Keberuntungan Cinta

Keberuntungan Cinta
Seseorang Kembali


__ADS_3

“ Love, sometime can be a magic. But magic sometime can be just an illusion.”


Suara ambulance yang nyaring membuatku tersadar, mataku terbuka dan menyadari selang oksigen menopang pernafasanku. Aku meraba bagian perutku yang ditusuk, terasa lembab dan ngilu.


Baju rumah sakit yang kukenakan telah bernoda darah, sepertinya bekas jahitan operasi di perutku kembali


terbuka.


Seorang perawat muda yang ada di dalam ambulance bersamaku, menyadari bahwa aku telah sadar. Ia melihatku memegangi bagian perutku yang sudah berdarah.


Perawat muda itu mengambil sebuah gulungan kasa yang cukup besar untuk menahan darah yang keluar dari lukaku.


“Tahan sebentar ya ibu, sebentar lagi kita akan sampai dirumah sakit!” Perawat itu mencoba menenangkan.


Mobil ambulan telah sampai di lobi ICU rumah sakit. Para perawat segera memindahkanku kedalam ruangan ICU. Dokter-dokter yang ada di dalam ICU seperti terkejut melihatku, melihat seorang pasien yang masih mengenakan baju rumah sakit yang sama kembali masuk ICU keluar dari ambulance.


Aku yang meringis kesakitan menahan rasa sakit perutku yang kembali terluka. Seorang dokter di ICU mengenaliku. Ia adalah dokter yang melakukan operasi padaku beberapa waktu lalu.


Menyadari bekas jahitan operasi yang menganga kembali, ia melakukan pertolongan segera. Beberapa perawat membawaku ke ruang operasi –lagi-.


Dalam kondisi yang masih sadar dan kesakitan, perawat memasangkan infus padaku. Tak selang berapa lama, selang bius pun dipasang pada tubuhku.


Badanku mulai terasa ringan, rasa sakit mulai hilang. Mataku terasa sangat berat dan tak berapa lama, semua kesadaranku telah hilang total.


******


Udara terasa sangat segar kurasakan, angin yang bertiup membelai rambutku lembut. Aku sedang berjalan di taman yang sangat indah. Bunga-bunga cantik sedang bermekaran, kupu-kupu pun hilir mudik beterbangan.


Jalan setapak nan lurus, membuatku merasakan kenyamanan. Suara ibuku terdengar merdu memanggilku dari belakang.


“Ay, Ayaaa!” suara ibuku sangat indah terdengar.


Ketika aku menoleh kebelakang, tiba-tiba saja tanah tempatku berpijak amblas dan menarikku kedalamnya.


“Ibuuuuu!” teriakku dengan keras.


Mataku terbelalak dan nafasku sangat sesak, jantungku sangat terasa sakit.


Aku menyadari aku baru saja bermimpi. Aku memimpikan ibuku. Seorang wanita yang sudah sangat lama aku rindukan.


Selang infus yang tak lekang lepas dari tangan menyadarkanku. Aku masih berada di rumah sakit, di ruang ICU tepatnya.


Operasi kedua berjalan lancar dan para dokter meminta agar aku tidak terlalu banyak bergerak agar cepat pulih.

__ADS_1


Bau ICU yang sangat khas belakangan ini mulai membuatku terbiasa. Sudah terasa sangat lama waktu berlalu dari waktu aku dioperasi sampai sekarang.


Mungkin besok pagi aku sudah bisa dipindahkan ke ruangan rawat inap. Malam yang kulewati sudah mulai tak terasa panjang. Mataku mulai merasakan kantuk, perlahan cahaya meredup dan aku akan terlelap.


Keesokan paginya aku sudah terjaga diruangan baru yang lebih luas dan nyaman. Entah kapan aku dipindahkan keruangan rawat inap. Kamar yang sama dengan kamar ketika aku dirawat pertama kali karena insiden penculikan Hana.


Tak selang berapa lama, sesorang mengetuk pintu.


“Kak Aya?” suara Hana terdengar dari balik pintu.


Hana masuk bersama seseorang yang mendorong kursi rodanya.


Pria jangkung yang belakangan ini telah mengobrak-abrik sebagian isi hatiku.


Hana datang bersama William. Mengingat kejadian bodoh yang telah aku lakukan, aku tak mampu menatap William. Kupalingkan wajahku dari pandangannya, agar rasa malu dan bersalahku tak terlalu kelihatan olehnya.


“Hai kak!” Sapa Hana padaku lebih dulu.


Aku tersenyum melihat wajah manis Hana, sembari Hana mendekat ke arahku. Sesaat setelah Hana tepat berada disamping ranjangku, William beranjak pergi tanpa sepatah-katapun.


Perasaanku sedikit terenyuh karena sikap William yang tiba-tiba dingin padaku. Dadaku terasa sesak karena harapanku tak sesuai dengan keadaan.


Aku yang berharap agar William datang padaku dengan rasa bersalah dan mencoba membujukku. Berharap William peka terhadap perasaanku, setelah kejadian seorang wanita dengan santainya memeluk tubuhnya.


