
Dalam kehidupan yang singkat banyak hal bisa terjadi pada kita. Hal yang yang kadang tak pernah kita fikirkan bahkan hal yang tak disangkapun sering menghampiri tanpa permisi.
Pertemuanku dengan Ringga, asisten dokter yang akan menanganiku untuk beberapa waktu kedepan tentu membuat dampak yang sedikit meresahkan.
Masa lalu diantara kami bukanlah hal yang bisa dilenyapkan semudah menepis debu. Hal-hal yang telah kami lalui selama ini bukan hanya sekedar cerita masa kecil.
Banyak hal dan setiap detailnya terlalu kuat membekas dalam hatiku. Bahkan setelah sekian lama aku dan Ringga berpisah, hatiku masih saja sakit sat melihat wajahnya.
Perpisahanku dan Ringga adalah masa kehancuran dalam hidupku. Keputusan yang Ringga ambil sangatlah egois untukku.
Saat itu kami tengah merayakan pesta kelulusan, surat dari Kanada datang pada Ringga. Surat yang menyatakan bahwa Ringga telah lulus dan diterima dikampus kedokteran disana.
Pesta kelulusan yang saat itu menyenangkan berubah menjadi badai bagiku dalam sekejap. Saat Ringga mendapat surat itu, aku tepat berada di sampingnya. Aku hanya bisa terdiam sembari menahan tangisanku agar tak pecah.
Ringga membaca surat itu dan wajahnya tampak bahagia dan begitu bersemangat.
“Aku lulus Ay, aku diterima!” teriak Ringga kegirangan sembari memelukku.
“Aku akan ke Kanada dan akan jadi dokter yang hebat!” jelasnya lagi.
Aku hanya bisa terdiam tanpa suara, meneguk salivaku yang tertahan aku mulai bertanya padanya.
“Kapan kamu akan berangkat ?” tanyaku.
Wajah Ringga berubah saat menatapku yang sudah menahan tangis sedari tadi.
“Kamu tidak bahagia mendengar aku lulus kuliah kedokteran di Kanada?” tanya Ringga.
Mataku yang sudah merah dan berair tiba-tiba saja nembanjiri pipiku dengan air mata.
“Aku bahagia, tapi bagaimana dengan kita? Aku tidak ingin berpisah!” tangisku pecah dan suaraku meninggi berbica pada Ringga.
“Kita tidak akan berpisah Aya, kita akan terus bersama!” jawab Ringga sembari memegangi tanganku.
“Tapi menempuh pendidikan bukanlah waktu yang singkat Ringga. Berapa lama aku akan menunggu? 5 tahun, 7 tahun, bahkan bisa lebih kan?” tangisku semakin tak bisa dibendung.
“Aku mohon sabarlah menungguku Ay. Kita masih bisa saling berkirim pesan, kita juga bisa saling menelpon!” jelas Ringga padaku.
Ringga memeluk dan menenangkanku.
“Aku berjanji akan terus bersamamu!” ucap Ringga.
Kupeluk tubuh yang tak lama lagi pergi itu dengan sangat lama. Bau tubuhnya yang harum dan sangat nyaman itu sebentar lagi akan pergi.
Aku menangis tersedu-sedu hari itu, mataku smbab dan suaraku sangat serak. Ringga mengantarku pulang kerumah, ibu yang tengah menyirami tanaman didepan rumah menyambutku dengan kepanikan.
“Aya, kamu kenapa nak? Matamu sembab habis menangis?” tanya ibu.
__ADS_1
Aku hannya diam sesegukan, Ringga yang ada disampingku menjawab pertanyaan ibu.
“Aya sedih karna akan berpisah denganku tante!” jawabnya.
“Loh, memangnya Ringga mau kemana?” tanya ibuku.
“Kanada tan, aku lulus kuliah kedokteran disana!” jawabnya.
“Wah hebat ya Ringga, tante ikut bangga sama kamu!” balas ibuku padanya.
Ringga hanya tersenyum malu membalasnya.
“Aya kamu harusnya suport dong teman baik kamu ini akan kuliah di luar negri, bukan malah menangisi!” ibu mengusap rambutku sembari menenangkan.
Aku yang saat itu masih sesegukan memeluk erat ibuku. Ringga berpamitan pulang padaku, langkahnya gontai mulai berjalan menjauh pergi. Saat langkahnya semakin menjauh aku sudah mulai meindukannya lagi.
Beberapa pekan setelahnya, Ringga mngundangku untuk datang kerumahnya. Besok Ringga akan berangkat ke Kanada, jadi hari ini adalah hari terakhir untuk kami berdua bisa menghabiskan waktu bersama.
Rumah Ringga tidak terlalu jauh dari rumahku. Dipisahkan oleh hanya 3 buah rumah membuat Ringga senantiasa dengan mudah datng bermain dan bertemu.
Ibu Ringga dan ibuku juga berteman baik, bahkan ibunya Ringga sering datang berkunjung kerumah untuk belajar masak dengan ibuku.
Bahkan sedari kecilpun, kami bermain bersama tanpa tau waktu. Semua hal yang telah kami lalui bersama akan menjadi kenangan yang membekas dan sulit untuk dibias.
Hari ini, Ringga memintaku untuk membantunya berkemas. Berat rasanya hatiku namun harus tetap kulakukan.
Aku akan melepaskan orang yang aku sayangi pergi jauh meninggalkanku. Hari-hari indah yang selama ini kami lalui bersama hanya akan jadi kenangan dan rindu sebelum tidur.
