
Ibukota begitu sesaknya, kota nya sangat ramai. udaranya buruk. jalanan nya sesak sekali. tiada hari tanpa kemacetan di ibukota ini. kaki ku adalah kaki tangguh, tiada hari tanpa berjalan dalam hidupku. padahal banyak kendaraan umum atau bahkan transportasi online bisa ku pilih. tapi tetap saja, semua akan bergumul dalam kemacetan tak berujung. ujungnya sama saja. membuang waktuku.
maka, perjalanan dengan kaki ku yang hebat ini lebih baik dari itu semua.
Disetiap sudut Mall di kota kota besar, pasti ada jalanan kecil atau jalanan tikus di belakang nya.
tempat dimana ada tempat parkir liar para karyawan yang bekerja di dalam mall itu. bahkan ada pedagang kaki lima. dimana tempat itu adalah ladang uang untuk setiap orang yang mau berusaha. tak ayal, jalanan kecil dibelakang mall biasanya menjadi pilihan untuk orang yang bekerja di dalam mall tersebut. atau bisa jadi juga menjadi jalan pintas untuk orang lainnya, yang bekerja di sekitaran mall atau tak jauh dari itu.
Namaku Ayassa zhafira, aku bekerja di salah satu restaurant yang ada di dalam mall besar itu.
hanya anak kampung yang mencoba peruntungan diri di perantauan. tak apalah, di kota besar ini aku hanya bekerja sebagai seorang pelayan. yang terpenting itu cukup untuk membiayai kehidupan ku dan untuk membantu ibuku dikampung.
Ibuku seorang single parent, sepeninggal ayahku beberapa tahun yang lalu ibu harus membanting tulang untuk melanjutkan kehidupan dengan 4 orang anak yang banyak kebutuhan.
Aku yang waktu itu masih kelas 3 SMA, adik ku kelas 1 smp dan bahkan 2 nya lagi satu di SD dan si bungsu masih usia 5 tahun.
Aku melihat sendiri dengan mata dan kepalaku betapa susah payahnya ibuku bekerja demi kami semua, tertanam di dalan hatiku. setelah aku lulus, aku harus membantunya membesarkan adik adikku. sebab penghasilan yang lumayan, karna itulah ku pilih bekerja di ibukota.
Ibukota memang hingar bingar, tempat semua manusia berbagai asal mengadu nasib, termasuk aku. meski berpenghasilan yang lumayan bekerja dari restauran, impian ku juga besar.
kubagi 3 penghasilanku, untuk aku bertahan hidup disini, untuk ku kirimkan ke kampung, dan untuk cita citaku.
Cita citaku ku juga besar, aku ingin melanjutkan pendidikan ku ke jenjang yang lebih tinggi. sebab itu, ku tapaki jenjang perkuliahan di sela sela kepenatan ku bekerja.
__ADS_1
tak mudah hidup dengan kondisi serba kekurangan, tapi ya itulah yang harus ku perjuangkan, demi ibuku dan hidupku nanti dimasa depan. menjalani hidup serba pas pas an di kota, aku harus selalu menghemat semua pengeluaran yang ada. aku tak boleh foya foya. jika masih ada kendaraan umum, kenapa tidak. jika masih bisa jalan kaki kenapa tidak.
tempat tinggal ku tak jauh dari tempat ku bekerja. jika memilih jalan kaki, menghabiskan waktu 15 menit. jika dengan kendaraan umun atau lainnya. tergantung situasi dan kondisi. bisa saja 5 menit bahkan bisa sampai 2 jam.
Aku lebih memilih hidup hemat dan sehat dengan jalan kaki. ya meski ujungnya aku harus berganti baju karna badanku basah dengan keringat, tapi tak apa. yang penting semua berjalan sesuai rencana.
Jalanan dibelakang mall memang ramai sekali dengan pedagang kaki lima dan tempat parkir, tapi disitu juga terdapat satu space yang jalanan nya sepi hanya ditemani pepohonan kiri dan kanan. aku selalu berjalan perlahan jika berada di tempat itu. Aku rindu tempat itu, aku rindu suasana itu.
