Kean Hanum

Kean Hanum
Episode Tujuh Belas


__ADS_3

Leela memejamkan mata, menyandarkan tubuhnya pada dinding. Berulang kali menarik nafas untuk mengendalikan perasaan.


"Maafkan aku," kata Bimo merengkuh sang istri yang pasti khawatir pada anaknya.


Leela mengangguk namun bibirnya terkunci rapat. Dia meyakini kalau ini adalah cara sang suami mendidik anaknya.


"Pi!" Andra menghampiri dan menatap kedua orang tuanya yang tengah saling memeluk untuk saling menenangkan.


"Simpan dulu kabar ini. Jangan merusak suasana bahagia dengan kabar buruk. Kean akan baik-baik saja," kata Bimo melepas pelukan pada sang istri dan menepuk pundak putranya. Kemudian menghampiri Arga dan Shepa yang tengah berbicara dengan perawat.


"Bim, kita jadi kakek," kata Arga setelah perawat pergi.


"Iya karena kamu memang sudah tua."


Leela yang hatinya sedang tidak baik-baik saja jadi tersenyum mendengar perkataan suaminya. Begitu juga Shepa dan Andra yang sama-sama terkekeh.


"Sialan," umpat Arga meninju pelan dada Bimo kemudian memeluknya.


Setelah diberi tahu oleh perawat bahwa Kia sudah dipindahkan dan sudah bisa dijenguk, mereka pun melangkah bersama menemui Kia untuk mengucapkan selamat.


"Sayang, selamat menjadi ibu, Nak. Mama gak nyangka kamu tumbuh secepat ini. Selamat, Sayang," kata Shepa mengecup kening sang anak.


"Makasih, Mama. Mami." Kia menatap mertuanya.


"Selamat ya, Nak. Kasih tahu mami mau hadiah apa ya! Soalnya mami belum sempat membeli hadiah untuk kamu, Sayang."


"Bilang aja minta saham Papi Bim 50%, Kia," kata Arga menimpali dan menghadirkan kembali tawa di antara mereka.


"Bilang aja kamu yang mau," balas Bimo kemudian menghampiri anak dan menantunya serta mengucapkan selamat.


Setelah Bimo, baru Arga kemudian Shafia-anak perempuan Bimo yang baru pulang sekolah langsung menuju rumah sakit bersama Kayra-adiknya Kia beda ayah.


Mereka berbincang sejenak kemudian pamit pulang. Sedangkan Arga dan Shepa masih di sana menemani Kia juga Andra. Kayra sendiri diminta pulang karena meskipun ruang rawat Kia adalah ruang VVIP tapi Kia juga butuh istirahat. Terlalu banyak orang akan menganggu waktu istirahatnya.


Baik Arga maupun Shepa belum ada yang diberitahu perihal Kean agar tak membuat mereka khawatir.


Dalam perjalanan hanya ada suasana hening di dalam mobil yang diisi Bimo, Leela dan dua asisten pribadinya. Baik Leela maupun Bimo sama-sama sibuk dengan pikiran masing-masing. Sibuk memikirkan putra mereka yang kini tengah berada di dalam sel.


Leela menoleh pada sang suami yang sejak masuk ke dalam mobil hanya diam dan menatap jalanan. Tangan Leela terulur untuk menggenggam tangan Bimo. Senyum manis dia berikan sambil berkata, "semua akan baik-baik saja, Pi."


Bimo mengangguk kemudian menarik sang istri ke dalam pelukan.

__ADS_1


Setibanya di rumah, mobil mereka dihadang wartawan yang ingin menggali informasi tentang tertangkapnya Kean atas tuduhan menggunakan obat-obatan terlarang.


"Galih!" Bimo memanggil asisten pribadinya.


"Siap, Pak." Galih turun karena sudah paham apa keinginan majikannya meski tidak dikatakan secara gamblang.


Galih menghadapi dan menenangkan para wartawan sedangkan Bimo tetap masuk ke dalam rumah bersama sang istri.


"Tutup telinga, jangan dengarkan kalimat buruk merusak hari-hati kita," pinta Bimo pada sang istri, "berita ini tidak akan reda dalam waktu dua atau tiga hari. Jadi kita harus menyiapkan mental."


Bimo juga mengumpulkan seluruh anggota keluarganya. Tentu saja Tresna syok setelah mendengar kabar yang disampaikan anaknya.


"Bim, dia pasti positif kalau dilakukan tes urine. Secara hampir tiga tahun dia meminum salah satu jenis obat terlarang. Tapi itu kan sesuai resep dokter. Kemungkinan besar kita bisa membebaskan dia," kata Wijaya.


Bimo mengangguk.


"Memang, Pap, tapi aku pikir membiarkan dia di penjara untuk sementara waktu itu lebih baik. Semoga ini bisa membuat dia sedikit berpikir normal. Tidak selamanya dia akan lolos dari hukum atau bahkan kematian."


Tresna menggelengkan kepala tanda tidak setuju.