Kotak itu berisi semua kenangan indah, kenangan yang telah kami simpan dalam bentuk barang dari masa kecil dan kami sembunyikan disana.
Aku dan Ringga membuka kotak itu bersama-sama. Kotak merah dengan pita emas yang telah kami simpan selama ini.
Di dalam kotak itu terdapat berbagai macam mainan kecil, surat-surat yang kami kumpulkan sedari dulu, ada juga buku harian, kotak musik serta sapu tangan.
Serta yang paling indah dan berharga dari itu semua ada sepasang gelang dengan ukurin huruf A dan R.
Air mataku jatuh menetes, Ringga mengusap air mata di pipiku dengan sapu tangan yang ada di kotak itu. Senyumanku semakin terasa pahit mengenang kembali semua hari-hari itu.
Ringga mengambil 2 buah gelang yang ada dikotak itu. Gelang yang dulu pernah kami beli bersama-sama sewaktu masih di sekolah menengah awal, Kala itu tengah ada festival dikota kami.
“Aya, apakah kamu ingat kenapa kita membeli sepasang gelang ini?” tanya Ringga padaku.
Aku tertawa pilu mengambil gelang itu dari tangan Ringga.
“Tentu saja aku ingat, entah kenapa kita membeli gelang aneh ini!” jawabku.
“Aku heran kenapa kamu dulu sangat marah padaku saat banyak sekali teman perempuan memberikanku hadiah!” ucap Ringga.
__ADS_1
“Aku tau, kamu pasti cemburu kaaan Ay!” sambung Ringga sambil mngejekku.
Aku menepuk lengan Ringga karna malu diledek olehnya.
“Kau ini! Tentu saja aku marah, aku tidak mau ada yang merebut sahabat baikku ini. Aku tidak bisa melihat ada perempuan lain selain aku yang dekat-dekat denganmu. Walaupun waktu itu aku masih blum sadar kenapa aku bisa begitu!” jelasku.
Ringga hanya tertawa cekikikan meledekku. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya, Aku tau didalam hatinya Ringga pasti sangat bahagia karna aku sangat posesif terhadapnya. Walaupun sebagai sahabat, namun kedekatan kami sudah lebih dari itu.
Setelah tertawa lepas, Ringga duduk di atas Ranjangnya. Menarik nafas dengan sedikit lama, mungkin karena terlalu banyak tertawa ia kelelahan.
“Aya, selama ini aku menyimpan sebuah rahasia yang sangat besar Ay. Aku ingin memberi tahumu sekarang!” Ringga memulai ceritanya.
“Apa?” tanyaku sambil menoleh padanya.
“Aku ingin jujur, bahwa selama ini aku menyimpan rahasia besar dan itu sudah sangat lama!” sambungnya lagi.
“Iya apa?” tanyaku mendesak.
“Jujur, sebenarnya aku menyukaimu sudah dari semenjak kita kecil Ay!” Ringga mlontarkan kata-katanya. Walaupun sedikit terkejut, namun aku sudah seperti punya perasaan sperti itu dari dulu.
“Hahahaha, masa?” aku malah meledek Ringga.
“Serius Ay!” wajahnya yang polos sangat ingin meyakinkan. Saat itu Ringga menarik tanganku agar duduk tepat di sampingnya. Di atas tempat tidur yang sedari kecil sudah sering kami gunakan bersama untu bermain-main.
Perasaan canggung merasuki kami saat aku duduk tepat disamping Ringga. Karena canggung dan gugup, suasana ruangan itu menjadi sunyi senyap tak ada satu katapun.
Bahkan jika yang kami fikirkan selama ini adalah bemesraan, tak pernah sedikitpun terbayang untuk melakukan hal yang aneh-aneh. Malah sejauh ini kami pacaran, aku dan Ringga hanya berani berpegangan tangan.
“Aya, maafkan aku ya. Untuk sementara waktu aku harus meninggalkanmu. Kita harus berpisah dulu!” ucap Ringga.
“iya, tak apa. Aku tau kamu ingin mengejar mimpimu!” jawabku.
“Aku berjanji jika sudah disana, aku akan selalu mengirimu pesan dan mengabarimu. Aku juga merasa ini sangat sulit Aya, kita sudah bersama sedari kita kecil. Menjadi sahabatku, teman baikku. Melewati susah senang denganku, bahkan sekarang kau sudah resmi menjadi kekasihku. Kesayanganku, pacarku!” jelas Ringga.
“Iya Ringga. Walaupun kita pacaran baru 3 tahun, tapi aku juga sama. Aku juga sangat meyayangimu!” balasku.
Ringga memelukku erat. Ia membelai rambutku, sentuhannya hangatnya selalu membuatku candu.
Sebuah ciuman juga mendarat dipipiku. Jantungku berdebar-debar dengan sangat kencang. Wajahku langsung berubah mmerah seperti kepiting rebus.
Karna grogi dan panik, aku langsung berlari keluar untuk kabur meninggalkan Ringga di kamarnya.
Matahari sore mulai perlahan pergi, sore akan berganti menjadi malam. Setelah selesai membantu Ringga dengan semua barang-barangnya, aku berpamitan pulang pada orangtuanya Ringga.
Ringga mengantarku pulang sampai depan rumah, didepan pintu itu Ringga mengucap salam perpisahan untuk yang terakhir kalinya.
“Aku akan selalu bersamamu Ayassa!” ucapnya sembari mencium keningku.
__ADS_1