Kean Hanum

Kean Hanum
Episode Lima belas


__ADS_3

"Maaf, Pak," ujar salah satu pengawal Bimo yang mengejar Kean. Akan tetapi lagi-lagi Kean berhasil meloloskan diri.


Saat menemui perempatan dengan adanya rabu lalu lintas, Kean memperhitungkan kecepatannya dengan kecepatan mobil pengawal yang lumayan ketinggalan jauh di belakangnya. Saat lampu hijah sudah menghjtung mundur untuk berganti dengan lampu merah, Kean kembali menginjak gas menciptakan kecepatan tinggi. Tepat lampu merah menyala Kean sudah melesat jauh sedangkan mobil para pengawal harus berhenti saat tidak bisa menghindari lampu merah.


Siap tidak siaper mereka harus menerima kemarahan tuannya. Sedangkan di sana Kean tertawa puas sambil bersorak di dalam mobil.


"Cari dan bawa pulang anak itu. Dia harus bertanggung jawab atas tindakan-tindakan bodohnya," kata Bimo dengan wajah begitu marah.


Dia yang pulang dari kantor dnegan niat ingin makan siang bersama sang istri, nafsu makannya hilang seketika. Sajian mewah di atas meja untuk makan siang tidak lagi menggugah seleranya sama sekali. Amarahnya sangat menggebu seperti ingin melahap orang. Pelayan dan pengawas yang sudah mentahui tabiat sang Tuan memilih menjauh untuk menyelamatkan diri.


Bimo duduk di sofa sambil memijit dahi kemudian menghubungi sang istri dan mengatakan akan menyusulnya.


"Aku harus bertemu kamu agar marahku tidak semakin meledak, Sayang. Kamu adalah obatnya," kata Bimo setelah sang istri bertanya kenapa dan ada apa.


Bimo yang dulu sangat kaku dan dingin pada istrinya terlah berubah lembut dan selalu bersikap manis. Namun amarahnya tetap menakutkan saat meledak dan obat satu-satunya adalah Leela. Perempuan itu selalu berhasil meredakan amarah sang suami meskipun harus berakhir di atas ranjang.


***


Beberapa hari lalu Amira mengalami sakit dan harus di rawat. Namun tidak sampai diratwa lebih lama. Hanya dua hari dan dia sudah diizinkan pulan. Akan tetapi hari ini dia menyempatkan kembali cek up untuk mengetahui penyebab sakitnya. Hasilnya begitu mengejutkan. Dokter mengatakan kalau rahimnya mengalami kendala yang membuat dirinya mengalami sakit yang tiada terkira. Dokter juga mengatakan kemungkinan dirinya tidak akan bisa hamil.


Dia yang pergi ke rumah sakit seorang diri merasa bingung antara harus memberi tahu suaminya atau tidak tentang hal ini. Sedangkan pria itu mengatakan bahwa dirinya sangat berharap segera memiliki keturunan. Sejak beberapa hari yang lalu semangat Kaif untuk menyatu begitu menggebu.


Amira tidak tahu penyebab suaminya seperti itu. Entah karena harapan ingin segera memiliki keturunan atau ada perempuan lain yang membangkitkan hasratnya sehingga melampiaskan hal itu pada dirinya.


Tidak masalah karena memang itu tugasnya istri. Saat seorang lelaki yerbangkitkan hasratnya lebih perempuan di luar sana, maka segeralah pulang dan jadikan istrimu sebagai obat. Sesungguhnya dia memiliki apa yang dimilimi perempuan di luaran sana.


Keluar dari rumah sakit, Amira membelokkan mobilnnya ke kantor sang suami. Tiba di sana dia segera turun dan melangkah menuju lift khusus yang biasa digunakan para petinggi perusahaan termasuk ayah dan suaminya.


Saat pintu lift sudah terbuka di lantai yang dia tuju, Amira segera melangkah ke luar. Dia bertekad untuk memberi tahu sang suami karena tidak ingin menciptakan kebohongan di dalam rumah tangga mereka. Langkah yang tadi begitu menggebu mendadak layu saat memikirkan kemungkinan buruk dari keputusannya. Kaif bisa saja menceraikan dirinya dan mencari perempuan lain. Kemungkinan terburuk adalah kembali pada adiknya yang sekarang entah ada di mana.


"Bu Mira," sapa Asisten pribadi Kaif yang bernama Ashma. Perempuan cantik yang membuat Amira Shanum cemburu namun Kaif meyakinkan kalau dia tidak akan pernah mencintai perempuan lain. Entah dirinya yang dicintai atau Hanum-adiknya.


"Suami saya ada di ruangan?" Mira bertanya dengan gaya khasnya yang jutek apalagi pada sesama perempuan.

