Kean Hanum

Kean Hanum
episode empat belas


__ADS_3

"Kean anak siapa ini?" tanya Leela dengan ekspresi cemas.


"Anak tetangga, Mam. Namanya Ibam, Ibam ini rumah Om Ken, dan perempuan cantik ini Mami-nya Om Ken."


Iban turun dari gendong Kean dan menghampiri Leela yang tersenyum, menyalami penuh rasa hormat. Padahal tidak ada yang memerintah dia.


"Namaku Ibam, Mami Om Ken."


"Salam kenal, Sayang. Mami Om Ken senang bertemu anak ganteng seperti kamu," balas Leela mengusap rambut Ibam.


"Mbak!" Kean memanggil salah satu pelayan untuk menemani Ibam bermain, juga berpesan agar Ibam dijamu makanan enak. Dia sendiri masih berbincang dengan Leela.


"Papi, kerja?" Kean menatap sang Ibu yang masih menatap langkah Ibam yang menjauh bersama salah satu pelayan.


"iya, kamu tahu aja jam di mana papi kamu tidak di rumah." Leela menoleh pada sang anak yang selalu tersenyum manis pada dirinya. Kean seperti memainkan dua peran dalam satu jiwa.


"Menghindari pertengkaran, Mi." Kean mengelak sambil tertawa.


"Mi!" Terdengar suara Andra bersama pintu yang dibuka. Dia terlihat panik menuju kamar di mana Kia yang tengah hamil ada di sana.


"Ada apa, Kak?" Leela mengikuti langkah sang anak begitu juga Kean mengikutinya dari belakang.


Mereka tiba di kamar dan melihat Kia yang tengah meringis menahan sakit ditemani asisten pribadinya.


"Sayang." Anda menghampiri istrinya.


"Kia." Leela duduk di sebelah sang menantu membantu mengusap punggungnya untuk meredakan rasa sakit yang tengah ditanggung Kia


"Kok pulang? Kan aku bilang gak papa," balas Kia namun jelas wajahnya memperlihatkan jika dirinya tengah menahan sakit.


"Aku khawatir sama kamu. Kita ke dokter lagi ya," kata Andra menatap cemas wajah sang istri yang mulai berkeringat.


"Mami setuju, ke dokter aja ya takutnya mau lahiran sekarang. Mbak keperluan Kia sudah disiapkan?"


"Sudah, Nyonya," jawab Nadya asisten pribadi Kia.


Semua itu tak luput dari perhatian Kean yang berdiri di pintu. Dia membayangkan bagaimana sakitnya Hanum saat harus menjalani kehamilan seorang diri. Tanpa tanggung jawab darinya juga kasih sayang dari keluarganya.


"Ke, Mami antar Kia dulu. Kamu jangan kemana-mana sebelum mami pulang." Leela berpesan pada sang anak sebelum masuk ke dalam mobil yang sudah siap.


Kean mengangguk, setelah itu dia masuk ke dalam rumah dan menemui Ibam yang tengah bermain dengan mainan milik Leo.


"Ibam happy?"

__ADS_1


"Happy sekali, Om Ken," balas Ibam mengangguk semangat.


***


Hanum yang tengah mengerjakan tugas melirik ponsel. Tadi dia sempat berpikir untuk menanyakan keadaan Ibam pada Kean. Namun dia terkekeh saat mengingat ternyata tidak memiliki nomornya.


"Bu Hanum, dipanggil Umi. Katanya ada tamu yang ingin bertemu Bu Hanum." Salah satu pengajar yang menyampaikan perintah Umi Rukoyyah.


"Tamu?" Hanum bangkit dan menghampiri pengejar yang membawa berita.


"Iya silahkan, Bu."


Sepanjang melangkah ke tempat seseorang yang tengah menunggunya, Hanum terus berpikir. Siapakah yang datang dan ingin menemuinya. Semoga tidak membawa dampak buruk bagi dirinya, begitu Hanum merapalkan doa di dalam hati.


"Hanum, masuk, Nak!" kata Umi Rukoyyah setelah mendengar ucapan salam dari Hanum.


Di ruangan tersebut selain ada Umi Rukoyyah juga suaminya, ada juga seorang pria yang posisinya membelakanginya kedatangan Hanum.


Hanum mengangguk kemudian melangkahkan kaki ke tempat duduk yang dipersilahkan. Ketika bobot tubuh sudah mendarat Hanum begitu terkejut dengan kedatangan seorang pria yang pernah memberi kenangan manis namun menghapusnya dengan luka penghianatan.


Dua tatapan bertemu. Satu tatapan penuh rindu dan satu lagi tatapan penuh rasa rasa gamang. Untuk apa pria itu mendatanginya


"Bisa saya bicara berdua saja dengan Hanum," pinta Kaif pada Umi Rukoyyah dan suaminya.


"Hanum, ini masalah pribadi." Kaif menatap Hanum yang tidak mau menatapnya. Hanum lebih banyak menunduk atau menatap ke arah lain.


"Kamu bisa memilih kalimat yang tepat agar tidak membuat dirimu malu sendiri."


Kaif menghela nafas panjang menatap Abah juga Umi. Setelah bertemu dengan Hanum di pasar beberapa hari lalu, Kaif mencari tahu tempat tinggal Hanum. Dia belum memberi tahu orang-orang rumah tentangvkeberadaan Hanum. Padahal Virdha sering kepergok tengah mennagis merindukan anaknya.


