Kean Hanum

Kean Hanum
Episode Enam Belas


__ADS_3

"Kalau kamu tidak menolak lagi," kekeh Kean mencoba berkelakar untuk memecah suasana tegang.


Hanum mengibaskan tangan dan memalingkan muka. Dia tidak paham maksud Kean dan menganggap kalau pemuda itu tengah bermain-main. Dia melanjutkan langkah dengan tubuh yang masih gemetar serta detak jantung yang belum kembali normal. Mengajak serta putranya.


Kean mengejar dan mensejajarkan langkah dengan mereka, "saya serius dengan ucapan saya, Hanum. Saya ingin menjadi ayahnya Ibam walaupun jatuhnya ayah tiri. Ibam akan mendapatkan sosok ayah yang dia butuhkan selama ini. Saya tidak peduli dengan masalalu kamu, saya tidak berhak untuk menghakiminya. Tolong jangan menolak lagi."


"Saya hanya ingin menjadi bagian keluarga kalian. Menjadi ayah untuk Ibam, menjadi suami untuk kamu. Menjadi pelindung kalian. Kita bekerja sama menciptakan keluarga yang bahagia. Izinkan saya jadi part of your life, Hanum," lanjut Kean menatap Hanum yang bergeming.


Hanum tertawa kecil, kemudian menatap Kean setelah meredakan senyum.


"Pemuda seperti kamu itu lucu ya, Kean. Keseringan nonton ftv sepertinya," kekeh Hanum lalu menatap serius. "kamu pikir melamar perempuan di pinggir jalan itu romantis, Kean? Enggak, sama sekali enggak. Kalau kamu serius pada seorang perempuan cobalah temui keluarga atau walinya. Cara yang benar ya seperti itu menurut saya. Bukan di pinggir jalan tanpa keluarga atau wali."


Kean mengangguk.


"Saya anggap ini hiburan, lumayan membuat saya tegang dan tertawa. Terima kasih ya, ayo Ibam," lanjut Hanum tersenyum lalu mengajak putranya meninggalkan Kean yang mematung.


Setibanya di rumah Hanum langsung membasuh wajah. Menatap pantulan dirinya di cermin. Kalimat Kean memang manis tapi cara penyampaiannya tidak tepat. Sebagian perempuan ada yang menganggap hal seperti tadi itu romantis. Akan tetapi tidak bagi Hanum, Kean tidak cukup meyakinkan untuk menjadi temannya dalam perjalanan hidup.


Berbeda dengan Hanum, Kean malah memilih duduk di bawa pohon di sekitar tempat dia menyampaikan keinginan pada Hanum. Merasakan hembusan angin yang menerpa wajah.


Dia tidak sakit hati ditolak Hanum, toh dia menyampaikan maksud dengan tujuan terselubung. Yaitu tanggung jawab terhadap Ibam. Hatinya sendiri masih kosong entah siapa yang dia inginkan saat ini.


Dering ponsel dari saku jaket segera dia raih. Hans menghubunginya.


"Kenapa?"


Tak lama Kean bangkit setelah menerima telepon dari Hans. Gegas dia kembali ke mobil dan segera menuju apartemennya.


"****," umpat Kean saat tiba dan menyadari kalau apartemennya telah dikepung oleh polisi serta orang-orangnya Bimo.


Maksud hati ingin melindungi Hans tapi malah dirinya yang tertangkap. Dia diminta keluar dari mobil kemudian di borgol dan di bawa ke kantor polisi untuk dimintai keterangan. Selain Kean, Hans serta Zidane yang ada di dalam apartemen pun ditangkap. Ketiganya sama-sama ditahan untuk proses penyidikan.

__ADS_1


Bimo menyaksikan penangkapan sang anak beserta dua orang lainnya. Dia menghampiri Kean yang sudah berada di dalam mobil polisi dengan keadaan tangan diborgol.


"Loloskan dirimu jika bisa, tapi untuk kali ini papi tidak akan ikut campur."


Kean berdecak namun memilih tidak membalas perkataan sang ayah. Hingga mobil melaju dia tidak lagi menatap ke arah ayahnya.


Setibanya di kantor polisi, ketiganya dimasukkan kedalam sel. Zidane orang pertama yang buka suara menertawakan Kean.


