
"Ya Allah," pekik Virdha saat melihat putrinya di dalam bathtub. Tanpa meminta tolong pada suaminya dia segera menarik sang anak.
Saat memasuki kamar dan melihat keadaannya, dia yakin telah terjadi sesuatu pada putrinya. Tempat yang pertama dituju adalah kamar mandi dan benar dia melihat putrinya di sana. Di dalam bathtub dengan kepala terendam semua.
Wajah Hanum sudah mulai pucat, tangannya mulai keriput karena kedinginan. Akan tetapi denyut nadinya masih terasa meskipun lemah.
"Uhuk." Hanum terbatuk setelah mendapatkan pertolongan dari ibunya, "mama?" ujarnya pelan, matanya berkaca-kaca.
"Jangan katakan apa pun sekarang ya. Ayo mama bantu."
Hanum dibaringkan setelah dipakaikan pakaian. Hati ibu mana yang tak sakit melihat noda darah di atas tempat tidur. Apalagi saat dia mengetahui dan melihat sendiri bahwa putrinya mencoba mengakhiri hidup.
"Maafkan aku." Hanum kembali bersuara maskipun terdengar lemah.
Virdha hanya mengangguk tanpa mampu membalas kata. Dia yakin dirinya akan menangis ketika membuka mulut dan hal itu pasti akan menjadi beban tambahan bagi anaknya. Hanya usapan tangan yang mewakilkan bahwa dia tidak akan meninggalkan anaknya.
"Mama hubungi papa dulu ya."
Hanum menahan tangan sang ibu dan menggelengkan kepala.
"Mama tidak akan memberi tahu apa yang terjadi sekarang. Mama hanya minta izin untuk menemani kamu ya."
Setelah putrinya mengangguk, Virdha segera menjauh dan menghubungi suaminya. Mengatakan kalau untuk malam ini dia ingin menemani Hanum.
"Dia parah, Mam?" tanya Ali dari seberang telepon, "Kalau parah papa kesitu sekarang. Harus dibawa ke rumah sakit itu."
"Enggak, Pak. Dia hanya demam sudah mama kompres dan kasih obat. Boleh ya mama temani dia malam ini, khawatir demamnya tinggi."
"Ya sudah kalau ada apa-apa segera kabari, Papa."
__ADS_1
Virdha mengangguk dan menutup panggilan. Kembali menghampiri dan menatap putrinya yang sudah memejamkan mata. Kini air mata yang sejak tadi dia tahan akhirnya tak mampu lagi dibendung. Andai dia telat sepuluh menit lagi, dia bukan hanya kehilangan kehormatan putrinya, tapi kehilangan sekaligus raganya.
Saat tidur, Virdha tak benar-benar lelap. Dia selalu bangun untuk memeriksa keadaan putrinya. Apalagi saat Hanum bangun dan terlihat panik.
"Tenang, Sayang. Ini Mama, kamu gak sendirian ya. Jangan takut, justru kamu harus bangkit dan menemukan orang itu. Dia harus menerima balasan atas perbuatannya," kata Virdha yang memang merupakan seorang psikologi. "Kamu perempuan kuat, kamu perempuan hebat. Dunia ini kecil dan kamu pasti bisa menemukan dia."
Hanum mengangguk dalam pelukan ibunya. Dia pun mengumpulkan tekad, jika dunia begitu kejam pada dirinya, maka akan dia tunjukan kalau dirinya tidak akan kalah oleh dunia.
Keesokan paginya, Hanum benar-benar terlihat baik-baik saja. Dia seperti tak mengalami hal yang begitu mengerikan tadi malam. Namun ada yang berbeda dari tatapannya, mata itu terlihat lebih dingin dan tajam. Dengan tatapan itu dia akan mengenali siapa bajingan yang telah merusak hidupnya.
Dia ikut berkumpul untuk sarapan bersama keluarga besarnya. Suasana bahagia hari kemarin masih terbawa hingga pagi ini. Mereka begitu asik menggoda sepasang pengantin baru. Sementara dirinya? Jangankan untuk tertawa, melihat Kaif tersenyum saja dia merasa muak.
"Gaspol dong," ujar Helen sepupunya.
"Enggak, aku keburu periode, Tante," balas Amara.
"Hah masa sih, duh kasiannya pengantin baru."
"Ada banyak cara dan tempat penyaluran," kekeh Kaif melirik Hanum yang sejak tadi diam saja.
