Kean Hanum

Kean Hanum
Episode Tiga Belas


__ADS_3

"Bam, tidur nak! sudah malam." Untuk kesekian kalinya Hanum meminta Ibam segera istirahat. Lagi-lagi Ibam menjawab sebentar.


"Tidur atau mainannya dibuang saja?" kata Hanum menggertak agar sang anak lekas istirahat.


Ibam menunduk sedih namun akhirnya dia mengikuti perintah sang ibu. Matanya berkaca-kaca saat naik ke pembaringan, lalu meringkuk mepet ke dinding sambil memeluk mainan yang dibelikan Kean tadi pagi.


Rasa bersalah kembali menyusup dalam hati Hanum. Dia pandangi anaknya yang mulai terlelap.


"Maafkan, Nda ya Bam," bisik Hanum mengecup pipi sang anak. Lalu merebahkan tubuh di belakang Ibam.


Di luar, Kean berdiri di depan pintu rumah Hanum. Ucapan Hanum pada Ibam sempat dia dengar sehingga dia mengurungkan niat berkunjung. Kantong kresek berisi makanan hanya dia tatap lalu dikaitkan ke handle pintu rumah Hanum. Setelah itu dia memasuki rumah di sebelahnya.


Dia berbaring menatap langit-langit membayangkan wajah sedih Ibam sedang menunduk. Rasa bersalah semakin mengurung dirinya, dalam benaknya terbesit kata seandainya waktu itu.


Malam yang terus merangkak tak membuat matanya terpejam. Otaknya terus memikirkan tentang tanggung jawab. Namun jika dia berterus terang langsung yang ada Hanum akan membenci dirinya. Lebih parah dia akan memisahkan dirinya dengan Ibam.


"Satu-satunya cara memang harus membuat Hanum jatuh cinta dulu," gumam Kean.


Rahasia biarlah tetap menjadi rahasia dan Ibam hanya akan tahu kalau Kean adalah ayah titinya. Namun apa semua itu bisa terjadi mengingat Hanum sekarang sangat menutup diri.


Perlahan mata Kean terpejam, namun tak lama dia terbangun kala mendengar keributan dari rumah Hanum. Dilihatnya hari sudah pagi dan di depan rumah Hanum ada tiga orang pria berbadan besar tengah bicara dengan perempuan itu.


"Maaf, Bu, kami hanya disuruh untuk membawa ibu pulang," ucap salah satu pria berbadan besar memakai pakaian serba hitam.


"Siapa yang memerintah kalian, katakan padanya aku tidak akan pernah pulang."


"Nda?" Ibam yang baru bangun muncul di ambang pintu karena penasaran.


Ketiga pria itu saling lirik. Dengan gerakan cepat salah satu dari mereka berhasil membawa Ibam ke dalam gendongan. Hal itu memudahkan mereka untuk membawa Hanum. Sekarang perempuan itu melangkah berusaha meraih kembali putranya.


"Ndaaa," rengek Ibam yang ketakutan.


Tetangga lain bukannya menolong malah menjadikan hal itu sebagai tontonan. Tidak ada yang berani maju untuk menolong mereka. Apalagi jika harus emnghadapi tiga oria berbadan besar. Merasa mereka tidak akan menang, maka lebih baik tidak membuang tenaga sia-sia.


"Hei!" Kean keluar membuat dua pria yang tengah menarik Hanum itu menoleh. "Lepaskan istriku!" titah Kean mendekat ke arah mereka.


"Anda buka suaminya, justru yang menyuruh kami membawa mereka adalah calon suaminya."

__ADS_1


"Masaaaaa? Benarkah begitu, Sayang? Kamu memiliki calon suami selain aku?" Seperti biasa Kean selalu memasang wajah mengejek dan membuat lawan merasa jengkel.


"Enggak," jawab Hanum cepat. Dia terpaksa mengakui Kean sebagai calon suami. Situasinya sedang tidak memungkinkan untuk berkilah. Belum tentu juga dia selamat setelah menuruti permintaan orang yang dia sendiri tidak ketahui.


"See, dia gak mau. Turunkan anak itu."


Mereka menurunkan Ibam yang langsung diraih Hanum. Kemudian mereka menyerang Kean. Dua serangan berhasil dihindari serang ketiga mengenai sebelah rahangnya.


Dengan gerakan cepat Kean berhasil membalas mereka. Kepalan tangannya mendarat keras di bagian ulu hati membuat salah satu dari mereka jatuh terjengkang. Dia masih mengjafai dua lawan dihadapannya, satu bogem mentah kembali mengenai wajah Kean yang dekat dengan pelipis menbuatnya mengerjap.


Pandangan sudah mulai kunang-kunan tapi masih ada lawan yang harus dia tantang. Tinggal satu lawan yang masih berdiri dan menyerang Kean bertubi-tubi. Kean terus menghindar, mencari celah yang bisa dia gunakan sekali pukul lawan tumbang.


Sebelah kaki lawan melayang namun Kean sigap menahan, kesempatan itu dia gunakan sebelah kaki untuk menghantam bagian vital lawan membuat lawan mengaduh. Tersungkur ke tanah sambil menahan sakit.


"Hurray, Om Ken menang," teriak Ibam dalam gendongan sang ibu sambil bertepuk tangan. Dia meminta diturunkan kemudian menghampiri dan memeluk Kean.


