
Bagai petir disiang bolong, badanku bergetar hebat sebab panik dan shock yang datang bersamaan. Bagai orang bodoh, aku coba bangkit dari jatuhku. Meski bagian belakang tubuhku terhempas dengan keras, otakku tak merespon rasa sakitnya.
Aku mencoba untuk berjalan mengelilingi daerah itu, melihat sekitar mungkin saja Hana pergi kesuatu tempat untuk membeli sesuatu. Sembari berjalan, aku merogoh tas ku untuk mencari handphone. Fikir ku pertama kali adalah menemukan Hana, lalu kucari kontak Hana di HP ku. Aku berusaha menelfon Hana terlebih dulu memastikan jika anggapan burukku bukanlah hal yang sedang terjadi.
Sepertinya firasat buruk memang seringkali terjadi. Jantungku berdetak semakin cepat, langkah kakiku mulai berjalan tanpa tau arah. Lalu dalam fikiranku melintas sosok yang mungkin saja bisa memberikan jawaban.
Dengan cepat menggulirkan kontak di HP ku, ku tuju pada satu nama, William. Tanganku langsung menenkan tombol panggil segera. Dering pertama terlewat, dering kedua, ketiga, empat dan ini dering terakhir, namun william tetap tak mengangkat panggilan telfon dari ku.
Aku berdecak dalam hati, tak ada harapan jika harus pergi mencari william untuk meminta pertolongan. Ku fokuskan fikiran ku segera untuk mencari Hana sebisa mungkin di tempat ini. Aku masih brharap jika kejadian buruk tak menimpa Hana.
Kaki ku mulai berlari sekencang mungkin menyusuri pasar dan setiap gang-gang yang kulihat. Aku masih selalu berdoa, -Tuhan semoga Hana baik-baik saja- tak pernah putus kuutarakan didalam hatiku. Aku terhnti saat telfon genggam ku bergetar, William, nama yang ada dilayar depan panggilan telfon ku. Ku angkat segera dan menyerbu william dengan ocehan panjang satu tarikan nafas.
“william, tolong aku. Hana hilang, aku sudah mencari di setiap sudut pasar namun aku tak bisa mnemukannya. Tolong aku william, aku takut Hana kenapa-napa, aku takut dia diculik!” rentetan kata-kata yang keluar dari mulutku terdengar sedikit kurang jelas karena nafasku yang tak beraturan.
“aya,,ayaa.. kau tenang dulu. Ada apa? Suara mu tak terdengar jelas. Kenapa dengaan hana? Kau dimana sekarang ?” william membalas kata-kata ku dengan pertanyaan.
“aku ada di pasar di tengah kota, pasar musiman!” jawabku
“aku akan kesana sekarang, kau tunggu aku jangan kemana-mana!” perintah william padaku.
__ADS_1
Aku memegangi lututku sambil menghela nafas yang sangat sesak dari tadi. Rasa takut sangat besar menyelimuti hatiku, aku tak ingin orang yang berarti dalam khidupanku trluka. Dalam rasa panik ku, kupaksakan otakku untuk berfikir jernih. Mengingat-ingat kembali kejadian sebelum Hana menghilang.
Badanku terduduk lemas di sebuah benches di tepi trotoar. Pandanganku nanar karena aku tengah berusaha memikirkan celah mana yang bisa aku temukan untuk mencari Hana. Sesaat, telfon genggamku bergetar. Kulihat panggilan masuk dari nomor Hana. Tanpa fikir panjang ku angkat panggilan itu namun suara berat seorang pria yang terdengar.
“wah, waah, siapa ini. Spertinya dari tadi kau yang terus menelfon gadis ini. Setahuku nona besar ini tak punya saudara!” terdengar suaraseorang laki-laki.
“siapa kalian? Dimana Hana?” tanyaku sambil berteriak.
“aw, telingaku sakit oleh suaramu. Jangan meneriaki ku. Hey nona, kau sampaikan pada keluarga Louis. Nona besar mereka ada pada kami, RED TIGER. Jika dalam 1 jam mereka tak datang, aku habisi gadis ini!” tut...tut...tut... panggilan telfon berakhir dan aku semakin gemetar.
Tanpa banyak berfikir, kaki ku langsung tergerak untuk lari menuju kantor polisi. Namun ditengah langkah ku, sebuah mobil menghadang dan keluarlah william dari mobil itu. Ia langsung memluk ku yang sedang terengah engah.
“tenang aya, tenang!” ujarnya sambil menepuk-nepuk pundakku.
