
Marah, sikap itulah yang ditunjukan Kean pada dokter yang merawatnya. Dia menganggap dokter itu tidak becus.
"Apa ini permanen, Dok?" tanya Bimo.
"Kita harus kembali melakukan observasi, Pak Bimo. Semoga ini hanya lumpuh akibat kemarin koma saja. Seiring waktu akan kembali membaik," kata dokter itu sebelum pamit dan diantar oleh Bimo sampai ke pintu.
"Sudah kapok?" tanya Bimo menghampiri anaknya yang tidak berekasi. Ekpresinya begitu dingin.
Kean hanya menarik sedikit sudut bibirnya.
"Papi harap dengan seperti ini kamu kapok, Ke."
"Gak bakal lah, Pi," sela Kean.
"Coba kamu hitung sudah berapa kali kamu masuk rumah sakit dan dirawat intensif. Apa kamu masih berpikir kamu akan selamat jika kembali mengalami kecelakaan? Mustahil Kean."
"Hmmm."
"Jangan kamu pikir, kamu akan terus selamat karena anak seorang Bimo. Masuk penjara bisa bebas lagi, masuk rumah sakit bisa sehat lagi. Ini yang terkahir kalinya papi ngurusin kamu."
Orang tua mana yang tak jengkel memiliki anak yang jauh sekali dengan harapannya. Meakipun begitu rasa sayang mereka sebagai orang tua tak pernah berkurang. Saat marah mungkin kalimat yang keluar dari ucapannya begitu menyakitkan. Akan tetapi saat terjadi sesuatu dengan anaknya mereka tak bisa menyembunyikan rasa khawatirnya.
"Ingat, ini yang terkahir."
"Pi." Leela menyentuh pundak suaminya, bibirnya tersenyum namun isarat mata dan gelengan kepala menunjukan dia tidak setuju. "Semakin keras kita menggenggam pasir, bukannya bertahan di tangan pasir itu justru habis," ucap Leela pelan di hadapan sang suami.
Lain haknya yang dilihat Kean, dia menganggu orangtuanya tengah menawarkan kemesraan agar dirinya iri dan mau dijodohkan dengan pilihan mereka.
Bimo membuang nafas kasar, "aku cari kopi dulu. Coba kamu yang bicara sama dia, siapa tahu masuk."
Leela mengangguk dan membiarkan suaminya pergi. Setelah itu dia duduk kembali di samping sang anak dan menatap.
"Kenapa, Mi?" Kean pikir maminya akan ikut ceramah seperti ayahnya. Ternyata perempuan itu malah diam menatapnya sambil tersenyum.
"Enggak ada."
"Tadi mami senyum-senyum sambil natap aku. Jangan bilang kalau mataku jadi kicep," kekeh Kean lebih cair ketika bersama ibunya. "Pasti mami lagi mikirin cara ngomong sama aku. Dibayar berapa sama papi?"
Gemas dengan anaknya, Leela mencubit pipi sang anak. "Bayi mami yang dulu sering ngisengin kakaknya, suka jahil, kini sudah besar."
"Sekarang aku masih anak Mami kan. Masih tampan, masih pinter, masih suka iseng juga."
"Iya tapi isengnya kamu tuh gak lucu."
__ADS_1
"Masa sih? tadi mami ketawa."
"Sekarang isengnya kamu tuh bikin Mami senam jantung terus. Bercanda kok dengan maut. Dengan istri dan anak dong."
"Ah Mami sekarang bercandanya gak asik," balas Kean memalingkan muka menghindari percakapan tentang perjodohan.
Sinar matahari mulai masuk melalui jendela kaca. Kean kembali menoleh pada ibunya yang tengah menghubungi orang-orang rumah. Memastikan Leo tidak tantrum sebelum berangkat sekolah.
"Boleh pinjam ponsel Mami sebentar?" pinta Kean setelah Leela mengakhiri panggilan.
Tanpa bertanya untuk apa, Leela, memberikan ponselnya.
"Terima kasih. Loh Mami mau kemana?" Dia bertanya setelah menerima ponsel dari Leela dan ibunya malah menjauh.
"Kamu juga punya privasi kan? Mami mau nyusul Papi nyari kopi," balas Leela tersenyum.
Setelah ibunya pergi, Kean menghubungi salah satu temannya.
"Gimana?" tanya Kean tanpa basa basi.
"Si Endru masih mengejar mereka. Mereka bilang dia lari ke pelosok. Lo gimana, Bro?"
