
Ketika berangkat mereka menggunakan angkutan terpisah namun ketika pulang memilih menggunakan angkutan yang sama dalam pengamatan Kaif. Pria itu membuang nafas kasar merasa kesal dengan orang seperti Kean yang tiba-tiba datang seperti pahlawan.
Di dalam perjalanan pulang Hanum mengabaikan Kean yang banyak bertanya. Namun ketika angkutan melewati petugas lalulintas, Kean langsung menarik topinya hingga menutupi kepala.
Hanum sempat menyipitkan mata Namun setelah melihat mata Kean memejam, dia pikir orang itu tidur. Begitu juga dengan Ibam yang masih nyaman dan tak terusik ketika angkutan yang mereka tumpangi mulai penuh dan sesak. Bahkan Hanum dan Kean semakin berdempetan.
"Anaknya ganteng, Kang?" ujar salah seorang ibu yang duduk di seberang mereka.
Hanum langsung melirik Kean yang mengangguk.
"mirip saya gak, Bu?" tanya Kean iseng membalas lirikan Hanum.
"Mirip banget, Kang. Konon katanya kalau si anak yang lahir lebih mirip ke ibu berarti si suami sangat mencintai si istri begitu juga sebaliknya."
"Oooh berarti ibunya anak saya sangat mencintai saya ya?" Senyum Kean semakin berkembang saat melihat Hanum mendelik dan memalingkan muka.
"Ih si teteh-nya malu-malu. Kalau saya mah da pasti senang punya suami ganteng kayak begini," ujar Si Ibu dengan logat khas bahasa sunda.
"Nda, ayo jujur! Nda sangat mencintai ayah ya?" goda Kean membaut penumpang lain senyum-senyum sendiri. Namun bukannya menjawab Hanum malah menginjak kaki Kean. "Aaaaaa."
Saat tak ada lagi obrolan, Kean termenung menatap wajah lelap ibam di pelukannya. Turun dari angkutan umum, Ibam hanya menggeliat sebentar lalu tidur lagi. Ketika sudah sampai rumah barulah dia bangun itu lun masih lengket pada Kean.
"Kalau masih ngantuk lanjut bobo di kamar ya, Bam," kata Hanum hendak mengambil alih putranya namun di luar dugaan Ibam menolaknya. "Anak bunda paling ganteng, yuk sama bunda. Kasihan om-nya capek mau istirahat juga."
Bukannya berpindah, Ibam malah semakin erat memeluk leher Kean.
"Gak papa, anak kecil kan biasnya begini kalau bangun tidur. Nanti juga mau lepas sendiri," kata Kean.
"Terus kamu mau masuk ke rumah saya?" Hanum bersedekap di dekat pintu setelah meletakan barang belanjaan.
"Ya kalau gak boleh masuk, Ibam ikut saya ke rumah sebelah."
"Ya udah masuk aja," kata Hanum pafa akhirnya dari pada membiarkan orang lain membawa putranya tanpa pengawasan dirinya.
Maraknya berita tentang pelecehan seksual membuat Hanum dan para ibu lain menjadi cemas. Tidak hanya anak perempuan yang bahaya, anak laki-laki pun sama. Orang-orang yang memiliki penyakit fetish lebih banyak menyukai hal-hal yang tak lazim. Pacaran sesama jenis, menyukai anak di bawah umur dan itu tidak pandang bulu. Begitu rusaknya kehidupan di jaman sekarang.
Kean tersenyum penuh kemenangan, dia pun masuk dan duduk di sofa sederhana yang ada di ruangan tamu tersebut.
"Ibam, turun ya nak. Kasihan om-nya pegel gendong Ibam terus." Hanum masih membujuk sang anak agar mau turun dan dia bisa segera mengusir Kean dari rumahnya.
__ADS_1
"Pegel?" tanya Ibam polos. Mata bulatnya berkedip-kediri lucu.
"Hmmm pegel sih kan Ibam sudah besar. Duduk di sini ya!" Kean mendudukan Ibam di sofa sebelahnya, "mau buka mainan yang dibeli tadi?"
Ibam langsung mengangguk semangat.
Sambil merapikan belanjaan ke tempatnya, Hanum memperhatikan keakraban dua lelaki beda generasi itu. Mereka tertawa begitu puas. Kalau diingat lagi ini adalah momen di mana Ibam tertawa puas seperti itu. Ibam seperti mendapatkan sosok yang dia butuhkan selama ini. Ayah.
Kean juga begitu menjaga dan mengayomi anak itu. Dia persis seorang ayah yang tengah menjaga buah cintanya. Dia tak menolak ketika Ibam memasang macam-macam stiker tempel di wajahnya. Setelah iban selesai maka Kean akan membalasnya dengan menggelitiki bagian perut. Mereka tertawa terpingkal-pingkal.
Jika dilihat dengan teliti, benar ucapan ibu-ibu tadi. Ada kemiripan antara ankanya dengan Kean.
Gak mungkin, Num, kalau dia ayah biologisnya Ibam, harusnya ada bekas luka di bagian belakang kepalanya.
Tak terasa hari sudah sore dan Hanum semakin tidak nyaman Kean lama-lama di rumahnya. Namun dia tak bisa mengusir saat putranya masih lengket dengan pria itu.
