Kean Hanum

Kean Hanum
Episode dua puluh dua


__ADS_3

Hanum tiba di rumah sakit setelah menemui ayahnya. Pemandangan manis yang dia lihat saat membuka tirai kamar rawat adalah saat melihat Ibam tidur di dada Kean. Tangan kecil Ibam menggengam erat pakaian Kean dia seperti menunjukan baha ia tidak ingin ditinggalkan.


Cukup lama Hanum membiarkan sekaligus menikmati pemandangan itu.


Sikapmu memang manis meski lebih banyak menyebalkannya. Aku tidak pernah lupa tentang kamu, pria yang penuh percaya diri dan mengatakan cinta di depan kampus waktu itu. Aku tidak yakin itu benar tentang perasaan kamu atau hanya sekedar ingin menjadi pusat perhatian para pemujamu. Yang aku tahu kamu selalu membutuhkan validasi dari orang-orang di sekitar kamu Kean.


Ternyata selama ini Hanum mengingat siapa Kean namun dia tidak tahu kalau pria tersebut anaknya Bimo. Pria yang sempat akan dijodohkan dengan dirinya andai dia tidak mengalami hal buruk waktu itu. Tapi Hanum bersyukur dengan keadaan sekarang meski sempat menyesalinya. Kehadiran Ibam menjadi warna indah dalam perjalanan hidupnya. Ibam laksana pelangi yang datang setelah hujan. Tingkah lucunya selalu jadi obat ketika Hanum merasa lelah. Tanam bunga yang sempat tandus kini mekar kembali berkat senyuman Ibam. Tuhan memang adil. Selalu ada hikmah dari setiap musibah. Selalu ada tawa setelah tangis, selalu ada rasa syukur setelah kemalangan. Fa inna ma'al-'usri yusroo (Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.)


Sudahkah kita bersyukur untuk hari ini? Untuk nafas ini, untuk senyum ini, untuk kebahagian hari ini.


Hanum langsung memalingkan wajah ketika Kean mengeliat dan membuka mata menoleh ke arahnya dan tersnyum.


"Aku pikir kamu belum pulang." Kean turun dari ranjang setelah membenarkan posisi tidur Ibam, "tadi dia sempat rewel saat mau diganti cairan infus. Takut katanya, jadi saya ikut naik eh ketiduran," kekeh Kean.


"Gak papa kamu juga pasti capek kan nemenin kita terus. Pulan gih istirahat!" Hanum menoleh pada kresek hitam yang tadi diberikan Kean padanya sebelum pergi. "Kamu belum makan?" tanya Hanum.


"Mana bisa saya makan nasi dua prosi sekaligus. Saya nungguin kamu." Kean mengambil bungkusan tersebut sambil duduk di atas lantai. Dia juga membuka bungkusan satu lagi untuk Hanum. "Ayo makan!" lanjutnya.


"Tapi saya sudah makan, Kean," jawab Hanum menatap Kean dengan perasaan bersalah telah membiarkan pria yang sudah berbaik hati ini kelaparan karena menunggu dirinya. Harusnya tadi dia menghubunginya dan meminta tidak menunggu. Kalau sudah seperti ini kan jadi merasa bersalah.


Eh, bukannya dia tidak punya ponsel ya, tapi masa jaman sekarang masih ada pemuda yang tidak memiliki ponsel.


Kean mengangguk tersenyum tak mempermasalahkan soal makanan. "Kasih ke orang lain aja kalau ada yang mau. Kalau terlalu lama di simpan nanti gak enak pas di makan."


Hanum mengangguk mengambil bungkusan tersebut dan menawarkannya pada penunggu pasien lain di sebelahnya.


Ponsel yang baru dibeli tadi pagi berdering di saku celana Kean. Segera Kean merogohnya menggunakan tangan kiri dan menggeser tombol ikon warna hijau sebelum menempelkannya ke telinga.

__ADS_1


"Ok," balas Kean singkat setelah mendengar perkataan dari orang yang menghubunginya. Gegas dia menghabiskan makanannya dan segera mencuci tangan. Dia juga meraih jaketnya kemudian pergi tapi mundur lagi karena belum pamit.


"Saya pergi dulu ya," kata Kean dengan senyum manisnya.


"Ya sudah pergi, memangnya mau kemana sih?" tanya Hanum penasaran.


"Ada sesuatu, titip anak saya ya." Sebelah mata Kean mengerling menggoda Hanum yang mendengus. Lagi-lagi membuat dirinya tertawa.


***


Hanum pulang ke rumah setelah Kean kembali ke rumah sakit dan meminta dirinya untuk istirahat di rumah. Dia menurut karena esok hari dia masih harus bekerja. Namun saat tiba di depan rumah dia melihat seorang perempuan tengah menunggu dirinya di sana.


"Kak!" Hanum menyapa perempuan yang tak lain adalah kakaknya. Amira Shanum.


"Kakak pikir kamu tidak akan pulang. Sudah hampir dua jam kakak di sini," balas Amira berdiri di hadapan adiknya.


"Memangnya ada urusan apa?" tanya Hanum sambil membuka kunci rumah serta mempersilahkan kakaknya untuk masuk. "Tadi aku juga ketemu papa, ku pikir Kak Mira tidak akan ke sini. Soalnya papa gak bilang apa-apa."


"Di minum dulu, Kak."


