
Matahari menyengat kulit dan mulai menyilaukan mata. Mobil SUV berwarna putih melaju kencang melintasi jalanan dengan gagahnya.
Di dalam mobil itu duduk seorang lelaki tampan dan penuh kharismatik, kulitnya putih dengan mata sedikit sipit. Disebelah lelaki itu, wanita yang sedang kebingungan duduk menjaga jarak. mengatur detak jantungnya yang sejak awal selalu saja berdebat kencang.
" Ya Tuhan, kenapa jantungku tak berhenti berdebar." Aku menepuk-nepuk dadaku tanpa sadar.
William yang tengah sibuk dengan tab nya tiba-tiba berhenti dan menatapku keheranan. Ia meraih tanganku dan mencoba untuk menghentikannya.
"kamu kenapa? ada yang sakit?" tatapannya penuh heran.
"aku tak apa!" jawabku sembari melepas genggaman tangannya.
William hanya tersenyum-senyum simpul sambil kembali dengan tab dan semua kesibukannya.
Disisi lain, sebenarnya aku masih saja memikirkan kenapa bisa aku ada didalam mobil ini. Apa yang sebenarnya terjadi, apakah keputusanku benar ada didalam mobil ini atau tidak. Aku mulai melamunkan hal yang tadi pagi terjadi.
Dipertigaan jalan menuju halte, sebuah mobil SUV mengikuti ku dari belakang. Ada sedikit rasa takut ku percepat langkah kaki agar segera sampai ke halte.
Mobil SUV itu menyalip dan memberhentikan langkah kakiku. Dari balik kaca mobil yang diturunkan, seseorang menyapa dengan tersenyum manis padaku.
"hai, masuklah akan ku antar.!"
Aku sangat terkejut menyadari bahwa itu adalah William. Aku berusaha mengelak dan memalingkan muka. Namun William malah turun dari mobilnya dan malah menyuruh ku untuk masuk.
"tak usah malu-malu, mari kita berangkat bersama!" ujar William.
William menarik tanganku dan mempersilahkan masuk kedalam mobil mewah nya itu, tampak goresan senyum tipis dari sudut bibir William saat aku mengikuti keinginan nya.
Lamunan ku tiba-tiba saja Buyar karena mobil tiba-tiba saja berhenti mendadak. Dengan refleks William memeluk dan menahan badanku agar tidak terbentur ke depan.
"apa kau baik baik saja?" William tampak sangat khawatir.
"aku tak apa, hanya sedikit kaget" jawabku dengan suara sedikit gemetar. Aku menggenggam tangan William dengan kencang tanpa sadar.
"Ada apa ini? kenapa berhenti mendadak?" tanya William pada supirnya dengan nada tinggi.
"ini.. ini.. ada motor yang tiba-tiba menyalip pak!" jaran pak supir itu terbata bata. Dengan hati-hati pak supir kembali menjalankan mobil.
Aku yang tegang sedari tadi mulai melemaskan pundak ku dan bersandar pada kursi. tak kusadari tangan ku masih menggenggam tangan William.
William tersenyum senang menatapku. Ia makin mengeratkan genggaman jari tangannya.
Aku menyadari William selalu bersikap manis padaku, wajahku berubah merah dan sangat malu-malu.
William menatap keluar kaca jendela, sambil tersenyum ia mulai bertanya padaku.
"apakah kamu tidak ingin tau kenapa aku suka kamu?" tanya William padaku.
Ia menatapku dengan wajah penuh kasih dan menunggu jawaban.
Jantungku terasa sangat rumit, ada rasa senang ada rasa malu dan juga ada rasa tak ingin. aku bingung menjawab pertanyaan William dan malah berucap,
"Aku tak peduli!"
Didalam hati, aku menggerutu dan menyesal sudah dengan ucapan Ku.
karena canggung aku melepaskan genggaman tangan William dengan paksa. namun dengan manisnya William malah semakin kencang menahan tanganku agar tak terlepas.
__ADS_1
Ku akui, aku yang bersifat naif ini, selalu saja mengelak dan membantah apa yang William katakan. Aku tak ingin masuk terlalu jauh kedalam kehidupan William, aku sadar jika aku mencoba membuka hati untuk William pasti aku juga yang akan terluka.