"Baiklah ini. Atur semuanya, jangan sampe penghianat itu lolos," tutup Kean. Setelah menutup panggilan, dia mengirim pesan entah pada siapa, namun ekspresinya terlihat kecewa saat menerima balasan.
"Gila, lo selamat lagi brother. Kita sempat mikir akan kehilangan."
"Lo ngedoain gua?" Kean melempar botol mineral yang paling mudah dia dijangkau.
"Ya enggak kampret, gila aja. Lo kan sumber dana kita."
"Yoi" balas yang lain bergantian.
"Tapi sempat kepikiran," lanjut orang tadi membuat mereka sama-sama tertawa.
"Berapa lama lo gak bakal turun ke jalan?" tanya Hans
"Mana gue tahu, dokter bodoh itu bilang ini gak permanen tapi penyembuhannya gak bisa diprediksi. Mungkin setahun, dua tahun, bisa jadi juga selamanya.
Salah satu ponsel mereka berdering, orang yang di bawah memberi tahu kalau Bimo sudah masuk ke lobi rumah sakit.
"Kampret, bokapnya dia. Cabut, cabut." Mereka segera membubarkan diri.
"Hans!"
__ADS_1
Hans yang paling akhir hendak keluar kembali menghampiri Kean.
"Cari orang ini!" Kean menyerahkan selembar kertas berisi tulisan.
"Dia masih bagian dari penghianat itu?"
"Beda kasus, dia urusan gue. Lo cari dia tanpa melibatkan anak-anak. Ini cuma kita yang tahu," tekan Kean.
Han segera mengangguk dan berbalik sebelum kepergok sama Bimo. Sialnya pintu malah duluan dibuka oleh orang yang dia hindari.
"Om?"
Bimo membalas dengan senyum dan membiarkan Hans pergi tanpa diinterogasi.
Bukan hanya Bimo yang datang ternyata di belakangnya ada Ali dan Virdha yang menyempatkan menjenguk calon menantu mereka. Bimo dan Ali sepakat akan menjodohkan Kean dengan Hanum.
Mereka belum tahu kalau saat itu putrinya tengah melarikan diri.
***
Kean sudah bisa di bawa pulang meskipun harus menggunakan kursi roda. Alat itu akan menjadi temannya melangkah entah sampai kapan.
Hans masih mencari orang yang dimaksud Kean namun sudah hampir satu minggu dia tidak bisa menemukan orang itu.
"Gue gak mau tahu, lo harus bawa dia ke hadapan gue hidup-hidup. Kalau dia sudah mati lo harus tahu di mana kuburannya," kata Kean sebelum menutup panggilan dengan Hans. Tidak ada tempat untuk meluapkan kekesalan, jadilah ponselnya dia lembar ke pembaringan.
"larilah sejauh mungkin karena saat aku menemukanmu akan ku bawa kamu ke tempat seharusnya," gumam Kean yang tengah menatap rintuk hujan dari dekat jendela. Tangannya mencengram gorden seolah tengah mencengkram tangan seseorang.
Namun siapa orang yang tengah dia cari? Apakah itu Hanum atau ada perempuan lain. Lalu apa kaitannya jika itu Hanum.
***
Di kediaman Ali, Kaif tengah duduk di balkon ditemani secangkir kopi. Tangannya memegang sebuah buku namun tidak dibaca. Dia dan keluarga istrinya sudah tahu kalau Hanum pergi dari rumah. Ali sendiri sudah menyewa intel swasta untuk mencari putrinya, namun sudah hampir satu bulan mereka tak mendapatkan kabar baik.
Kabar terakhir yang mereka dengar yaitu Hanum ada di jembatan sehari setelah mengetahui bahwa dirinya hamil.
"Hey, aku cari kamu ternyata di sini," kata Amara menghampiri suaminya yang tengah melamun. "Lagi mikirin apa sih kok serius amat?" Amara duduk di sampingnya.
"Adik kamu?" jawab Kaif jujur, dia menoleh ingin tahu reaksi istrinya.
"Aku juga begitu. Apa dia kabur gara-gara kita ya?"
"Bisa jadi. Menurut kamu kita tega gak sih sama dia. Seperti yang kamu tahu pernikahan kita itu didasari bisnis. Kalau aku tahu kamu kakaknya dia mungkin tidak seperti ini kita sekarang."
__ADS_1
"Aku minta maaf Kaif," kata Amara menunduk.