Kean Hanum

Kean Hanum
Episode dua puluh


__ADS_3

Hanum terbangun pukul dua dini hari karena suhu badan Ibam yang demam. Memang dari sore suhu badannya sudah terasa hangat. Hanum pikir akan reda setelah diberi obat dan istirahat. Nyatanya dia harus bangun malam-malam untuk mengompres putranya.


Rasa panik menyerang saat Ibam menunjukan gejala kejang. Dengan wajah kalut dia keluar rumah dan mengetuk rumah Kean untuk meminta pertolongan.


"Ada apa?" Kean sama paniknya ketika melihat Hanum yang membangunkannya malam-malam.


"Ibam panas, harus dibawa ke rumah sakit sekarang."


Kean mengangguk setuju, dia masuk kembali ke dalam rumah untuk mengambil jaket juga dompet. Kemudian menyusul Hanum yang tengah bersiap untuk membawa Ibam ke rumah sakit.


"Tunggu sebentar," titah Kean. Berhubung hari masih malam dan kemungkinan kendaraan umum akan sulit, Kean memilih membangunkan pemilik kontrakan untuk meminjam kendaraan. Tak peduli dia dikira tidak sopan karena mengganggu istirahat orang lain, tapi keadaan memang mengharuskan itu. Memang sulit mengetuk pintu rumah orang di tengah malam. Butuh waktu beberapa menit sampai pemilik rumah itu keluar.


"Ada apa, Kang?" tanya si pemilik rumah sambil membenahi sarung pada perutnya buncit.


"Maaf banget menganggu malam-malam begini, Pak Adi. Tapi Ibam panas sampai kejang, saya mau minjam kendaraan buat bawa dia ke rumah sakit." Kean sangat berharap orang ini akan berbaik hati dan percaya kalau dia tidak akan membawa lalri kendaraannya. Dia hanya butuh untuk sekarang, besok pagi akan dia kembalikan.


"Tunggu sebenar saya ambil dulu kuncinya." Untungnya si pemilik rumah mau berbesar hati memberikan pinjaman. Pria itu segera masuk dan kembali dengan menyerahkan kunci ke tangan Kean. "Semoga gak moyok di tengah jalan, Kang."


Kean mengangguk dan mengucapkan terima kasih. Segera mengeluarkan motor dari rumah dan membawanya ke depan rumah Hanum. Meminta Hanum yang telah siap dan menggendong Ibam segera naik.


Pikiran Kean seketika melayang bagaimana hari-hari Hanum ketika menghadapi situasi seperti ini seorang diri. Tanpa laki-laki yang bisa menjadi pelindung dan pelariannya. Tanpa ada lelaki yang bisa ia mintai pertolongan ketika ada keadaan darurat seperti ini. Sepanjang perjalanan Kean hanya memikirkan itu disertai rasa bersalah. Andai mereka ada di rumah orang tuanya, dia tidak akan mungkin tega membawa Ibam yang sakit hanya menggunakan motor.


Setibanya di rumah sakit, Ibam langsung diambil alih oleh perawat yang berjaga malam dan dibawa ke ruang perawatan diikuti Hanum sedangkan Kean mengurus administrasi karena kemungkinan Ibam harus di rawat inap.


Saat tengah melakukan pembayaran Kean menatap uang sepuluh juta yang sudah berkurang. Apa ini akan cukup untuk hari-hari ke depannya. Cukup untuk menghadapi kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi? Selalu ada penyesalan ketika tengah menghadapi situasi sulit. Menyesal kenapa tidak mendengarkan perkataan orang tua yang meminta dia untuk bekerja di perusahan mereka. Menyesali kenapa dulu yang dipikirkan hanya hura-hura, balapan liar, minum dan kesenangan. Kenapa tidak memikirkan apa yang akan terjadi di masa depan serta persiapannya. Kadang saat memikirkan masa depan yang dipikirkan itu hasil bukan proses yang akan dilewati.


Usai melakukan pembayaran, Kean menghampiri Hanum yang tengah duduk menunggui Ibam yang sudah mendapat perawatan infus. Seorang Ibu meski terlihat tenang tapi tetap tak bisa menyembunyikan rasa cemas pada ananknya. Beberapa kali Hanum menghela nafas panjang. Dia mendongak saat Kean berdiri di sampingnya menyentuh sebelah tangan Ibam yang tidak diinfus.


"Dia akan baik-baik saja," kata Kean memberikan harapan pada Hanum.

__ADS_1


Hanum mengangguk, itu harapnnya tapi jika terjadi hal mengirimkan sepertinya dia belum siap sama sekali.


"Istirahat aja, tidur di sebelahnya. Biar saya yang menjaga," kata Kean lagi.


"Mana bisa saya istirahat. Kamu aja yang istirahat, maaf ya sudah menggangu istirahat kamu dan malah merepotkan."


