Keberuntungan Cinta

Keberuntungan Cinta
Cemburu


__ADS_3

 


 


Rambutku terkibas angin dan seroja.


Mataku silau menatap langit yang ke biruan.


Ada rasa marah dan rasa rindu.


Aku berdiri mematung memandang bulan.


Cahaya dinginnya merasuk relung hati.


Adakah kehangatan yang mau menemani?


******


Ini sudah hari ke tiga. terbaring di ruangan yang sangat nyaman, kasur yang sangat empuk namun hampa dan dingin suasananya. Tak ada yang datang menjenguk, atau tak ada yang mencari tahu kabar gadis malang ini. Ya tentu selain william dan Hana.


Jujur saja, saat dalam keadaan lemah dan sakit begini, perasaanku mulai berubah dari zona tenang ke zona bergejolak. Mulai sensitif dan rasa sedih trus mengelabui.


Fikiran ku sudah jalan-jalan tanpa arah, rindu akan kluarga trcinta. Ibu, adik-adik dan teman-teman di kampung halamanku.


Aku mulai meronta bosan dan ingin keluar. Aku rasa, sudah cukup rasa kesepian mengejarku sampai kedalam mimpi. Asisten pribadi william, Pak An memang tak prnah absen untuk melihat kondisiku. Bahkan pak An bisa menghabiskan hari hanya untuk menemaniku.


Perasaanku sepertinya mulai serakah. Aku mulai ingin william yang ada disini menemani aku. Bukankah dia berkata dia mencitaiku?


-Serakah sekali aku- aku menepis lamunan yang tak berguna ini, mencoba menarik aura positif dari pohon, bunga-bunga dan lingkungan sekitar. Aku sedang berjalan di antara lorong rumah sakit sambil memikirkan beberapa hal yang tak penting. menghirup segarnya udara luar setelah 3 hari penuh di bangsal perawatan benar-benar nikmat rasanya.


Aku menuju sebuah benches putih dengan motif bunga pada pegangannya, beebrapa perawat juga lalu lalang sibuk dengan hal yang menyibukan mereka. melihat beberapa pasien yang ditemani oleh keluarga nya membuat aku sedikit kesal.

__ADS_1


Benches putih yang cukup panjang jika hanya 1 orang yang duduk. Aku menoleh kiri dan kanan, memperhatikan keadaan sekitar. Tak banyak yang berbeda, para perawat yang lalu lalang, pasien yang sedang bermain di tamaan rumah sakit, para keluraga yang sedang menunggu, ya seperti rumah sakit pada umumnya.


Mataku trfokus pada 1 pemandangan yang cukup membuat penasaran. Aku seperti melihat william dan pak An, namun yang berbeda ada satu orang lagi yang terhalang oleh tubuh william hingga aku tak bisa mlihat nya.


Dari tadi siang, pak an memang belum datang ke kamarku. Sepertinya ada hal pnting yang harus ia lakukan untuk william. Itu juga yang membuatku brjalan sendirian mencari udara segar. William beranjak merubah posisi, rasa


penasaranku semakin menjadi-jadi.


Saat william brgeser, aku meilhat sesosok perempuan cantik dengan rambut panjang menjuntai. Wajahnya sangat cantik bahkan aku trnganga melihatnya. Wanita itu seprti seorang bidadari.


Jantungku berdebar tak karuan, walau aku mlihaat dari kejauhan namun sorot mata dan eksprsi mereka trlihat jelas. Aku melihat william dengan wajah merah speti menahan marah. Pak an hanya terdiam dan begitu tegang, sedangkan wnita itu sepeti brbicara memohon pada william.


Aku melihat william brdecak pinggang sambil mondar-mandir, Ia tampak sangat khawatir. William seprti orang yang menahan amarah yang sangat besar. Sepertinya william mnyuruh pak an mmbawa wanita itu pergi.


Wanita itu tampak trsenyum, entah apa yang mreka bicarakan. Namun prasaanku dari tadi tidak karuan. Saat beberapa langkah pergi, tiba-tiba wanita itu berlari ke arah william dan memeluknya dari belakang.


Aku terkejut melihat pemandangan yang aku saksikan. Jantungku serasa ingin mldak dan badanku sangat panas. Aku semakin gelisah dan tak karuan. Tak sanggup melihat keaadaan yang kusaksikan, kaki ku berlari dengan cepat meninggalkan taman rumah sakit.


