
Semilir angin lembut meniup remang ke belakang tengkuk. Suasana yang indah dengan pemandangan kota yang gemerlap. Kota tampak begitu indah dengan warna-warni cahaya lampu. Meja yang terletak paling pojok dan paling pinggir adalah tempat paling sempurna menikmati makan malam romantis dengan pemandangan yang memukau.
Dekorasi meja tampak apik namun sederhana, napkin merah berbentuk angsa dan ditemani candle kecil di tengah-tngah meja, membuat meja kecil untuk 2 orang ini tampak makin sempurna.
William membawaku ke meja yang sempurna itu, ia tarik kursi yang sedari tadi tak bertuan agar aku jadi tuannya saat ini. Tak lupa, ia lepaskan jas nya yang super mahal itu untuk melindungi tubuhku dari dinginnya angin malam.
Kami duduk brhadapan, william tepat berada di depan mataku. Keberuntungan yang seumur hidup tak pernah aku bayangkan untuk mendapatkannya. Aku trsenyum manis pada william, setidaknya dengan begitu beban yang masih ada di pundakku bisa aku turunkan sebntar saat bersamanya.
Willam memanggil pelayan untuk mmesan makan malam yang ia inginkan.
“Pelayan.....!” uajrnya sambil mengangkat tangan.
Seorang pelaayan pria datang menghampiri dengan tegesa-gesa.
“hallo selamat datang Mr. Willim, sudah lama anda tak kesini!” sapa sang pelayan dengan sangat humble.
“menu?” dengan senyum tipis william menadahkan tangan.
“ini pak silahkan!” pelayan itu menyodorkan 2 buah menu. 1 untuk makanan satu 1 untuk minuman.
William menyerahkan menu makanan padaku dan william membuka menu minuman.
“kau pesan apapun yang kau mau!” ujar william padaku.
“pelayan, ada cabernet sauvignon ?” tanya william pada pelayan sambil mengbalikan menu.
__ADS_1
“ada pak, ada.!” Jawab pelayan itu cepat.
“aku ingin cabernet sauvignon by glass 2. Jangan lupa 2 minarl water!" wiliam sudah mulai memesan minuman sedangkan aku masih bingung membaca menu.
“bagaimana dengan makanannya ?” tanya sang pelayan.
dengan menu yang membuatku kebingungan, aku memilih hidangan yang sederhana.
“saya pesan spagetti aglio olio ya mas!” ujarku ramah pada sang pelayan.
“jadi 2!” william menyela.
“oke baik saya ulangi pesanan ya pak, bu.!” Ucap sang pelayan.
“2 spagetti aglio olio dan cabernet sauvignon by glass nya 2. Ada tambahan lagi?” Tanya sang pelayan.
“baik pak ibu, saya sudah catat. Mohon menunggu hidangannya ya pak,bu." pelayan itu mengambil langkah unuk segeta take over menu yang kami pesan.
Sembari mnunggu makanan datang, seorang bartender datang khusus untuk menghidangkan wine yang sudah di pesan william. bartender itu menyapa ramah, sambil membawakan 2 gelas red wine dengan keanggunan.
William kembali menatap ku dengan pernuh makna tersirat. Aku mengumpulkan keberanianku dengan penuh agar mampu bertanya apa yang ia pikirkan.
“william, kenapa kau selalu menatapku begitu?” tanya ku padanya dengan nada sedikit menyelidik.
William terkekeh pelan.
__ADS_1
“hehe, tak ada apa-apa aya. Hanya saja aku sedang memperhatikan sosok yang sangat menarik buatku. aku sedang terpaku padamu skarang. Boleh akujujur mengenai sesuatu?" wiliam mulai bertanya padaku.
“jujur tentang apa?” jawabku.
“sebenarnya kau bukanlah wanita yang masuk ke dalam tipeku. Namun aku hran kenapa wajah polos mu itu mampu menarikku. Bahkan banyak wanita diluaran sana yang antri untuk tidur denganku. Namun aku tak oernah tertarik. Aku heran padamu aya.!” William mulai mengutarakan isi hatinya, sebanrnya bagus ia jujur. Namun saat aku mendengar ucapannya yang terkesan mnyombongkan diri itu aku malah jadi ingin menertawainya.
Aku coba untuk mulai membuka diri pada william. Aku mulai membrikn izin pada hatiku untuk menrima keaadan sekarang. Jujur saja, sebenarnya aku juga menyukai william.
“baiklah tuan william, terima kasih atas pujiannya!” ucapku meledek.
“hey aya, kau panggil aku apa lagi?” william menggerutu.
“hahaha, aku hanya brcanda.” Timpalku lagi.
William melirikkan mata genitnya, ia angkat gelas wine dan mengajakku untuk melakukan cheers.
“Nona ayasa, dengan kesungguhan hati apa kau ingin menjadi gadisku?” tanya william dengan gelas wine di tangannya.
Ku tarik nafas panjang dengan malu-malu, ku angkat gelas wine yang ada di tanganku.
“bailah tuan william, aku terima hatimu!” sambil ku sentakan gelas wineku dngan wine william.
“CHERSs” ujar kami bersama.
Aku mneguk wine dengan melirik william yang sedang menahan kegirangan. Sebanrnya yang aku rasakan pun juga begitu, namun aku terlalu malu-malu.
__ADS_1
Makanan yang kami pesan telah dattng, 2 spageti aglio olio. Pasta kesukaannku. Kami menikmati makan malam romantis ini dengan sangat gembira. Hari ini adalah hari yang paling indah dalam kehidupanku. Sekarang aku dimiliki dan memiliki william.