
"Yey ayah pulang. Nda ayah pulang Nda," Ibam berlari ke dalam rumah memberi tahu Hanum yang tengah sibuk memilih sayuran di dapur. Beberapa hari lalu dia di rawat di rumah sakit dan baru pilang ke rumah kemarin sore. Sejak kemarin dia belum bertemu Kean. Hari ini dia melihat Kean datang membawa mobil mainan yang besar persis seperti yang dia lihat waktu dibawa ke rumah Kean.
"Gak boleh lari-lari. Ngasih tau bundanya kan bisa jalan pelan ya," kata Hanum lembut seraya melangkah ke depan.
"Hay jagoan," sapa Kean merentangkan tangan setelah menurunkan mobil mainan yang dia bawa. Ibam sendiri langsung berlari memeluknya sebentar kemudian emnatao mainan yang ada di hadapannya.
"Ini punya, Ibam?" Bocah itu menatap gantian pada mobil mainan juga Kean.
"Iya, ini untuk Ibam tapi harus mau minum obat." Kean mengangguk mengusap pucuk rambut putranya.
"Tapi ..., em Ibam udah cembuh. Iya kan, Nda?" Ibam menoleh pada Hanum. Mata berkedip lucu, disertai pipi kulit putih yang tengah memerah terkena sinar mata hari sore.
"Iya, sudah sembuh," balas Hanum tersenyum, "dapat dari mana? itu kan bukan mainan murah loh?" Sebenarnya Hanum tidak perlu bertanya jika mengingat Kean yang dia kenal sekilas dulu. Akan tetapi rasa penasaran tak mampu menahan ia untuk bertanya.
" ya kalau bukan hasil nyuri pasti rampok," kekeh Kean mendudukan Ibam pada pada mainan itu dan menyalakan mesinnya.
Hanum mendelik karena jawaban Kean sama sekali tak pernah ia prediksi.
"Minum dulu!" Hanum menyodorkan botol minuman Ibam juga menyediakan air untuk Kean yang sudah duduk di kursi kayu sebelahnya setelah bermain dengan mainan baru.
"Kalau begini serasa tengah dilayani istri," kekeh Kean mengedipkan mata sebelum menerima gelas yang disodorkan Hanum.
"Kamu kemana aja setelah dua hari menghilang. Semedi ya buat biar dapat uang untuk beli ini," kata Hanum bercanda mengalihkan percakapan. Sebenarnya dia tak perlu bertanya dapat mainan itu dari mana. Jika Kean memang serius pada dirinya dia ingin pria itu terbuka.
"Semedi itu hasilnya lama sedangkan aku cuma punya waktu satu hari. Jadi yang paling cepat adalah merampok di rumah pejabat korup. Mau ikutan?" Kean masih memberikan jawaban yang sama.
__ADS_1
Hanum berdecak, "kamu itu kalau di tanya jawabannya gak pernah serius," katanya dengan nada kesal.
Kean memangku Ibam untuk duduk dipangkuannya.
"Karena yang serius itu niat menikahi kamu," balas Kean menatap dalam pada Hanum.
***
Malam harinya Hanum dan Ibam diajak makan malam di luar. Kean membawa mereka ke salah satu kedai yang menjual makanan laut. Sebuah kedai yang aru buka dan masih menyediakan banyak diskon.
"Aku maunya makan ayam itu," rengek Ibam mogok langkah karena maunya makan ayam kriuk cap bapak-bapak tapi Hanum tak memberinya izin. Bukan soal harga, hanya saja Ibam baru keluar dari rumah sakit dan menurut Hanum itu belum baik untuk kesehatan. Perempuan itu lagi-lagi hampir kewalahan jika putranya tengah merajuk di tempat umum seperti ini. Untung sekarang dia tidak sendiri mengatasinya.
"Nanti kita beli ayamnya-,"
"Kean!" Hanum menggelengkan kepala menolak ucapan Kean tapi malah ditanggapi senyum dan kedipan mata.
"Iya nanti kita beli tapi jangan ketahuan sama Bunda." Kean berbisik membuat Ibam tersenyum girang sedangkan Hanum memicingkan mata.
