Keberuntungan Cinta

Keberuntungan Cinta
Kisah Masa Lalu


__ADS_3

“Jika melihat matahari tenggelam adalah cara merayakan senja, maka melihatmu adalah cara merayakan rindu.”


Suara bel masuk begitu nyaring terdengar hingga luar pagar sekolah. Murid-murid berlarian menuju pagar yang perlahan ditutup oleh panjaga sekolah.


Terlebih lagi ini adalah hari pertama masa orientasi siswa baru yang diselenggarakan sekolah ini. Semakin terlihat ramai oleh murid baru yang menggunakan berbagai macam atribut aneh dan konyol sesuai ciri khasnya masa orintasi siswa yang nyeleneh.


Dengan semua atribut yang terpasang diseluruh badanku, ku percepat langkah kaki mengejar pagar sekolah yang sudah hampir tertutup sepenuhnya.


Aku adalah siswa baru yang akan mengikuti masa orientasi siswa disekolah ini. Gadis muda yang siap menempuh masa-masa Sekolah menengah akhir dengan segala suka duka dan rintangan disekolah ini.


Pagar yang sudah hampir tertutup ini hampir saja bisa kulewati saat seseorang membatalkannya dengan menarik tasku dari belakang. Aku telah gagal menyelamatkan waktu pada masa orientasiku tanpa kata terlambat karena orang ini.


Saat aku menoleh kebelakang, seorang anak laki-laki tersenyum menyeringai padaku dengan raut muka tanpa penyesalan.


Dia adalah tetanggaku yang sudah menjadi temanku dari saat kami masih kecil. Bahkan saat kami belum bisa bicara.


Aku dan dia sudah berteman saat kami berumur 2 tahun kurang lebih, kami telah melewati banyak masa bersama.


Bahkan sekolah kanak-kanak bersama, sekolah awal bersama bahkan sekolah menengah pun bersama. Lalu yang mengejutkan aku adalah, kami akan melalui masa sekolah akhir bersama.


Hidupku bahkan sudah terbiasa melalui hari-hari bersamanya. Selalu kulewati dengan bertemu dia setiap harinya. Hingga akhirnya sesuatu yang besar terjadi di masa sekolah akhir ini.


Dia bernama Ringga Arbian. Tetangga sebelah rumahku yang selalu menemaniku bermain dan melewati masa kecil dengan bahagia.


Bermain permainan yang bahkan tak pernah orang lain lakukan, pergi ketengah hutan hingga semua orang khawatir mencari kelimpungan. Bermain disungai yang membuat dia hampir hanyut bahkan memanjat pohon yang membuatku jatuh dan mematahkan lengan kiriku.


Anak laki-laki ini sudah terasa seperti bagian dalam awal kehidupanku.


Tahun ini, ternyata kami akan terus bersama untuk melewati masa muda kami disekolah akhir. Namun dengan mengesalkannya, dia membawaku ikut terlambat seperti dirinya di awal masa orientasi sekolah.


Tentu saja ini adalah awal yang buruk, karena semua orang yang terlambat akan mendapat masalah dari para senior yang mengatur masa orientasi. Akan dihukum didepan keramain serta menjadi bulan-bulanan para senior.


Aku menggerutu kesal saat melihat wajah tersenyum Ringga yang membuatku terlambat. Nafasnya yang tersengal sengal karena berlari membuatku tak jadi marah padanya.


“Apa yang kau lakukan? Kau membuatku terlambat tau!” kesalku padanya sambil cemberut dan menggerutu.


“Tentu saja kita harus terlambat bersama, aku tak ingin terlambat sendirian. Hehe!” tawanya membuatku semakin kesal.


“Haish, terserah kau saja. Aku tak ingin bicara padamu!” aku membalikkan badan dan memangku tangan menunjukan rasa kesalku padanya.


“Hei, sudahlah. Kita sudah terlanjur terlambat, kau tidak perlu marah-marah padaku!” ucap Ringga sambil menarik tasku agar menatap wajahnya.


Aku yang sudah terlanjur kesal padanya tetap tak ingin bicara dan melihat wajahnya.

__ADS_1


Sekitar setengah jam kami menunggu diluar pagar, beberapa orang senior datang menghampiri kami sambil membukakan gerbang.


Beberapa orang senior yang menggunakan jas berwarna merah hati menyuruh kami berlari masuk ketengah lapangan.


Ada sekitar 15 orang siswa baru yang terlambat di hari pertama masa orientasi. 15 orang ini sudah pastinya akan mendapat hukuman karena terlambat di awal sekolah.


Saat di tengah lapangan, kami semua disuruh membuat 1 barisan. Di tengah matahari yang terik, kami semua diceramahi hampir sekitar 1 jam. Tibalah waktunya penghukuman yang sudah pasti tidak akan menyenangkan.


Salah satu dari para senior itu membagi kami menjadi 3 kelompok, dengan masing-masing 5 orang dalam 1 kelompok. Aku dan Ringga lagi-lagi dipersatukan alam, tugas yang diberikan kepada kami adalah membersihkan 3 lapangan sekolah yang luasnya sudah seperti 1 komplek perumahan.


