
Matahari bersinar terang, cahaya nya menembus masuk melalu jendela kaca pesawat yang sedang kami tumpangi. Hanya ada aku, William, dan pastinya Hana. serta beberapa orang pengawal pribadi dan pelayan. Pesawat ini adalah milik pribadi keluarga Louis.
Aku bercengkerama hangat bersama hana, di sudut tersendiri duduk seseorang yang menggoyangkan gelas wine nya.
pandangan nya terhampar jauh keluar jendela. entah apa yang sedang ia pikirkan, lamunan nya terpecah dan melirik ke arah ku dengan senyuman sinis. mungkin dia sadar, aku dengan diam diam memperhatikan gerak geriknya.
Ku alihkan tatapan mata ku yang sebelum nya mengamati william pada Hana, seolah olah kami sedang mengobrol seru. aku berharap dia tak memikirkan hal yang bukan bukan.
Aku meregang kan sedikit persendian mu yang mulai kaku karna terlalu lama duduk di dalam pesawat. sudah 10 jam kurang lebih pesawat ini terbang dan akhirnya kami sampai di tempat yang kami tuju.
Kami sampai di bandara Haneda sekitar jam 8 malam, Bandara masih sangat ramai ternyata. Di dalam hati yang paling dalam, tak terbendung kebahagiaan ku karna aku sampai di tempat yang aku impikan.
Berjalan melenggang tanpa beban, hanya tas kecil menemani ku berjalan keluar dari bandara. Sudah ada mobil yang menanti kami di depan. Ya sudah pasti ini punya mereka. Apa yang mereka tak punya, ujar pikiran ku.
Semenjak kecelakaan itu, dan semenjak aku dan hana menjadi dekat. aku mulai merasakan semua kemudahan dan kesenangan dalam hidupku yang mereka berikan. namun tetap saja, ada sedikit rasa minder menggantung dalam diriku. melihat perlakuan hana yang begitu tulus, aku jadi malu pada nya.
Sesampainya di Villa milik keluarga louis di daerah onsen, kami beristirahat dengan pemandangan yang sangat indah. Begitu lepas mata memandang, juga ada pemandian air panas yang siap menepis kepenatan kami.
Aku berdiri di balkon luar ruang tamu, memandang pemandangan yang sangat indah ini, william menghampiri ku memawarkan sekaleng bir.
"kau mau?" menyodorkan kaleng
Kuterima bir itu dengan perasaan sedikit segan.
"terima kasih pak," ucapku.
"tak usah memanggil ku Pak, disini hanya ada kita berdua." William mulai bicara santai padaku.
"panggil saja William!" tegas nya lagi.
Ku buka kaleng bir itu dan meneguk nya perlahan. William memperhatikan ku.
"Kau bisa minum ternyata" ucapnya memulai obrolan lagi.
"sedikit pa.. ee william." jawabku terbata bata.
"aku terkejut, ku kira dengan wajah mu yang selalu malu dan hormat pada ku, kau tak pernah merasakan alkohol." sambung nya.
__ADS_1
Aku mulai memberani kan diri menjawab nya tanpa ragu.
"tentu saja aku harus terbiasa dengan alkohol, aku bekerja dalam dunia yang menawarkan alkohol. sangat konyol aku tak bisa minum." jawabku lagi.
jujur saja, aku kurang suka Beer. namun karna dia yang menawarkan, aku tak mampu menolak. Berr membuatku selalu bersendawa dan ingin terus ke kamar mandi.
"Boleh aku permisi sebentar?" ku akhiri obrolan pendek ini karna tentu saja aku harus ke kamar mandi.
Tanpa persetujuan dari William aku terhuyung huyung berjalan ke arah kamar mandi.
saat keluar dari kamar mandi kaki ku tersangkut dan tiba tiba,
-BRUUKK-
Aku terjatuh di kamar mandi dan kaki ku terasa sangat sakit. berusaha bangkit sekuat tenaga, dan hasilnya nihil. aku berteriak memamggil seseorang.
"Siapapun tolooong" teriak ku.
Dengan sangat cepat sesorang berlari menghampiri ku, dan dia adalah william. dengan wajah yang panik ia bertanya
"entahlah, ku kira aku terpeleset" jawabku pasrah.
