Kean Hanum

Kean Hanum
Episode Dua Puluh Satu


__ADS_3

"Kamu sudah membaca surat itu kan Kaif?" tanya Amira pada akhirnya merasa jengkel dengan keinginan Kaif yang tidak mau mengerti keadaan dirinya.


"Sudah tapi itu gak akan menghalangi keinginanku untuk memiliki anak. Itupun kalau kamu setuju, Ah kecuali kamu memang tidak menginginkannya." Kaif bergeser dari istrinya ke meja rias untuk merapikan rambut. "Apa menurutmu itu sulit?" Dia berbalik menatap istrinya yang sudah duduk di pinggir tempat tidur.


"Tidak, tapi memang tidak mudah. Ada banyak resiko saat melakukan kehamilan melalui rahim cangkok, Kaif. Bagaimana kalau rahim itu tidak cocok? Aku juga harus selalu ada dalam pantauan dokter lalu kamu, bagaimana kamu akan menuntaskan hasrat saat aku tidak bisa melayani?"


Kaif kembali menatap cermin, menyemprotkan parfum ke tubuhnya.


"Itu urusan mudah. Sebenarnya ada cara yang paling mudah dan tidak banyak resiko," kata Kaif membuat Amira mendekat dan bertanya.


"Mengadopsi anak? Ayo kita lakukan jika itu membuat hubungan kita bisa menjadi lebih baik. Jujur aku capek tapi untuk menyerah aku juga belum siap," kata Amira menatap menatap punggung Kaif.


"Surogasi, kita bisa menunjuk seorang perempuan untuk mengandung anak kita. Tapi aku jelas menginginkan anak dari keturunan kita." Amira memicingkan mata, mulai merasa tidak enak melihat gelagat dari suaminya. "Hanum, kita bisa meminta dia untuk jadi ibu pengganti. Dia sudah pernah hamil dan anaknya lahir dengan sehat. Aku pikir itu ide paling logis."


Amira menggelengkan kepala jika lagi-lagi harus mengorbankan Hanum. Selain karena merasa bersalah dan pastinya Hanum akan menolak, kehadiran Hanum juga berpotensi jadi jembatan yang memisahkan dirinya dengan Kaif. Bukan tidak mungkin Kaif akan berpaling. Syukur-syukur Hanum berpegang teguh pada imannya, bagaimana kalau pada akhirnya dia tergoda dan mau kembali pada Kaif. Lebih buruknya mau jadi istri kedua. Selalu ada celah untuk setan Dasim memutuskan sebuah ikatan pernikahan. Meskipun secara agama telah melarang menikahi dua saudara perempuan beradik kakak kecuali jika salah satunya telah meninggal dunia.


Selain melalui surogasi, masih ada cara lain untuk bisa memiliki keturunan. Di jaman teknologi yang seba canggih, manusia tak berhenti membuat inovasi salah satunya rahim sintetis. Rahim buatan untuk menjaga dan meantau perkembangan janin. Secanggih apa pun teknologi selalu ada resiko gagal dan berhasil. Apalagi rahim sintetis ini harus selalu dalam pantauan dan disuntikan obat untuk menjaga elastisitias demi menyesuaikan ukuran dengan tubuh kembang janin. Entah itu akan berhasil atau tidak jika dilakukan pada manusia. Karena sejauh ini rahim sintetis baru diuji coba pada hewan ternak dan berhasil.


Amira jadi ngeri sendiri jika harus memanfaatkan ide liar tersebut. Akan tetapi jika ia sudah tiba di ujung keputus asaan sepertinya ide itu bisa menjadi solusi yang akan dia ambil.


***


Setelah megembalikan kendaraan yang dipinjam tadi malam, Kean mampir lebih dulu ke rumah makan padang dan kembali dua bungkus makanan untuk makan siang nanti. Setelah membayar, dia berdiri di pinggir jalan menunggu bus yang akan membawanya kembali ke rumah sakit.


Setelah menunggu selama lima menit bus yang ia tunggu akhirnya datang. Dia segera naik dan memilih tempat duduk dipaling belakang dan dekat dengan jendela. Dia menyandarkan kepala pada dinding kaca, menatap kendaraan lain serta keindahan gedung-gedung pencakar langit yang menjulang tinggi.


