
penodong tersebut masuk dan meminta Bimo beralih ke kursi kemudi. Membuat mobil melunjucur meninggalkan para pengawal beserta bandit yang mencegahnya tadi.
Saat jarak sudah semakin jauh. Pria yang duduk di samping Bimo melepaskan kain penutup wajah dan membuat dirinya terkejut.
"Kean?" Bimo melotot tak percaya.
"Hai, Papi."
"Gak lucu!" Bimo mendengus kemudian menepikan mobil di tepi jalan.
Terlihat jelas bahwa Kean tidak merasa bersalah. Sekarang dia malah tertawa terpingkal-pingkal di samping ayahnya yang mendnegus dan menggerutu.
Kwan berhenti tertawa sekarang dia memang senyum manis menatap ayahnya yang bersedak dan menatap tajam.
"Ok, ok aku minta maaf. Tapi sungguh aku rindu kemarahan papi."
Level kewarasan Kean memang sudah tergeser. Di saat orang lain menghindari masalah Kwan justru mendekati bahkan terjun langsung ke dalam masalah itu.
Decakan kesal terdengar dari bibir Bimo.
"Jadi apa tujuanmu melakukan penyerangan seperti tadi?" Bimo masih dengan mode menatap tajam.
"Aku mau menawarkan kerja sama?"
Reaksi Bimo hanya diam menunggu kelanjutan kalimat dari anaknya yang paling beda jalur.
"Saat aku terbaring di rumah sakit, papi sempat bilang kalau aku mengacaukan rencana papi. Ingat? ... Papi akan menjodohkan aku dengan anaknya ... siapa ... Ah Ali." Kean membenarkan posisi duduk hingga menghadap Bimo. "Aku ingin Papi melanjutkan kembali rencana itu."
"Tidak akan. Lagi pula mereka mana mau punya menantu berandalan seperti kamu."
"mereka pasti mau. Ayo lah sebagai imbalannya aku akan jadi anak baik dan siap bekerja di kantor papi."
"Kita lihat saja nanti. Turun!"
Bimo meninggalkan Kean di pinggir jalan. Tak lama beberapa motor yang tadi menyerang Bimo menghampiri Kean. Mereka terlihat puas.
"Aman?" tanya Kean.
"Amanlah cuma biru-biru sedikit. Sumpah ini seru banget, pengawal bokap loe pada kuat," ujar salah satu dari mereka.
"Namanya juga sayang nyawa," balas Kean menaiki salah satu motor dan meninggalkan tempat itu. Dia kembali berkumpul di markas lama bersama orang-orang baru.
__ADS_1
***
Kabar penyerangan yang sampai ke telinga Leela membuat istri dari Bimo itu tak merasakan ketenangan sebelum melihat suaminya dalam keadaan baik-baik saja.
Sejak tadi dia mondar-mandi menatap pintu gerbang berharap suaminya segera datang. Wajah cemas terlihat jelas di wajahnya.
"Insyaallah, Papi baik-baik aja, Mi." Kia berdiri dan menghampiri mertuanya.
"Iya semoga saja." Leela membalas sentuhan yang dilakukan Kia pada pundaknya. Membalas tatapan menantunya dengan senyum hangat. "Sudah ada kabar dari papi, Kak?" tanya Leela pada Andra yang baru saja selesai menghubungi seseorang. Bersamaan dengan itu pintu gerbang terbuka. Mobil yang biasa digunakan Bimo terlihat memasuki halaman. Orang yang mereka nantik keluar dengan keadaan baik-baik saja. Hanya pakaian yang terlihat kusut.
"Syukurlah, kamu baik-baik aja, Mas." Leela menghampiri dan memeluk suaminya dibalas hal serupa oleh Bimo. Awan mendung yang tadi menaungi wajahnya seketika berubah cerah. "Aku takut kamu pulang tidak utuh."
"Aku akan selalu berusaha kembali dengan keadaan baik-baik saja untuk kamu," balas Bimo mendaratakan kecupan di mata, pipi serta bibir istrinya.
Andra dan Kia saling lirik melihat pemandangan manis yang selalu disuguhkan Bimo sebagai contoh untuk anak-anaknya. Usia memang tak lagi muda namun kehangatan untuk sang istri tak boleh berkurang bahkan terkikis waktu. Rasa itu harus tetap utuh hingga hanya ajal yang jadi pemisah sementara mereka. Karena harapan bersama selamanya hingga sehidup sesurga.
"Siapa mereka, Pi?" tanya Andra, "lawan kita?" Andra mencurigai pesaing perusahaan mereka. Sebab perusahaan Bimo baru-baru ini kembali memenangkann tender pembangunan kota baru.
"Bukan, dia adik kamu."
"Kean?" tanya Leela tak percaya. Baginya bagaimana mungkin seorang anak menyerang orangtuanya. Apalagi selama ini Kean selalu bersikap manis saat berada di dalam rumah. Sikap menyebalkannya memang ada tapi tidak terlalu parah.
"Iya, Kean. Anak kita yang berandalan. Katanya dia mau mengajukan kerja sama. Dia minta kita melanjutkan rencana perjodohan dengan anaknya Pak Ali sebagai imbalan katanya dia mau bekerja di perusahaan."
"Kenapa harus melalui penyerangan. Padahal dia bisa datang ke rumah kapan saja. Apa dia sudah lupa jalan pulang. Apa dia tidak tahu kalau papinya sudah tua. Giamana kalau kamu kena serang jantung coba? Apa dia gak mikir?" kata Leela dengan wajah yang terlihat kesal. Rasa cemas berubah menjadi gerutuan yang mengiringi langkah menuju ruang keluarga.
