Kean Hanum

Kean Hanum
Episode enam


__ADS_3

Istirahat di dalam rumah rasanya seperti di dalam penjara bagi Kean. Padahal fasilitas di dalam rumah pun tak kalah keren. Akan tetapi bagi Kean yang senang hidup di jalan, itu semua sangat membosankan.


Ketika sedang menjahili Leo-adik bungsunya dia merasa itu hiburan. Jelas saja karena yang jengkel bukan dirinya, apalagi saat Leo menangis. Tentulah Leela yang repot.


Kesehatan Kean berangsur membaik berkat terapi dan pengobatan yang terpantau rutin. Dalam kurun waktu tiga tahun dia kembali sehat dan bisa kembali merasakan dunia di luar rumah.


Senyumnya mengembang, wajahnya berbinar saat dokter mengatakan Kean sembuh. Rasa rindu pada motor yang selama tiga tahun ia tatap dari kursi roda sebentar lagi akan kembali melesat di jalanan.


"Gak ada motor, gak ada keluyuran atau kumpul-kumpul seperti itu lagi. Masuk ke perusahaan dan bangun masa depanmu dengan benar," kata Bimo tegas selama masih dalam perjalanan setelah mengantar Kean kontrol.


Kean memutar bola mata, jengah sekali ia harus mendengar kalimat sama selama tiga tahun ini.


Nurut aja dulu, urusan motor ya kita lihat aja Nanti.


Sampai di rumah Leela beserta anak-anak dan keluarga besarnya menyambut kabar bahagia yang dibawa suami dan anaknya. Pelukan hangat ia berikan kepada Kean. Tak lupa kecupan penuh kasih sayang dari seorang ibu.


"Wei raja jalanan sudah kembali sehat rupanya. Semangat my bro," kata Andra sambil mengacak rambut sang adik.


Setelah memeluk Andra barulah adik perempuannya, Leo, om dan tante serta kakek nenek dan keluarga besar yang hadir.


"Motormu sudah aku jual, jadi kamu gunakan saja mobil yang ada," kata Wijaya.


"Gampang, kan ada nenek yang bakal membelikannya untukku iya kan, Nek?" kata Kean pada Tresna yang akhirnya mendapatkan cubitan karena gemas.


ponsel di saku celana Kean bergetar, dia segera memeriksanya. Ternyata sebuah pesan dari Hans.


"Dia ada di kampung ini." begitu isi pesan yang diterima Kean berikut lokasinya.


Rupanya hari ini adalah hari keberuntungan Kean. Setelah tiga tahun dikurung di dalam rumah kini kakinya dinyatakan sembuh. Selain itu, orang yang dia cari sejak tiga tahun yang lalu akhirnya bisa ditemukan.


Kean menoleh jam dinding yang menunjukan masih pukul dua siang. Masih lama untuk menunggu malam apa lagi hari esok.


"Gelisah amat, Sayang? mau ke mana?" tegur Leela duduk di sampingnya. Mereka pun berbincang hingga tak terasa waktu sudah beranjak malam.


Mereka kembali berkumpul di meja makan, Setelah makan malam mereka baru berpisah untuk istirahat di kamar yang telah di sediakan.


***


Sejak pagi di daerah tempat tinggal Hanum sekarang hujan tak kunjung reda. Bahkan aktifitas Hanum hari ini tidak berjalan baik. Apalagi saat putranya yang berusia dua tahun lebih delapan bulan mulai rewel.


Tidak mudah menjadi single mom seperti dirinya. Semua dia lalui penuh tawa dan air mata tanpa pendampingan orang tua. Namun kembali lagi itu adalah hasil dari keputusan yang dia ambil sendiri.


Masa-masa sulit di awal kehamilan, di awal menjadi seorang ibu, repot merawat anak yang baru lahir. Kurang tidur, badan tak terawat, tidak memiliki waktu untuk sekedar metime. Belum lagi luka batin yang belum sembuh sepenuhnya. Semua itu telah berhasil dia lalui ditemani seorang Rukoyyah yang telah menolongnya hari itu.

__ADS_1


Hanum ditawarkan untuk tinggal di pesantren namun dia berpikir dengan kehadiran dirinya akan menambah beban ekonomi pesantren. Jadilah dia mencari tempat tinggal di sekitar pondok agar bisa membantu merawat anak-anak yang nasibnya seperti anak yang ia lahirkan.


Terima kasih telah menjadi obat untuk bunda, Nak. Maaf bunda belum memberikan kehidupan yang layak.


Tangan Hanum mengusap rambut anaknya yang sudah lelap setelah tadi tantrumnya kumat. Dia belajar memahami itu meski kadang hatinya sakit saat melihat anaknya menangis karena ingin bermain bersama teman sebayanya. Namun namanya juga anak-anak, sikapnya kadang tak terduga, kadang baik kadang juga main musuh-musuhan.


Dia tarik selimut untuk menutupi tubuh putranya, lalu dia sendiri memeriksa pintu dan jendela. Tak dipungkiri rasa takut atas kejadian tiga tahun lalu terulang kembali sering menghantuinya.


Dari celah tirai hanum sempat mengintip keadaan di luar. gelap dan cahaya lampu hanya menerangi seadanya. Tubuh Hanum gemetar saat dia kembali melihat siluet dari kegelapan. Di luar sana ada seseorang yang tengah memperhatikan rumahnya. Hanya saja orang itu tak memperlihatkan seluruh wajah. Hanya bagian bibir yang terlihat tengah menyeringai.