“Kak Aya, apa sudah enakan?” Tanya Hana padaku.


“Iya Hana, aku baik-baik saja. Kamu bagaimana?” tanyaku


kembali.


“Aku juga sudah tak apa-apa.!” Jawabnya.


“Kak Aya, terima kasih sudah menolong aku dan pamanku waktu itu!”


“Jangan terlalu difikirkan Hana, aku juga melakukannya karena aku takut kalian kenapa-napa!”


Aku meyakinkan Hana agar dia tak terlalu khawatir.


Hana meraih tanganku, genggamannya terasa hangat dan menenangkan.


“Jika kak Aya ada masalah dengan paman, atau ada sesuatu yang ingin diceritakan. Aku siap mendengarkan!” ucap Hana padaku.


Aku meraih wajah mungil Hana dengan sentuhan dipipinya.

__ADS_1


“Tak ada masalah apa-apa Han, jangan khawatir.” Balasku.


“Semenjak Kakak masuk ruang operasi lagi, William selalu gelisah dan khawatir. Bahkan paman sampai tak tidur menunggu operasi kakak selesai!” ujar Hana padaku lagi.


Aku hanya bisa terdiam dengan berjuta kata-kata yang tak terungkapkan di kepalaku. Sebuah rasa penyesalan menyeruak, menggerutu diri sendiri karena keegoisan. Hingga salah-paham hampir saja merusak sebuah hubungan yang awalnya sangat baik-baik saja.


“Aku minta maaf Hana, karena kebodohanku. Aku minta maaf karena keegoisanku. Aku sangat malu pada William, aku sangat kekanak-kanakan!” Aku mulai tersedu menahan air mata yang sedari tadi sudah ingin dihempaskan.


Hana menggenggam tanganku, ia tersenyum manis seperti biasanya.


“Sudah pasti aku tidak marah pada kakak, namun kak Aya harus biacara pada william!” Hana menatap mataku mencoba memberi keyakinan agar aku mengutarakan perasaanku yang sesungguhnya pada William.


“Apa William akan paham maksudku Hana?” tanyaku pada Hana dengan penuh harap.


“Tentu, William sangat menyayangimu. Semua akan baik-baik saja!” Ujar Hana padaku dengan semua keyakinannya.


Bagi seorang wanita, berat rasanya mengakui kesalahan. Namun kesalah-pahaman sudah terjadi, dari pada terus terlanjur merusak hubungan lebih baik ego sedikit diturunkan.


“Terimakasih Hana, aku sangat bersyukur bisa dekat dengan gadis baik sepertimu. Aku berjanji akan memperbaiki semua kesalah-pahaman ini. Aku tau ini semua terjadi karena kebodohanku, aku juga tak ingin William membenciku. Aku juga sangat menyayanginya!” aku menatap Hana dengan rasa terimakasih yang teramat besar.


Hatiku yang awalnya terasa sakit, sedikit demi sedikit sudah mulai terasa membaik. Walau tak sepenuhnya, rasa sesak sudah mulai sedikit berkurang.


Hana sudah berlalu pergi beberapa saat yang lalu. Aku berbaring sembari menatap langi-langit kamar. Membayangkan cara apa yang bisa aku lakukan agar hubunganku dan william kembali membaik.


Seseorang mengetuk pintu kamar, Lamunanku teralih ke arah pintu yang tertutup rapat. Seorang dokter dan 2 oang asisten dokter masuk.


“Selamat siang ibu Aya!” sapa dokter itu.


“Iya selamat siang dok. Ada apa ya?” tanyaku kembali.


“Sebelumnya saya mohon izin ya ibu Aya, ini ada 2 orang Asdos yang akan melakukan pengecekan rutin untuk ibu Aya kedepannya.” Dokter itu memperkenalkan 2 orang asdos dibelakangnya.


“Yang pertama ada Ryan dan satu lagi Ringga!” lanjut dokter itu.


Saat mataku mulai melihat 2 orang yang tepat berdiri dibelakang dokter itu, seseorang dari 2 laki-laki itu membuat jantungku mendadak terkejut.


Seseorang yang wajahnya sudah sangat familiar dan tentu saja membekas dalam ingatanku. Mantan kekasihku yang memutuskan aku karena ingin meneruskan sekolah dokternya keluar negri.


Aku hanya bisa terdiam sembari mulai mengatur nafasku. Ringga arbian, lelaki yang sudah sangat aku kenal lama dan tentu juga sudah pernah ku beri semua harapanku padanya.


Hal yang tak pernah aku bayangkan, namun sudah terjadi didepan mataku. Tak pernah sedikitpun terbayang olehku bahwa sosok yang sangat melukaiku saat itu, saat ini kembali dan hadir dihadapanku tanpa sengaja.


Takdir apa yang sudah tuhan atur untukku, seperinya skenario takdirku tak akan semulus orang lain pada umumnya.

__ADS_1


__ADS_2