"Saya diminta untuk membawa Hanum pulang, Abah, Umi. Kakaknya sakit dan ingin bertemu dengan Hanum. Jika diijinkan saya harus membawanya hari ini."


Hanum melengos, lagi-lagi tentang Amira Shanum. Saat perempuan itu sakit, mereka mencari dirinya namun saat dirinya sakit adakah di antara mereka yang peduli dan mencarinya.


"Hanum bagaimana?" Abah menatap perempuan yang tiga tahun lalu di bawa istrinya dalam keadaan hamil dan tidak stabil. Beliau mengetahui semua itu dari cerita sang istri.


"Saya tidak akan meninggalkan pekerjaan saya, Abah." Artinya Hanum menolak pulang apalagi jika harus satu mobil dengan Kaif. Pria yang jelas-jelas telah membuat dirinya malu ketika berada di pasar. Untung saja saat itu ada Kean.


Kenapa jadi dia.


Abah mengangguk kemudian menatap Kaif, "Hanum memang tidak akan meninggalkan pekerjaannya, Pak Kaif tapi saya yakin dia tidak akan mengabaikan saudaranya."


Kaif mengangguk kemudian menatap Hanum sejenak sebelum kembali menatap Abah. "Saya sangat berharap Hanum mau pulang. Kami di rumah sangat merindukan kehadirannya."

__ADS_1


Hanum yang teguh dengan pendirian membuat Kaif menyerah untuk membawanya pulang. Pria itu pulang dengan tangan kosong. Pendirian Hanum tidak bisa digoyahkan dengan kalimat Amira sakit.


Setelah mengantar Kaif sampai ke mobil, Umi Rokoyyah menemui Hanum sedangkan suaminya kembali mengajar.


"Menurut Umi apa keputusanku salah?" Hanum menatap wajah teduh perempuan yang telah menolongnya.


"Enggak, itu hak kamu menolak, Nak. Tapi kalau umi boleh saran, pulanglah dulu. Jenguk saudaramu, itu lebih penting dari pada api yang membakar rasa di dalam dada. Padamkanlah api kemarahan itu, Nak, sebelum ia menguasai dan mengendalikan dirimu."


Hanum mengangguk kemudian kembali ke pekerjaannya.


***


Kean menatap jam dinding yang sebentar lagi menunjukan pukul 12:00. Sang Ibu meminta dia menunggu namun Kean tahu kalau sekarang sudah memasuki jam-jam rawan di mana ayahnya akan pulang untuk makan siang. Itu salah satu kebiasaan Bimo setelah jatuh cinta pada Leela.


Bahaya kalau dirinya masih di sana sebab kemungkinan akan bertemu itu lebih besar. Dari pada kembali menciptakan keributan, Kean memutuskan kembali ke kontrakan padahal Ibam masih senang bermain di sana.


"Kapan-kapan kita akan main lagi ke sini ya," kata Kean saat mereka sudah berada di dalam mobil dan memasangkan seatbel untuk Ibam.


"Janji ya, Om."


Kean mengangguk tersenyum dan segera menjalankan mobil. Saat pintu gerbang terbuka dan mobil sudah melewati pintu gerbang, di saat yang sama mobil Bimo hendak masuk ke dalam.


"Shiiit," umpat Kean saat melihat sang ayah turun dan menghampiri mobilnya. Niat menghindari malah kini berpapasan.


Sebelum Bimo sampai di mobilnya, Kean sudah menginjak gas lebih dulu membuat mobil melaju cepat.


"Kejar dia!" titah Bimo pada pengawalnya hingga terjadi aksi kejar-kejaran antara anak dan ayah. "Jangan sampai lepas."


"Aku senang kalau kayak gini. Udah lama gak balapan," kekeh Kean menoleh pada Ibam yang malah tertawa.


"Ayo, Om, kejal mobil itu," teriak Ibam sambil bertepuk tangan dan menunjuk beberapa mobil yang ada di depan mereka.


***


Cuaca yang mulai teduh dari teriknya matahari, sepoi angin menerpa tubuh yang tengah berjalan pulang menuju rumah.


Hanum tengah memikirkan kalimat Umi Rukoyyah tadi yang mengatakan dirinya harus pulang. Menyambung tali silaturahmi itu lebih baik daripada mengedepankan ego dan amarah.


Saat menoleh ke pesawahan, Hanjn melihat sepasang kekasih tengah bercengkrama sambil duduk di sebuah saung yang terbuka. Mereka tampak bahagia mengingatkan Hanum pada momen dirinya dengan Kaif.


Mereka pernah begitu saling menyayangi, saling memberi kabar. Berbincang melalui telepon berjam-jam sebelum tidur hingga ketiduran pernah mereka lakukan. Berbagi kisah sakit juga bahagia saat bersama.


Saat teringat momen lama ada perasaan ingin mengulang namun dalam keadaan halal. Namun entah siapa lelaki yang harus dia pilih. Mereka yang mengajukan taaruf tidak tahu buruknya Hanum dahulu. Andai mereka mengetahuinya, akan kah mereka tetap menerima. Kalimat-kalimat sepeti itu yang selama ini ada di pikiran Hanum.

__ADS_1


Kean.


__ADS_2