
Ketika cinta menjamah, manusia seringkali jadi lengah.
Lemah bahkan sampai tersesat tak tau arah.
Janganlah terlalu mengejar, entah bisa saja kau pengar.
Jangan terlalu di hindar, bisa juga kau tepat sasar.
Oh, alangkah cinta gampang musnah. Manakala jiwa terlalu menginginkan barkah.
Oh, alangkah cinta gampang lenyap. Kala jiwa terlalu banyak berharap.
Aku berjalan di tengah keramaian kota, kala hari libur ku hadir memberikan ruang untuk bermanja diri. Menikmati hari senggang dengan es coffee latte ditangan, angin segar bertiup membelai rambutku. Di pusat kota, ada sebuah tempat dimana jalanan dipenuhi pedagang musimam. Biasanya hanya hadir di hari-hai tertentu. Dan sekarang, adalah hari dimana jalanan itu dibuka dan banyak sekali pedagang jalanan yang menjajakan dagangannya.
Di sini, juga jadi tempat dimana para musisi, penyanyi, penari unjuk bakat dan membrikan hiburan. Tempat ini pasti akan selalu ramai hingga tengah malam. Ketika aku berjalan menghampiri sebuah kedai mi, langkahku trhenti ketika badut memberikanku stangkai bunga mawar merah. Aku sangat senang dan brterima kasih pada badut itu.
Namun sebagai imbalan, aku harus mampir ke pondok peramal tempat sibadut bkerja. Tentu dengan senang hati aku masuk kesana, hitung-hitung sebagai hiburan dan melihat sedikit peruntungan. Di dalam pondok itu, banyak sekali ornamen yang berhubungan dengan hal-hal berbau mistis. Tak urung niatku untuk mencoba.
Di depan mataku, ada satu orang wanita paruh baya yang sibuk mengocok kartu ditangannya. Ia persilahkan aku duduk di kursi yang tepat beradadi depannya.
“silahkan duduk nona!” suaranya lirih dengan mata yang tajam menatapku.
“terima kasih madam.” Balasku.
“apa yang ingin kau lihat, ketahui, atau inginkan gadis?”tanyanya lagi.
“hmm, apa saja. Mungkin keberuntungan!” jawabku semangat.
Sambil menyebar kartu tarot yang ada ditangannya kehadapanku, ia memintaku untuk memilih 3 kartu.
“silahkan kau pilih mana saja yang kau suka!” ia memberikan arahan.
Tanpa ragu aku mmilih beberapa kartu. Kuambil satu kartu yang ada ditengah dan dua yng ada di pinggir. Kuberikan kartu itu kepada siperamal tanpa melihat apapun.
__ADS_1
“bagaimana madam, apa kartu nya bagus?” tanyaku.
Dengan tersenyum sungging dan kecut, si peramal kembali melirik ke arahku. Perasaanku mulai tak enak.
“kau ingin yang baik lebih dulu, atau yang buruk?” tanya peramal itu padaku.
Jantungku mulai mrasa deg-degan, kana tak ingin merusak hari baikku. Kupilih kartu yang baik lebih dulu.
“boleh yang baik dulu madam?” tanyaku.
“tentu saja boleh!” jawabnya.
Sang pramal membuka kartu prtama. Sebuah kartu tarot yang bergambar sepasang kekasih didalam sebuah taman. Namun di atas langitnya ada awan hitam,dan ada juga awan berwarna emas.
“kau akan mendapatkan cinta yang sangat besar dari orang-orang terkasih, mereka akan membrika apa saja untukmu. Kau punya aura baik yang membrikan keberuntungan untuk orang-orang disekitarmu, namun hati-hati jangan terlena.” Ia menyodorkan kartu pertama kearahku.
Ia lanjut pada kartu kedua, di dalam kartu itu. Ada gambar seseorang yang hanpir terjatuh dari tbing dan ia menggenggam tali yang diujung tali itu ada seseorang lagi yang mmegang.
“apa maksudnya ini?” tanyaku.
“dan ini yang terakhir, ada sebuah gambar yang menujukan seseorang sedang berjlan di atas duri. Berarti harus ada yang berkorban.” Si peramal menutup kata-katanya.
Nafasku berat sedikit tertahan, sebenarnya kau adalah orang yang tidak trlalu prcaya pda ramalam. Namun jika mendengar ramalnnua seperti itu, aku juga tentu harus waspada.
Aku mmberikan pecahan uang kepada si pramal, namun ia menolak.
“aku harus bayar dengan apa?” tanyaku.
“aku inginkan kau mmbeli sepasang burung merpati yang ada di depan pondok ku ini dan melepaskannya!” jawabnya.
“hanya itu?” aku balik bertanya.
Aku berjalan kluar dari pondok si peramal, melangkah lurus ke arah tempat merpati dijual. Aku membeli sepasang merpati, dan tentu saja tak berapa lama merpati itu aku terbangkan. Tanpa sadar ketika aku berbalik melihat pondok si peramal, sudah tak ada apapun disana. Bahkan di badut juga menghilang.
