
Setelah termenung cukup lama, Hanum memutuskan ke luar dari rumah itu. Dia membawa pakaian secukupnya namun identitas tentu tidak akan ketinggalan.
Saat baru kaluar dari kamar dan melewati dapur, tangannya ditarik oleh Kaif hingga kini posisinya seperti tengah berpelukan.
"Lepas!"
"Enggak, kamu mau pergi kan dari rumah ini?"
"Bukan urusanmu. Lepas atau aku teriak?"
"Apa hal seperti itu yang menjadi pelarian atas patah hati kamu?" tanya Kaif belum melepaskan pelukannya meski Hanum tengah meronta.
Tidak kehabisan akal, Hanum mengangkat lututnya hingga mengenai senjata Kaif. Otomatis hal itu membuat Kaif melepaskan dirinya. Tanpa menoleh lagi Hanum meninggalkan mantan kekasih yang kini menjadi iparnya.
Tempat pertama yang Hanum tuju adalah rumah sakit. Kemarin dia sempat melakukan pemukulan yang cukup keras pada kepala bagian belakang pelaku. Saat terluka parah, maka rumah sakit adalah pelarian orang itu. Selain itu dia juga akan melakukan visum untuk bukti laporan kepolisi.
"Maaf, Mbak. Banyak sekali pasien yang dibawa kemari dan mengalami cedera kepala bagian belakang. Mungkin mbak bisa menyebuykan siapa nama pasien agar kami mudah untuk membantu anda," kata petugas menjawab pertanyaan Hanum.
Tidak puas dengan informasi itu, dia hanya memgangguk kemudian menemui dokter yang sebelumnya sudah membuat janji. Setelah hasilnya visum ke luar, dia segera membuat laporan ke kepolisian.
Di saat yang sama, orang tuanya datang ke sana. Hanum hanya memeluk ibunya. Dengan ayahnya dia begitu kaku.
Laporan Hanum mulai diproses. Mereka segera melakukan pemeriksaan ke tempat kejadian. Namun mereka menemukan jalan buntu. Di tempat kejadian mereka tak menemukan bukti apa pun. Tempat itu bersih bahkan hanya sekedar untuk menemukan sidik jari.
"Gak mungkin pak. Apa bapak tidak menemukan sidik jari saya juga?"
"Maaf sekali, sepertinya kasus anda dilakukan oleh orang yang memang memiliki rencana terperinci. Sepertinya dia sudah memperhitungkan hal ini," kata salah satu petugas kepolisian.
"Cctv?" tanya Ali.
"Maaf, Pak. Dalam Cctv kami juga tidak melihat orang yang mencurigakan."
"Gak mungkin," gumam Hanum tak percaya.
__ADS_1
Pihak kepolisian mengatakan akan memberikan kabar jika mereka menemukan bukti lanjutan. Hanum bersama orang tuanya kembali ke rumah. Bukan ketenangan yang dia dapat, lagi-lagi dia harus melihat pemandangan yang menambah luka pada perasaannya. Jika terus seperti ini, kapan dia akan sembuh. Ibarat kata dia akan selalu mendapat taburan garam di atas luka.
Belum lagi dengan sikap sang ayah yang seolah tidak percaya pada dirinya. Hal yang selalu dipentingan orang itu adalah harga diri dan nama baik keluarga. Maka keputusan besar telah Hanum ambil. Dia akan keluar dari keluarga ini agar ayahnya tidak merasa terbebani dengan keberadaan dirinya.
Kamar selalu menjadi tempat yang paling nyaman saat ini. Dia hanya bertemu dengan keluarganya saat berkumpul di meja makan. Segala aktifitas dia lakukan di dalam kamar.
Ada yang berbeda pada tubuh Hanum pagi ini. Dia merasa dirinya sedang tidak baik-baik saja. Sejak kemarin dia merasakan kepalanya keliyengan ditambah perut serasa begah padahal buang air masih lancar.
Dia berpikir bahwa ini adalah efek stress yang memicu asam lambung kembali naik. Namun ketika menyadari ini adalah hari ke sepuluh setelah kejadian, dia menjadi ragu. Benarkah ini karena asam lambung, atau di dalam rahimnya telah tumbuh bakal generasi dirinya.
Astaga, jangan! Aku mohon jangan hadir.
Virdha mendengar lapor dari asisten rumah tangganya yang mengatakan bahwa Hanum mual-mual sejak kemarin. Dia pun menghampiri sang anak yang sekarang lebih betah di dalam kamar.
"Num?"
