiaan anak Ibu...?" Ucapan ibu sedikit bergetar menahan tangis, sembari mengusap lembut kepala putra bungsunya itu. Mereka sama-sama tersenyum. Lega.


Kemudian Ardan menghampiri Aldi dan Hana, bersalaman dan memeluk mereka dengan bahagia. Tak lupa ia menyapa 2 orang keponakannya, Mika dan Kevin, yang berumur 11 dan 8 tahun.


"Belum lama di gedung ini. Tapi sudah cukup lama di rumah Arinda tadi..."


Ucapan Ibu mengejutkan Ardan.


"Apa...? Ibu sudah bertemu dengan Arinda...?"


"Sudah..." Sambil mencari posisi duduk yang nyaman.


"Wahhh, Ibu mulai curang. Menemui Arinda diam-diam tanpa memberitahu Ardan..."


Ibunya hanya tersenyum, mendengar kata-kata Ardan yang menurutnya sedang berceloteh riang.


"Apa yang Ibu bicarakan dengannya...?" Imbuh Ardan penasaran.

__ADS_1


"Banyak..." Ibu melirik Ardan. Mencoba menggodanya. "Termasuk menyuruhnya bersiap dan bersabar menghadapi anak bungsu Ibu yang nakal..."


"Ahh, Ibu. Kenapa membicarakan itu...? Ardan kan bukan anak nakal..."


"Bagaimana tidak nakal..., tiba-tiba membawa kabar mau menikah lagi. Tanpa membiarkan Ibu menemui calon istri dan keluarganya terlebih dulu..."


Mendengar itu, Ardan menahan malu dan berusaha menyembunyikan perasaan bersalahnya yang bercampur aduk menjadi satu.


"Iya Ibu, maafkan anakmu yang nakal ini...! Tapi ibu senang kan, mendapatkan bonus satu menantu lagi..."


Ardan menyeringai bahagia. Berusaha memperbaiki situasi yang sempat memanas beberapa hari lalu. Mereka mengobrol dan bercanda cukup lama, hingga akhirnya tibalah beberapa orang petugas yang akan menikahkan Ardan dan Arinda. Seseorang menghampirinya dengan ramah, dan mempersilahkan Ardan untuk duduk di kursi calon mempelai.


Ardan pun beranjak, setelah meminta doa dan restu dari Ibundanya. Duduk tenang sambil mempersiapkan diri untuk mengucap janji suci pernikahannya. Sesekali ia tampak berbicara kepada petugas yang duduk di depannya, dan menjawab beberapa pertanyaan untuk melengkapi dokumen pernikahannya.


Tak berapa lama, Arinda tiba bersama keluarga intinya. Disambut Victor dan beberapa orang kerabatnya. Arinda terlihat sangat cantik dan mempesona. Anggun. Dengan balutan gaun sederhana namun tetap terkesan mewah. Riasan wajah yang natural serta tatanan rambut minimalis, membuatnya semakin tampak elegan. Arinda benar-benar membuat semua orang di dalam gedung itu berdecak kagum melihatnya.


Senyum simpul menghiasi bibir Arinda. Saat berjalan menuju kursi mempelai, matanya sempat sinis melihat sosok Ardan yang sudah menantinya di kursi mempelai. Namun ia mampu mengendalikan dirinya dan mempertahankan senyum manis itu. Arinda duduk perlahan, dibantu beberapa orang dari WO untuk membetulkan posisi dan menata gaunnya. Arinda pun sempat membalas sapaan Ardan dengan cukup manis.


Beberapa saat berlalu. Tibalah waktunya Ardan mengucap janji suci pernikahannya. Semua tenang, mendengarkan dan menyaksikan Ardan yang dengan mulus dan sempurna mengucapkannya. Dan akhirnya, Arinda Maharani telah sah menjadi istri seorang Ardan Darmawan.


Semua tampak bahagia. Untuk pertama kalinya Arinda menyalami dan mencium punggung tangan suaminya. Kecupan kecil dari Ardan pun mendarat lembut di kening Arinda. Keduanya tampak bahagia. Meskipun sebenarnya, bukan itu yang dirasakan Arinda. Karena saat ini, ia sedang bersandiwara menjadi mempelai perempuan yang sedang berbunga-bunga.


Acara masih berlanjut. Para tamu sedang sibuk memilih dan menikmati puluhan jenis hidangan lezat dan mewah yang disajikan secara buffet oleh perusahaan catering ternama dari ibukota. Sedangkan kedua mempelai sedang menjalani sesi pengambilan gambar, berpose dengan berbagai gaya yang memperlihatkan kemesraan dan keserasian mereka berdua.


Semua berjalan lancar tanpa kendala sedikit pun. Hingga melewati tengah hari, acara pun usai. Para kerabat pulang ke rumah masing-masing. Dan keluarga inti kedua mempelai berpindah ke kediaman Hendrawan Adiguna.


Di sana, mereka berbicara cukup akrab. Membicarakan banyak hal penting. Arinda sedang berganti pakaian dan bersiap untuk perjalanan jauh.


Ya. Mulai hari ini ia adalah seorang istri. Dan ia harus ikut pindah ke rumah suaminya. Tepatnya, ke villa tempat Arinda bertemu kembali dengan Ardan. Seperti itulah yang telah disepakati orangtua Arinda dengan Ardan. Villa itu akan menjadi tempat tinggal sementara, hingga proses pembangunan rumah untuk Arinda selesai. Setelah itu, keduanya akan pindah lagi ke rumah barunya.


Hanya Arinda dan Ardan yang berangkat. Bersama mereka ada Victor dan sopir pribadi Ardan. Juga Pak Alex, Pak Johan, Bi Imah dan seorang pelayan yang menemani Bi Imah. Kedua keluarga inti itu pun melepas keberangkatan mereka dengan haru. Inilah saatnya Ardan dan Arinda akan menjalani hidup baru, dengan cara mereka sendiri.

__ADS_1


__ADS_2