__ADS_1


"Ada, Bu, silahkan." Perempuan itu berjalan lebih dulu dan membukakan pintu untuk istri atasannya. Meskipun perempuan itu selalu bersikap jutek pada dirinya, tapi dia harus tetap bekerja secara profesional.


Kaif menoleh saat pintu ruangan dibuka dari luar.


"Hai," sapa Amira menghampiri sang suami yang menatapnya.


"Tumben mampir?" balas Kaif meletakan berkas yang sejak tadi dia kerjakan.


"Pengen aja, makan siang di luar yuk." Amira mengangkat sebelah tangan dan melihat waktu yang tertera pada jam tangannya.


Kaif setuju. Mereka berangkat menggunakan satu mobil yang sama ke tempat makan yang dimaksud Amira. Tiba di sana mereka memilih meja yang ekslusive dengan tujuan agar Kaif tak banyak dilirik oleh perempuan lain.


***


Setelah berhasil kabur dari sang ayah, Kean sempat mengajak Ibam bermain di playground dan pulang mendekati waktu Hanum pulang kerja. Saat dia turun dari mobil dan berjalan kaki menuju rumah kontrakan, dia melihat Hanum tengah berdiri menatap sepasang kekasih yang tengah bercengkrama.


"Dor!" seru Kean serempak dengan Ibam yang sudah berkompromi dari tadi.


"Kalian ya ampun," ucap Hanum mengusap dada karena terkejut. "Ngagetin tau gak, untung gak jantungan."


Hanum melanjutkan langkah sambil menjawab pertanyaan Kean, "ya gak apa-apa. Cuma merhatiin aja takutnya mereka kebablasan."


"Oooooh begitu bukan karena ingin mencoba?" Kean mengedipkan sebelah mata.


"Enggak," jawab Hanum tegas.


"Atau lagi mengenang masalalu. Sama siapa itu, ah Kaif ya kan?"


Hanum menghentikan langkah, menatap tajam pada menyebalkan di sebelahnya. Hanya sesaat setelah itu kembali melangkah tanpa mengeluarkan kalimat apa pun. Menciptakan hening di antara mereka.


"Bam, ngobrol dong kan kita tetanggaan," kata Kean yang sebenarnya ditujukan pada Hanum.


"Apa?" balas Ibam yang tidak mengerti maksud Kean.

__ADS_1


Perjalanan hanya di tamani celotehan Ibam yang mengatakan senang telah diajak bermain oleh Kean serta desau angin yang menerpa tubuh dan menggerakkan dedaunan di sepanjang jalan.


Kean ingin berbincang dengan Hanum meski perempuan itu selalu bersikap judes saat membalasnya. Setidaknya itu lebih baik dari pada saling diam.


"Ibam memangnya habis main dari mana?" Hanum menoleh menatap putranya yang kini berjalan diantara mereka.


"Dali lumah ayah," jawab Ibam.


Langkah Hanum berhenti saat mendengar kata ayah. Dia memastikan kalau dirinya tidak salah dengar. Ayah siapa yang dimaksud putranya. Apa dia lelaki itu. Hanum menatap Kean yang juga tengah menatapnya. Hati Hanum mulai bergemuruh, apa Kean mengetahui tentang pria itu atau memang dia adalah pelaku.


"Rumah ayah? Ayah siapa, Bam?" Hanum kembali bertanya. Penasaran dengan jawaban putranya. Apa lelaki misteri itu akan terungkap sekarang. Tangan Hanum mulai gemetar, detak jantung bekerja lebih cepat. Wajahnya memerah serta perasaan yang mulai tidak menentu. Marah dan senang akan menemukan pria itu bercampur jadi satu.


"Ayah Ken."


Deg! Hanum menatap Kean yang menatapnya tanpa ekspresi.


"Kenapa harus dipanggil ayah?" tanya Hanum setelah diam beberapa detik untuk mencerna ucapan sang anak.


Sejenak Kean mengalihkan tatapan dari Hanum pada hamparan padi yang masih hijau.


"Kean?"


"Karena aku memang ayahnya."


Hanum tidak bisa menjabarkan perasaannya saat ini. Apakah pengakuan Kean itu benar atau pria itu tengah bermain-main dengan dirinya. Jika bercanda Kenapa ekspresi Kean terlihat meyakinkan.


Ini tidak lucu. Gak mungkin dia, Num tapi ....


Hanum memberanikan menatap mata Kean untuk mencari kejujuran pria itu. Kata orang kalau ingin mengetahui seseorang berkata jujur atau tidak, maka tatap matanya saat bicara. Jika fokus mata orang itu bergerak berarti apa yang dia sampaikan dapat diragukan.


"Kean, ini tidak lucu sama sekali. Jangan mempermainkan saya."


"Saya tidak main-main. Saya memang ayahnya Ibam ...."

__ADS_1


Benarkah Kean seberani itu mengakui perbuatannya?


__ADS_2