Bulu kudukmu merinding, badanku sdikit panas dingin. Aku terkejut melihat apa yang baru saja kau alami. Aku kembali berjalan ke arah pondok dan memastikan, dan smuanya lenyap tak ada jejak.
__ADS_1
Kembali meneruskan perjalanan menjelajahi psar, aku kembali terngiang-nginag oleh kata-kata yang diucaokan sang peramal. Aku harus berhati-hati, tiba-tiba saja sebuah motor hampir menyerempetku. Untuk saja aku bisa menghindar. Aku mulai brfikir, sepertinya siperaml itu benar.
Perutku mulai terasa keroncongan, tujuanku ke arah kedai mi akhirnya sampai. Aku masuk dan memilih tmpat duduk, karena aku sendiri kupilih sebuah meja dengan 2 bangku yang ada di dekat kaca.
Ku pesan 1 mangkuk mie pedas dengan ayam pada pelayan, setelah pelayan mencatat pesanan. Ia berlalu prgi kedapur, meninggalkan aku sendirian di pinggir kaca. Seseorang membuka pintu kaca, pandanganku langsung tertuju pada objek itu.
Aku terperangah memandangi sosok yang baru masuk sendirian. Dia adalah Hana, sudah cukup lama tak bertemu dengannya. Sepertinya mnjadi orang kaya di usia muda selalu sibuk dan melelahkan. Tanganku langsung refleks mngangkat dan melambai memanggil Hana.
“Hana...?” triakku kencang sambil melambai.
“waah, kak aya!” Hana mnjawab kegirangan menghampiri mejaku.
“kamu ngapain kesini?” tanyaku lagi.
“kebetulan aku sedang ada di pasar ini untuk bertemu rekanan bisnis. Dan dengar-dengar kedai mie ini sangat populer. Tentu saja aku tak boleh ketinggalan untuk mencoba.” Jelasnya sambil memposisikan diri duduk di kursi di hadapanku.
Aku mengangguk-angguk pelan sambil meneguk ice lemon tea yang ada dihadapanku. Hana juga memesan makanan yang ia inginkan pada pelayan. Beberapa saat kmduian makanan kami datang.
Semangkuk mie ramen panas dengan kuah brwarna merah telah siap untu dinikmati, karena aku menyukai makanan yang sangat pedas, kutambahkan lagi togarashi yang ada di hadapanku. Hana lebih mmilih zaru soba dengan miso sup. Sudah pasti Hana tak menyukai makanan pedas.
Setelah prut trisi kenyang, hati pun tentu ikut merasa senang. Aku dan Hana masih bercrita panjang lebar soalan Hana yang belakangan ini sibuk. Wajar saja, jika bersama kami bisa menghabiskan waktu yang panjang untuk bertukar crita. Bahkan Hana mnertawakan aku yang mulai terjebak dengan william. Ia malah sudah mmeprediksi william pasti akan mendapatkan aku cepat atau lambat.
Setelah membayar bill makanan, aku dan Hana berencana untuk brpisah di ujung jalan. Karena hana hendak melanjutkan pertemuan dengan rekanan bisnisnya dan aku berencana untuk lanjut berbelanja. Aku dan Hana berjalan brdampingan di trotoar jalan yang lumayan ramai dengan pedangang. Mata ku lengah ketika melihat salah satu lapak pedagang yang menjajakan kreasi gelang dan kalung. Karena tertarik aku mengajak hana untuk mampir melihat-lihat sebentar.
Kami bergandengan tangan ketika akan menyebrang jalan, dijalanan utama masih banyak mobil dan motor yang lalu lalang meskioun dipinggir trotoarnya ada pasar musiman. Tentu tak seramai jalanan raya, ini hanya jalanan biasa yang ada diantara bebrapa gang-gang di pintasan jalan raya.
Rambu jalan sudah brubah hijau, menandakan pejalan kaki sudah boleh menyebrang. Orang-orang sangat ramai menyebrang di zebra cross ini, membuat tanganku tanpa sengaja trlepas dari genggaman Hana. Karena berbenturan dengan bebrapa orang, aku berjalan lebih dulu dari hana yang tertinggal di belakang.
Ketika aku telah sampai di seberang, aku tak melihat hana juga sampai di seberang. Aku keheranan dengan sedikit panik.
“loh, Hana mana?” lirihku.
Kulihat sekeliling kiri dan kanan. Namun kebradaan Hana tak kunjung kelihatan. Aku mulai panik karena tak menemukan hana. Kaki ku tanpa sadar mulai berlarian ke arah seberang saat jalanan edang ada kendaraan. Sontak saja megagtkan pengenadara yang hampir sja menabarakku. Aku tersadar seketika sebuah mobil hampir saja menabrakku.
Aku terpental ke arah trotoar, badanku seketika bergtar karena shock. Beberapa orang datang menghampiri ku memastikan kondisi dan keadaanku. Bebrapa orang juga memapah tubuhku agar kembali bangkit.
__ADS_1