
Aku pernah bermimpi, mimpi yang sangat indah.
Aku bermimpi tentang seorang pangeran berkuda putih menghampiri ku.
Membawakan sekumtum bunga mawar merah.
Pangeran itu tersenyum, memberikan mawar merah padaku sebagai tanda cinta.
Betapa Bahagianya aku di sana, namun sayang semua tak akan bisa menjadi nyata.
Kembali ke rutinitas yang sibuk setelah liburan memang sedikit melelahkan, ada banyak sekali pekerjaan yang harus diselesaikan. tak ada kata menunggu untuk pekerjaan.
Dering telfon terus berbunyi tanpa henti di meja resepsionis. kesibukan restoran dengan orang yang lalu lalang membuat suasana semakin ramai. Pelayan yang sibuk menjelaskan menu untuk dipesan, meja lainnya yang juga ikut ribut dengan komplain.
Aku mengangkat panggilan telpon yang berbunyi dari tadi, sebagai resepsionis tentu bersuara ramah yang paling penting apapun keadaannya.
Osio Restaurant Aya Speaking can i help you?! Sapaan Awal setiap resepsionis untuk menyambut calon tamu nya. Nada suara yang sangat ramah membuat setiap tamu yang menelfon merasa nyaman untuk melakukan reservasi di restoran tersebut.
Aku berbincang pada calon tamu yang akan melakukan reservasi, tak lupa aku mencatat setiap permintaan dari para tamu.
Dalam fokus ku menanggapi panggilan telfon, lewatlah seseorang yang sangat tidak asing bagiku. seseorang yang belakangan ini membuat hatiku berdebar debar.
Wangi semerbak, setelan jas rapi, tatapan yang sangat dingin, dan pesona yang tak sanggup ditolak siapa saja.
William baru saja melewati meja resepsionis dengan beberapa orang mengikuti dari belakang. sepertinya beberapa asisten dan yang lainnya adalah orang-orang yang bekerja untuk William.
Fokus ku teralihkan saat melihat William lewat begitu saja tanpa menanggapi aku. ada perasaan sedikit kesal dan tak karuan. namun karna aku juga sedang bertugas melayani tamu, tak ku biarkan hal yang ku anggap tidak penting mengalihkan.
Ku tutup panggilan telpon yang terakhir dengan helaan nafas panjang. meskipun hanya bicara, namun bicara juga memerlukan tenaga bukan. apalagi jika aku harus tetap berdiri dengan Heels yang tinggi dan terus berbicara tanpa henti, tentu rasa lelahnya bertambah dua kali lipat.
Restaurant tempat ku bekerja memang selalu ramai, reservasi setiap hari nya bahkan melebihi kapasitas meja, dan bahkan masuk kedalam waiting list. tentu saja panggilan telfon per-hari nya lebih dari Sepuluh kali.
Waktu menunjukkan jam 7 malam, saatnya untukku berkemas pulang, sift kerja ku sudah selesai. Ku rapikan beberapa dokumen serta mengalihkan beberapa tugas yang tersisa pada teman gantiku.
Aku berjalan pelan-pelan menuju loker karyawan, loker karyawan berada tepat dibelakang restoran. Aku masih saja terbayang wajah William yang tadi mengacuhkan aku. ada sedikit rasa penasaran didalam hatiku, mengingat apa yang dikatakan William saat di Jepang tentu saja mengusikku.
Jika memang benar dia akan mengejar ku, mengapa saat ini sifatnya masih saja dingin seperti orang asing. Ujarku didalam hati.
Setelah sampai di loker karyawan, aku mengganti uniform kerjaku dengan setelan biasa. Tak ada niat kemana-mana setelah pulang kerja. kembali ke rumah dan tidur adalah yang terbaik. terlebih kaki ku belum pulih sempurna.
Handphone ku bergetar menandakan ada pesan masuk.
*Kak Aya, aku sekarang sedang ada di tempat kerja mu. temani aku minum dulu sebelum kau pulang!
Hana*
Sebuah pesan dari Hana membuatku sedikit bersemangat, kantuk yang tadi mulai menerpa berlalu begitu saja. Aku kembali masuk ke dalam restoran untuk bertemu dengan Hana.
Di depan Bar restoran, Hana duduk seorang diri. semenjak kembali dari Jepang aku belum bertemu dengan gadis ini. Jujur saja, aku sedikit merindukan nya.
__ADS_1
"Hai Han...! ku tepuk pundak Hana dari belakang.
Hana berbalik dan langsung memeluk ku.
"kaak, aku rindu kamu" rengek Hana padaku.
Hana memang selalu manja begini pada ku. seolah-olah aku adalah ibunya. Namun aku sangat senang dengan perlakuan nya yang manja ini, membuat ku merasa dibutuhkan dan dicintai. ya walaupun awalnya kami bertemu karena kecelakaan, namun hal itu juga yang membuat kami jadi sangat dekat.
Kutarik Kursi tinggi di depan Bar, kupesan segelas cocktail untuk menemani obrolan kami.
Wajah Hana terlihat leleh dan cemberut. Ia menggoyang kan gelas Wine yang ada di tangannya diiringi nafas yang berat.