Aku berlari menuju kamarku, mencoba untuk tenang dan mnenngkan diri. Aku menarik nafas perlahan, mencoba menenangkan detak jantungku yang berdetak sangat cepat.


Air mataku jatuh dengan sangat dras, tak bisa ku menahan rasa sakit didadaku. Aku benar-benar cemburu. Aku mulai brfikiran yang aneh-aneh. Siapa wanita itu, apa hubungannya dengan william, kenapa william tak pernah mmebritahu ku, apa William benar-benar mencintaiku, bahkan pak an juga tau siapa wnita itu.


Aku menangis tak karuan, aku seperti orang yang sedang diselingkuhi. Seperti harapan hidupku hancur. Bahkan akupun sudah tak mampu berfikiran jrnih.


Sangat kesal dengan semua keadaan, aku meraih sebuah sweter yang ada dikamarku dan melepaskan infus yang ada di tanagnku.


Dengan fikiran yang sangat kalut, aku berlari menuju ke kamar hana. Ku hapus air mataku dan mnampakan senyuman hangat pada Hana.


“ Hai Hana?” sapaku lembut.


“ kak aya, kenapa kesini? Apa kondisi kakak sudah membaik?” tanya hana padaku.

__ADS_1


“ sudah Hana, aku hanya mengkhawatirkan mu!” ucapku sambil mngelus rambut hana.


Seperi nya Hana tak sadar sudah tak ada infus bersamaku. Ia hanya tesenyum menatapku. Kondisi hana cukup parah, lehernya di sangga dengan collar. Wajahnya masih lebam meskipun sudah mulai membaik.


“ Hana, Maafkan semua kesalhanku ya!.” Ucapku pada Hana


“ ada apa kak aaya? “ tanya nya.


“ tak ada Hana, aku hanya mengkhawatirkan mu!” ucapku sekali lagi.


Hana memegang tanganku hangat, ia hanya tersenyum padaku.


“ terima kasih kaka aya!” ucanya padaku.


Dada ku semakin sesak tak karuan, aku melepaskan genggaman Hana dan berpamit pergi meninggalkannya.


“aku balik ke kamar ya Hana!” sambil trsyum kelepaskan tangannya.


Aku melangkah brjalan pergi. Namun tujuanku bukan bangsal perawatanku. Aku berjalan melangkah keluar dari rumah sakit. Fikiranku yang kalap, ingin pergi sejuh munkin tanpa harus william tau.


Aku sangat marah rasanya. Ingin berteriak didepan wjahnya dan memarahi wanita yang sudah memeluknya.


Namun apa dayaku, aku terlalu bodoh berharap akan benar-benar menjadi orang yang william cintai. Entah aku yang bodoh atau william yang terlalu pintar.


Aku menangis sepanjang jalan, tak tahu akan kemanan arah tujuan. Kupasrahkan semua kputusan pada kakiku yang akan mlangkah.


Tak jauh dari rumah sakit, aku mlihat hamparan pantai. Aku tak punya uang sepeserpun untuk pergi jauh. Aku melangkah gontai menju tepi pantai. Kakiku mulai menginjak pasir halus. Mataku yang sembab srta dada yang terisak.


Aku duduk merenung, mendengar deru ombak. Aroma laut yang sangat menenangkan. Mataku melihat luas hamparan pantai. Menarik nafas perlahan. Dadaku uang sesak sudah mulai berkurang. Hatiku sudah mulai tenang. Ingin rasanya aku brteriak sekencang-kencangnya.


Mulai aku memikirkan hal bodoh yang sdah aku lakuakn.  Aku pergi dari rumah sakit karena cemburu pada william. Aku benar-benar meraasa konyol. Tapi tak apalah seklian aku menenangkan diri. Fikrku dalam hati sambil tersenyum berat.

__ADS_1


Mendengar ombak menggebu, anginnya yang sudah mulai dingin. Matahri pun sudah mulai terbenam. Pemandangan yang sangat indah. Langit biru dengan elegi. Ku tatap langit dengan sangat tenang. Namun tiba-tiba kepala ku terasa pusing dan dunia seperti berputar.


Aku lemas seperti tak punya tenaga. Mataku sangat berat dan kesadaranku seakan ingin menghilang. Badanku tehempas ke pasir dan mataku mulai meredup hingga aku benar-benar hilang kesadaran.


__ADS_2