Suara omelan itu mereda di balik dada lebar milik Bimo yang mendekap dan membawa tubuh istrinya ke dalam kamar. Itu memang salah satu cara ampuh yang sering ia lakukan di saat Leela tengah mengeluarkan ribuan kosa kata sebagai pelampiasan. Jika melalui perdebatan itu tidak akan pernah berhasil.
"Selalu begitu," kekeh Kia yang tengah menggendong anaknya saat lagi-lagi menyaksikan sikap manis dua anak manusia yang berusaha saling melengkapi. Cinta di antara mereka seperti tak pernah mengendur.
"Semoga kita juga tak kalah manis saat anak-anak sudah tumbuh dewasa. Kita akan menyaksikan mereka tumbuh," balas Andra mengusap pipi merona istrinya.
"Mereka?"
"Kan nanti malam kita akan membuat satu lagi " Andra berbisik sambil mengaduh karena cubitan pada perut oleh istrinya.
***
Pukul tujuh Hanum dan Ibam sudah rapi di pinggir jalan daya menunggu jemputan yang akan membawa mereka ke rumah Ali. Tadi malam dia mendapat kabar katanya ada hal darurat yang harus di sampaikan pada dirinya tapi tidak bisa melalui telepon.
Terpaksa harus izin untuk tidak bekerja. Ia takut ini memang benar-benar penting. Bahkan semalam tidurnya tidak nyenyak karena kepikiran.
__ADS_1
Sebuah mobil berhenti di depan mereka. Mobil yang pemiliknya sama sekali tidak ingin Hanum temui. Dialah Kaif. Pria itu mengajukan untuk menjemput Hanum pada mertuanya. Dengan alasan sebagai menantu yang baik Ali tak mempermasalahkan itu.
"Ayo, Papa sama mama udah nunggu kalian." Kaif membukakan pintu untuk keduanya.
Hanum yang tak ingin berinterkasi banyak, dia pun masuk tanpa penolakan. Sepanjang perjalanan hanya suara antusias Ibam yang paling banyak terdengar. Anak itu banyak berceloteh menyebutkan satu-satu kendaraan yang dia lihat. Menunjuk gedung tinggi yang mereka lalui.
"Ibam senang?" tanya Kaif dari balik kemudi. Dia meolah melalui kaca spion.
"Senang, Om. Nanti ajak Ibam main lagi ya."
"Pasti. Om akan lebih sering ngajak kamu main. Sama bunda juga. Iya kan, Nda?"
Hanum mengangguk karena Ibam menatapnya menunggu jawaban.
"Waaaahh lumahmya besar sepelti punya Om Ken," seru Ibam saat mobil memasuki halaman dan berhenti di depan bangunan yang menjadi rumah Hanum. Dulu.
Ada rasa yang berdesir saat kembali menapakan kaki di rumah yang memiliki ribuan kenangan. Hati Hanum tiba-tiba bergejolak di dorong air mata yang timbul diujung mata.
Senyum hangat milik Virdha dan Ali menyambut mereka di ambang pintu. Begitu juga dengan Amara Shanum yang berdiri di belakang mereka.
"Selamat datang di rumah," kata Ali merentangkan tangan menyambut pelukan dari putrinya. Hanum membalasnya kemudian memeluk Virdha, terakhir memeluk Amara.
"Ini lumah siapa, Nda?" Ibam mendongak menatap ibunya karena bingung.
Virdha berjongkok kemudian menyentuh puncak kepala cucunya, "rumah kamu, rumah kami. Ayo masuk."
Ibam yang masih kebingungan tak kunjung masuk, dia menunggu Hanum mengiayakan. Setelah hanum mengangguk baru lah dia mengikuti langkah Virdha yang menggandeng tangannya.
Mereka langsung di ajak ke rumah makan. Di mana hidangan mewah telah disajikan di sana. Ibam kembali bersorak saat melihat ayam krikuk yang menjadi kesukaannya.
"Kamu boleh ambil semuanya," kata Virdha memindahkan ayam itu ke hadapan Ibam.
Lagi-lagi Ibam menoleh pada ibunya, "Boleh tapi jangan terlalu kenyang ya. Kan nanti bisa makan lagi," kata Hanum.
Dormasi di rumah ini kembali lengkap dengan kesediaan Hanum untuk pulang. Semakin bertambah ramai dengan hadinya Ibam. Tawa riang karena tingkah Ibam menjadi melodi yang menabah kesana hangat di pagi ini.
"Hanum terima kasih sudah mau pulang. Rumah ini kembali ramai dengan hafirnya kamu serta Ibam," kata Ali setelah meletalan sendok dan makanan di atas piringnya sudah habis.
"Hanum pulang karena kata papa ada hal penting yang harus aku dengar."
"Apa pun alasan kamu, kami senang kamu pulang." Virdha menyentuh tangan putrinya dan memerikan senyum hanya seperti dulu.
__ADS_1
"Mama benar. Ada pun hal penting yang harus papa sampaikan ini berkaitan dengan kamu." Ali menatap Hanum kemudian menatap Amara Shanum juga Kaif.
Sepasang suami istri itu saling menoleh. Mereka memang telah menyampaikan niatnya pada Ali. Entah ayahnya akan setuju atau tidak.