Kean Hanum

Kean Hanum
episode satu


__ADS_3

Di antara para pembaca masih ada yang ingat kisah Bimo dan Leela. Mereka kini sudah memiliki empat anak. Salah satunya Kean Aditya Kusuma. Pemuda itu memiliki sikaf yang berbeda dari orang tua dan saudaranya. Ketika sang kakak memilih jadi orang lurus, berpenampilan rapih dan wangi, Kean justru sebaliknya. Motor adalah kekasihnya, balapan liar dan dikejar polisi adalah hobinya. Apakah dia tidak membuat orang tuanya pusing. Oh jelas itu sudah pasti. Beberapa kali sang ayah harus menjemputnya di kantor polisi dan Leela sang ibu sering dibuat menangis olehnya. Sampai kapan dia akan seperti itu? Entahlah, mari kita lihat.


Amora Hanum, putri salah satu pebisnis. Cantik, pintar dan kaya. Dia begitu ideal untuk dijadikan kekasih. Sayangnya dia menolak banyak pria karena hatinya telah tertambat pada satu pria. Sayangnya kisah itu tak berjalan mulus, dia dibuat patah hati oleh kekasihnya.


Kisah yang telah dibangun selama tiga tahun kandas begitu saja saat pria itu menjabat tangan ayahnya namun nama yang disebut bukanlah dirinya melainkan Amara Shanum-kakaknya. Ibarat sudah jatuh tertimpa tangga pula. Di hari semua orang tengah berbahagia atas pernikahan Amara, dia justru mengalami hal yang sangat mengerikan. Apakah dia masih akan bertahan di dunia yang begitu kejam? Tidak ada yang tahu.


***


"Saya terima nikah dan kawinnya Amara Shanum dengan mas kawin uang tunai 200 juta serta satu rumah yang terletak di kawasan Harmonis Residen di bayar tunai."


Kata sah terdengar serempak dari para saksi dan juga tamu undangan yang hadir. Orang-orang yang hadir di acara tersebut begitu bahagia menyaksikan pernikahan Amara dan Kaif.


Ketika semua orang tengah berbahagia mengurai tawa. Di sana juga terdapat salah seorang yang tengah merana. Hatinya sakit namun dia harus pura-pura bahagia berdiri di antara keluarga yang tidak memahami perasaannya.


Kisah dan mimpi yang selama tiga tahun di bangun penuh perjuangan kini luluh lantak tak bersisa. Tidak ada puing-puing harapan yang bisa dipungut untuk dibangun kembali. Tidak mungkin dia akan tega pada kakaknya sendiri.


"Hanum," Amara yang tengah menjadi ratu di hari ini memanggilnya, "kita foto."


Hanum menggelengkan kepala. Bisakah dia berpose tersenyum di antara sang kakak dan mantan kekasihnya.


"Ayolah sayang," bujuk Virda-ibu mereka, "ini hari yang bahagia. Kamu harus tersenyum dan mendoakan kebahagiaan untuk kakakmu. Biar nular."

__ADS_1


Demi kata menghargai sang kakak dia pun naim ke pelaminan. Berdiri di samping Amara kemudian meminta fotographer untuk mengambil gambar.


"Loh udah?" tanya Kaif saat Hanum menjauh dari mereka dan tak menoleh lagi.


"Mungkin dia lagi capek kali."


Penderitaan Hanum belum berkahir. Malam harinya dia harus kembali memasang senyum saat sang kakak tengah melakukan sebuah pesta. Dia sudah menolak untuk hadir dengan mengatakan dirinya capek dan tidak enak badan. Akan tetapi sang ayah tidak mau mendengar alasan dirinya.


"Kalau kamu menghargai kakakmu dan keluarga kita, maka tidak ada alasan untuk kamu tidak hadir," kata Ali Subakti-ayahnya.


Baiklah ayo kita tunjukan pada mereka kalau kamu baik-baik saja, Hanum. Kamu bisa dan kamu mampu melakukan sandiwara seperti ini.