Yang dicari tengah berdiri di depan washtafel.
"Enggak ma, aku baik-baik aja. Mungkin ini efek stress aja," ujar Hanum seraya mengusap wajahnya menggunakan handuk.
"Tapi mama khawatir. Ke dokter ya."
"Ma?"
"Num? Apa pun hasilnya mama akan menerima. Kamu tetap anak mama. Tidak ada yang berubah. Semua yang terjadi pada kamu bukan kehendak yang kamu mau. Jangan takut ya."
Hanum menghela nafas tak bisa menolak lagi. Dia pun berangkat ke rumah sakit ditemani Virdha. Detik seakan berjalan lambat untuk Hanum dan ibunya yang tengah menunggu hasil pemeriksaan dari dokter kandungan.
Senyum dokter di hadapan mereka sungguh tak membuat diri menjadi tenang.
"Selamat, Bu Virdha, anda akan menjadi nenek. Hasilnya positif."
Bukan senyum bahagia yang terbit kala itu, melainkan wajah sendu karena semua masa depan Hanum tidak ada lagi yang tersisa.
__ADS_1
"Ada mama, Sayang," ucap Virdha merangkul dan menenangkan sang anak.
Ketika Virdha menerimanya dengan lapang dada, Ali justru menunjukan sikap sebaliknya.
"Gugurkan!" kata Ali saat diberi tahu keadaan putrinya oleh Virdha.
"Pa, ini akan semakin membuat Hanum menderita," sanggah Virdha tak setuju.
"Justru papa tidak ingin melihat dia menderita. Apa mama pikir dengan hadirnya anak yang tidak jelas bapaknya akan berdampak baik? Pikirkan itu! Nama baik kita, masa depan Hanum. Jika dia tidak hamil dia justru masih bisa bergerak bebas kemana pun dia mau tapi jika hamil, dia hanya akan semakin terkurung di dalam kamar. Hanum, gugurkan."
Kini Hanum berada di persimpangan yang membuat dirinya dilema. Benar kata sang ayah namun dirinya juga bukan manusia tega. Apa harus kesialan yang dialami dirinya dialami juga oleh calon anaknya. Di mana calon manusia itu tidak diberi kesempatan untuk melihat kejamnya dunia.
Ayahnya semakin mendesak Hanum untuk menggugurkan kandungan. Namun setelah dipikir masak-masak Hanum memutuskan membiarkan anak itu tumbuh dan lahir. Masa depan tidak ada yang tahu selain Tuhan. Ujian hari ini bisa jadi anugerah di masa depan.
"Jangan bodoh Hanum. Dia hanya akan menjadi penghambat untuk kamu. Kamu akan kehilangan masa depan kamu. Tidak mungkin keluarga Pak Bimo mau menerima kamu dengan anak yang tidak jelas itu."
"Papa mau menjodohkan aku? Enggak pa. Aku tidak akan menikah dengan siapa pun. Soal anak ini papa gak perlu khawatir Hanum akan merawat dan membesarkannya sendiri."
"Tapi dia akan jadi aib keluarga ini." Ali keukeuh dengan hal tersebut sedangkan Virdha tidak setuju dengan keputusan suaminya.
"Begitu?" tanya Hanum, "Papa tidak akan melihat aku." Dia masuk ke dalam kamar.
"Hanum! Hanum," teriak Ali yang tak digubris oleh anaknya.
"Aku gak ngerti sama jalan pikiran kamu, Pa," kata Virdha yang menyusul putrinya namun pintu kamar Hanum sudah tertutup.
Keputusan sudah dipikirkan matang-matang oleh Hanum hingga akhirnya dia memutuskan meninggalkan keluarganya. Dia sudah tidak nyaman lagi berada di sana.
Hampir subuh saat dia memutuskan untuk meninggalkan rumah. Dia pergi ke stasiun dan mulai meninggalkan kota yang selama ini menjadi tempat dia bertumbuh.
Sampai di kota tujuan, Hanum segera melakukan penarikan uang untuk menghindari keluarganya. Dia melakukan penarikan yang cukup banyak agar keberadaan tidak mudah terlacak. Entah ke mana sekarang dia akan menuju. Hatinya hanya mengikuti langkah kaki.
Dari saku jaket yang dikenakan, Hanum mengeluarkanJam tangan yang ditinggalkan pelaku yang tidak diserahkan kepada polisi. Itu hanya jam tangan murah, andai itu jam tangan mahal maka akan mudah menyusuri siapa pemiliknya.
__ADS_1