"Mandi yuk udah sore." Segala macam cara Hanum lakukan agar Kean segera pindah ke kontrakan sebelah. Dia tidak nyaman dengan tatapan tetangga yang ketika lewat selalu menoleh ke arah rumahnya.
Ibam menatap Kean dengan tatapan takut kehilangan.
"Nanti setelah mandi bisa main lagi sama, Om. Kan rumahnya di sebelah."
Ibam turun mengikuti ibunya ke kamar mandi. Tak lama Hanum kembali menghampiri Kean dengan membawa sepriring jajanan pasar yang tadi mereka beli.
"Teman kamu pasti belum makan kan. Bawa saja ini!"
Kean menatap makanan yang disodorkan Hanum. Dia tahu kalau perempuan itu tengah mengusirnya dengan cara halus. Setelah menerima makanan itu dan mengucakan terima kasih, Kean langsung pulang ke rumahnya.
"Makan dulu, Hans." Makanan itu disodorkan pada Hans dan langsung diterima.
"Berhasil?" tanya Hans dengan mulut penuh makanan.
"Gagal," balas Kean menyandarkan punggung pada dinding rumah.
Keduanya pun membahas rencana kedepan karena tak mungkin selamanya akan bersembunyi. Uang cash yang Kean pegang hanya tinggal beberapa juta lagi. Tidak mungkin rasanya jika mereka menumpang makan terus pada Hanum.
Ketukan pada pintu membuat keduanya sama-sama menoleh. Kaget kalau-kalau itu petugas kepolisian yang mengetahui persembunyian mereka.
"Om Keeeeeeen."
__ADS_1
Keduanya kembali bernafas lega saat tahu kalau yang datang bukan yang ditakutkan oleh mereka. Ternyata itu Ibam yang kabur dari Hanum setelah dipakaikan pakaian.
"Ibam ke sini bilang bunda dulu gak?"
Ibam menggelengkan kepala acuh dia lebih fokus pada makanan yang ada di piring. Padahal makanan itu dari ibunya sendiri.
"Hey di rumah kamu juga banyak," kata Hans gemas menyuyel-uyel pipi Ibam. "Kok ini anak bisa nempel kek gini ke elo. Dikasih pelet apaan?"
"Hari gini mana ada pelet mempan. Jaman sekarang kalau mau gaet cewek gak perlu kayak gituan. Kipas aja tuh cewek pake duit, nempel langsung."
"Tapi Lo di tolak Hanum."
Penolakan itu merupakan sejarah bagi Kean. Di mana biasanya dia yang menolak para perempuan tapi tidak dengan Hanum. Alih-alih terpesona dengan penampilan dan kekayaan Kean, bagi Hanum semua itu biasa saja apalagi dia tahu kalau kekayaan itu hanya milik orang tuanya. Namun dalam pertemuan sekarang Hanum sepertinya lupa pernah ditembak secara romantis oleh Kean.
"Habiiiiiis." Ibam menatap dua orang dewasa di sampingnya. Wajahnya terlihat takut karena berpikir akan dimarahi tetapi nyatanya tidak.
"Pulang yuk, kasihan Bunda takut nyariin kamu."
Anak itu kembali menggelengkan kepala dan malah merebahkan tubuh di samping Kean. Menjadikan tangan orang dewasa itu sebagai bantal. Saat sudah lelap dia diantarkan pulang.
Hanum panik saat anaknya tidak ada di rumah. Dia mencarinya ke luar karena berpikir Ibam pergi bermain tanpa pamit. Dia sempat panik saat tak menemukan Ibam bersama anak-anak sebayanya. Namun saat melihat Kean menggendong putranya dan menghampirinya Hanum kembaki bernafas lega meski tak menghilangkan rasa cemas.
"Bukan saya yang ngajak dia, tapi dia sendiri yang nyamperin ke rumah," jelas Kean tak ingin Hanum salah paham pada dirinya.
***
"Ken, bangun, Ken." Hans membangunkan Kean yang mengigau menggumamkan kata maaf yang entah untuk siapa. Selain karena mengigau juga karena tangisan anak tetangga sebelah.
Kean terperanjat kaget dan langsung duduk. Seketika kepalanya terasa pusing karena bsngun tanpa aba-aba.
"Ibam nangis, kayanya udah hampir setengah jam nagisnya belum berhenti. Coba lo samperin gih! kasihan."
Sambil mengucek mata Kean menghampiri rumah Hanum, tak lupa dengan kain penutup kepala.
"Ibam kenapa?" Kean bertanya saat Hanum membukakan pintu.
Wajah permpuan terlihat kuyu pun dengan mata sembab serta merah. Dia lelah membujuk Ibam namun tangisnya tak kunjung reda. Dia juga lelah merasa bersalah karena Ibam harus berbeda dengan orang lain. Anak itu tidak memiliki sosok yang bisa dipanggil ayah. Dia sempat berpikir untuk menerima lamaran dari salah seorang pengajar tapi hatinya kembali menolak.
"Boleh saya lihat?" tanya Kean hati-hati. Dia masuk setelah dipersilahkan. "Bam, ini Om Ken."
__ADS_1
Ajaib. Tengis Ibam yang sulit dibujuk berhenti saat melihat Kean datang.