Gadis cantik itu menatap pantulan dirinya yang sudah dirias. Dia merasa dirinya cantik, pintar, fleksibel tapi kenapa Kaif memilih menikahi kakaknya. Sejak kapan mereka berhubungan. Apa sang kakak tidak tahu kalau pria yang menikahinya adalah kekasih adiknya. Rasanya tidak mungkin jika Amara tidak tahu menahu soal itu.


"Ma, aku gak enak badan. Boleh gak aku istirahat lebih awal."


"Acaranya belum selesai, Sayang. Gak enak dong ninggalin acara begitu saja. Kasihan kakak kamu," kata Virdha menahannya.


"Kenapa, Ma?" Ali yang tengah berbincang dengan Bimo juga Leela menoleh sejenak.


"Hanum bilang capek dan minta izin istirahat lebih dulu."

__ADS_1


Ali menatap Hanum yang memang matanya tidak bersinar lagi. Dia kelihatan capek sekali, "ya sudah suruh istirahat aja."


Seperti mendapatkan hembusan angin segar, Hanum segera meninggalkan tempat itu dan masuk ke dalam kamar. Dia segera mengganti pakaian dan membersihkan make up. Mematikan lampu dan menggantinya dengan lampu tidur. Saat dia masuk ke dalam selimut dan hendak memejamkan mata, dia melihat siluet tak jauh dari tempatnya berbaring.


Panik. Dia segera loncat dari tempat tidur dan hendak melarikan diri. Sayangnya nasib baik sedang tidak ingin berdekatan dengan dirinya. Orang yang entah siapa itu berhasil menangkap dan melemparkan tubuhnya ke pembaringan. Dengan gerakan cepat pria itu kini mengungkung tubuhnya.


Sekuat tenaga Hanum berusaha meneyelamatkan diri namun semuanya sia-sia. Dia berakhir tragis di tangan pria yang misterius itu. Mahkotanya direbut paksa, harga dirinya dikoyak tak bersisa. Berteriak pun tak ada yang menolongnya.


Hotel tersebut adalah salah satu hotel yang memiliki nilai baik, tentu dengan fasilitasnya. Namun kenapa orang tersebut bisa masuk? Siapa dia?


Harusnya tadi dia bertahan di acara pesta, mungkin semua ini tidak akan pernah terjadi. Menyesal pun tidak mampu mengembalikan waktu yang belum genap satu jam.


Tidak peduli Hanum menjerit kesakitan, orang misterius itu tetap menjalankan aksi bejatnya. "Ini balasan untuk perempuan sombong seperti kamu," kata orang itu setalah berhasil mereguk manisnya madu Hanum dan menyisakan luka pada diri perempuan itu. Tak lupa dia juga menyempatkan mengambil foto Hanum yang tengah tak berdaya.


"Tidurlah, kamu harus bersiap untuk hari esok. Aku titip ini sebagai kenang-kenangan untuk kamu," lanjut pria itu meletakan sebuah jam tangan di atas nakas.


Gegas dia mengenakan kembali pakaiannya dengan memunggungi Hanum. Tak lama hantaman keras dari lampu tidur yang dilayangkan Hanum mengenai kepala bagian belakangnya.


"Kurang ajar." Pria itu berbalik dengan keadaan sangat marah dan menampar Hanum hingga kembali terjerambab ke pembaringan. Sedangkan dia sendiri segera melarikan diri sambil memegangi kepalanya yang berdarah sebelum ada orang yang mengetahui kejadian itu.


Hanum bangkit, mengepalkan tangan. Sakit di bagian pipi tidak seberapa sakit dibandingkan dengan harga dirinya yang hilang. Andai semua orang tahu maka dia sudah tidak memiliki masa depan lagi. Mau disimpan di mana wajahnys? Akankah dia sanggup untuk menghadapi hari esok? Atau haruskah dia mengakhiri laranya malam ini juga.

__ADS_1


Dia pun memejamkan mata dan menenggelamkan dirinya di dalam bathtub. Berharap malaikat maut segera datang menjemputnya.


Maafkan aku, Ma, Pa!


__ADS_2