Mungkinkah pria bejat itu Kaif? Kita lihat saja.
Saat semua tengah asik menikmati hidangan, mereka serempak menghentikan gerakan lalu menoleh pada ponsel masing-masing.
Semua menjadi hening, dan menatap pada satu titik yang sama. Hanum. Mereka menerima pesan yang sama yang isinya merupakan foto Hanum semalam. Pesan itu muncul tak sampai satu menit. Setelah semua membuka pesan dan melihatnya, pesan itu langsung menghilang begitu saja.
"Apa-apa ini, Hanum?" tanya Ali dengan ekspresi marah yang tak terbendung.
"Papa tunggu," ujar Virdha, "kita pulang dan bicarakan ini di rumah. Saya minta tolong apada siapa pun jangan ada yang membahas ini atau menyebarkannya." Virdha meminta pengertian pada semua yang menerima pesan tersebut.
__ADS_1
Jarak rumah yang lumayan jauh dengan hotel tempat Amara menikah kini bisa ditempuh dalam waktu tak sampai tiga puluh menit. Ali yang mengemudikan mobil benar-benar ngebut tak peduli dia akan mendapatkan berapa surat tilang esok hari. Dia hanya ingin segera sampai di rumah dan bertanya pada putrinya.
"Jadi ini alasan kamu yang sebenarnya. Kamu ingin segera bertindak seperti ****** hah?" tuduh Ali yang tak mampu menguasai emosi. Bahkan anggota keluarganya saja belum duduk dengan benar.
"Papa," sela Virdha menggelengkan kepala.
"Cukup, Ma. Salah ya salah jangan ditutup-tutupi. Anak ini selalu membuat keluarga kita malu. Lihat Amara, Hanum! Dia selalu membuat papa bangga pada dirinya."
"Pa!" kali ini Virda sedikit berteriak. Kesal juga punya suami seperti Ali ini.
"Apa? Masih mau menutup yang salah?"
Virdha hendak membalas ucapan suaminya namun ditahan oleh Hanum.
"Aku memang gak pernah benar di mata papa. Kak Amara selalu segalanya. Papa tidak pernah memperhatikan tentang aku. Aku sakit, aku terluka, aku mengalami apa pun papa selalu menutup mata. Semua selalu tentang kak Amara. Pria yang papa nikahan dengan kak Amara sampai hari kemarin sebelum ijab adalah kekasihku. Papa nikahan dia dengan kak Amara tanpa tahu seberapa terlukanya aku," kata Hanum dengan wajah mengeras namun air mata jelas menunjukan bahwa dia terluka.
Sontak pengakuannya mengejutkan Amara dan orang tuanya tapi tidak dengan Kaif.
"Foto yang kalian lihat tadi adalah foto yang diambil kemarin malam saat aku tak berdaya. Tidak ada yang menolongku, bahkan A-Y-A-H-KU sendiri. Pada siapa aku harus meminta tolong jika ayahku sendiri tidak mu mendengar penjelasanku."
Hanum menyeka sudut matanya, "papa tidak usah khawtir, aku tidak akan membuat papa malu lagi. Aku akan cari pria itu tanpa bantuan papa. Akan kubuktikan jika aku tidak seburuk yang papa lihat."
Usai mengatakan kalimat demikian Hanum masuk ke dalam kamarnya. Dia tatap jam tangan yang ditinggalkan oleh pria bejat itu. Kenapa orang itu meninggalkan jejak?
***
Di temapn lain, Bimo baru saja mendapat panggilan dari rumah sakit Hasan Ali. Rumah sakit milik keluarga Ali Subakti. Dari laporan yang diterima, Kean putranya yang hobi balapan liar mengalami kecelakaan. Sudah tidak aneh karena ini bukan kecelakaan pertama. Bolak-balik rumah sakit dan kantor polisi adalah hobi Kean sebab tidak ada kapoknya.
Dengan mengajak sang istri, mereka segera menuju ke rumah sakit. Tiba di sana mereka langsung menuju ke tempat anaknya di rawat. Hanya bisa menatap dari kaca pintu karena tidak bisa masuk selain petugas.
__ADS_1
"Ini adalah kecelakaan paling parah yang dialami putra anda. Di mana terjadi perdarahan di kepala bagian belakang. Kami harus segera melakukan tindakan sebagai upaya menyelamatkannya," kata dokyer yang menangani Kean