
Kedatangan Kean berhasil mengehentikan tangis Ibam. Anak itu menangis karena saat bangun dia mencari Kean yang tidak ada. Hanum sudah membujuknya untuk kembali tidur karena hari sudah malam. Tak mungkin juga dia menganggu istirahat Kean. Namun bukannya tidur Ibam malah merengek, semakin di bujuk malah semakin kencang tangisnya.
Setiap merasakan gerakan dari Kean yang hendak memindahkannya ke pembaringan, Ibam kembali merengek. Terpaksa Hanum kembali mengizinkan Kean ada di rumahnya.
"Mbak Hanum gak papa?" tanya Kean menatap Hanum yang diam saja sejak tadi.
"Susah payah saya membangun kembali kepercayaan dan rasa nyaman. Susah payah saya memberi pengertian pada Ibam kalau kami berbeda tapi kamu datang seenaknya menghancurkan apa yang telah saya bangun." Mata Hanum berkaca-kaca saat mengatakan itu.
"Ibam harus lahir berbeda dari orang lain. Sejak dia lahir dia tidak tahu seperti apa sosok ayah. Namun sekali lagi, kedatangan Anda seperti memberi harapan pada dia. Dia lahir bukan kehendak saya." Tangis Hanum tumpah di hadapan Kean yang menatapnya penuh rasa bersalah.
"Tiga tahun ini kehidupan kami mulai membaik, mulai tenang tapi semua itu kembali terusik dengan kedatangan kamu. Kedatang pria di kegelapan itu. Apa kami tidak boleh merasakan rasa nyaman? Apa hidupku harus penuh dengan tangisan?"
Kali ini Hanum menatap Kean yang menggelengkan kepala. Kean sendiri tidak mengucapkan kalimat apa pun, dia tidak punya kalimat yang tepat untuk mengjibur hati yang lara. Dia hanya jadi oenndnegar saat Hanum mengucapkan segala isi hatinya.
"Maaf," ucap Hanum setelah merasa tenang dengan menumpahkam apa yang membuat dadanya terasa sesak. "Ibam sudah tidur? Pindahkan ke kamar aja ya."
Penuh kasih sayang Kean memindahkan Ibam. Dia tatap, dia usap rambutnya dengan perasaan rasa bersalah telah membuat anak dan ibu menangis. Saat menoleh pada nakas, dia melihat ada jam tangan kecil. Hanum sengaja menyimpan itu di sana ingin mengetahui reaksi Kean saat melihatnya. Apakah dia pelaku seperti dugaan yang dituduhkan akalnya?
Hanum berdehem saat Kean mengambil jam tangan itu. Ekspresi Kean tampak biasa, tidak ada rasa kaget sama sekali.
"Maaf saya lancang menyentuh barang kamu." Kean meletakan kembali jam itu ke atas nakas. "Jam tangannya bagus."
Hanum menarik nafas dalam, "jam itu kenang-kenangan dari pelaku. Ayah biologisnya Ibam. Sempat ingin membuangnya karena saat melihat jam tangan itu bayangan kelam selalu kembali menghantui."
Kean mengangguk dan kembali ke sofa. "Tadi mbak Hanum mengatakan pria dalam kegelapan."
"Iya, pria itu sudah beberapa malam selalu mengawasi kami dari sana." Hanum menunjuk tempat dan kebetulan orang yang mereka bicarakan ada di sana.
"Tenang, Mbak, ada saya di sini," ujar Kean menenangkan.
Untuk pertama kalinya Hanum membiarkan seorang pria menginap di rumahnya. Kean keluar dari rumah Hanum sebelum subuh. Sebelum masuk ke rumah sebelah, dia sempat mengamati tempat pria dalam kegelapan yang dimaksud Hanum.
***
__ADS_1
"Mau kemana, Bro?" Hans bertanya saat melihat Kean sudah rapih.
"Gue harus pulang dulu memastikan keluarga gue baik-baik saja. Lo di sini masih aman untuk sementara waktu. Gue usahain nanti sore udah balik. Titip mereka."
Menggunakan jaket yang menutupi kepala Kean bisa keluar dari persembunyiannya. Dia pulang ke rumah di sambut tamparan dan bogem mentah dari sang ayah.
Leela berterik meminta Andra untuk menolong Kean yang terkapar tanpa melawan.
"Bagus kamu sakit daripada sehat jadi beban, Kean," kata Bimo setelah menghajar anaknya. Dia meninggalkan mereka sejenak untuk menguasai amarah.
Kean sendiri tak melakukan pembelaan karena sadar akan kesalahan yang dia buat. Wajar jika sang ayah murka. Dia bangun dibantu Leela dan Andra dan dibantu duduk di sofa untuk di obati.