Setelah drama Ibam, mereka kini duduk di sebuah meja menunggu pesanan mereka yang tengah disiapkan. Namun kedatangan seorang pria menjadi penggangu kesenangan mereka. Dengan tidak tahu dirinya pria itu menarik salah satu kursi dan duduk bergabung di sana tanpa meminta izin.
"Aku pikir kamu sudah tak menyukai makanan laut lagi, Num?" kata Kaif menatap Hanum. Dia merasa tak perlu izin toh dia duduk dihadapan orang yang dikenal.
"Sah-sah aja kan kalau aku masih suka seafood. Gak ada aturan yang melarang juga. Repot banget kamu ngurusin hidup orang lain," balas Hanum sinis. Dia benar-benar tidak pernah mengharpakan akan bertemu mantan kekasihnya di tempat ini. Kata Kean tempat ini baru dibuka jadilah dia mau pergi. Kalau tahu di tempat ini akan bertemu Kaif, dia lebih memilih mengikuti permintaan putranya.
"Kamu ngasih tahu dia kalau seafood adalah makanan favorite kamu? Ah kita," ralat Kaif mengalihan ratapan pada Kean. "Dulu Hanum tidak suka seafood tapi setelah saya mengajaknya makan seafood pertama kali, makanan ini jadi makanan favoritenya. Kamu harus sering-sering ajak dia makan ditempat seperti ini.
__ADS_1
"Ah kalau kamu tidak punya banyak referensi restauran seafood yang enak nanti saya kasih tahu. Hanum pasti bahagia mengunjungi tempat-empat yang pernah kita kunjungi bersama," lanjut kaif yang tidak ditanggapi oleh Kean. Kaif adalah tipe manusia yang tidak mau mengerti keadaan orang lain. Padahal dua orang dewasa di sekitarnya sudah menujukan rasa tidak nyaman atas kehadiran dirinya.
"Well sepertinya kalian sudah lapar silahkan nikmati makanannya. Kalau mau nambah lagi boleh, kalian tamu ekslusive jadi tak perlu bayar." Kaif sudah mengatakan seperti itu tapi tak kunjung beranjak.
Makanan sudah dihidangakn di atas meja, Kean langsung menikmatinya. Sesekali dia menyuapi Ibam.
"Cobain ini!" Kean menyodorkan daging kepiting yang yang sudah dibersihkan dari cangkangnya. Kedipan serta gerak mata menjadi kode bahwa dia harus menerima suapan dari tangan Kean langsung. "Gimana rasanya?"
"Emm, enak banget ini. Mau lagi." Hanum berkata dengan nada manja. Kaif sampai mendelik kemudian bangkit meninggalkan mereka. Hatinya terbakar oleh api cemburu. Dia yang mendekat dia juga yang terbakar.
***
"Sepertinya kita diikuti, Pak," ujar Galuh-pengawal Bimo yang memperhatikan kaca spion dari tadi.
"Iya kah?" Bimo menoleh ke belakang. Benar saja di belakang mereka ada empat motor yang mengikuti. "Coba pelan," kata Bimo pada sopir.
Keempat pemotor itu seperti tahi kalau orang yang mereka ikuti mulai curiga. Satu persatu motor melesat melewati mobil yang ditumpangi Bimo. Mereka terlihat seperti tengah balapan.
"Tetap waspada," kata Bimo meskipun motor itu terlihat melaju kencang dan tak terlihat lagi.
Namun saat mobil mulai memasuki kawasan sepi, keempat motor tadi terlihat lagi di belakang. Bahkan memepet agar mobil berhenti.
"Cari mati mereka, Pak," kata Galuh menyingkilkan lengan tangan. Galuh memberi kode agar kedua anak buahnya turun lebih dulu dan langsung mendapat serangan.
Galuh sendiri masih di dalam mobil menunggu salah satu dari mereka mendekati mobil. Saat sudah dekat, pintu mobil langsung di dorong keras hingga membentur kepala dan membuat salah satu lawan terjungkal. Dengan gerakan cepat dia turun dan menyerang orang tersebut.
__ADS_1
Empat o lawan tiga. Salah satu dari mereka mendekati mobil karena tahu sasaran masih di dalam mobil. Dia membuka paksa pintu namun langsung mendapat hantaman pada bagian dada yang dilakukan oleh Bimo.
Saat Bimo hendak kembali menyerang. Sebilah benda tajam langsung disodorkan padanya.