
Tangis kerinduan seorang anak pada keluarganya tak dapat lagi dibendung. Hanum menangis dalam pelukan Virdha-ibunya. Begitu juga Virdha yang sangat merindukan putrinya.
Ali sempat memeluk Hanum begitu juga dengan Amira. Hanya Kaif yang tidak bisa memeluk bahkan hanya sekedar menyentuh. Mereka ipar dan bukan mahram. Ketika Hanum sudah memahami halal dan haram dia menyesali kebodohannya dulu. Dulu ia memang mengaji tapi hanya sekedar tahu dan menganggap itu hal wajar.
"Kami ingin bicara dengan putri kami, Abah. Saya meminta izin untuk membawanya, apa boleh?" kata Ali setelah memeluk putranya sebentar dan kembali duduk menghormati tuan rumah.
Abah mengangguk, "tentu, Pak Ali, silahkan. Semoga menjadi kebaikan untuk Pak Ali bersama keluarga." Abah mengangguk pada Hanum yang sempat menoleh seperti mengatakan keberatan.
Abah dan Umi menggantarkan mereka sampai ke gerbang. Sebab dari sana mereka harus jalan kaki sampai ke jalan besar di mana mobil yang mereka kendarai di simpang di sana.
Hanum diajak ke sesuatu rumah makan. Setibanya di sana mereka langsung disambut oleh pelayan dan diantar ke ruang khusus untuk menjaga privasi sebab Amira sudah memesan lebih dulu melalui aplikasi.
Suasana canggung begitu terasa untuk pertemuan pertama setelah tiga tahun berpisah.
"Papa gak pernah menyangka kalau kamu akan masuk lingkungan pesantren, Nak." Ali yang memulai percakapan. "Kalau tahu begitu papa pasti akan mencarimu ke sini. Selama di sini kamu baik-baik saja?" Ali menatap putrinya yang tampak berbeda. Jika dulu Hanum lebih banyak mengangkat kepala sekarang justru lebih banyak menunduk. Dulu pakaiannya hanya sekedar pakaian tapi sekarang tidak terlihat ada aurat. Dari ujung kepala sampai ujung kaki Hanum tutup kecuali wajah dan telapak tangan.
"Aku baik-baik aja. Bahkan sangat baik."
"Kami merindukan kamu, Nak," ujar Virdha meraih dan menggenggam tangan anaknya, "Mama sangat putus asa karena gak bisa menemukan kamu. Mama takut kita tak bisa bertemu lagi padahal mama belum sempat mengucapkan maaf." Lagi-lagi Virdha tak bisa menahan tangis.
Hanum mengangguk membalas genggaman dari tangan ibunya. Tangan sebelah kiri digunakan untuk menyeka sudut mata yang basah. Dia benar-benar rindu pada perempuan ini. Perempuan yang selalu memahami dirinya.
"Maafkan Hanum yang berpikir pendek hari itu, Ma. Bukan tidak akan kembali, Hanum pasti pulang tapi entah kapan. Hanum juga merindukan Mama. Rindu dipelukan mama, tidur dalam pangkuan mama. Semua itu adalah hal yang selalu Hanum tangisi saat merindukan mama." Hanum tersenyum di tengah air maya yang berurai.
Virdha meraih pundak Hanum. Kembali memeluknya dengan erat. Dia tahu bagaimana hancurnya Hanum hari itu, namun dia tak punya langkah seperti Ali-suaminya. Langkahnya terbatas oleh kalimat kamu seorang istri yang harus patuh pada seorang suami jika ingin mendapatkan Ridho-Nya.
"Maafkan kami ya, Num. Kami tidak mengerti posisi kamu saat itu," kata Amira ikut bicara dan ikut memeluk Hanum yang duduk di antara dirinya dan sang Ibu.
__ADS_1
Ada senyum lega di wajah Ali apalagi Kaif saat akhirnya Hanum bertemu dengan mereka. Kaif tak ikut bicara, namun dari sorot matanya dia terlihat memiliki tujuan terabunyi. Entah apa itu.
Seorang pelayan menghampiri mereka untuk mengantarkan menu. Virdha dan Amira sama-sama melepaskan pelukan pada Hanum. Mereka memesan makanan untuk makan siang meski waktu makan siang sudah terlewat jauh.
Suasana yang begitu canggung membuat Hanum tak banyak bicara. Dia hanya menikmati makanan yang telah disajikan pelayan. Sesekali menanggapi pertanyaan yang dilontarkan pada dirinya. Virdha paling banyak melontarkan pertanyaan mengenai tumbuh kembang putranya Hanum.
Selesai makan, Hanum pamit kembali ke kontrakan dan menolak pulang bersama mereka ke rumah yang terkahir dia injak adalah tiga tahun lalu.
"Pulang ke rumah ya ajak serta putra kamu. Dia cucu mama, dan dia harus tahu kalau mama adalah neneknya." Virdha memeluk sang anak sebelum dirinya masuk ke dalam mobil. Kaif dan amira sudah masuk lebih dulu sedangkan Ali baru saja kembali setelah melakukan pembayaran.
