Keberuntungan Cinta

Keberuntungan Cinta
Rona Cinta


__ADS_3

Duniaku sudah teralih pandang pada seseorang yang hadir dalam kehidupanku, ia mulai mengganggu fikiranku. Bahkan tanpa memandang waktu bisa saja ia masuk ke dalam imajinasi ku dan membuatku menghayal.


Tuhan menciptakan manusia yang satu ini dengan sangat sempurna. Rupanya yang tampan, memiliki segalanya, bahkan aura dan kharismanya saja sudah membuat orang mabuk kepayang.


Aku mulai merasa tak nyaman pada diriku sendiri, kepala ku mulai berfikir untuk membanding-bandingkan keadaan. Bahkan sesuatu yang harusnya biasa saja mampu membuatku insecure dan minder.


Otak ku mulai mencari-cari celah kekurangan diriku sendiri. Aku hanya seorang gadis biasa, tak punya apa-apa, bahkan untuk kuliah pun aku harus berjuang sendiri. Gadis ini adalah gadis kampung yang datang ke kota besar untuk mengadu nasib, berharap dikota besar mampu meraih impiannya.


Namun sekarang malah terjebak dengan makhluk tuhan yang sangat sempurna. Aku terjebak  dengan sumber masalah yang sangat besar. kenapa tidak, aku mulai bermain rasa dengan seseorang yang bahkan tak pernah aku bayangkan kedatangannya. Dan sekarang dia juga bos ku ditempat kerja, astaga tuhan, masalah besar sudah menyambutku di pintu masuk.


Jalanan malam masih ramai, namun tak ada kemacetan yang harusnya biasa terjadi di jalan ini. Saat ini, aku tengah berdebar-debar. Duduk di sebelah pria tampan kaya raya di dalam mobil sportnya. Tingkah ku cenderung


gelagapan ketika gugup, tak ayal william menyadarinya.


Suasana di dalam mobil ini sangat sunyi, wajar saja duduk didalam mobil sport sangat berbeda dengan duduk di angkot. Di dalam mobil sport ini sangat nyaman, bahkan suara bising dari luarpun tak terdengar.


Entah sengaja atau tidak, william tak mengluarkan sepatah kata pun, tak menyalakan musik atau radio mobil. Ia malah sibuk menoleh ke arah ku brulang-ulang kali.


Raut wajah nya sedikit aneh, terlihat senang namun tidak


juga. Terlihat berbunga-bunga namun masih tetap cool, aku heran dengan manusia


yang satu ini, kenapa dia masih saja tampan dlam keadaan apapun. apa dia dapat


tiket VIP mungkin ketika tuhan membagikan rupa ciptaannya.


Aku melirik william sesekali, tanpa kusadari aku menggigit-gigit kuku, aku seperti orang yang sedang didera kecemasan akut. Aku menoleh ke arah luar jendela, mengalihkan pandangan dari rupa tampan william. Kutarik nafas berat, Dengan wajah yang memerah, kaki yang tak henti-hentinya bergetar aku kembali membayangkan apa yang baru saja aku alami dngan william.


Lamunan ku mulai membuatku merona, tak sengaja ku gigit ujung bibir bawahku tatkala membayangkan ciuman panas yang william hantarkan padaku dengam penuh kelembutan. Dengan kebisuan dan lamunan, tak kusadari william memberhentikan mobilnya dipinggir jalan. Ia tersenyum menatapku, tatapannya menyiratkan sesuatu. Diriku tersentak kala william tengah dalam menatapku, ia menatap dengan sungguh-sungguh. Matanya mulai melirik mata, hidung, dan langsung terjun ke bibirku.


“kenapa dia begitu mnatapku?” teriakku didalam hati.


Aku meliriknya aneh, keningku mengkernyit. Wajah ku menjadi merah padam, jantung ku kembali dibuat olahraga olehnya. Tak mampu aku menahan tekanan pesona dari william, kupalingkan wajah mengahdap ke luar jendela.

__ADS_1


Ada sentuhan lembut dikepalaku yang membuat aku melirik william lagi. Tangan pria ini besar namun sentuhannya begitu lembut. William mengelus-elus rambutku dengan penuh perasaan.


“Rambutmu sangat halus!” uajr william padaku.


Kalimat pertama yang ia ucapkan selama sudah setengah jam kami di dalam mobil bersama. Aku tergoda lagi olehnya, aku gugup sambil mencobamenglus-elus rambutku juga.


