Kean Hanum

Kean Hanum
Episode delapan belas


__ADS_3

"Nda, mau jajan," kata Ibam memecah lamunan Hanum.


"Ayo." Hanum bangkit dan menggandeng tangan sang anak melangkah menuju warung. Di mana di sana selain menjadi tempat belanja, juga memiliki fungsi sebagai tempat untuk berkumpul dan bergosip. Seperti sekarang ada sekumpulan ibu-ibu yang tengah sibuk mengomentari kasus yang menjerat salah satu putra pengusaha.


Ketika salah satu perempuan yang tengah bergosip itu menyebut nama Bimo, Hanum menajamkan telinga. Penasaran apa yang dimaksud adalah Bimo yang sama yang pernah disebutkan oleh ayahnya. Kalau iya Hanum sangat bersyukur karena tidak jadi dijodohkan dengan anaknya.


***


Bimo melarang siapa pun anggota keluarganya untuk menolong Kean. Sekedar menjenguk pun tidak diijinkan. Kean dibiarkan berjuang seorang diri. Dia harus bisa menolong dirinya sendiri begitu katanya.


Kean memasuki ruang interogasi untuk dilakukan BAP. Dia begitu tenang saat menghadap petugas yang akan melemparkan ratusan pertanyaan pada dirinya.


Di ruangan sebelah, Bimo juga hadir ditemani pengacara. Dia tidak menemui Kean dan memilih menyaksikan proses BAP melalui kaca hitam satu arah ditemani satu petugas yang akan mencatat jawaban Kean nantinya.


Setiap pertanyaan dijawab lancar oleh Kean. Dia juga mengatakan kalau dirinya tidak terlibat dalam transaksi apa pun yang terjadi di geng motornya setelah tiga tahun yang lalu. Dia juga tidak menyangkal ketika hasil tes urine menyatakan dirinya positif.


"Saya menang mengonsumsi salah satu obat terlarang, tapi itu karena kebutuhan juga sesuai resep dokter," kata Kean. Dia juga menyebutkan dokter yang menanganainya hingga dipanggil dan dijadikan saksi.


Dia juga ditanyai alasan melarikan Hans, serta Zidane yang ada di dalam apartemen. Kean mengatakan kalau dia membutuhkan Hans untuk mencari Zidane yang telah mencelakai dirinya dan membuat dia tidak bisa berjalan selama tiga tahun.


Zidane sendiri tidak membantah tuduhan itu. Semua demi keselamatan Alma dan putrinya. Kalau dia menyangkal khawatir Kean akan berbuat nekad.


Kean dibebaskan tapi tidak bisa kembali ke rumah. Bimo sebagai kepala rumah tangga menolak Kean pulang. Bukan karena rasa malu yang ditanggung oleh keluarganya tapi sekali lagi dia ingin mendidik anaknya dengan cara yang berbeda.


Saat keluar dari tahanan Kean tidak melihat salah satu mobil keluarga yang menjemputnya. Dia hanya melihat satu motor ditumpangi dua orang pengawal Bimo.


"Kok motor?" Kean mengerenyit bingung.


"Maaf pak Kean, saya hanya ditugaskan menyampaikan ini. Kata Pak Bimo, anda tidak boleh pulang ke rumah sampai beliau sendiri yang meminta anda pulang. Beliau juga hanya menitipkan ini."


Salah satu dari mereka menyerahkan tas berisi beberapa pakaian serta uang cash senilai sepuluh juta.


Tak banyak protes meski sempat berdecak, Kean mengambil tas itu lalu berjalan dan mengentikan taksi. Tidak perlu bingung dia masih punya apartemen. Sayangnya, tiba di sana dia ditolak petugas. Akses masuknya sudah diambil oleh Bimo.


"Papi pikir aku gak bisa hidup tanpa kemewahan," cibir Kean meninggalkan halaman apartemen. Tujuan berikutnya adalah rumah kontrakan.