"Sakit?" tanya Iban menyentuh rahang Kean menggunakan tangan mungilnya.


Kean mengangguk tersenyum menatap wajah polos sang anak. Karena tak mampu menahan nafsu mengendalikan amarah, dirinya telah menciptakan ujian buruk pada seorang anak.


Tarikan nafas panjang menandakan dirinya tengah menahan sesak di dada. Sedangkan Hanum hanya memperhatikan dari jauh. Setelah itu masuk ke rumah dan mengira Kean anak menghampiri. Dia yakin tabiat Kean seperti yang dia tebak. Namun dugaannya ternyata salah, Kean memilih mengajak Ibam ke dalam rumah sendiri. Mengajak Ibam bercanda. Mengabaikan rasa sakit di bagian rahang karena hal itu sudah biasa bagi dirinya.


Pintu rumah diketuk dan terdengar suara Hanum memanggil putranya. Kean segera bangun dari duduknya dan membuka pintu. Dia melihat Hanum tengah berdiri sambil membawa wadah berisi air dan handuk serta di tangan sebelah kiri memegang obat.


"Oh mau ngambil Ibam ya?" tanya Kean pura-pura cuek dengan apa yang dia lihat. Seperti inilah cara dia akan mendekati perempuan itu dan membuatmu jatuh cinta. Tidak akan terlalu ditarik takut putus. Terik ulur jauh lebih baik menurut Kean. "Bam, Bunda."


Ibam mendekat pada sang ibu, "Nda, Ibam mau main cama Om, buleh?"


"Tapi Nda harus berangkat kerja, Bam. Kan mainnya bisa nanti pulang dari sekolah."


Ibam diam.


"Kan om juga harus kerja, kalau ada Ibam nanti kerjaan Om terganggu. Ikut sama Nda aja ya."


Ibam masih diam.


"Nggak masalah, Mbak Hanum kalau Ibam mau main sama saya. Saya hari ini gak masuk kerja kok," dusta Kean. Memang sejak kapan dirinya punya pekerjaan, bukankah selama ini dia hanya mengandalkan kekayaan orang tuanya.

__ADS_1


"Tapi ...."


"Gak papa saya izin, kan lagi sakit," kata Kean menunjukan lebam di bagian rahang juga pelipis yang robek.


Hanum mengangguk lalu memberikan obat serta baskom yang dia bawa. "Obati dulu ya lebamnya, tapi maaf saya harus segera berangkat."


Kean mengangguk dan membiarkan perempuan itu pergi.


"Jinak-jinak merpati, Kean," gumam Kean sambil menutup pintu dan mengobati lukanya. Setelah itu dia menatap Ibam yang begitu ceria kala bermain dengan dirinya.


Sambil mengawasi Ibam dia mulai berpikir tentang pekerjaan. Sang ayah sudah memintanya beberapa kali untuk bergabung di perusahaan seperti Andra-kakaknya, tapi keadaan saat ini tidak memungkinkan dia untuk bergabung. Polisi pasti masih memburu dirinya.


"Om, main di lual yuk." Ibam mulai merasa bosan.


***


Hanum tiba di tempat kerja, setelah duduk dan meletakan tas, dia mulai menyalakan komputer. Masih ada lima belas menit waktu kosong sebelum jam kerja dimulai. Dia pun mengeluarkan kopi sachet dari tas kemudian menyeduhnya di tempat yang sudah disediakan.


"Bu Hanum, Ibam gak ikut?" tanya salah seorang pengajar yang lebih akrab dengan dirinya.


"Enggak, katanya mau main sama tetangga sebelah kontrakan." Hanum kembali duduk setelah menyeduh kopi.


"Oh." Mengajar itu mengangguk-anggukan kepala, "Bu Hanum belum ada niatan untuk membuka hati kembali. Ibam membutuhkan figur seorang ayah. Saya yakin Bu Hanum juga pasti melakukan peran ganda agar Ibam bisa tak kekurangan kasih sayang, tapi itu tidak cukup. Ibam membutuhkan figur ayah yang nyata. Ada titipan salam dari salah seorang pengajar, kalau Bu Hanum berkenan akan saya sampaikan kembali."


Hanum membalasnya dengan senyum, tidak menolak juga tidak mengiyakan. Dia mulai menimang dan memikirkan kalimat dari temannya. Apakah selama ini dirinya egois dan terlalu memikirkan perasaan sendiri tanpa memikirkan kebutuhan Ibam. Akankah Hanum menerima salah satu pinangan dari mereka.


***


Ibam berseru girang saat diajak jalan-jalan menggunakan mobil meski hanya berputar bolak-balik di jalanan yang sama.


"Suka?" Kean yang mengemudi menoleh sejenak.


"Iya cuka hihi," balas Ibam sambil menutup mulut malu-malu. Pipinya yang putih bersemu merah.


Penuh kasih sayang Kean mengusap puncak kepala sang anak sambil menggumamkan kata maaf.


Setelah hampir seperempat jam mobil bolak-balik mengitari jalanan yang sama, Kean memutuskan mengajak Ibam ke rumah orang tuanya. Di sana Ibam bisa bermain dengan mainan milik Leo karena jika main di luar khawatir bertemu dengan polisi yang tengah mencari dirinya.

__ADS_1


"Kean?" Leela menatap putranya yang baru turun dari mobil tengah menggedong seorang anak yang mirip dengan Kean kecil.


__ADS_2