
Tatapan keduanya bertemu namun Hanum lebih dulu memutus tatapan.
"Bam, Nda bilang apa?" Hanum berjongkok menyamakan posisi dengan anaknya.
"Maaf, Nda, tadi bolanya ketendang keras. Jadinya kelual dali situ."
"Ya sudah ayo masuk lagi. Ayo anak-anak." Hanum mengajak anak-anak menjauh dari gerbang tanpa menghiraukan orang yang masih berdiri menatapnya.
"Juteknya masih sama," gumam Kean seraya tersenyum dan berlalu menuju alamat yang tengah dia cari.
Kini Kean tengah menatap sebuah bangunan yang lebih mirip kontrakan. Di antara kontrakan tersebut ada tempat tinggal Hanum.
"Cari siapa, Kang?" tanya salah seorang warga yang sejak tadi memperhatikan Kean.
"Nyari yang tinggal di rumah kontrakan itu Pak?" Kean menunjuk pintu di sebelah tempat tinggal Hanum.
"Memangnya kontrakan itu ada yang nempati? Setau saya mah kontarakan itu teh kosong sudah lama. Coba deh Akang tanya sama pemiliknya." Pria itu menunjuk warung yang tak jauh dari tempat mereka berdiri.
Kean mengangguk menghampiri warung, memesan dibuatkan kopi hitam. Dia tidak menanyakan orang yang dia cari pada pemilik warung tersebut, sebab dia tidak ingin mudah dibohongi. Bisa saja orang yang tengah dia cari bekerja sama dengan mereka. Termasuk pemilik warung sekaligus pemilik kontrakan.
Sampai sore dia masih duduk di sana. Terlihat santai dan terkesan tidak kelihatan bosan. Justru orang-orang yang datang ke warung yang merasa bosan melihat Kean masih di sana. Satu dua orang saling berbisik menatap curiga pada pria itu.
"Awasi anak-anak, bisa jadi dia itu penculik," kata seorang ibu-ibu.
"Iya, lihat saja dari tadi meminta rumah Neng Hanum terus," timpal yang lain.
Wajahnya tampan, menggunakan celana jeans yang dipadupadankan dengan kaos putih serta jaket levis model robek. Di kapala dia mengenakan topi yang menambah kesan manis pada dirinya.
Saat melihat Hanum pulang dia pun bangkit dan menghampirinya.
"Mbak Hanum?" panggil Kean menghampirinya.
Hanum yang tengah membuka pintu menoleh dan menatap heran ada orang asing yang memanggil namanya.
"Iya?" Hanum menjawab tegas dan tidak ramah sama sekali. Sejak kejadian itu Hanum benar-benar menutup diri.
"Mbak Hanum kenal dengan orang yang tinggal di sebelah kontrakan, Mbak?"
"Enggak," jawab Hanum, "dari mana kami tahu nama saya?" Hanum menatap curiga dengan orang asing yang terlihat mengenal atau mengetahui dirinya.
Kean menunjuk warung di belakangnya dengan memasang wajah sok polos membuat Hanum melengos dan membawa Ibam masuk.
"By by Om ganteng," ucap Kean menelengkan kepala setelah di bawa masuk oleh ibunya.
Kean tergelak juga melabaikan tangan. Sebab tak menemukan orang yang dicari, dia pun memutuskan untuk menemui Hans di markas. Sebelum benar-benar meninggalkan tempat itu dia kembali membalas lambaian tangan dari Ibam yang menatapnya dari jendela.
"Bam," tegur Hanum, "Nda, bilang apa tadi." Hanum meletakan cemilan sore di hadapan putranya.
__ADS_1
"Kenapa senyum-senyum?" Hanum kembali bertanya pada putranya yang malah senyum-senyum sambil melihat lagi ke jendela tapi Kean sudah tidak ada.
***
"Berhenti di sana, Pak!" kata Kean tidak langsung berhenti di tempat tujuan saat melihat beberapa mobil polisi ada di depan gang markas mereka. Apalagi saat melihat Hans berlari dan di kejar oleh beberapa polisi.
"jalan, Pak!" Kean menyuruh sopirnya jalan dan berhenti tepat di dekat Hans, "masuk!"
"Kenapa dikejar polisi Anj***?"
Hans tak langsung menjawab, dia masih sibuk mengatur nafas, "panjang ceritanya," jawab Hans tersenggal.
"Kalau gak kriminal berarti ada obat."
Tebakan Kean tepat karena Hans mengangguk.
"Bang*** Kok bisa ada?"
"Lo selamatim gue dulu, nanti gue jelasin," pinta Hans.
Kean meminta sopirnya menurunkan mereka di suatu tempat dan sopirnya disuruh pulang.