Mobil telah sampai di lobby depan, aku menoleh kanan dan kiri, memastikan tidak akan ada yang melihatku turun dari mobil mewah ini.
Aku membuka pintu mobil sambil mengucapkan terima kasih pada William. aku turun dari mobil dan langsung berlari menuju pintu masuk dengan segera. Aku berharap tidak akan ada yg melihatnya.
********************************
Jam menunjukkan pukul 11 siang, SPV datang memanggil semua staf.
semuanya diharapkan untuk berkumpul keruangan VVIP.
Tanpa menunda-nunda waktu kami semua menuju ruangan VVIP. Banyak Staf yang sudah berdatangan dan mengisi tempat, aku dan teman-temanku memilih kursi di bagian kanan depan. tak selang berapa lama semua kursi yang ada di dalam ruangan itu telah terisi penuh. terkecuali kursi sofa yang ada dihadapan kami semua.
Seseorang membuka pintu dari luar, semua mata tertuju satu kearah pintu.
Masuklah seorang pria tampan menggunakan jas berwarna coklat, penuh kharismatik dan sangat mempesona. pesona nya sangat bersinar menyilaukan mata.
Dibelakang pria itu, para petinggi perusahaan mengikutinya. Aku juga melihat Hana ada didalam barisan itu. Firasat ku mengatakan akan ada hal besar yang akan terjadi.
kharismatik seorang William memang selalu mengguncang jiwa-jiwa para wanita. tak bisa dipungkiri aku juga terpesona olehnya.
Para petinggi perusahaan menduduki kursi sofa yang ada dihadapan kami. hanya dibatasi dengan meja besar sebagai pembeda status dan jabatan orang-orang yg ada di ruangan ini.
"Selamat siang semuanya, Hari ini perusahaan akan mengumumkan pemimpin perusahaan yang baru."
Pengumuman yang membuat semua orang yang ada di ruangan ini terkejut.
SPV yang memegang mic menunjuk pada arah William.
"Hadirin semua, mari kita sambut Direktur perusahaan kita yang baru. Bapak William Louis Barack!" Semua orang bertepuk tangan dengan meriah.
Telinga ku berdenging kencang seolah mendengar sebuah suara yang sangat keras. Aku membeku sendirian ditengah keriuhan orang-orang.
Aku terkejut dengan sangat, menyadari orang yang berdiri dihadapan ku sekarang, pemimpin baru perusahaan, adalah orang yang tadi pagi menjemputku.
terdiam sejenak, aku mulai menyadarkan diri. nafasku terasa sesak, William yang sedang memberikan pidato sambutan didepan menoleh ke arahku.
Aku menatap William dengan tatapan kosong, dadaku semakin sesak. aku berdiri dari kursi ku dan berlari keluar ruangan.
Kaki ku terasa berat, namun kulangkah kan kaki ku dengan yakin. aku berlari ke arah Roof top.
Mulai ku sadarkan diriku, firasat ku selama ini sudah terjadi. Hal yang tak aku inginkan terjadi. sekarang aku semakin jauh dan semakin berbeda dengan William. Meskipun aku perlahan semakin menyukai William, namun jurang di antara kami semakin curam.
Kepala ku terasa berat, nafasku juga sesak. kakiku tak mampu lagi berdiri. aku terduduk lemas menghadapi kenyataan.
aku mulai berfikiran yang aneh-aneh. semakin bertubi-tubi pertanyaan muncul di kepalaku. Aku suka William namun aku juga tak ingin dapat masalah karena itu.
siapa yang tak ingin punya kekasih tampan dan kaya raya. semua orang ingin, namun tidak dengan ku. Aku tak ingin mempersulit hidupku dengan menjalin hubungan dengan mereka orang-orang kaya raya.
Aku tak bisa mengikuti jalan hidup mereka yang penuh kesombongan. aku tak ingin menjadi bahan gosip dan omongan orang-orang.
seharusnya hidupku biasa-biasa saja. namun kenapa aku juga terlena oleh William. aku mulai menyukai semua hal tentang nya.
Lutut ku menekuk lantai, tersentak dengan keras. ku tahan air mata yang kapan saja bisa mengalir deras.
"kenapa kau lari? ada yang salah denganku?" suara seseorang bergema masuk gendang telingaku.