Hari sudah malam saat dia tiba di kontrakan lampu-lampu rumah tetangga sebagian sudah dimatikan. Begitu juga dengan lampu ruang tengah rumah Hanum menandakan kalau penghuninya sudah tidur.


Dari pada tidur membawa perut keroncongan, Kean akhirnya memilih mengetuk pintu rumah Hanum. Padahal di tangannya dia juga membawa makanan.

__ADS_1


Hanum langsung bangun ketika mendengar pintu diketuk. Dia juga memeriksa ponsel untuk melihat jam. Sudah hampir tengah malam tapi ada yang bertamu, begitu pikir Hanum. Dia turun dari tempat tidur, segera menyambar gunting juga palu yang selalu disediakan untuk berjaga-jaga kalau-kalau pria misterius itu datang lagi.


Hanum mengendap, mengintip dari balik tirai. Yang dia lihat hanya bagian punggung karena saat itu Kean tengah membelakangi pintu. Perlahan hanum membuka kunci meski suaranya tetap terdengar. Begitu pintu terbuka bida langsung melayangakan palu.


"Ini aku," kata Kean menahan palu yang diayunkan Hanum hampir mengenai kepalanya.


"Kean?" Hanum menarik kembali palu itu, menatap Kean dari atas ke bawah. "Ngapain malam-malam?" Penampilan Kean masih sama dengan penampilan saat terkahir mereka bertemu. Bedanya sekarang lebih kucel. Hanum jadi tak yakin dengan ucapan putranya yang mengatakan Kean anak orang kaya. Lihat saja penampilan sekarang. Meskipun ditopang wajah yang tampan tapi Kean terlihat kucel.


"saya lapar," kata Kean nyelonong masuk dan duduk di sofa sederhana.


"Terus mau minta makan?" Hanum bersedekap menatap jinjingan yang dibawa Kean dan diletakan di atas meja. "Kenapa gak makan itu saja?"


"Barter, saya gak suka manis. Kecuali yang manisnya itu kamu." Kean mengerlingkan sebelah mata.


"Dih." Bukannya tersipu Hanum malah bergidik jijik.


Melihat kondisi yang sudah malam mungkin para penjual nasi di malam hari pun sudah bubar, Hanum tak jadi bersikap tega. Dia langsung ke dapur dan mengambil nasi serta lauknya. Lauk yang dimasak tadi sore masih ada sehingga tak perlu repot memasak lagi. Setelah itu dia kembali ke ruang tengah dan memberikan makanannya pada Kean. Kemudian duduk berjarak dari Kean.


Makanan dari Hanum langsung diterima, Kean sempat izin ke kamar mandi untuk mencuci tangan karena tak dibere sendok. Nasi hangat ditambah lauk ikan, sambal ada juga lalapan. Tadi sore Hanum memang masak yang simple.


"Enak," komentar Kean setelah satu suapan masuk ke dalam mulut. "Kenapa gak buka restauran aja?"


Kean menoleh pada Hanum yang diam tak menjawab pertanyaannya. Perempuan itu tengah menatap layar ponsel.


"Masakan kamu enak loh. Kalau kamu buka restauran, aku yakin bakal makan tiap hari di situ."


"Pasti," balas Hanum, "Apalagi kalau dapat makanan gratis kan?"


Kean tertawa karena Hanum dapat menebak apa yang dia pikirkan. Usai makan Kean tak langsung pindah ke rumah sebelah. Dia malah merebahakan tubuh di atas sofa sederhana yang tadi dia duduki.


"Kok masih di sini?" Hanum yang baru kembali dapur heran melihat Kean yang malah merebahakan tubuh.


"Kunci kontrakannya hilang. Malam ini aku nginep di sini ya. Besok aku minta kunci cadangan sama ibu kontrakan."


Hanum diam sejenak kemudian mengangguk. Kasihan juga kalau Kean harus tidur di luar.


***


Hanum bangun sesaat sebelum adzan subuh. Dia mandi lalu menyiapkan apa yang akan di masak. Saat adzan subuh berkumandang, dia meninggalkan apa yang hendak dimasak lalu kembali setelah solat.