“Hana, Hana dia ada ditangan RED TIGER!” aku menejlaskan pada william soal telfon yang baru saja aku terima.
“ayo, kita langsung cari mereka!” ucap william sambil menggenggam tanganku dan masuk kedalam mobil.
Didalam mobil, william sibuk menlfon orang-orang yang ia rasa mampu untuk membantunya membebaskan Hana. Sepertinya William sudah sangat paham bagaimana cara nya untuk mengahadapi lawannya ini.
__ADS_1
Mobil yang kami tumpangi melaju kencang menuju sebuah tempat yang sangat asing bagiku. Jalanan yang mulai rusak dan berkerikil kasar serta jalanan yang sangat gelap tanpa ada penerangan. Aku melirik ke kiri dan kanan, wajahku mulai menunjukan ekspresi ketakutan. Lalu tangan besar dan hangat meraih tanganku untuk digenggamnya.
William menggenggam tanganku dan memberikan aku ketenangan. Aku yakin pria ini adalah pria hebat yang bisa melakukan segalanya.
Aku tak melihat ada mobil lain yang mengikuti kami, hanya mobil yang kami tumpangi ini saja melaju sendirian. Apa tak ada yang akan membantu- aku mulai berfikrian yang aneh.
Setelah cukup jauh kami masuk ke dalam wilayah sepi ini, terlihat sebuah bangunan tua yang terbengkalai. Ada beberapa mobil terparkir dihalamannya. Saat mobil kami berhenti tepat di depan bangunan tua itu, william beranjak turun dengan amarah yang sudah menggebu di atas kepalanya. William memintaku untuk menunggu didalam mobil. Berharap agar aku tak melihat dan menyaksikan hal yang mungkin saja bisa membahayakan aku.
Aku melihat william berjalan dengan gagahnya memasuki bangunan itu. Diikuti orang kepercayaannya yang selalu setia dan bersama dalam kondisi apapun. Pandangan ku belum bisa beralih sampai william masuk. Jantungku yang berdebar serta rasa takut yang masih menggerogoti membuatku menumpukan harapan pada william.
Tak selang berapa lama william masuk, ada banyak mobil Jeep yang datang bersamaan. Namun ada hal yang membuatku bingung, mereka tak langsung masuk ke dalam bangunan itu. Mereka seperti mengepung tempat itu dan menunggu aba-aba untuk bertindak. Aku rasa, mereka adalah orang-orang yang sudah disiapkan william untuk keaadaan mendesak.
Karena semakin banyak orang-orang william yang datang, timbulah keberanian yang menggebu di dalam dadaku. Aku berlari menuju gedung tempat Hana disekap itu dengan sangat berani. Langkah kaki ku terhenti dan lutut ku kemabli bergetar saat kulihat apa yang sedang terjadi tepat didepan mataku.
Aku melihat Hana terikat disebuah kursi dengan tangan terikat kebelakang dan wajah yang sudah babak belur. Di sisi lain, william tengah berusaha mati-matian menghajar para begundal dan preman itu untuk membebaskan Hana.
Kaki ku seketika menjadi lemas dan bergetar. Saat dihadapan kuorang yang berarti dalam kehidupanku berada dalam keadaan yang buruk. Aku melihat amarah ada di dalam genggaman tangannya. Kulihat betapa murka nya william jika keluarga nya di ganggu.
Hana yang sudah tak berdaya membuat aku semakin menjadi lemas. Ingin rasa nya aku berlari kesana untuk melepas ikatan yang menjerat tubuh Hana. Air mataku jatuh berderai, saat semua orang brkelai satu sama lain. William dan pasukannya melawan para preman dan anak buahnya.
__ADS_1
Aku melihat darah mulai mengucur dari bibir bawah william, ia mendapat lawan yang pelik. Menyaksikan semua kengerian yang tak pernah trbayangkan ini. Mataku teralih pada seseorang yang memegang pisau berjalan ke arah william. Dengan seketika, kaki ku berlari ke arah pria yang membawa senjata itu untuk menghadang agar ia tak sampai melukai william.
Pria itu mengayunkan pisau ke arah pinggang william, tanpa fikir panjang kuhadang pisau itu dengan tubuhku. –ssrrrk- Pisau itu tepat menancap di perutku. Darah mulai mengalir keluar dari tubuhku, tanganku merah dengan darah. Seketika semua rasa sakit yang kurasakan menyengat ke saraf-saraf kepalaku. Pandanganku memudar, dunia rasa berputar, tak selang lama kesadaranku hilang. Di ujung penglihatan mataku yang mulai meredup aku melihat william datang padaku lalu semuanya gelap.