"Papa ingin bicara berdua, bisa?" Ali menatap putrinya yang tampak ragu. Wajar saja, sebab selama ini mereka tak pernah dekat. Selisih paham selalu terjadi di antara keduanya. "Bawa ini untuk putra, papa ingin bertemu dengan dia."
"Kalau sekarang gak bisa, Pa. Aku harus pulang, khawatir Ibam menungguku di rumah. Besok atau lusa gimana?" balas Hanum menahan haru saat snah ayah akhirnya menanyakan janin yang dulu yak pernah dia inginkan.
"Ok, nanti kabarin Papa. Hati-hati di jalan kalau gak mau ikut kami pulang ke rumah. Sampaikan salam papa pada putramu, ajak dia ke rumah. Papa tunggu." Ali mengusap kepala Hanum yang tertutup kerudung kemudian memeluk dan memberikan kecupan pada Kening.
Hanum tertegun. Sikap papanya jauh berbeda dengan sikap sebalum perpisahan. Hingga dia pun tak punya pilihan lain selain membalasnya. Hatinya menghangat apalagi ketika Ali membisikkan kata maaf.
***
"Kok telat banget pulangnya. Banyak kegiatan?" tanya Kean menghentikan sejenak kegiatan yang tengah memperbaiki motor. Entah motor siapa itu yang jelas Hanum tidak mengetahuinya.
Hanum duduk di bangku yang ada di depan rumah Kean, meletakan tas dan meluruskan kaki, "enggak sih, tadi cuma sempat makan siang sama mereka."
"Mereka siapa?" Kean menoleh dan jelas dia dapa melihat sisa air mata di wajah Hanum.
"Ini motor siapa?" Hanum mengalihkan pertanyaan.
__ADS_1
"Punya pemilik kontrakan katanya udah hampir satu bulan gak jalan. Kebetulan saya hobi dan sedikit ngerti tentang mekanik ya coba aja dulu. Lumayan kan dari pada nganggur." Kean melanjutkan kembali pekerjaannya.
"Sabil gendong Ibam gitu gak berat emang? Kenapa gak ditidurin di rumah aja."
"Tadi dia sempat rewel, ya udah digendong aja. Eh tau-tau tidur. Kena sepoy-sepoy angin dia," kekeh Kean.
Pemilik motor sekaligus pemilik kontrakan menghampiri mereka. Di tangannya membawa kopi yang diseduh di dalam cangkir plastik serta beberapa makanan ringan untuk Kean. "Ngopi dulu, Kang. Gimana, bisa diperbaiki gak, Kang? Tadinya mau saya bawa ke bengkel tapi belum sempat terus."
"Banyak yang harus diganti, Pak. Tapi kita lihat dulu ini bisa atau enggak. Ya kalau enggak terpaksa harus dibawa ke ahlinya," balas Kean mencoba menyalakan motor tersebut. Gak langsung nyala karena memang kerusakannya banyak, dicoba lagi dan lagi sampai akhirnya bisa.
***
Sepiring nasi beserta lauknya diantarkan Hanum ke rumah Kean setelah dirinya selesai memasak. Dia tidak lagi keberatan berbagi makanan dengan Kean, toh Kean tidak sekedar menumpang makan. Ada kebaikan yang dilakukan pria itu terutama pada Ibam.
Kean yang baru selesai mandi dan baru mengenakan celana pendek sedangkan setengah badannya belum memakai apa-apa segera berlari ke arah pintu ketika mendengar ketukan.
"Astagfirullah," pekik Hanum saat melihat tubuh bagian atas milik Kean yang masih terlihat atletis mekipun baru sembuh dari sakit. "Pake baju dulu!"
"Uuh maaf." Kean kembali ke kamar untuk mengambil pakaian atasnya. Mengenakan kaos putih berlengan pendek yang mencetak otot lengan serta rambut gondong yang basah belum dirapikan, Kean tampak begitu mempesona. Membuat mata Hanum sampai terpaku untuk beberapa detik sebelum akhinya berpaling.
"Ada apa, Mbak?" Meskipun sudah melihat nampan yang ada di tangan Hanum dan berisi makanan, Kean masih saja bertanya. Padahal dia sudah bisa menebak maksud dan tujuan dari perempuan yang ada di hadapannya.
"Cuma mau nganterin ini, biar kamu tidak makan di rumah lagi." Hanum menyodorkan nampan yang dipegangi sejak tadi.
"Kenapa gak boleh makan di rumah Mbak Hanum lagi? Takut jatuh cinta ya atau sudah?" Kean memainkan alis untuk menggoda Hanum. Sikap tengil dan percaya dirinya memang kadang menyebalkan kalau sudah kumat.
"Mimpi," balas Hanum acuh segera berbalik badan untuk menyembunyikan rasa panas di pipi. Apalagi saat melihat Kean mengerling menyebalkan seperti barusan.
__ADS_1
"Jangan bohong, aku tahu arti dari rona merah di pipi mu. Akui saja."
Hanum berdecih, segera masuk dan menutup pintu rumahnya. Tangan yang menutupi wajah baru dilepas saat sudah berdiri di depan washtafel.