Tiba di halte dekat rumah sakit Kean segera turun setelah melakukan pembayaran melalui e-money. Melangkah menuju pintu utama rumah sakit.


Pesona yang dia miliki memang tak memudar begitu saja meskipun telah dimiskinkan oleh ayahnya. Tubuhnya yang tinggi dibalut kaos hitam serta jaket levis, rambut gondrong yang diikat masih menjadi daya tarik. Saat dia berjalan melewati beberapa perempuan masih saja ada yang berbisik mengaguminya.


"Hai jagoan," sapa Kean saat tiba diruangan dan melihat Ibam sudah membuka mata meski masih berbaring lemas. Setelah memberikan kantong kresek pada Hanum berisi dia bungkus nasi padang, dia menarik kursi untuk duduk di dekat Ibam.

__ADS_1


"Om Ken dali mana?" suara Ibam masih terdengar lemah, namun sejak bangun dan tak melihat Kean dia selalu bertanya pada Ibunya.


"Kok Om lagi, ayah dong panggilnya. Masa Ibam lupa." Kean pura-pura merajuk pada Ibam. Mengembungkan pipi persis Ibam kalau sedang ingin dibujuk.


"Lupa." Ibam nyengir membuat dia terlihat menggemaskan dan Kean tidak tahan untuk tidak menyentuh pipinya.


"Nakal ya masa sama ayah lupa," kata Kean lalu menoleh pada Hanum yang terlihat sudah rapi.


"Titip Ibam sebentar boleh?" tanya Hanum menyampirkan tas selempangnya di pundak.


"Boleh dong. Memangnya Mbak mau kemana?" Kean menatap Hanum.


"Ada hal penting sebentar. Boleh kan saya merepotkan kamu sekali lagi?" Hanum cemas Kean akan menolak soalnya dia baru datang dan pasti masih capek. Secara perjalanan dari rumah mereka ke rumah sakit lumayan jauh dan itu ditempuh menggunakan kendaraan umum.


"Direpotkan seumur hidup juga saya mau. Gak bakal mau menolak." Jurus gombal Kean sudah keluar lagi. Hanum tidak tahu apakah itu tulus atau memang candaan semata.


"Mulai lagi," balas Hanum memutar bola mata jengah dibalas kekehan oleh Kean.


"Mau saya antar?" Kean bertanya Lagi saat Hanum sudah melangkah.


Kean menempuh jidat, "ah saya lupa soalnya pikiran saya teelalu dipenuhi oleh Hanum ... Hanum dan Hanum."


"Ada-ada saja," kekeh Hanum menggelengkan kepala sambil tersenyum lalu mengibaskan tangan tanda pamit. Sebenarnya hal penting yang dimaksud Hanum adalah menemui Ali. Tadi saat Kean tidak ada Ali sempat mengirimkan pesan mengajak bertemu. Tidak ada alasan untuk menolak ketika Ali memohon. Untungnya ada Kean yang mau direpotkan lagi dengan dititipkannya Ibam.


Sebuah mobil yang masih Hanum hafal pemiliknya berhenti tepat di depan Hanum yang berdiri di halte sejak beberapa menit lalu.


"Ayo masuk," kata Ali setelah menurunkan kaca mobil.


Hanum pun segera mengitari mobil dan masuk melalui pintu sebelah. Duduk di kursi penumpang dan memasang sabuk pengaman.


"Mau ngobrol di mana kita?" tanya Ali setelah melihat Hanum duduk dengan nyaman dan mobil kembali melaju.

__ADS_1


"Terserah papa yang menurut papa nyaman aja." Hanum tabu banget selera ayahnya yang tinggi meskipun dulu mereka tak terlalu dekat. Ali memang selalu memilih tempat yang ekslusif yang penting nyaman dan privasinya aman.


