Kean Hanum

Kean Hanum
Epoisode sebelas


__ADS_3

Setelah membuat orang itu cukup tak mampu melarikan diri, Kean membawanya ke tempat Hans. Akan tetapi di sana bukan tempat yang baik. Apalagi begitu dekat dengan rumah Hanum. Bisa saja orang tersebut melakukan sesuatu yang membuat orang curiga pada Kean.


"Bro, dia?" Hans menatap Kean penuh tanya atas orang yang dibawanya dalam keadaan tergeletak lemah.


"Lo benar, dia ada di sekitar sini. Gue dapat dia karena dia selalu mengawasi rumah Hanum."


"Terus sekarang?"


Kean melirik jam tangan yang menunjukan masih pukul dua dini hari.


"Kita pergi bawa dia sekalian mumpung masih malam."


Kean membawa mereka ke apartemen miliknya yang sudah tiga tahu tidak ditempati. Mereka pergi menggunakan mobil Leela yang dipinjam Kean.


"Anjir, tau gitu gue dari kemarin-kemarin ngumpet di sini kampret," protes Hans saat pintu apartemen terbuka. Memang di sana lebih privasi, sepertinya polisi pun tidak akan mudah melacak keberadaan Hans jika tidak ada yang melihat dan melaporkan.


"Sorry, gak kepikiran," balas Kean santai dan menarik pria yang mulutnya dilakban serta tangan yang diikat.


"Bro gue gak tahu alasan kenapa lo nyari orang ini sampai segitu. Apa karena dia meneror Hanum atau hal lain?"


Sejak Hans diminta mencari orang ini dia tidak pernah dikasih tahu alasannya kenapa. Sekarang orang itu sudah ada di hadapan mereka.


Kean tak menjawab dan memilih membangunkan pria itu. "Gak usah pura-pura pingsan, gue tahu lo sadar. Mana ada orang pingsan tapi kakinya bisa napak ke lantai juga bisa jalan."


Hans tertawa mendengar ucapan Kean. Orang itu masih dalam posisi sama, tidak merespon sama sekali.


"Jangan-jangan dia mati," kata Hans.


"Mana ada orang mati masih bernafas." Keduanya masih menunggu orang itu bangun tapi setengah jam menunggu tak ada hasil apa pun.


"Ken, lo dicariin sama anaknya Hanum." Hans memberi tahu tentang Ibam yang terlihat murung saat tidak ada Kean kemarin. Termasuk tentang anak itu yang menunggu Kean di teras depan rumah.


Kean mendongak kemudian bangun dan meminta Hans membantunya memindahkan orang yang belum sadar itu.


"Biarkan dia di ruangan ini sampai gue balik. Lo bisa dipercaya kan, Hans?" Kean menatap Hans yang mengangguk. "Lo gak perlu tahu apa pun yang bukan urusan lo sampai gue yang ngasih tahu sendiri. Kasih makan ni orang kalau sadar. Jangan sampai dia mati kelaparan."

__ADS_1


Kean meninggalkan mereka untuk kembali ke tempat Hanum. Dia penasaran benarkah Ibam mencari dirinya. Senyum di bibir Kean terlukis begitu indah. Jarang sekali pria itu tersenyum seperti sekarang.


Di rest area, Kean berhenti sejenak. Menyempatkan membeli beberapa makanan dan juga mainan untuk Ibam. Kalau tidak salah menebak anak itu pasti senang akan kehadiran dirinya. Hanum? kita lihat saja nanti.


Hari sudah terang ketika Kean tiba di tempat tujuan. Setelah membetulkan jaket yang menutupi kepala dia turun menenteng oleh-oleh untuk Ibam.


Suatu kebetulan yang entah karena takdir atau keran Kean sudah memperhitungan hal ini akan terjadi. Mereka berpapasan di jalan saat Hanum hendak berangkat kerja.


"Nda, itu Om Ken." Ibam berseru kegirangan dia bahkan berlari lebih dulu menghampiri Kean.


"Haaaaiii, nyariin Om gak kemarin?" tanya Kean langsung diangguki oleh Ibam. Dia juga melirik Hanum namun perempuan itu langsung memalingkan wajah.


"Lihat nih Om bawa apa untuk Ibam." Kean mengeluarkan apa yang beberapa menit lalu dismebunyikan di belakang tubuh


"Waaah mainan, jajan. Semua untuk aku?" tanyanya polos.


"Bagi sama bunda dong. Iya kan, Bun?"


Hanum tak menanggapi pertanyaan Kean. Dia pura-pura sibuk memeriksa ponsel.


"Ya?"


"Main sama Om buleh?"


"Bam, dengerin Bunda ya-" Hanum hendak mengingatkan putranya tapi perkataannya disela oleh Kean lebih dulu.


