Kean Hanum

Kean Hanum
episode empat


__ADS_3

Langkah Hanum berhenti di sebuah jembatan. Di sana dia melihat gulungan air di bawahnya. Sungguh menenangkan. Namun melihat kejamnya dunia, dia sempat berpikir apakah ini jalan terbaik. Dia pun memejamkan mata dan menengadah ke langit.


"Hei jangan!" teriak seorang perempuan yang berlari ke arah Hanum dan menariknya dari pembatas jembatan. Dia pikir Hanum akan loncat ke bawah sana. "Apa pun masalah kamu, bunuh diri bukan solusi yang tepat, Nak."


Hanum menatap sendu pada perempuan yang tengah memegang pundaknya. "Tapi dunia ini begitu kejam padaku, Bu." Air mata Hanum jatuh saat itu juga.


Ibu tadi tidak mengatakan kalimat apa pun dia hanya membiarkan Hanum menangis di hadapannya. Saat tangis itu mulai reda, dia mengulurkan sebotol air mineral.


"Masih disegel kok. Insya Allah aman."


Hanum mengangguk dan menerimanya.


"Mau saya antar pulang?" tawar perempuan tadi.


Hanum menggelengkan kepala, "saya tidak punya tempat untuk pulang, Bu."


Perempuan itu menatap kasihan pada Hanum. Masih muda tapi terlihat frustasi.


"Kalau begitu untuk sementara kamu pulang ke tempat saya dulu mau? Dari pada kamu lontang-lantung di jalan seperti ini. Rumah saya gak jauh dari sini, ada di gang sana."


Hanum menoleh ke arah yang ditunjuk perempuan itu. Dia pun mengangguk dan memutuskan untuk ikut.


"Tempat ini menjadi tempat singgah untuk siapa pun," kata ibu tadi yang sudah diketahui namanya Rukoyya, "kamu boleh tinggal seberapa lama yang kamu mau. Insya Allah di sini aman."


"Ini semacam pesantren?" tanya Hanum masih dengan mengikuti langkah Rukoyya. Matanya memindai sekeliling.


"Ya pesantren sederhana. Di tempat ini banyak anak yang ditinggalkan orang tuanya. Entah itu karena meninggal atau karena alasan tak sanggup membiayai."


"Lalu biaya hidup mereka yang tinggal di sini dari siapa?"


"Selain ada orang dermawan yang menyisihkan hartanya untuk mereka. Kami juga mengolah sumber daya alam yang ada. Sawah di belakang adalah milik suami saya. Alhamdulillah hasilnya cukup." Rukoyya terus berjalan membawa Hanum ke sebuah kamar. "Kamar ini untuk kamu istirahat, maaf kecil tapi semoga kamu nyaman ya."


Setelah mengucapkan terima kasih, Hanum masuk dan duduk di ranjang sederhana. Dia tatap kamar yang jauh berbeda dengan kamar dirinya di rumah. Dia yakin dengan berada di sini dia bisa kembali melanjutkan hidup. Dia menyadari satu hal, bukan hanya dirinya yang saat ini tengah mendapat ujian. Di sini ada banyak anak yang bahkan tidak tahu seperti apa wajah orang tuanya.

__ADS_1


Di tempat baru Hanum perlahan bangkit membangun kembali mimpi yang kemarin tak terlihat. Selain ikut singgah, dia juga ikut membantu merawat anak-anak kecil yang belum bisa mandiri. Sekaligus dia belajar tentang ilmu agama yang selama ini ia hanya tahu yang dasar-dasar saja.


Satu minggu di sana hatinya mulai merasa tenang. Senyum di bibirnya mulai terlihat lagi. Dia dan keluarganya tak pernah berkabar lagi. Entah seperti apa mereka sekarang. Entah sang ayah mencarinya atau justru senang karena orang yang dianggap beban kini tidak ada.


***


Hampir setiap hari Bimo dan Leela datang ke rumah sakit untuk melihat keadaan Kean. Meski ini sudah hari ke sepuluh dan anak mereka belum siuman juga, namun harapan di dalam hati tak pernah padam.


Sesekali Andra dan istrinya juga datang menjenguk atau bergantian menunggui Kean yang belum bangun dari siuman.


"Gimana, Dok?" tanya Bimo.


"Kami masih berusaha, Pak Bimo, Bu Leela. Doakan semoga usaha kami membuahkan hasil dan putra anda bisa kembali ke pelukan," jawab dokter yang menangani Kean.


"Apa yang bisa kami lakukan, Dok, untuk membantu?" tanya Leela.