Ku tarik nafas perlahan, dam kuhela dengan berat. ku ulangi terus beberapa kali. Sekarang aku tengah merenung sendirian di sebuah kamar rumah sakit. meski badanku hanya diam di kasur, isi kepala ku tak mau diam dan berhenti bertanya bahkan sedetik saja.
Bagaimana pekerjaanku? Bagaimana kuliahku? Bagaimana ibuku? dan bagaimana soal pembiayaan di rumah sakit ini? semua berputar-putar di benakku, bahkan membuatku selalu berdiam diri dan termenung.
aku mendengar bunyi suara pintu berdecit, seseorang masuk ke dalam ruanganku dengan tergesa-gesa. Betapa terkejutnya aku ketika melihat seseorang yang terlibat masalah denganku, berdiri di hadapanku berpakaian rapi dan membawa sebuket bunga.
pria itu menarik kursi yang berada jauh dari ranjangku. dia memberikan bunga yangsangat besar itu padaku. dengan sangat tenang, Dia menanyakan bagaimana kondisiku.
Aku masih saja diam, namun dengan tenang pria itu memulai obrolannya.
"saya tau, banyak hal yang kamu pikirkan saat ini. maaf saya lama tak datang mengunjungi kamu. saya harus mengurus sesuatu". Dia menjeda ucapannya, yang membuatku menoleh ke arahnya.
"apakah kamu tau apa yang sedang terjadi sebenarnya?" aku menggelengkan kepala menjawab pertanyaan ini.
"Kamu adalah korban tabrakan mobil yang ugal ugalan dijalanan. kamu tau siapa yang menabrak?" aku kembali menggelengkan kepala menjawab ketidak tahuan.
__ADS_1
"Dia adalah keponakan saya", ujarnya. seketika aku tak bisa bernafas dan mataku memerah. serasanya ingin berteriak dan menangis. ingin ke luapkan semua emosi yang kurasakan dan aku tak mampu. air mataku jatuh ke dalam hati.
dengan mengumpulkan semua keberanian, ku bertanya pada nya.
"lalu apa yang terjadi?"
"Waktu itu, saya sedang diperjalanan kembali pulang dari kantor saya. saya mendapatkan telfon dari ponakan saya demgan intonasi suara ketakutan dan menangis. dia bilang dia tabrak seseorang dan keeadaan nya parah. keponakan saya juga terluka. tapi tidak seperti mu, dia hanya luka benturan saja. namun kamu, wajahmu sudah penuh dengan darah. kepalamu sepertinya cedera sangat berat sehingga darah terus mengalir tanpa henti. saat saya datang, semua oramg sudah berkumpul dan ingin menghakimi keponakan saya dengan tangan mereka sendiri. sebelum mereka kalap, saya hentikan semua itu".
dia menarik nafas perlahan dan kembali bercerita.
"pertama saya katakan untuk segera membawa mu kerumah sakit, namun diantara keramaian itu tak ada yang berani satu orang pun. karna hal itu, setidaknya dengan itu saya bisa mengambil alih keadaan. saya juga yang membawa mu rumah sakit ini, tentu dengan keponakan saya juga".
Dia bergerak berdiri dari kursi yang sebelumnya ia nyaman duduk disana. pria itu berpangku tangan, dengan ekspresi wajah yang membingungkan.
karna dia diam, aku mulai berami bertanya.
"lalu, kenapa orang orang dirumah sakit ini menyebut anda adalah suami saya ? kita tidak saling mengenal. bisa anda jelaskan ini,.? timpal ku.
"itu karena, saya tidak menemukan identitas apapun ketika berada di lokasi kecelakaan itu. juga yang membuat saya bingung adalah, bagaimana cara nya agar rumah sakit ini mau menangani pasien yang koma dan tidak melaporkan keponakan saya ke pihak yang berwajib".
Ia jawab semua tanyaku dan kembali berkata
"maaf, tapi itu yang harus saya lakukan". Dia menatapku dengan penuh penyesalan dan kekecewaan.
__ADS_1
Kami berdua terpaku membisu tanpa saling berargumen. sedikit pertanyaan ku sudah ia jawab. karna aku sudah tau alasannya, jujur akupun juga semakin canggung dihadapannya.