"Tapi, Den?" Sopirnya tampak bingung apalagi saat harus pulang tanpa anak majikannya. Dia bingung harus menjawab apa jika majikannya bertanya sedangkan sedikit banyak dia sudah mendengar obrolan Kean.
Sopir tersebut mengangguk saat Kean mengangkat jari telunjuk dan menatapnya tajam.
"Loh ini kan?" Hans kebingungan.
"Dia gak ada di sini. Kata mereka ini sudah lama kosong." Di sana dia merasa aman untuk menyembunyikan Hans sementara waktu. "Jadi?" Kean menuntut penjelasan.
"Ada anak baru yang masuk tim."
Hans menceritakan tentang anak baru yang masuk ke geng motor mereka. Sudah dua tahun anak itu bergabung dan ternyata dia mengonsumsi obat terlarang. Anak baru itu menawari anak-anak dengan mencoba gratis. Namun namanya obat sekali mencoba tidak menutup kemungkinan untuk kecanduan.
"Lo nyoba?" tanya Kean tegas diangguki Hans, "Gobl**, percuma gue nolongin lo. Yang ada gue yang akan kena masalah."
"Sorry, Bro, gue ngelibatin Lo tapi kalau gue masuk bui, gimana adek gue?"
Kean menggaruk kepala. Dia ingin mencaci kebodohan sahabatnya tapi dia juga tidak lebih baik dari Hans. Ada banyak hal yang tidak orang tahu tentang dirinya, bahkan itu orang-orang terdekatnya.
"Nda, ayo."
Saat mendengar teriakan Ibam, Kean langsung bangkit dan mengintip dari jendela. Begitu juga Hans yang penasaran.
"Itu kan cewek yang pernah nolak Elo, Ke?"
"Iya, dia Hanum. Gak nyangka ketemu di sini."
__ADS_1
"Anak itu?"
Kean mengedikkan bahu acuh lalu kembali duduk.
"Kok bisa dia tinggal di tempat kayak gini? Diusir keluarganya, atau nikah sama cowo kere." Hans tertawa namun berhenti saat Kean menatapnya tajam.
"Oke, oke gue minta maaf, tapi lo gak ada niatan gitu buat nyari tau atau deketin dia lagi gitu."
"Dia masih sama juteknya, persis kaya dulu."
"Gue ada ide." Hans mengangguk meyakinkan Kean.
***
Penghuni rumah Bimo tengah dihebohkan dengan kedatangan beberapa petugas polisi. Mereka mencari Kean sekaligus Hans.
"Pak, anak kami baru bisa jalan lagi. Selama tiga tahun ini dia berada dalam pengawas kami. Tidak mungkin dia ikut terseret kasus seperti ini," kata Bimo.
"Bisa jadi yang anda katakan benar, tapi tidak menutup kemungkinan. Apalagi jika saudara Kean masih menjalin komunikasi baik dengan komunitasnya. Satu lagi, putra anda melarikan tersangka Hans. Kami harap anda bersikap kooperatif dengan menyerahkan putra Anda, Pak Bimo."
"Telepon Kean, Mi!" titah Bimo pada Leela.
"Ponselnya gak bisa dihubungi, Pak," kata Leela setelah melakukan beberapa kali panggilan.
"Baiklah kabari kami jika saudara Kean kembali." Mereka segera pamit dan meninggalkan rumah Bimo.
"Anak itu, baru satu hari keluar rumah sudah bikin masalah," kata Bimo kesal.
***
Malam harinya Kean menjalankan saran Hans. Dia sudah berdiri di depan pintu rumah Hanum dan mengetuk pintunya.
"Siapa?" tanya Hanum dari dalam. Saat membuka pintu dia kaget melihat Hans berdiri di hadapannya. "Ada apa?" Hanum langsung kembali ke mode jutek.
"Punya air panas?" tanya Kean sambil mengeluarkan dua kopi sachet. "Saya penduduk baru di rumah sebelah, tapi belum punya apa-apa."
Hanum menarik nafas sambil menoleh ke arah warung yang sudah tutup. Andai masih buka dia akan menyuruh orang di hadapannya ke warung saja.
"Tunggu di sini." Hanum mengambil kopi dari tangan Kean, namun tak membiarkan orang itu masuk bahkan mengunci pintunya kembali.
Tak lama Hanum kembali dan menyerahkan dua gelas kopi yang sudah diseduh. Setelahnya dia kembali masuk dan menutup pintu.
"Apa lagi?" tanya Hanum saat Kean kembali mengetuk pintu.
"Boleh ikut nyeduh ini?" Kali ini Kean mengeluarkan dua bungkus mie instan. "Please."
Hanum pun masih bersabar dan berbaik hati untuk menyeduhkan mie milik Kean.
__ADS_1
"Butuh nasi?" tanya Hanum saat Kean tak kunjung beranjak.