
Niat Kean selain mendekati Hanum, dia memang tidak bisa keluyuran bebas sekarang. Polisi pasti sedang mencari dirinya dengan Hans. Jadi dia tidak bisa menggunakan ponsel atau ATM dan kartu lainnya.
Meski merasa jengkel, Hanum masih berbaik hati memberikan makanan pada Kean tetapi tetap tak mengizinkan orang asing masuk ke dalam rumahnya.
"Berhasil?" tanya Hans saat Kean datang membawa dua piring Mie instan bersama nasi ditambah lauk seadanya.
"Enggak."
"Dia kayak nutup diri banget ya dari orang asing. Apa lagi pria macam kita. Kayaknya dia mengalami trauma entah disakiti atau dilecehkan."
Kean tersedak saat mendengar ucapan Hans dan menghentikan suapan nasi ke mulutnya. Dia termenung untuk beberapa saat lalu kembali melanjutkan makan.
Keesokan harinya Kean melambaikan tangan pada Ibam yang lebih dulu menyapanya.
Semalam anak kecil itu sempat mengintip apa yang dilakukan ibunya sampai bolak-balik membuka kunci pintu.
"Mau berangkat sekolah?" tanya Kean berjongkok di hadapan Ibam. Sekarang dia lebih sering menggunakan penutup kepala untuk berjaga-jaga. Hans benar-benar merepotkan dirinya.
Ibam menggelengkan kepala, "mau beli mainan."
"Baaaaam," terdengar panggilan dari Hanum di dalam rumah. Bukannya meyahuti sang ibu, Ibam malah sembunyi di balik punggung Kean.
"Kenapa sembunyi?" Kean ikut berbalik badan.
"Shuuut!" Ibam menutup bibir Kean menggunakan tangannya yang mungil membuat Kean terkekeh.
"Baaam, ayo nak. Kita bisa ketinggalan angkutan." Hanum pikir kalau putranya masih di dalam kamar. Saat dia cari ke kamar ternyata tidak ada. "Ibaaam, gak lucu nak. Baaam"
Hanum panik dan berlari ke luar, "maaf, lihat Ibam?" dia bertanya pada Kean yang membelakanginya.
Tubuh Kean yang besar tentu bisa menutupi tubuh Ibam yang kecil.
Kean memberi isyarat kalau orang yang dicari Hanum ada di hadapannya. Ternyata Ibam malah tertawa sambil memeluk Kean. Hal tersebut mengoyak kembali perasaan Hanum. Wajahnya langsung berubah muram, merasa bersalah karena sang anak tak pernah merasakan kasih sayang dari sosok yang disebut ayah.
"Maaf, Ibam hanya menggunakan tubuh saya untuk sembunyi," ujar Kesan saat menatap ada luka di sorot mata Hanum.
Hanum membalas dengan anggukan lalu meminta putranya untuk mendekat dan berangkat.
__ADS_1
"Mau saya antar?" Kean menawarkan diri, "ya anggap saja sebagai ucapan terima kasih karena semalam kamu sudah menolong saya dan teman saya dari kelaparan."
Hanum tetap menolak namun Kean mengikuti dari belakang dan memilih angkutan yang berbeda tapi dengan tujuan sama.
***
Kaif- mantan kekasih Hanum yang kini menjadi suami Amara Shanum dan juga seorang arsitek,tengah memonior pembangunan di daerah yang dekat dengan pasar.
Saat menoleh ke jalanan dan melihat Hanum turun dari angkutan. Dia segera menghampirinya. Tak dipungkiri ada rasa rindu yang sewaktu-waktu mendera dirinya. Pernikahan dengan Amara berjalan baik, meski katanya tidak ada cinta namun mereka saling memenuhi kebutuhan masing-masing termasuk kebutuhan biologis. Mereka bersikap sama dengan pelaku rumah tangga yang didasari cinta.
"Hanum!"
Hanum menolah saat mendengar namanya di panggil, saat menoleh dia tak menyangka akan bertemu Kaif di sini.
"Beneran Hanum kan?" tanya Kaif yang langsung memeluk Hanum.
Risih dengan tingkah Kaif, Hanum segera mendorongnya menjauh. "Tolong jangan seperti itu lagi. Aku gak nyaman."