__ADS_1
"William!" Aku menoleh kebelakang memastikan.
Ya, William datang menghampiri ku. seperti nya dia memang benar-benar ingin bersama ku. atau hanya aku saja yang berangan.
hatiku bergejolak selalu saat William terus menatap dan menghampiri ku. getar-getar cinta ini sudah ada entah sejak kapan.
Aku bangkit dan berlari menghampiri William, ku peluk ia sekencangnya dan tangis ku pecah. Aku bingung kenapa semua tindakan sekarang, berlawanan dengan apa yang aku inginkan.
Apa aku benar-benar sudah jatuh cinta dengan William?
Air mataku berurai deras, tangisku pecah dalam pelukan William. aku terisak tersedu-sedu. Tanganku memukuli William tanpa rasa bersalah.
"Kenapa, kenapa kamu suka padaku? kenapa? Aku ingin tau. jelaskan padaku." suara ku tersendat. Semua hal yang selama ini aku pendam, Ter urai keluar dengan air mata.
William memeluk ku dengan erat. Mengusap rambutku, menepuk-nepuk pundak ku. ia rangkul badanku dalam semua kasih yang ia punya. Kini tangisku mereda berkat dirinya.
tangan nya membelai lembut wajahku, William menopang wajahku dengan lembut.
"hey, dengarkan aku. aku menyukaimu karena itu kau. Aku suka semua tentang mu Aya. aku suka semua kepolosan mu. sikap malu-malu yang kau tunjukan. aku suka semua tentang dirimu". William menatap mataku dan menjelaskan.
Aku terpana olehnya, hatiku serasa terbang sangat tinggi. namun aku juga takut jatuh.
" tapi kita berbeda, semua tentang kita berbeda!" bantahku
"tidak, kita sama. kita sama Aya. kita sama-sama Manusia. apa salah Manusia saling menyukai, mencintai? apakah mencintai itu dosa Aya?" William memberikan pengertian itu padaku.
ku teguk saliva ku, tak bisa lagi membantah William. Aku terdiam, terpaku dan terpana. tak tahu lagi apa yang harus ku katakan.
William menatapku lama, penuh arti, penuh hasrat dan keinginan.
Wajah William mendekat kearahku, tak kusadari bibir William sudah melekat pada bibirku. aku masih membatu tak bisa bergerak. badanku panas, tubuhku terguncang. jantungku berdegup kencang.
William menciumi bibirku dengan lembut.
Mulai ku tutup mataku perlahan, ku ikuti setiap permainannya.
Bibirnya sangat lembut, terasa sedikit manis. nafasnya menderu dengan kencang. hasrat nya begitu besar menelanku.
permainan William semakin lama semakin hebat, ia kulum setiap sudut bibirku tanpa tersisa. lidahnya mulai masuk menjamah kedalam mulutku.
Aku yang tak bisa bergerak banyak, mulai ikut terbawa susasa yang menegangkan ini. ku rangkul William dengan kencang.
William mengangkat badanku dan menempatkan pada posisi duduk di sudut meja Rooftop.
kami berdua semakin terlena dengan ciuman panas ini. ini pertama kali bagiku, namu. entah kenapa aku terus mengikuti permainan William.
kami terlena, aku bahagia. William pun tersenyum manis membelai ku setelah permainan ini berakhir. aku tak menyangka semua ini berlalu begitu cepat.
tanpa ada awalan, tanpa ada permulaan semuanya terjadi begitu saja.
Aku hanya bisa terdiam, menatap William dengan malu-malu. William memeluk ku lagi, aku tak tau pelukan ini rasanya sangat nyaman.
"Apa kau sudah paham apa arti dirimu bagiku Aya?" William bertanya padaku.
"aku tak ingin kau selalu menjaga jarak denganku, aku tak ingin kau selalu menolak ku. aku ingin kau ungkapkan bagaimana perasaan mu Aya. tak perlu kau pendam. Aku selalu ada untukmu." jelasnya padaku.
Langit yang sedari tadi mendung mulai meneteskan gerimis kecil. William menggenggam tanganku untuk kembali turun ke lantai bawah.
__ADS_1
Hari ini hatiku sangat bahagia. sangat-sangat bahagia.