Kean menggelengkan kepala menolak kata maaf Hanum yang mengatakan telah merepotkan dirinya. "Sudah saya bilang saya menyayangi Ibam jadi tidak merasa direpotkan sama sekali." Kean tersenyum manis menatap Ibam yang terlelap. "Saya tinggal sebentar ya."


Hanum mengangguk membiarkan Kean meninggalkan mereka beberapa saat sampai akhirnya Kean kembali dengan membawa minuman hangat untuk dirinya.


"Biar kamu gak ikutan sakit." Kean menyodorkan minuman wedang jahe yang dia beli dari warung sebrang rumah sakit yang masih buka. Dia juga membeli beberapa cemilan untuk Hanum. Mereka duduk bersama di atas lantai menikmati cemilan untuk mengganjal perut. Sampai Hanum terlihat beberapa kali menguap dan diminta istirahat di sebelah Ibam.


***


"Sarapan dulu!" Kean menyodorkan nasi bungkus yang dia beli saat Hanum masih terlelap. Dia sendiri belum tidur lagi sejak tadi.


"Makasih." Hanum menerimanya.


"Bisa izin, kok. Gak enak juga ngerepotin kamu terus dari semalam."


Kean tak membalas, hanya tersenyum sambil menikmati sarapannya.


"Kamu sendiri gak kerja?" tanya Hanum yang juga menikmati sarapannya.


"Dipecat," jawab Kean santai. Memangnya sejak kapan dia bekerja.


"Gara-gara apa?" Hanum menatap Kean sejenak.


"Gara-gara jomblo, salah Mbak Hanum sih sebenarnya."

__ADS_1


Hanum memicingkan mata bingung dengan tuduhan Kean.


"Kalau aja Mbak Hanum mau di ajak nikah, saya pasti masih bekerja," lanjut Kean diikuti kekehan karena melihat ekpresi Hanum. "Bercanda."


"Kenapa gak nyari yang lain aja? Yang masih single, yang masih perawan-"


"Karena saya hanya mau Kamu. Tidak ada yang lain," potong Kean sambil menatap dalam pada Hanum dan membuat perempuan itu jadi salah tingkah.


Hanum berdehem, segera merapikan bekas makannya. Dia pamit ke toilet untuk menghindari Kean tapi rupanya pria itu sudah bisa menebak. Dia cekal pergelangan tangan Hanum yang hendak pergi.


"Kenapa selalu menghindar?"


***


Amira membaca ulang hasil tes kesehatannya. Mau dibaca seribu kalipun hasilnya tetap sama. Tidak ada keajaiban yang merubah tulisan tersebut.


Sebenarnya ada banyak cara untuk bisa memiliki anak. Salah satunya mengunakan sistem rahim sintetis seperti yang dibuat diluar negeri. Amira sudah memikirkan itu. Bukan hanya menguras biaya yang cukup mahal, akan tetapi keberhasilan alat tersebut masih bisa dihitung satu dua.


Dia menoleh pada pintu kamar mandi yang terbuka, memunculkan Kaif yang baru selesai mandi. Hubungan mereka hanya romantis saat saling membutuhkan atau saat berhadapan dengan keluarga besar masing-masing. Kadang saat seperti ini mereka seperti orang asing. Jarang memperhatikan satu sama lain.


"Apa kita akan seperti ini terus Kaif?" Amira bertanya dan menghampiri suaminya. Mulai mengambil dan memilihkan pakaian. Dia mulai berpikir kalau pernikahannya tidak bisa terus menerus seperti ini. Cara dia ingin menikah dengan Kaif dulu memang salah, tapi sepertinya masih bisa diperbaiki.


"Memangnya yang kamu harapkan seperti apa?" Kaif balik bertanya sambil mengenakan pakaian yang diberikan Amira.


"Aku tahu kamu masih berharap pada Hanum. Kamu bahkan sering menyebut namanya saat dipuncak pelepasan. Aku mencoba memaklumi itu tapi kalau kamu berpikir bisa kembali pada dia apa itu mungkin?" Amira membantu membenahi pakaian suaminya. Mengancingkan kemeja yang dipakai Kaif.


"Aku gak mau bahas ini," kata Kaif memalingkan wajah. Apa yang dikatakan Amira benar adanya. Dia kadang lupa saat tengah mengatasi dengan sang istri. Kadang yang ada dipikriannya adalah Hanum.


"Ini harus dibahas. Kita harus menemukan solusi untuk pernikahan kita. Kita gak bisa pura-pura terus dihadapan mereka. Ada titik dimana aku merasa capek. Aku yakin kamu juga." Amira menatap suaminya berharap Kaif akan memberikan cinta untuk dirinya meski itu sedikit.

__ADS_1


"Caranya ya kamu harus hamil. Harus ada anak di antara kita," balas Kaif dingin.


__ADS_2