"Mi, aku ada keperluan sama Kia. Mami, gak papa aku tinggal?" kata Andra yang memiliki kepentingan dengan istrinya.
Leela tersenyum dan mengangguk, "iya gak papa pergilah. Sampaikan salam Mami pada Kia ya."
Keudian Leela meminta salah seorang pelayan untuk mengambilkan kotak obat.
"Aw," Kean meringis saat kapas yang dibasahi alkohol itu ditempelkan ke wajah yang lebam. Dia selalu manja kalau sudah dekat dengan ibunya.
"Laper, Mi." Kean memasang wajah memelas agar dibuatkan makanan oleh sang ibu setelah diobati.
Saat Leela ke dapur, dia membuka ponsel dan juga album foto lama. Menyamakan foto Ibam dengan foto dirinya waktu kecil. Benar-benar mirip.
"Siapa tuh?" tanya Leela yang datang dan mengintip apa yang dilakukan putranya.
"Anak tetangga kontrakan. Banyak yang bilang mirip sama aku makanya aku cek."
"Coba Mami lihat." Leela mengambil ponsel anaknya, "iya kok bisa mirip begini ya. Persis kamu waktu kecil. Kamu?" Leela menatap putranya yang tertawa.
"Kamu gak sebandel itu kan Kean? Tolonglah."
"Menurut, Mami?" Kean malah menggoda ibunya.
__ADS_1
"Ke,bandelnya kamu cukup di motor aja ya. Jangan sampai ada obat-obatan apa lagi merusak perempuan. Kamu punya adik perempuan, kita juga gak tahu nanti kalau kamu punya anak perempuan. Memangnya kamu rela melihat perempuan-perempuan di sekitar kamu dirusak. Apa tidak sakit jika itu terjadi pada anak kamu."
Kean hanya mengangguk dan tersenyum kemudian melahap makanan yang dibawa oleh ibunya.
"Ke, beberapa hari yang lalu polisi datang ke sini. Mereka mengatakan kalau kamu terlibat dengan obat-obatan. Selain itu kamu juga melarikan salah satu tersangka," ucap Leela menghentikan suapan sang anak.
"Mami percaya aku terlibat padahal selama tiga tahun aku ada di rumah. Keluar rumah pun ditemani salah satu anak huahnya Papi. Kalau soal Hans aku membantu dia karena dia harus membantu aku menyelesaikan masalah. Akar dari penyebab aku lumpuh meskipun memang beresiko. Setelahnya aku akan mengembalikan dia ke kantor polisi, Mami bisa nolongin aku kan?"
***
Hanum menatap sang anak yang kembali murung dan tak mau ikut bermain bersama teman-temannya. Anak itu lebih banyak diam di dekat sang ibu yang tengah bekerja.
"Ibam, sakit, Bu Hanum?" tanya salah seorang pengajar.
"Agak demam, Bu. Kemarin saya ajak dia kepasar jadi capek dan tidak nyaman," jawab Hanum mengusap rambut sang anak yang duduk di sebelahnya.
"Oalah pantes murung. Lekas sembuh anak ganteng."
Sampai tiba waktunya pulang, suasana hati Ibam masih sama. Ditawari makanan gak mau, ditawari jajan pun menolak. Dia hanya duduk di teras rumah tempat tinggal Kean.
"Om ken-nya lagi kerja, nanti kalau sudah pulang Ibam bisa main lagi sama Om ya. Tuh gordennya aja masih tutup." Hanum masih sabar membujuk putranya, "Bam."
"Nda, Ibam mau punya ayah. Ayo beli ayah Nda."
***
Kean kembali ke kontrakan saat hari sudah gelap. Dia tidak langsung masuk dan memilih menunggu di kejauhan. Memperhatikan tempat yang ditunjukan Hanum semalam.
Pukul sepuluh orang yang ditunggu belum terlihat. Pukul sebelas juga sama . Pukul setengah satu dia melihat bayangan menyelinap ke sana.
Saat mengetahui Kean datang, orang misteri itu segera melarikan diri. Terjadi aksi kejar-kejaran di kegelapan malam. Keang sengaja tidak berteriak agar tidak memancing keributan. Dia yakin kalau dirinya bisa menangkap orang tersebut.
Dengan gerakan cepat dan ketangkasan tubuhnya, Kean meloncat dan menedang punggung orang itu sampai dia jatuh dan tidak lari lagi.
__ADS_1
"Lo gak bisa lari dari gue, Bang***" Kean menarik penutup kepala orang tersebut. Saat penutup kepala itu lepas ternyata orang itu adalah orang yang dia cari selama ini.
Siapa dia dan apa keterkaitannya antara Kean, Hanum dan orang itu?