Di tengah panas terik matahari tengah hari, aku dan Ringga serta 3 orang teman lainnya memulai menyapu separuh lapangan yang sudah dipenuhi sampah daun yang gugur.


Keringat mngucur deras, kepala yang terasa seperti dimasukan ke dalam oven membuat emosiku cepat tersulut. Kepalaku yang sudah mulai berdenyut karena kesakitan membuat emosiku langsung meledak seketika.


Dengan semua tingkah Ringga yang jail, ia menepiskan sampah yang sudah aku bersihkan hingga berceceran kembali.


Amarah yang sudah terusulut membuatku berteriak sekencang-kencangnya.


“Ringgaaaaaaaa!” teriakku dengan lantang. Hingga semua orang yang ada di lapangan melihat kearah kami.


Dengan raut wajah yang sudah sangat kesal, aku mengejar Ringga dengan memegangi sapu yang kujadikan senjata untuk membalasnya.


“Kemari kau Ringga, akan kupukul kau sekarang juga!” teriakku sambil terengah-engah.


Ringga berlarian dengan tawa yang cekikikan, ia meledekku dengan sangat gembira.


Kami berlarian mengelilingi lapangan tanpa sadar semua orang memperhatikan. Setelah lelah berlarian tanpa henti, akhirnya Ringga berhenti dan menghempaskan tubuhnya ke lantai lapangan dengan nafas yang tersengal-sengal.


“Sudah-sudah, aku lelah.” Ucap Ringga padaku.


Aku menarik nafas dengan susah payah, rasa lelah yang sama kurasakan ikut membuatku berbaring ditengah lapangan bersama Ringga.


Mencoba mengatur nafas, aku menoleh pada Ringga dengan tatapan kosong.


“Hei, apa kau tidak bisa berhenti menjailiku?” tanyaku padanya.


“Bisa, asal kau jadi istriku!” balas Ringga dengan nada menggoda.


Aku memalingkan muka dan tersenyum mengejek.


“OK deal!” Jawabku.


Ringga terkejut mendengar ucapanku hingga ia terbangun dan menatapku lama.

__ADS_1


“Kau jangan bercanda!” lirik Rangga padaku dengan tatapan bingung.


“Hahaha, bukankah kau yang mulai duluan!” balasku padanya.


Aku bangun dari lantai lapangan dan mencoba untuk bangkit dan melanjutkan tugas yang diberikan pada kami.


Dengan posisi Ringga yang masih duduk di lanati lapangan, aku beranjak meninggalkannya sambil tersenyum mengejek.


Aku pergi berlalu meninggalkan Ringga, dengan jarak yang kurang lebih 10 langkah tiba-tiba saja Ringga dan bertriak padaku.


“Aku serius tau!” triaknya dari kejauhan.


Aku mebalikkan badan sembari mengejeknya.


“Aku juga serius!” ejekku sambil menjulurkan lidah mencibirnya.


Melihat aku yang sudah berlalu meninggalkannya, Ringga juga ikut bangun mengejarku.


“Tunggu aku Ay!” teriak Ringga smbari mengejarku.


Melihat Ringga yang mencoba mngejarku, aku langsung berlari pergi meninggalkannya.


Ringga yang semakin penasaran dengan jawabanku juga ikut berlari mengejarku msuk kedalam gudang tempat penyimpanan sapu-sapu untuk kebersihan.


******


Setelah melewati hukuman yang cukup melelahkan, aku dan yang lainnya dipersilahkan bergabung bersama semua peserta Orientasi siswa yang sudah berkempul didalam Hall sekolah.


Badan yang penuh dengan keringat membuatku sedikit tidak nyaman, aku mulai merasa bau badanku mungkin akan mengganggu kenyamanan yang lainnya.


Aku memilih duduk di kursi paling belakang. Tak selang berapa lama, Ringga datang dan memilih untuk duduk tepat disampingku. Melihat Ringa tepat berasa di sampingku membuatku sedikit merasa terbantu karena kemungkinan besar bukan aku saja yang bau keringat.


Aku tersenyum menyeringai sambil mengejeknya.


“Uh bau sekali yaa!” ejekku sambil mengibaskan tangan didepan hidungku.


“Hahahaha, kau yang bau tau!” jawabnya sambi mencubit hidungnya.


Dengan kekesalanku yang menguap karena diejek oleh Ringga, tanganku dengan ringannya melayangkan pukulan ke lengan Ringga.


“Sttt, jangan berisik!” ucapku sambil mlototinya.


Aku yang terus-terusan saling ledek dengn Ringga semakin larut dengan obrolan kami yang tak pernah ada habisnya.

__ADS_1


Hari-hari selalu aku lewati dengan bercengkerama dengan manusia satu ini.


Ringga selalu hadir dalam hari-hari, entah susah ataupun senang. Aku dan Ringga selalu melewatinya bersama.


__ADS_2