William menggendong ku menuju kamar. Perlahan ia turunkan aku dan mulai memeriksa pergelangan kaki ku.
"kaki mu terkilir" jelas nya.
Aku hanya berkerut kening melihat keadaanku. yasudahlah, mau diapakan lagi.
"aku akan panggilkan dokter, kau tunggu lah sebentar." William mengeluarkan Hp dan mulai menelfon seseorang.
Hana masuk ke kamarku dan melihat kondisi ku, betapa paniknya dia dan mulai cemberut. namun seperti nya ada hal yang lebih pentingyang akan ia katakan. melihat dari tingkah nya yang gelisah.
"kak aya, aku minta maaf. tiba tiba aku harus pergi ke london untuk hal penting." liburan kita jadi berantakan, dan kakak jadi begini. bagaimana ini?" hana berkata padaku dengan nada gelisah.
Ketika aku hendak menjawab hana, william mengambil alih duluan pembicaraan.
"kau pergi lah, biar aku yang jaga gadis ini!" ucapnya dingin.
__ADS_1
"ouuh Paman ku sayaang, kau sangat pengertian." hana memeluk William senang.
Tak berapa lama, beberapa orang berjas putih datang. seperti nya dokter yang dipanggil william. mereka mulai memeriksa pergelangan kaki ku. mereka jelaskan bahwa aku hanya terkilir biasa dan dalam 3 hari pasti sudah membaik. Perlahan mereka memperban kaki ku untuk meluruskan saraf dan tulang tulangnya.
Ku tarik nafas dalam dan ku hembuskan perlahan, rencana liburan ku gagal.
Hana sudah kembali ke kamar nya, namun William masih menemani ku. Dia duduk di kursi sebelah kasur, berpangku tangan memandangi ku. Aku hanya bisa berbaring di atas kasir dan menutupi wajahku yang malu di tatap wiliam terus terusan.
"Bagaimana keadaan mu selama ini?" William bertanya duluan.
"aku baik" jawabku simple.
"maksud ku, setelah kecelakaan. apakah tubuh mu tidak ada masalah?" tanya nya lagi.
Berhubung william membahas itu, aku mulai bertanya sesuatu yang sesikit mengganggu ku.
"semua baik baik saja pak william" jawabku dengan nada mengejek.
" Oiyaa, kenapa bisa kamu menyebutkan aku sebagai istrimu ketika dirumah sakit ? apakah tidak ada yang bertanya identitas ku?" kulanjutkan pertanyaan.
William melirik pada ku dengan hawa yang menakutkan.
"itu hanya sebagai formalitas administrasi rumah sakit. aku tak bermaksud apa apa. atau kau ingin aku punya maksud ?" goda william pada ku.
"sebenarnya waktu itu, ketika aku membawa mu kerumah sakit hana juga terluka. jadi aku dengan spontan menyerahkan mu pada UGD dan berkata Selamatkan Istri ku. sementara kau dibawa aku menemani Hana. tidak ada yang bertanya lebih lanjut. mungkin karena mereka tau Hana adalah Anak dari donatur rumah sakit maka nya mereka tak bertanya apa apa." William mulai menjelaskan perlahan.
Aku mengangguk tanpa sadar memahami kondisi nya. Aku bercerita panjang lebar dengan William hingga larut malam.
Tanpa sadar, dalam obrolan kami aku merasakan bahwa william sebenarnya adalah orang yang asyik. entah kenapa dia selalu bersikap dingin pada orang orang.
mata ku mulai perlahan merasakn kantuk yang berat. seperti sedang didongeng kan oleh seseorang. aku terlelap tanpa sadar meninggalkan willim masuk ke alam mimpi.
ketika pagi datang, betapa terkejutnya aku menyaksikan william tidur disebelahku. kuperiksa seluruh kondisi ku melihat pakaian ku masih terpasang rapih. ku hela nafas dan bersyukur, aku mulai berfikiran macam macam.
William tiba tiba saja menyela kepanikan ku.
"tenang saja, aku tak menyentuh mu. aku hanya numpang tidur. mata ku sangat ngantuk." ujar William sembari membenarkan posisi tidurnya. ia tarik selimut dan kembali meninggalkan ku masuk ke dalam mimpi nya.
__ADS_1