"Mama, tolong jangan lakukan apa pun ya. Tolong, biarkan dia merasakan kesulitan untuk memahami arti dan tujuan hidup."


Tresna menghela nafas panjang, dia menoleh pada menantunya yang terlihat baik-baik saja. Namun sebagai seorang ibu Tresna dapat merasakan apa yang dirasakan Leela. Bukankah perempuan diciptakan dengan banyak perasaan. Dia akan merasakan sakit jika melihat sesama perempuan sakit.


***


"Ada apa?"


Amira menggelengkan kepala tersenyum, kemudian dia melanjutkan menyentuh makanan yang sejak tadi didiamkan.


"Kamu bilang tidak ada apa-apa tapi kamu terlihat sedang memikirkan sesuatu. Apa hasil cek up mengganggu pikiranmu?" tanya Kaif menatap sang istri yang terlihat bingung.


Kaif rahimku bermasalah, aku takut kamu memilih pergi saat aku mengatakan ini. Aku belum siap kehilangan kamu.


"Amira? Kamu tahu kan kalau aku tidak suka kebohongan?"


Amira mengangguk, menghela nafas panjang sebelum memutuskan untuk bicara.


"Kaif, ada hal yang harus kamu ketahui tentang kesehatan aku. Dokter bilang aku ... kemungkinan untuk hamil itu sangat kecil."


Kaif melengos.

__ADS_1


"Sebenarnya aku takut mengatakan ini padamu. Aku takut kamu meninggalkan aku tapi aku juga tidak punya alasan untuk menahan kamu. Kamu sangat menginginkan anak sedangkan aku tidak yakin bisa memberikan apa yang kamu mau. Kamu boleh pergi tapi aku takut kamu kehilangan jabatan kamu di perusahaan papa."


Jabatan sebagai CEO di perushaaan ayahnya memang bisa jadi jalan Amira menahan Kaif. Dia yakin Kaif tidak ingin kehilangan posisi yang di dapat dengan mudah karena menikahi dirinya.


Tujuan Kaif ingin segera memiliki anak juga karena alasan itu. Jika di antara dirinya dengan Amira ada seorang anak, maka posisinya semakin kuat.


Kaif diam sejenak memikirkan sebuah rencana. Hingga dia tersenyum saat mengingat Hanum bersama Ibam.


"Mama di rumah atau di tempat praktek?" tanya Kaif.


"Di tempat praktek. Kenapa?"


Kaif tidak menjawab, dia hanya menaikkan bahu kemudian melanjutkan makan siang.


Usai makan siang, Amira pulang dijemput oleh sopir. Sedangkan Kaif menemui ibu mertuanya di tempat praktek.


"Ibu Virdha tengah sibuk?" tanya Kaif pada asisten pribadi mertuanya.


"Sepertinya tidak. Ada yang bisa saya bantu?"


"Tolong sampaikan saya ingin bertemu."


Virdha diberitahu kedatangan Kaif oleh asisten pribadinya. Foto yang sejak tadi dia tatap diletakan kembali ke tempat semula. Dia beranjak dari tempat duduk menghampiri menantunya yang tiba-tiba datang dan mengatakan ada hal penting.


***


Hanum melakukan aktifitas seperti biasa. Awalanya dia tidak terusik dengan ketidakhadiran Kean namun saat melihat Ibam yang terus mencarinya akhirnya dia penasaran juga.


Jangan-jangan dia patah hati karena ditolak, begitu pikir Hanum.


"Bam, kok gak ikut gabung sama mereka," tanya Hanum pada sore ke empat setelah Kean tidak terlihat.


"Nanti aja, mau nungguin ayah dulu," kata Kwan melangkah ke teras kontrakan Kean. Duduk di sana setelah mengetuk pintu rumah tetangga.


Hanum mendekati sang anak, "jajan aya mau? Kalau nungguin ayah kan kita gak tahu Om Kean pulangnya kapan. Jajan yuk."


"Enggak mau, Ndaaa. Aku ... mau ... nungguin ... ayah."


"Tapi kan-" perkataan Hanum dipotong gelengan kepala oleh Ibam membuat dia menghela nafas panjang. Memang sulit membujuk putranya kalau sudah ada maunya.


"Bam, Nda boleh tanya gak? Kalau bileh tahu, Ibam kenapa manggil ayah sama Om Kean?" Hanum mengutarakan rasa penasarannya.

__ADS_1


"Emmm karena ... Om Ken lumahnya besal." Ibam memperagakan dengan tangannya, "Di lumahnya banyak mainan. Telus emm emm mami Om Ken cantik." Ibam menceritakan apa yang dia ingat di rumah Kean. Dia cukup cerdas untuk menangkap dan menceritakan kembali apa yang dia lihat.


Hanum mengerutkan kening. Rumah besar, banyak mainan, mami Om Ken cantik. Berarti selama ini Kean tidak sepeti yang dia lihat. Hanum mulai penasaran dan menebak-nebak siapa Kean.


__ADS_2