"Gak papa kok, Mbak Hanum. Hari ini saya free, Ibam bisa main dengan saya. Mbak gak usah khawatir saya tidak akan macam-macam. Kalau sampai macam-macam potong saja." Kean menurunkan tatapannya pada sesuatu yang berharga miliknya. Sumber masa depannya.


Hanum kembali memalingkan muka, dia bergidik seolah melihat apa yang ada di dalam celana Kean.


"Gak sopan," ketus Hanum setelah menguasai diri. Melihat tatapan Ibam, Hanum dilanda rasa dilema. Dia takut terjadi sesuatu pada anaknya namun dia juga kasihan pada anak itu.


Kemarin Hanum merasa curiga jika Kean adalah orang yang telah merusak masa depannya, namun dengan pernyataan jaminan dari Kean barusan dia menjadi ragu. Belum lagi tentang pria di dalam kegelapan yang selalu mengawasinya.


"Bu Hanum, aduh untung ada Bu Hanum. Saya telatnya gak sendirian," kata salah satu pengajar di tempat Hanum bekerja. Dilihat dari deru nafas yang tersenggal, orang itu kesiangan. "Ke acaranya bareng sama saya."

__ADS_1


Hanum menempuk kening, dia lupa kalau hari ini dia mewakili staf lain untuk sebuah pertemuan. Gara-gara berteman Kean dia jadi ikutan telat.


"Ya sudah, Ibam boleh sama Om Kean tapi gak noleh nakal. Kamu!" Kini Hanum menatap tajam pada Kean, "Saya tidak akan segan memotongnya jika terjadi hal yang buruk pada anak saya."


"Siap," balas Kean bangkit kemudian memberi hormat ala militer. Melepas Hanum dinas.


***


Sore hari saat Hanum pulang, Ibam sudah terlihat rapih dan bersih. Selain itu juga tampan dan ceria.


"Ndaaa." Anak itu melembaikan tangan dari teras rumahnya. Kean sendiri memilih berada di dalam rumah namun masih mengawasinya.


"Waaahhh anak bunda wangi sekali. Sudah mandi?" tanya Hanum setelah sebelumnya mengucapkan salam.


Anak itu menjawab dan menceritakan kalau dirinya diajak main, disuapi dan dimandikan oleh Kean. Dia terlihat ceria saat bercerita membuat Hanum menoleh pada Kean yang juga tengah menatapnya.


"Aman kok, periksa aja," kata Kean seolah bisa menebak apa yang ada di pikiran Hanum. Padahal bukan itu yang sedang dipikirkan Hanum.


Layar ponsel milik Kean berpendar menandakan ada pesan masuk. Gegas Kean memeriksanya kemudian pamit pada Hanum setelah membaca isi pesannya. Sekali lagi Kean menoleh pada Hanum dan memberikan senyum sebelum benar-benar pergi.


***


Kean tiba satu jam kemudian di apartemennya setelah mendapat pesan dari Hans yang memberi tahu kalau orang yang Kean kurung sudah bangun.


Kean masuk seorang diri dan sekali lagi meminta Hans untuk tidak mencari tahu apa yang dia lakukan. Ekspresi bengis terlihat jelas di wajah Kean saat pintu terbuka. Namun orang itu juga seperti tak ingin kalah. Dia membalas tatapan Kean dengan tatapan sinis. Bahkan meludahi wajah Kean saat dia berjongkok.


"Woooow," seru Kean seolah tengah menyaksikan petunjuk yang luar biasa.


"Lo kalah, Kean. Dia gak akan kembali pada pria pengecut seperti kamu," kata orang itu terlihat tenang sambil menahan sakit bekas pukulan Kean tadi malam.


"Oh ya?" balas Kean tak kalah santai namun wajah bengis tetap kentara di wajahnya. Kean merogoh saku celana orang itu dan mengambil ponslenya tanpa perlawanan. Membuka galeri dan menemukan foto sebuah keluarga. Foto seorang perempuan tengah menggendong anak perempuannya seusia Ibam. Di sampingnya berdiri seorang pria yang kini tengah berhadapan dengan Kean.


"Hmmm keluarga yang bahagia. Bagaimana kalau aku M-E-R-U-S-A-K-N-N-Y-A," kata Kean dengan ekspresi menyebalkan yang memancing amarah pria itu.


Berbagai makian dan kalimat kotor dilontarakan kepada Kean yang malah tertawa terbahak. Kean persis seorang psikopat yang bisa terlihat tenang sekaligus mengerikan dalam waktu bersamaan.

__ADS_1


"Wow masih ada foto ini?" Kean memperhatikan foto dimana ada dirinya, perempuan tadi dan orang yang ada di hadapannya saat ini


__ADS_2