Kaif malah tersenyum menatap Ibam yang kebingungan lalu kembali menatap Hanum.
"Dia?" tanya Kaif.
"Kamu berubah Hanum, padahal aku sangat merindukan kamu." Kaif mengutaran isi hatinya yang merasa tidaknnyaman dengan perubahan Hanum.
"Jaman saja berubah."
"Kenapa harus kabur dari rumah? Andai kamu ingin membesarkan anak ini aku siap membantu kamu. Aku juga siap jadi ayahnya."
Hanum menatap tak suka dengan pernyataan sang mantan dan memilih meninggalkannya. Namun bukan Kaif jika dia melepaskan begitu saja. Dia mengejar Hanum dan mendekapnya erat, menyudutkannya ke dinding toko orang lain membuat Ibam merasa tidak nyaman.
"Nda," rengek Ibam yang mulai takut.
Tangan yang nganggur Hanum gunakan untuk menampar Kaif. "Jangan jadi orang gila, Kaif. Kamu adalah suami kakakku." Hanum masih mengontrol suaranya agar tidak membuat kegaduhan di tempat ramai.
"Aku gak mencintai dia. Aku maunya cuma kamu, Hanum. Aku gak peduli kamu bekas orang lain. Aku ikhlas menerimanya. Ayo kita kembali merajuk mimpi yang tertunda." Kaif memegangi pipi yang terasa panas karena tamparan Hanum.
"Nda." Ibam kembali merengek.
__ADS_1
"Cukup di sini jangan ngikutin aku. Kita sudah usai," tekan Hanum lalu menarik tangan putranya meninggalkan Kaif yang menatapnya. Akan tetapi Kaif bukan tipe diam orang yang diam saja. Dia kembali mengejar Hanum namun di hadang oleh Kean.
"Minggir, Anda tahu apa-apa jadi gak perlu ikut campur."
"Anda salah justru saya tahu siapa anda. Saya tidak suka melihat perempuan diganggu apa lagi di depan anaknya."
"Bukan urusan Anda, Dia adik ipar saya dan dia harus kembali ke rumah jadi siapa anda ikut campur urusan kekuarga kami."
Kean mencebik, "Lihat! dia aja gak nyaman." Kean menggunakan isyarat mengusir Kaif.
"Anda gak berhak mengatur saya-"
"Tapi saya berhak melindungi orang penting dalam hidup saya," balas Kean.
Kaif mencibir dan tersenyum sinis. "Memangnya apa posisi anda di mata Hanum? Saya tahu persis selera dia bukan orang kayak anda."
Kean berdeham lalu mengulurkan tangan, "Calon suami Hanum."
Hanum yang belum jauh dan sempat melihat itu langsung melebarkan mata. Bisa-bisa dia mengikuti sampai ke pasar, begitu pikir Hanum.
"Anda mantan, saya masa depan," kata Kean lagi dengan percaya diri. Dia menghampiri Hanum dan berbisik, "jangan banyak tanya atau dia akan mengejar dan mempermalukan kamu seperti tadi."
Kean mengangkat Ibam dan melakukan hifive.
Ucapan Kean benar, untuk saat ini sepertinya Hanum perlu pura-pura. Meskipun jelas dia merasa tidak nyaman berdekatan dengan tetangga barunya itu.
Sambil mengitari pasar dan mencari keperluan dapur, Hanum sesekali memperhatikan Kwan yang terlihat akrab dengan anakanya. Kean memperlakukan anaknya dengan baik. Sampai Hanum selesai belanja Ibam tak pernah turun dari gendongan Kean dan sekarang anak itu malah terlihat nyaman tidur sambil memeluk erat leher Kean.
"Tahu kok aku ini ganteng," ujar Kean saat ekor matanya menangkap Hanum tengah memperhatikan dirinya.
Hanum tak membalas.
"Kalau masih mau natap gak usah pura-pura gitu mumpung masih bebas belum ada yang punya," kata Kean dengan nada menggoda.
"Gak sopan," ketus Hanum berjalan lebih dulu membawa belanjaannya.
"Hei jangan berjalan di depanku, aku gak kuat dengan godaannya. Tolong berjalan di sampingku saja."
__ADS_1
"Makanya itu mata di jaga," kata Hanum kesal.
"Susah, pesona kamu terlalu indah untuk diabaikan."