"kamu kenapa Han..?" tanyaku mengawali obrolan.
dengan helaan nafas panjang Hana mulai bercerita.
"Di umurku yang masih muda ini, aku sudah dituntut untuk menjalankan bisnis keluarga, jujur saja aku sangat lelah. aku ingin menikmati masa mudaku dengan bermain, namun ayahku menuntut lebih karena aku anak satu-satunya."
Hana bercerita dengan wajah yang cemberut dan kesal.
"Tadi, aku baru selesai rapat dengan dewan perusahaan dan Paman William. Seperti nya, restoran ini akan diambil alih oleh William." Hana lanjut bercerita.
Jantung ku terkejut dan berdetak dengan kencang. Sesuatu yang baru saja ku dengar membuat ku terserang kekakuan.
"Mak.. maksud mu bagaimana Han? William yang mengambil alih?" Tanyaku dengan terbata.
Aku hanya bisa terpaku diam mendengarkan cerita Hana, namun ada hal yang masih membuat ku penasaran. penasaran dengan keberadaan orang yang tadi mengacuhkan aku.
"Lalu, apakah William sudah pergi?" tanyaku.
"Belum, dia masih disini. sepertinya tadi sedang berbincang dengan Manager. Entahlah Dimana dia sekarang. kenapa kak?"
Hana bertanya padaku dengan wajah penasaran namun menyimpan sesuatu.
" ah, ah tidak. aku hanya bertanya saja." aku menjadi salah tingkah.
Kuteguk lagi cocktail yang tadi ku pesan, Tak terasa kuteguk hingga habis Tak bersisa.
Hana kembali meledek ku,
"Waah, kak Aya lagi kasmaran sama William ya..?!" ledek Hana padaku.
Kujawab dengan malu malu.
"Ah, tidak Han. kamu kenapa siih
aku tidak suka dengan paman mu." Aku mengalihkan pandanganku dari Hana.
"jika kau suka padaku itu juga bagus!" suara berbisik di telingaku membuat ku terkejut. Aku menoleh dengan sigap ke arah belakang.
__ADS_1
Dibelakang ku sudah berdiri seseorang yang aku cari tadi. Jantungku berdetak kencang tanpa aturan. wajahku memerah karena tersipu malu.
William Menarik kursi disebelah ku, Aku diapit oleh paman dan keponakan yang selalu peduli padaku. Aku masih sangat malu saat William tiba-tiba saja menghampiri kami yang sedang berbincang ini.
Namun ada perasaan senang yang tak bisa aku jelaskan. entah apa sebenarnya yang aku rasakan, namun saat aku di dekat William jantungku selalu saja merasakan hal-hal yang tidak dapat aku ungkap.
"Hana, kalian baru saja menggosipkan aku ya ?!" tanya William pada Hana.
"Iih, enak saja. Paman terlalu kepedean. iya ga kak?!" lempar Hana padaku.
"ii.. ii.. iyaa." Jawabku terbata-bata karena gugup.
William menopang kan kepala nya pada tangan yang ia senderkan pada meja bar. dengan senyuman menggoda ia menatapku.
"Benarkah gadis manis?!" William menatapku seolah olah aku adalah mangsa nya.
Wajahku memerah, darah mengalir begitu cepat didalam tubuhku. Badanku terasa sangat panas.
Mataku terbelalak melihat William yang sangat tampan ini menggoda ku. Bisa saja, aku mati mendadak karena mengalami serangan jantung.
Kutelan salivaku dan menjawab pertanyaan William.
"iya benar, kami hanya berbincang biasa." jawab ku pelan dan hati-hati.
William, masih saja menatap ku dan tersenyum. membuat aku gila jadinya. dengan. kegugupan yang parah, aku beranjak pergi meninggalkan mereka untuk mencari udara segar.
Ku tinggalkan Hana dan William tanpa permisi. sepertinya Hana mengerti aku sedang merasa uphoria dan malu.
Aku berjalan keluar menuju arah taman yang berada tak berapa jauh dari restauran. Menarik nafas panjang, mencoba melupakan hal manis yang membuat jantungku menggila.
William hanya sedikit menggoda ku namun aku sudah hampir gila dibuatnya. apa bisa aku tidak jatuh cinta pada nya, fikirku sendiri.
Aku berjalan dengan fikiran yang mengawang-awang. Sebuah mobil berhenti tepat didekatku.William dan Hana ternyata didalamnya.
"kak Aya, Ayo kita antar pulang!" teriak Hana dari dalam mobil.
William dibelakang setir hanya diam tak bersuara, seperti nya dia melirik. namun aku tak dapat membaca apa yang dia inginkan.
"Tidak usah Hana, aku akan berjalan saja. aku masih ingin mencari udara segar!" Aku mencoba menolak mereka karena Ada William.
Hatiku pasti akan berdebar lagi jika masih berada didekat William.
Tak menghiraukan penolakan ku, Hana turun dari Mobil menghampiri ku. Ia berjalan mendekatiku dan menarik tanganku agar masuk kedalam mobil.
"kita akan antar, ini sudah malam kak!" jelas Hana padaku.
Yasudah lah, kali ini tak apa jika mereka mengantarkan aku. yang penting William tidak bertingkah aneh dan membuat aku jadi gila.
__ADS_1