"Astagfirullah." Hanum memegangi dada, saat dia menoleh lagi orang tadi sudah tidak ada di tempat.


Sudah hampir satu minggu setiap malam Hanum melihat siluet itu. Hingga kualitas tidurnya menjadi buruk. Sebentar-sebentar dia bangun dan begitu terus hingga pagi menyapa.


Seperti biasa pagi Hanum begitu repot karena Ibam-putranya kadang bisa diajak kerja sama kadang juga tidak. Beruntung hari ini putranya tidak rewel saat dimandikan hingga semua pekerjaan lancar sampai duduk untuk sarapan.


"Nda, Aku buleh main?" tanya Ibam denga logat khas anak yang kadang kalimatnya belum jelas untuk dimengerti orang dewasa.


"Memangnya main apa?" tanya Hanum lembut dengan terus menyuapi anaknya.


"Bola."


"Boleh tapi mainnya jangan jauh-jauh dari tempat Nda kerja ya."


Rumah kecil Hanum jaraknya tak terlalu jauh dengan pesantren tempat dia bekerja. Ditempuh dengan jalan kaki pun sampai.


Ibam yang masih kecil kadang mengeluh saat setiap hari harus jalan kaki. Katanya kenapa gak seperti orang lain yang naik motor atau sepeda, tapi Hanum selalu memberikan pengertian yang mudah dipahami oleh anaknya.


"Ibaaaam, main yuk," teriak anak-anak seumuran Ibam saat mereka baru tiba.


"Nda, buleh?" Ibam mendongak meminta izin.


"Boleh, tapi ingat pesan bunda mainnya gak boleh keluar dari gerbang itu. Kalau ada orang yang tidak dikenal jangan mau diajak bicara atau pergi. Ibam harus di sini ya," pesan Hanum penuh rasa khawatir. Apalagi jika mengingat kejadian beberapa malam terkahir. Di mana ada orang yang selalu mengawasi tempat tinggalnya.


Apakah Hanum tidak ingin menikah agar ada yang melindungi dirinya dengan Ibam? Beberapa pria pernah mencoba mendekatinya tapi hati Hanum tidak tergerak. Beberapa lamaran melalui perantara pemilik pondok pun sudah sempat diutarakan namun lagi Hanum mengatakan belum siap.


***


Kean yang biasanya malas, hari ini bangun lebih pagi. Saat sarapan bersama dia sudah terlihat rapi.


"Mau kemana?" tanya Bimo.


"Mau pergi sebentar, Pi. Nanti juga balik lagi," jawab Kean segera menghabiskan makanan di piring. Dia sudah tidak sabar dengan motor yang kata kakeknya sudah dijual tapi masih ada di garasi. Mungkin kakeknya hanya bercanda.

__ADS_1


Selesai sarapan dia langsung menghampiri motor dan menghidupkannya. Namun belum juga melaju motornya kembali mati serta kunci yang lepas dari tempatnya.


"Kak, apaan sih? Balikin gak?" Kean menoleh pada Andra yang terlihat santai.


"Enggak, kenapa tuh?"


Jika saat mereka kecil, Ibam lah yang sering usil namun sekarang justru sebaliknya.


"Gak lucu, Kak. Balikin."


"Kalu mau pergi naik mobil aja. Tuh udah ada sopirnya jadi kamu gak perlu repot," kata Andra menunujuk mobil di depan yang sudah siap dengan sopirnya.


"Kak! Kok lo jadi gak asik sih. Enggak, aku motor. Kunci!" Kean menengadahkan tangan, "kunci Kak Andra."


"Mending berangkat naik mobil atau motor ini dijual."


Kean berdecak dan meninggalkan motornya. Masuk ke dalam mobil yang sudah ada sopirnya.


"Jalan, Pak!" titah Kean mneyebutkan alamat yang dikirim Hans kemarin. Tempat yang luamyan jauh dari rumahnya bahkan memakan waktu sampai dua jam lebih.


"Di sini, Den?" tanya sopir memastikan sesuai alamat yang disebutkan anak majikannya.


"Iya." Kean turun karena mobil tak bisa masuk ke dalam gang yang hanyabmuat untuk dilalui para pemotor. Dia terpaksa menyusurinya dengan jalan kaki. Mencari alamat yang sudah ditunggu sekian lama.


Saat tengah berjalan, sebuah bola plastik mengegelinding ke kakinya. Saat menoleh dia melihat sekumpulan anak tengah berbaris dan mantap bola yang sudah ada di tangannya.


"Kenapa gak diambil?" tanya Kean menyerahkan kembali bola itu.


"Nda, biang janan kelual dali cini," kata anak yang memiliki kulit paling cerah. Pipinya gembul, penampilan dan rambutnya juga rapih.


"Oh ok silahkan main lagi."


"Om mau ikut main?" tawar Ibam sambil tersenyum.


Kean tersenyum dengan keberanian anak kecil itu. Dia merasa melihat dirinya saat kecil yang kata ibunya begitu pemberani dan ramah.


"Besok deh om main sama kalian. Sekarang om harus pergi dulu."


"Ibam!" itu suara Hanum yang mendekat setelah mendengar laporan kalau putranya tengah bicara dengan orang asing.


Sontak Kean berbalik dan menatap perempuan itu.


Apakah dia yang Kean cari?

__ADS_1


__ADS_2