"Doa," jawab dokter itu tersenyum, "jangan putus berdoa, Bu. Doa dan kasih sayang seorang ibu itu sungguh luar biasa. Semoga pasien bisa merasakan hangatnya doa dari ibu yang sangat mencintainya. Saya permisi dulu."


Leela duduk sambil menyandarkan punggung. "Pi, apa ini gara-gara doa mami ya. Mami ingin dia kebalik ke pelukan kita seperti saat dia kecil dulu. Makanya Allah menimpakan musibah ini agar dia kembali," ucap Leela terisak dan merasa bersalah.


Untuk kasus Kean masih ditelusuri oleh pihak kepolisian. Menurut saksi kemungkinan Kean di rampok. Sebab saat mereka menemukannya, Kean sudah ada dalam keadaan terlungkup di atas trotoar dengan bersimbah darah dari bagian belakang kepala. Hal lain yang mendukung asumsi mereka adalah ditemukannya luka lebam di pipi dan luka robek di sekitar alis. Pun dengan identitas dan barang milik Kean yang tidak ada di tepat.


Polisi sudah menyisir tempat-tempat yang sempat di datangi Kean. Terakhir Kean terlihat mendatangi hotel yang dijadikan tempat resepsi Amara dan Kaif. Saat itu dia memang datang karena keluarganya juga diundang. Tidak menggunakan satu mobil yang sama dengan kedua orang tuanya. Dia memilih menggunakan motor trile yang sudah menjadi cirinya khasnya.


Saat warga menemukan Kean, dia berada di jarak tiga kilometer dari hotel.


"Pi, Kean gimana? Sudah ada kabar baik" tanya Andra yang menyempatkan diri untuk menjenguk adiknya.


Belum juga Bimo menjawab, dia melihat kepanikan dari dokter yang menangani anaknya di ruangan ICU.


"Dok, ada apa?" Bimo menghentikan dokter tersebut.


"Maaf, ini darurat."

__ADS_1


Lemas sudah kaki Leela saat mendengar ucapan dokter. Apakah ini akan menjadi akhir dari putranya. Hampir dua jam mereka menunggu kabar dari dalam. Hati gelisah, pikiran melanglang jauh, duduk pun tak pernah bisa tenang.


Andai bisa, Leela ingin menerobos masuk pintu yang tertutup itu. Sayangnya dia hanya bisa merapalkan doa sebanyak mungkin.


Saat pintu ruangan terbuka dan menampilkan wajah lelah sang dokter. Mereka segera menghampirinya.


"Gimana, Dok?" tanya Andra.


"Kabar baik, Pak Andra, pasien sudah siuman."


"Terus tadi?" tanya Leela.


"Ya tadi memang sempat drop tapi mungkin itu adalah langkah untuk dia kembali. Bu Leela, doa anda begitu luar biasa."


"Kami sudah bisa menjenguknya?" masih kata Leela.


"Pasien masih dalam tahap penyesuainya. Kalau keadaannya sudah membaik baru bisa di pindahkan ke ruang rawat. Di sana anda semua baru bisa menjenguknya."


Dokter pamit setelah menyampaikan kabar bahagia. Sedangkan keluarga Bimo masih menunggu di sana. Bukan tak cape, bukan tak butuh istirahat namun mereka ingin memastikan dan melihat sendiri keadaan Kean.


Pukul tiga sore Kean sudah dipindahkan ke ruang rawat yang sudah disipakan oleh ayahnya. Tentu saja Bimo mengambil kamar rawat yang memiliki fasilitas terbaik. VVIP. Tak masalah keluar biaya banyak yang penting Kean harus mendapatkan perawatan yang maksimal.


"Mami?" ucap Kean pelan saat dia mulai sadar dari pengaruh obat.


"Mami di sini, Sayang." Penuh kasih dmsayang Leela mengusap tangan sang anak.


"Maafkan aku. Lagi-lagi aku membuat air mata mami jatuh." Tangan Kean mengusap bulir bening yang mengalir di pipi sang ibu.


"Tanpa kamu minta, Nak. Istirahat ya, mami selalu ada di sini kok."


Leela menoleh pada Bimo yang mengangguk. Begitu juga dengan Andra yang memilih pulang setelah melihat keadaan adiknya.


Kean kembali memejamkan mata karena pengaruh obat sedangkan Leela dan Bimo memilih beristirahat di sofa yang tersedia.

__ADS_1


Istirahat mereka tak begitu lama saat Kean berteriak karena kaki yang tidak bisa digerakkan. Kata dokter Kean mengalami kelumpuhan.


__ADS_2