“terima kasih, pujiannya!” balasku.


William merubah arah psoisi badannya menghadap padaku, yang awalnya terlihat sangat nyaman duduk dibelakang kemudi. William menatapku sangat dalam.


“aku suka melihatmu tersipu begini!” ujarnya sambil menyentuh hidungku.


Wajahku semakin memerah, telingaku terasa panas. Tengkuk ku merasa dingin dan bulu kuduk ku merinding. Ada sensasi yang aneh saat william menyentuhku. Aku langsung kembali membayangkan saat-saat william menciumku. Tak kuat aku menahan sensasi ini, aku langsung memalingkan wajahku lagi.


William sepertinya sangat tau, akulah orang yang berada di dalam kondisi kegugupan dan merona dengan sangat parah.  William menyentuh daguku dan menuntun agar wajahku menatapnya. Matanya berbibar-binar, senyumannya yang begitu manis membuat aku kecanduan.


“apa kau tidak lapar?” tanya william.


“Ok kalau begitu, kita akan makan malam dulu. Lalu aku


antar kau pulang.” Ucap william.


“baiklah pak!” jawabku tanpa sadar masih berucap formal pada


william.


“kau bilang apa?” teriak william dengan sedikit ksal.


“eh maaf, maksd ku wil.. wil. William!” aku menyela.


“nah begitu baru gadisku!” ujar william padaku sambil kembali mengelus-elus rambutku.


Mobil sport berkapsitas 2 orang ini tengah melaju kencang dijalanan. Jalanan yang tak telalu ramai membuat deru suaranya gagah. William mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang. Tak berapa lama, kami sampai disebuah area dimana gedung-gedung pencakar langit berbaris.

__ADS_1


“kenapa kita kesini?” tanyaku yang tak tahu apa-apa.


“bukankah kita akan makan malam?” ku sela lagi.


William hanya melirikku sedikit sambil tersnyum simpul.


“ikuti saja!” jawabnya ringkas.


Aku mengikuti william turun dari mobil, william memberikan kunci mobilnya pada petugas valley dan berjalan mendekat ke arahku.


“ayo!” ajak william sambil menggenggam tanganku.


Aku sedikit kaget tatkala menyadari william menggenggam tanganku. Kuikuti langkah kaki nya masuk ke dalam Lobi gedung tinggi ini.


Resepsionis menyambut kami dengan hangat.


“Siapkan meja untuk 2 orang!” titah william pada resepsionis


itu.


Aku hany bisa terdiam melihat keaadaan. Yang aku herankan, sikap willliam yang selalu saja memerintah siapapun bisa berlaku dimana saja. Bahkan pada siapa saja.


“baik pak, mari ikuti kami!” jawab resepsionis itu mengarahkan kami mengikuti salah-satu rakannya.


Kami masuk ke dalam sebuah lift, william tak melepaskan genggaman tangannya. Respsionis itu hanya melirik sesekali dari biasan kaca. Dari cara pandangnya, aku rasa mereka juga kenal dengan william. Karena itu william tampak bisa memerintah tanpa ada rasa bersalah.


Dan lagi, rasa insecure mulai menyerang diriku. Aku mlihat pantulan di kaca lift yang membuat aku merenguh. Semua hal yang ada antara aku dan william semuanya tampak berbeda. Setelan william brkelas dan aku tampak


sangat lusuh, aku mulai merasa jika resepsionis itu memperhatikan kami brdua karna tampak berbeda.


Menarik nafas dengan dalam, kuhembuskan dengan pelan. William sepertinya merasakan aku mulai merasa tak nyaman. Tangannya makin menggengam erat. Pria ini semakin mendominasi setiap moment yang ada. Ia membuatku merasa mulai berani dan tak harus merasa rendah diri lagi.


Sekitar 2 menit kami berada di di dalam lift, pintu lift membuka dan langsung menuju sebuah restoran mewah yang ada di ketinggian. Kami tepat persis berada di salah satu gedung pencakar langit, kami berada di lantai 66. Ini adalah restauran yang berada di ketinggian ke dua yang pernah aku datangi, ya tentu saja yang pertama adalah tempat kerjaku. Aku sedikit berfikir kenapa william selalu memiliki restaurant di gedung-gedung tinggi, apa mmang ini seleranya dia. Aku meracau sendiri dengan pikirannku.

__ADS_1


__ADS_2