__ADS_1


Saat melewati ruang tengah, Kean sudah bangun, tengah duduk sambil mengucek mata.


"Mau masak apa?" tanya Kean mengikuti Hanum ke dapur . Berdiri tak jauh dari Hanum yang berdiri di dket kompor.


"Yang simpel-simpen aja semacam nasi goreng." Tangan Hanum bergerak lincah mengupas dan memotong bahan yang dibutuhkan.


"Aku dapat jatah?"


"Ada, kalau kamu juga kerja." Hanum menoleh sejenak.


Kean menggaruk Kepala. Bingung dia harus ngerjain bagian apa, "aku bagian mencicipi aja deh," katanya sebelum menghilang di balik pintu kamar mandi. "Numpang mandi ya."


Sambil menunggu masakan siap, Hanum juga membangunkan Ibam setelah mengecilkan api di kompor. Ibam hanya menggeliat saat diminta bangun. Lama sekali untuk membuka mata.


"Ada Om Ken," bisik Hanum yang ternyata ampuh buat membangunkan sang anak. Ibam bengun tergesa, kakinya tersandung selimut untungnya masih di atas kasur. "Hati-hati dong."


"Om Ken!" Ibam langsung memeluk kaki Kean saat melihat orang yang tengah berdiri di dekat kompor. Tadi saat keluar dari kamar mandi Kean tidak melihat Hanum sedangkan kompor masih menyala. Jadilah dia membolak balik nasi tersebut dan mencicipinya. "Om Ken dali em mana aja. Aku kan jadi lindu."


"Om juga kangen," balas Kean. Berjongkok dan membalas pelukan putranya. Tak lupa dia juga mencium pipi Ibam yang gembul.


"Udah ya pelukannya, Ibam harus mandi ayo," kata Hanum yang sudah siap dengan handuk untuk putranya.


"Sama Om aja, Nda."


Untungnya Kean tidak menolak. Dia memandikan Ibam, memakaikan pakai hingga menyuapinya makan. Pagi Hanum benar-benar dibuat ringan. Berangkat kerja pun jadi semangat. Ibam tidak ikut dan memilih tinggal dengan Kean sementara dirinya bekerja.


***


Jam sudah menunjukan waktu untuk pulang. Hanum merapikan meja dan memasukan barang-barangnya ke dalam tas. Ruangan tempatnya bekerja mulai kosong hanya tersisa beberapa orang yang tengah menyelesaikan pekerjaan.


"Saya duluan ya," kata Hanum pada rekan kerja yang tersisa. Tas dia sampirkan ke pundak lalu melangkah ke luar.


"Bu Hanum!" Ummi Ruqoyyah yang menghampiri, "ada tamu yang ingin bertemu sama kamu. Sekarang lagi menunggu di rumah. Ayo!" Umi melangkah lebih dulu menuju rumahnya diikuti Hanum di belakang.


"Pria yang waktu itu lagi Ummi?" Hanum menembak kalau itu Kaif, tapi untuk apa. Bukankah dia sudah menolak pulang. Bukan mempertahankan ego, dia sudah berusaha mamaafkan dan melupakan. Tapi memang dia belum sebaik itu, karena saat sendiri rasa marah, kesal, kecewa selalu menghampiri. Menggulung jadi satu di dalam dada dan berakhir tangisan.


Dia takut meledak tak bisa mengontrol diri saat bertemu. Menurutnya perpisahan seperti ini jauh lebih baik. Biarlah rasa kecewanya melebur bersama waktu. Ketika waktunya siap dia mungkin akan kembali itu pun kalau masih diterima dan dianggap ada. Selama ini tidak ada keluarganya yang pernah datang. Entah karena tidak memukannya atau tidak mencarinya.


Setibanya di rumah Umi dan Abah, Hanum dibuat terpaku dengan sebuah pelukan dari Amira-kakaknya. Ternyata Kaif tidak datang sendiri. Ada Amira, Virdha dan Ali-ayahnya.

__ADS_1


__ADS_2