"Kesombongan yang selalu kamu gaungkan sekarang tidak berguna lagi, Kean. Ayahmu sudah lepas tangan dan kita akan sama-sama di dalam sini. Nikmatilah kebersamaan kita karena aku pasti orang pertama yang akan keluar dari sini."


Kean menoleh, mendekat, kemudian menyudutkan Zidane ke dinding.


"Bebas?" Kean tertawa keras, "Lo pikir segampang itu?"


"Gak perlu diladeni, Ken," bisik Hans mencegah terjadinya keributan yang bisa memberatkan kasus Kean.


"Gue itu cuma korban, Kean, jangan lupa itu. Gue disiksa dan dikurung. Kasus lo justru yang akan bertambah. Obat dan penganiyayaan."


"Ken!" Hans panik. Untungnya tidak ada pertugas yang menghampiri sel mereka.


"Santai Hans, dia gak akan mati secepat itu."


"Bro, di luar lo bisa bebas bertindak semau lo. Di sini ... please jangan membuat masalah yang akan memberatkan kita. Apalagi orang tua lo sudah lepas tangan Ken."


***


Leela masih di rumah sakit menanti kabar dari menantunya. Shepa dan Arga juga ada di sana. Sejak diberitahu oleh Leela, mereka langsung tancap gas menuju rumah sakit.


"Giman, Kak. Sudah ada kabar?" tanya Shepa menahan cemas pada Leela.


"Masih di dalam, tadi dokter menyarankan untuk melahirkan lebih cepat tapi Andra belum mengambil keputusan." Leela mengusap pundak adiknya.

__ADS_1


Kandungan Kia sudah memasuki minggu ke 34 seharusnya memang belum waktunya untuk melahirkan. Akan tetapi ketika melihat keadaan Kia yang begitu lemah, dokter menyarankan untuk mengambil tindakan operasi caesar. Berat dan ukuran tubuh bayi sudah mencukupi dan jaringan organ pun sudah matang dan terbentuk sempurna. Tidak masalah jika lahir sekarang, nanti bisa dirawat di ruang NICU untuk beberapa waktu.


Keputusan akhirnya Andra memilih melakukan apa yang disaranakan oleh dokter. Dirinya tak tega untuk melihat sang istri merintih menahan sakit lebih lama lagi.


"Bissmillah ya, Sayang. Insya Allah lancar dan selamat. Semoga dimudahkan," kata Leela membelai lembut wajah menantunya yang tengah berbaring dan hendak dibawa ke ruang tindakan.


"Anak sulung mama akan segera menjadi ibu. Ibu yang tangguh dan luar biasa. Bissmillah Allah memudahkan prosesnya, Sayang," kata Shepa melakukan hal yang sama seperti Leela.


"Papa," rengek Kia.


Berbeda dengan siti serta kakak iparnya, Arga hanya menggenggam tangan sang anak sebagai bentuk dukungan. Dia mengangguk pada Andra yang selalu setia menemani istrinya.


Brangkar mulai meninggalkan mereka diiringi untaian doa dan kasih sayang orang terdekat sampai pintu ruangan operasi tertutup sempurna. Serta proses persalinan mulai dilakukan.


"Istriku yang tangguh. Bidadari dunia akhiratku," bisik Andra memeluk sang istri yang tengah dilakukan suntik anestesi epidural.


Proses demi proses mulai berjalan, membuat cemas dan rasa tak sabar pada mereka yang tengah menunggu. Hingga pintu ruangan terbuka serta Andra keluar dengan senyum bahagia.


"Mi, gimana?" tanya Bimo di saat yang sama dia juga baru tiba di rumah sakit.


"Alhamdulillah selamat, cucu laki-laki pertama, Pi," kata Andra.


"Alhamdulillah." Mereka serempak mengucapkan kalimat yang sama.


Leela menarik suaminya menjauh setelah melihat wajah berbeda dari suaminya. Padahal mereka baru saja mendapatkan kabar bahagia.


"Semuanya baik-baik saja, Pi?" tanya Leela menatap suaminya.


"Kean ditangkap dan ditahan."


Leela menutup mulut setelah mendapatkan dua kabar yang berbeda. Begitu juga Andra yang hendak menghampiri dan sempat mendengar percakapan kedua orangtuanya.

__ADS_1


__ADS_2