Amira mengambil gelas berisi air minum dan meletaknnya kembali setelah meneguk setengah isinya. Tarikan nafas kasar menunjukan ada masalah berat yang ingin dia sampaikan pada adiknya. "I have problem, Num."


Benarkan?


Hanum mengangguk mempersilahkan kakaknya bicara. Tak berniat menyela dan hanya berniat jadi oendnegar yang baik. Dari raut wajah saja dia sudah bisa menebak karena Amira terlihat begitu tertekan.


"Ini tentang Kaif, kakak, dan Kamu-"

__ADS_1


"Tunggu, Kak. Kalau yang ingin kakak katakan tentang tiga tahun yang lalu, aku sudah memaafkannya," potong Hanum yang tak ingin bermwlow ria dengan masalalu.


"Bukan hanya itu." Amira menggeleng, "Ini tentang rumah tangga, Kakak. Ada masalah dengan sistem reproduksi kakak yang menyebabkan kakak tidak bisa hamil. Sedangkan Kaif sangat menginginkan hadirnya seorang anak. Kakak datang ke sini karena berpikir kamu bisa membantu," ujar Amira pelan.


"Kaka bingung, Kaif keukeuh ingin anak yang lagi dari keturunan kita. Kamu mau kan membantu kakak?" Ammira menatap penuh harapan pada adiknya.


"Aku harus membantu dengan cara apa?" Hanum meraih tangan Amira dan menggenggamnya. Feelingnya mulai tidak enak tapi dia tetap tersenyum.


Amira menatap ragu untuk mengatakan usul dari suaminya. Dia sempat menolak setelah perbincangan dirinya dengan Kaif beberapa waktu lalu namun Kaif tetap memaksanya mengambil langkah ini meski dia sendiri berat. Akan tetapi baginya lebih berat ditinggalkan oleh Kaif yang susah payah dia rebut dari Hanum.


"Kak, katakan! Seandainya aku bisa membantu, insya Allah." Meski selama ini dia merasa diperlakukan tidak adil oleh kakak dan ayahnya, namun sisi hatinya yang lain selalu menolak untuk melihat orang lain kesusahan apalagi itu saudara sendiri. Rasa dendam dalam dadanya selalu goyah dengan rasa iba. Bukan hanya pada Amira dan ayahnya. Sifat itu berlaju pada siapa oun yang memibta pertolongan pada dirinya. Hanum ingin membuang perasaan itu tapi tidak bisa.


"Aku sama Kaif sepakat untuk meminjam rahim kamu, Num."


Genggaman tangan pada tangan Amira langsung mengendur. Hanum menarik tangannya cepat.


"Tolong kakak, Num. Please, hanya kamu yang bisa membantu kami."


"Itu ide yang sangat gila, Kak. Demi Allah itu ide paling gila." Hanum menggelengkan kepala tidak habis pikir dengan jalan pikiran kedua manusia itu. Bisa-bisanya dia meminta rahim yang hukumnya sudah jelas dalam hukum islam.


Haram hukumnya seorang pria menitipkan benihnya pada rahim perempuan yang bukan istrinya. Anak yang lahir dari sistem pinjam rahim atau surogasi memiliki hukum yang sama dengan anak yang dihasilkan dari zina. Para ulama sepakat dengan hal itu. Nasab si anak yang lahir akan bernasab pada ibunya. Pun dia tidak memiliki hubungan keterikatan pada ayahnya. Baik secara harta mau pun soal mahram. Andai anak itu lahir perempuan maka Kaif tidak akan bisa menjadi walinya. Siapa yang rugi?


"Kakak gak punya cara lain, Num. Tolong kakak."


"Ada banyak cara, Kak. Kakak bisa mengadopsi anak, membesarkan dan menyayangi salah satu anak yang memiliki nasib malang. Kakak menjadi orang tua yang tidak mereka miliki dan kakak mendapatkan anak yang tidak bisa di dapatkan. Kamu ini perempuan cerdas, Kak. Kenapa harus berpikir sependek itu." Nafas Hanum menggebu dibakar rasa marah karena keinginan kakaknya .


"Kamu gak ngerti, Num. Kamu bisa berkata seperti itu keran kamu sudah menjadi seorang Ibu. Kamu tidak akan merasakan penderitaan seperti kakak. Kakak cuma minta tolong sama kamu. Please." Amira mengatupkan tangan, turun dari sofa dan menunduk di hadapan Hanum untuk memohon.

__ADS_1


Amira merasa dirinya paling menderita. Dia tidak melihat bagaimana penderitaan orang lain. Padahal setiap manusia diberikan masalahnya masing-masing dan hanya dibedakan waktu dan penyelesaian. Orang seperti Amira akan mengatakan orang lain tidak mengerti karena tidak berada di posisinya. Andai dibalik dia berada di posisi orang lain apa dia akan mengatakan hal yang sama. Sayangnya itu tida pernah terpikirkan oleh orang-orang seperti Amira.


Tidak hanya dia tapi banyak orang yang selalu melihat kelebihan orang lain tanpa melihat kelebihan sendiri. Yang terlihat di matanya hanya kelebihan orang lain dan kekurangan diri sendiri. Berpikir harus sama dengan mereka yang lebih. Kenapa tidak berpikir harus sama dengan mereka yang kurang.


__ADS_2