Mobil berbelok ke salah satu rumah makan yang sering diainggahi Ali ketika berkunjung ke kota ini untuk perjalanan bisnis. Pada awalnya Ali berniat mnegunjungi Hanum besok setelah urusan bisnis dengan para petinggi rumah sakit selesai. Namun rasa rindu yang belum terobati sepenuhnya oleh pertemuan beberapa hari lalu membuat dia ingin menemui putrinya hari ini.


"Kamu harus mencoba semua makanan yang ada di sini. Papa jamin gak bakal nyesel," kata Ali setelah mereka turun dari mobil dan melangkah masuk.


Beberapa pelayan yang sudah mengenal Ali karena sering berkunjung ke sana langsung menghampiri dan menyapa mereka. Kemudian mengarahkan Ali ke ruangan VIP seperti biasa.


"Silahkan menunggu sepuluh menit ya Pak, hidangan akan segera kami siapkan," kata payah itu ramah dibalas anggukan oleh Ali.


"Jarak tempat tinggal kamu ke tempat tadi itu lumayan jauh tapi papa malah melihat kamu di sana. Kamu sakit?" Ali menatap Hanum yang irit bicara jika bersamanya. Hal itu yang ingin diperbaiki oleh Ali.


"Anak Hanum yang sakit. Pukul dua dini hari kami membawanya ke rumah sakit." Hanum membalas tatapan ayahnya.


"Kami?" perhatian Ali justru tertuju pada kata 'kami' dia jadi penasaran siapa yang dimaksud kami oleh putrinya. Apakah dia telah menemukan seseorang yang menjadi tempat bersandar putrinya.


"Tetangga kontrakan, Pa. Alhamdulillah orangnya baik."


"Laki-laki? Apa dia calon menantu papa?" Ali smakin menunjukan rasa penasaran.


"Tetangga, Papaaaaaaa."


Mereka pun membahas hal lain dan melupakan kata 'kami.' Ali menanyakan kesehatan Ibam dan berjanji akan segera menemuinya tapi tidak hari ini karena dia masih memiliki agenda pekerjaan.


"Hanum, selama ini papa memang bukan papa yang baik untuk kamu. Papa selalu memaksakan kehendak papa, tidak pernah mendengarkan keinginan kamu." Ali menghela napas sejenak sebelum melanjutkann kalimatnya, "merasa apa yang papa pikirkan adalah hal yang benar untuk anak-anak papa padahal kalian menginginkan hal lain. Sebagai orang tua seharusnya papa menjadi tempat ternyaman untuk kalian tapi papa gagal. Papa harap masih ada kata maaf dari kamu untuk papa. Maafkan orang tua yang egois ini, Nak."


Ali merentangkan tangan meminta Hanum memeluknya dan itu dilakukan Hanum.


"Papa gak salah, Hanum yang salah. Tidak melihat sisi baik dari papa. Padahal tidak ada orang tua yang mengingatkan hal buruk pada anak-anaknya. Maafkan Hanum tidak pernah membuat papa bangga. Maafkan Hanum yang selalu membebani pikiran papa. Tidak seharusnya papa yang meminta maaf." Hanum membalas erat pelukan Ali.


"Tidak penting siapa yang benar dan siapa yang salah. Sekarang papa hanya ingin kita memperbaiki hubungan kita. Papa sangat rindu pada Hanum-nya papa. Hanum kecil yang cerewet dan selalu ceria. Papa ingin melihat senyum itu lagi dari kamu, Nak." Ali meregangkan pelukan, menangkup pipi yang basah dan mengusapnya. Kemudian memberikan kecupan kasih sayang. "Tolong jangan membenci papa ya."

__ADS_1


"Enggak akan pernah, Pa. Enggak akan," balas Hanum.


Lega rasanya setelah saling memaafkan. Kadang manusia selalu merasa paling benar dan menginginkan dia yang salah meminta maaf lebih dulu. Gengsi menurunkan ego untuk meminta maaf lebih dulu dan selalu berpikir bahwa yang meminta maaf lebih dulu adalah dia yang kalah. Padahal hitungan manusia tidak sama dengan hitungan Sang Pencipta. Bisa jadi dia yang merendahkan diri untuk meminta maaf justru paling mulia di mata Allah. Wallahu alam.


__ADS_2